Archive for the 'Pesona' Category

Dec 16 2013

Best & Interesting Photo Options

Published by under Pesona

Sejumlah pengendara berhenti menikmati alam saat melintas di kawasan Fly Over Kelok Sembilan, di Kab. Limapuluhkota, Sumbar, Minggu (15/12). Jembatan Kelok Sembilan dengan konsep konstruksi hijau itu akan dikembangkan Kementerian Pekerjaan Umum, BKSDA Sumbar, dan Pemkab menjadi wisata alam dengan konsep "Nature and Engineering in Harmony". ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Sumber

No responses yet

Oct 22 2013

Menuju ke Pelaminan

Published by under Pesona

Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.

Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.

Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik

Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26]. Yaitu dengan berbenah diri, berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dilakukannya kemudian menambah ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Continue Reading »

No responses yet

Oct 22 2013

Ta'aruf praNikah=bid’ah sesat

Published by under Pesona

Saya telah mempertimbangkan pemuatan artikel ini dalam waktu yang lama. Bayangkan! Buku yang saya kupas tersebut sudah saya baca di awal terbitnya, yaitu November 2006. Sudah hampir dua tahun saya menahan diri untuk tidak mengemukakan kupasan saya itu di depan publik.

Saya sudah beberapa kali mengingatkan penerbit melalui moderator di milisnya. (Penulis buku tersebut adalah salah seorang editor di penerbit tersebut.) Pada mulanya pesan itu secara halus (tanpa menyebut istilah bid’ah). Namun pesan saya tidak ditanggapi. Mereka masih saja menerbitkan buku yang mengandung bid’ah itu, sehingga mereka menjangkau pembaca yang semakin banyak. Karenanya, kemudian terpaksalah saya sampaikan pesan tersebut secara terbuka supaya para pembaca buku seperti itu dapat kita ingatkan. Jika saya tidak mengingatkan pembaca buku tersebut, maka saya merasa berdosa.

Naskah semula:

Disamping bahaya zina pada budaya pacaran, kita juga perlu mewaspadai bahaya lain yang bahkan lebih mengerikan, yaitu bid’ah pada budaya ta’aruf praNikah. Mengapa lebih mengerikan? Sebab, bahaya ini cenderung kurang disadari. (Pelakunya menyangka menunaikan sunnah Rasul, padahal melakukan bid’ah yang sesat dan menyesatkan.)

Meskipun istilah taaruf itu terdapat dalam Al-Qur’an (al-Hujurat 13), bukanlah ini berarti bahwa semua bentuk taaruf itu dapat kita terima keberadaannya. Bagaimanapun, kita harus bertaaruf sesuai syariat Tuhan. Kita tidak boleh melakukan bid’ah, yakni “mengada-adakan tradisi yang tertentu dalam beragama”. (Menurut Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, tradisi yang kita adakan dalam beragama itu bukan bid’ah apabila kita tidak menetapkan aturannya, kecuali bila ditetapkan oleh Allah atau Rasul-Nya.)

Pada budaya taaruf pranikah, ternyata ada sejumlah aktivis dakwah yang berusaha menetapkan aturannya, padahal aturan tersebut bukan berasal dari Allah atau Rasul-Nya. Untuk contoh, marilah saya tunjukkan sepuluh bentuk bid’ah yang terdapat di sebuah buku terbitan Lingkar Pena, 2006. Judulnya: Taaruf, Keren..! Pacaran, Sorry Men! (Nama penulisnya tidak saya sebut. Sebab, saya tidak bermaksud menyerang penulisnya. Yang saya kritik hanyalah tulisannya.)
1. Pembatasan Tujuan Taaruf
Katanya, “Tujuan taaruf sudah jelas, untuk menikah.” (hlm. 12 dan 31) Menurut penulis buku tersebut , kita tidak boleh taaruf bila tujuannya bukan untuk menikah. Katanya, “Sebelum kamu taaruf, kamu harus yakin apakah kamu sudah benar-benar siap untuk menikah.” Padahal, penetapan (pembatasan) tujuan taaruf itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad saw. dan para sahabat justru terkadang berusaha mengenal (bertaaruf) dengan seorang lawan-jenis, walau tidak hendak menikah dengannya. Usaha mengenal itu tampak jelas pada pengajuan pertanyaan “siapa kau” atau “siapa dia”. Contohnya: “Nabi saw. datang menemui ‘Aisyah r.a.. Ketika itu di samping ‘Aisyah ada seorang wanita. Nabi saw. bertanya, ‘Siapa wanita itu?’ ….” (HR Bukhari dan Muslim) Continue Reading »

No responses yet

Oct 22 2013

Pembatasan Taaruf (Bid’ah & No Bid’ah)

Published by under Pesona

Seorang pembaca bertanya, “Adapun pembatasan 3 bulan itu tidak pernah dimasukkan sebagai bagian ibadah, kenapa harus dikategorikan bid’ah?” Sementara itu, SPIP (seorang penentang islamisasi pacaran) menyangkal artikel saya di sini dengan menyatakan:

Yang perlu dipahami adalah bahwa Ta’aruf itu sendiri bukanlah amaliyah semacam ibadah Mahdah yang telah tetap rukun dan tata caranya, tetapi ia adalah anjuran Qurani ….

