Archive for the 'Refleksi' Category

Dec 17 2011

Muhasabah, Merajut Harapan Baru

Published by under Refleksi

Pergantian tahun sebentar lagi tiba, tahun 2011 segera pergi meninggalkan kita, sementara tahun 2012 sudah menanti di depan mata. Salah satu kegiatan penting yang harus kita lakukan setiap kali menyambut pergantian waktu, terutama pergantian tahun, adalah melakukan kegiatan muhasabah (instropeksi dan evaluasi diri), baik secara personal maupun secara kolektif. Salah satu pesan Umar bin Khattab pada kaum muslimin: "Haasibuu anfusakum qabla an Tuhaasabuu" (hisablah diri kalian sebelum kelak kalian dihisab oleh Allah SWT pada hari kiamat). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka melihat perbuatan-perbuatan buruk yang merugikan diri dan masyarakat yang harus ditinggalkan dan diganti dengan perbuatan-perbuatan positif yang bermanfaat bagi diri, keluarga, serta masyarakat dan bangsa yang kita cintai ini. Dengan kata lain, kegiatan muhasabah ini berkaitan erat dengan kegiatan hijrah (terutama hijrah dari perilaku buruk) yang harus selalu dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Continue Reading »

No responses yet

Oct 17 2011

Dimensi Teologis dan Sosial Haji

Published by under Refleksi

Setiap tahun, jutaan  umat Islam berkumpul di Makkah menunaikan puncak rukun Islam, haji. Di Indonesia sendiri, jumlah umat yang berniat naik haji terus mengalami peningkatan. Saat ini saja, waiting list bakal Calon Jamaah Haji sudah mencapai 8-9 tahun. Sebuah antusiasme besar yang seimbang dengan pahala yang akan didapatkan, surga. Tentunya pahala besar itu akan diperoleh jika jamaah mampu memaknai perjalanan hajinya dengan benar hingga mencapai status haji mabrur. Ibadah haji sesungguhnya bukan hanya berkaitan dengan aspek Teologis-spiritualitas, namun juga memiliki dimensi sosial yang seringkali dilupakan banyak jamaah. Dalam analisis antropologis Victor Turner melihat haji sebagai contoh sempurna yang mempraktikkan egalitarianisme, pembebasan dari struktur keduniaan, dan homogenisasi status sosial serta kesederhanaan dalam berpakaian dan tingkah laku. Maka, haji sesungguhnya adalah perjalanan kembali kepada Tuhan secara sukarela sekaligus pembebasan manusia dari segala status sosial yang melekat pada dirinya. Egalitarianisme haji tersimbolkan secara nyata dalam parade pakaian ihram yang menampilkan homogenitas pakaian dan warna. Tata cara formal ibadah haji seringkali dipahami oleh komunitas muslim hanya terbatas pada dimensi fiqhiyyah semata, formalistik, atau bahkan terkesan simbolik. Bila sebatas itu pemahaman kita mengenai ibadah haji, ini berarti (disadari atau tidak), sebenarnya kita telah mereduksi bagian-bagian yang sangat fundamental dari fungsi ibadah haji sebagai simbol kepasrahan terhadap perintah Allah SWT. Lalu, bagaimana agar ibadah haji itu benar-benar berkualitas (mabrur), tidak sia-sia, sekaligus reformatif terhadap perilaku dan sikap keberagamaan kita sehari-hari? Di sinilah dibutuhkan pemahaman yang cukup komprehensif dan integral terhadap dimensi-dimensi yang melekat pada ibadah haji itu sendiri, yaitu dimensi teologis dan sosial. Continue Reading »

No responses yet

Oct 17 2011

Bukan Kebetulan, UII Bervisi Rahmatan Lil'alamin

Published by under Refleksi

Senin, 17 Oktober 2011 telah menjadi hari penting dan bersejarah dalam perjalan kampus UII dan bangsa Indonesia, karena hari itu diresmikan sebuah integrasi harmonis yang luar biasa antara 3 unsur yang terlihat sekilas berbeda-beda senyawanya, yaitu perpustakaan, museum dan candi peninggalan agama Hindu. Peresmian dilakukan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, SE. yang menyatakan bahwa ini kali terakhir meresmikan pemugaran sebuah candi dalam jabatannya sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, karena 2 atau 3 hari lagi Kementrian itu akan berganti nama. Continue Reading »

No responses yet

Sep 17 2011

Sesempurna-sempurna Maaf

Published by under Refleksi

Hari Raya Idul Fitri 1432 H baru saja kita lewati, namun demikian momen untuk saling meminta dan memberi maaf tidak hanya pada saat itu saja. Meminta dan memberi maaf sudah semestinya menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim sehari-hari. Bukankah Al-qur'an sudah menegaskan bahwa meminta dan memberi maaf merupakan cerminan dari perilaku orang-orang yang bertaqwa. Cerminan taqwa ini sudah seharusnya terefleksi terus sepanjang hidupnya, tidak hanya disaat bulan Ramadhan saja. Continue Reading »

No responses yet

Aug 17 2011

Mahasiswa UII Mau Dibawa ke Mana?

Published by under Refleksi

SEBAGAI seorang mahasiswa dalam dirinya mengalami permasalahan yang kompleks. Kalau diperhatikan, mereka masih dalam masa pertumbuhan. Disatu sisi dia sedang menuntut ilmu, dan di sisi yang lain kepribadiannya sedang unstabil. Sedang mencari jati diri. Ketika sedang mencari jati diri kalau tidak ada arahan dari lingkungan tempat dia berada bisa membuat tujuan awalnya yaitu, kuliah bisa gagal. Kalau lingkungan tidak bisa mensupport dia percaya diri, malah seperti laying-layang putus tali. Continue Reading »

No responses yet

Jul 17 2011

Quantum Learning Nabi Khidir

Published by under Refleksi

Dalam kisah Nabi Musa, setelah Nabi Musa diangkat menjadi Nabi, Nabi Musa belajar tentang pengalaman kepada Nabi Khidir. Mengapa Nabi Musa disuruh oleh Allah untuk belajar kepada Nabi Khidir yang tidak mempunyai pengikut adalah karena Nabi Khidir mempunyai ilmu yang sangat dalam. Lalu juga Nabi Khidir adalah Nabi yang mempunyai pengalaman yang sangat banyak. Nabi Khidir juga sering melanglang buana mengunjungi berbagai tempat. Tidak seperti Nabi Musa yang hanya menetap di wilayah Mesir. Continue Reading »

No responses yet

Jun 17 2011

MEWUJUDKAN KAMPUS BEBAS ROKOK (TEMBAKAU)

Published by under Refleksi

(Sebuah Refleksi Peringatan Hari Bebas Tembakau Sedunia 31 Mei)

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Kalimat tersebut sudah terlalu akrab di mata dan telinga kita. Terlalu akrab malah, sehingga sebagian kita mungkin memandangnya sebagai satu kalimat yang memang seharusnya “menghiasi” setiap bungkus atau baliho iklan rokok yang terpasang menyolok di tepi ruas jalan besar atau di akhir sebuah iklan rokok di televisi. Kalimat tersebut memiliki makna yang dalam, tapi anehnya, dalam keseharian kita dengan gampang menemukan dari orangtua, laki-laki atau perempuan bahkan anak-anak merokok di tempat umum, termasuk mahasiswa, dosen dan pegawai di sudut tertentu, taman dan kantin kampus tercinta ini. Continue Reading »

No responses yet

May 17 2011

Keteladan dan Budaya Kerja

Published by under Refleksi

Perilaku dalam bekerja keras dan cerdas, memimpin pegawai dengan persuasif, dan membangun hubungan vertikal dan horizontal yang harmonis merupakan contoh-contoh perilaku sifat terpuji dari seseorang. Karena berperilaku menakjubkan dari sekelompok pegawai dan pimpinannya maka kinerja perusahaan akan meningkat. Dari mana referensi keteladanan itu bisa dipelajari dan ditiru? Biasanya keteladanan itu datangnya dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang baik dalam berbagai segi maka para pegawai cenderung akan menirunya. Bahkan tanpa diperintah sekalipun. Hal ini lumrah terjadi dalam suatu organisasi termasuk Uiniversitas Islam Indonesia. Apakah kalau begitu sumber referensi keteladanan hanya dari pemimpin atau pimpinan unit?

Memang referensi dari pimpinan merupakan sumber utama. Namun demikian tidak cukup. Ada sisi lain yang perlu dipenuhi yakni dari rekan sekerja. Para pegawai akan semakin terpacu untuk meningkatkan mutunya manakala melihat kemajuan rekan-rekan sekerjanya. Misalnya dalam hal kompetensi pegawai. Syarat untuk itu hanya dapat dipenuhi lewat proses pembelajaran seperti pendidikan-pelatihan dan magang. Karena itu pegawai yang belum banyak mengikuti pendidikan dan pelatihan akan terdorong oleh keberhasilan rekan kerjanya. Keberhasilan itu merupakan fungsi dari kinerja pendidikan dan pelatihan dan produktifitas kerjanya. Continue Reading »

No responses yet

Apr 17 2011

Sebaik-baik Manusia

Published by under Refleksi

Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [QS. Al-Baqarah : 195]

Ada hadits yang pendek namun syarat makna yang dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Tak ada yang bisa membantah bahwa manusia itu makhluk sosial. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan. Hanya omong kosong dibungkus kesombongan yang nyata ketika seseorang berujar “aku bisa hidup sendiri tanpa orang lain”. Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah SWT kepekaan untuk mengamalkan aneka pernik peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah SWT kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah SWT aneka potensi kelebihan oleh-Nya dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkan untuk sebanyak-banyak umat manusia. Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana diri punya nilai manfaat bagi orang lain.  Seakan hadits di atas mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauhmana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauhmana nilai manfaat diri ini? Kalau menurut Emha Ainun Nadjib harus tanyakan pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makhruh atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau ada sangat dirindukan sangat bermanfaat bahkan perilaku membuat hati orang disekitar tercuri. Continue Reading »

No responses yet

Mar 17 2011

Karakteristik Etos Kerja Muslim

Published by under Refleksi

Dan katakanlah : "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS At-Taubah, 9 : 105)

“Seburuk-buruk tempat adalah pasar, sebaik-baik tempat adalah masjid” (Nabi Muhammad SAW.)

Secara sekilas membaca hadits tersebut, kita seolah-olah masuk pada suatu dikotomi atau pertentangan yang ekstrem antara kedua tempat tersebut yakni pasar versus masjid. Namun tulisan ini tidak berupaya untuk menajamkan perbedaan pada kedua kutub tersebut Alih-alih untuk memisahkan keduanya, kita mencoba memadukannya dengan meminjam pandangan dunia Muslim tradisional, sebuah tawaran pandangan yang acapkali digagas oleh Seyyed Hossein Nasr dalam karya-karyanya. Mengomentari hadits tersebut, Kuntowijoyo, dalam karyanya Dinamika Perjuangan Umat Islam Indonesia, menyebutkan bahwa kedua tempat itu sebetulnya merupakan suatu simbol aktivitas dalam dunia kehidupan Muslim. "Penafsiran" Kunto yang didasarkan pada pendekatan sosiologis memaknai "pasar" sebagai simbol aktivitas kerja secara khusus, sedangkan "masjid" dimaknai sebagai wilayah beribadah atau belajar (ta'lim) secara khusus pula. Memang, bila "kerja" dibatasi maknanya pada matra ekonomi dan sosial belaka, seakan-akan mengesankan adanya dikotomi antara yang profan-duniawi (pasar, kerja) dengan yang sakral-ukhrawi (masjid, belajar). Celakanya, kesan seperti itu tampak begitu kuat di kalangan Muslim sendiri. Continue Reading »

No responses yet

« Prev - Next »