Kemudian pada update yang kami tempatkan di akhir artikel tersebut, kami terangkan:

Continue Reading »

No responses yet

Oct 22 2013

Khitbah/Peminangan yang bukan bid’ah

Published by under Pesona

Insya Alloh di akhir Januari mendatang saya akan mengkhitbah seorang wanita, namun saya masih agak bingung tentang tata caranya. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan dari saya: (1) bagaimanakah cara melakukan khitbah terhadap seorang akhwat? (2) apakah perlu ketika proses khitbah tersebut dilakukan, kita membawa barang-barang tertentu seperti yang lazim ada di masyarakat saat ini? (3) apakah diperbolehkan melakukan khitbah kepada wali dari akhwat tersebut dilakukan secara sendirian tanpa didampingi dari orangtua kita? (4) apakah ada lafadz tertentu dalam proses khitbah tersebut, bila ada bagaimana? (5) dan bila tidak ada lafadz tertentu, sebaiknya saya berbicara seperti apa kepada wali dari akhwat tersebut? (6) apakah ada batasan waktu tertentu dari masa khitbah ke masa wa’limahan?

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Alhamdulillaah… aku turut gembira atas rencana khitbahmu. Sebelum menyampaikan jawabanku, aku pun mau bertanya kepadamu:

  • Apakah kau dan sang akhwat sudah saling kenal?
  • Apakah si dia sudah tahu tentang rencana khitbahmu ini?
  • Apakah kau pernah berkomunikasi (dalam rangka menjalin silaturrahim) dengan orangtua/wali si dia?

Kalau semua jawabannya iya, maka proses khitbahmu insya’allah akan lebih lancar. Berikut ini jawabanku atas pertanyaan-pertanyaanmu.

1. bagaimanakah cara melakukan khitbah terhadap seorang akhwat?
Dibandingkan dengan agama besar lainnya, Islam merupakan agama yang sederhana. Cara nikahnya sederhana, apalagi khitbah. Tentu lebih sederhana lagi. Sekadar menyampaikan lamaran untuk menikah dengan si dia kepada yang bersangkutan pun sudah tergolong khitbah. Khitbah adalah permohonan kepada yang bersangkutan (yakni si dia atau walinya) untuk menikah dengan si dia. Khitbah sudah sah dan sempurna hanya dengan ungkapan permohonan itu saja. Continue Reading »

No responses yet

Oct 22 2013

Menangkal Serangan FPI

Published by under Pesona

Entah kenyataan atau sekedar perasaan ana saja bahwa ikhwan lebih mudah terjatuh sakit cinta daripada akhwat. Terjatuh sakit cinta bagi sebagian orang adalah hal yang membahagiakan, namun bagi sebagian lain terlalu menyakitkan. Jenderal Tian Feng a.k.a. Ti Pat Kai dalam Kera Sakti selalu menggumamkan puisi tentang cinta.

dari dulu beginilah cinta
deritanya tiada akhir

Itu adalah puisi cinta abadi Sang Jenderal. Namun bagi sebagian kita, cinta ibarat taman bunga di musim semi, penuh warna dan keharuman tiada tara, penuh kejutan indah yang memacu jantung dan adrenalin. Ada kerinduan untuk sekedar berjumpa dan mendengar suaranya. Ada hasrat untuk tahu kabar keadaannya. Ada kekuatan untuk mau berkorban harta bahkan jiwa. Sungguh cinta itu....seperti syair Pangeran Menjangan a.k.a. Wei Siao Bao.

angin dingin menepati janji
bulan purnama tiada batas
rasa rindu kulalui sehari serasa setahun

Ana termasuk orang yang tidak percaya cinta sejati bagi seseorang yang belum mengikatnya dalam ikatan suci. Cinta yang dirasakan sesorang kepada seseorang yang lain, menurut ana masih merupakan campuran atau semata-mata nafsu. Cinta ini akan bermetamorfosis menjadi cinta sejati yang hakiki jika telah melewati gerbang pernikahan. Itu menurut ana tentang cinta bagi yang belum nikah, jadi gak boleh ada yang protes. Cinta yang dibahas pada postingan kali ini adalah cinta laki-laki kepada perempuan, bukan cinta yang lain.

Saat ini perasaan cinta sebelum nikah banyak disebut dengan Virus Merah Jambu. Padahal warna merah jambu adalah warna yang indah dan cerah. Menurut ana kurang tepat jika virus yang bisa merusak ini disebut dengan Virus Merah Jambu. Ana menyebutnya sebagai Virus Panah Iblis karena virus ini lebih sering muncul karena pandangan yang tidak terjaga. Dalam sebuah hadits qudsi:

"Pandangan mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya." (HR. Al Hakim)

Maka, barang siapa yang meninggalkan pandangan jelalatan karena takut Allah niscaya akan diberikan kepadanya rasa manisnya iman di hati. Mungkin juga manis yang dimaksud adalah manisnya cinta hakiki.

Untuk memudahkan menyebut Virus Panah Iblis maka ana mengubah konsonan ‘V’ pada kata virus dengan ‘F’ agar mudah dan familiar di telinga. So, Virus Panah Iblis dipelesetkan menjadi Firus Panah Iblis dan disingkat menjadi FPI. Ana tidak bermaksud menjelekkan Front Pembela Islam yang singkatan namanya juga FPI, ana termasuk pendukung sebagian langkah FPI kok. Buat yang anggota dan pendukung FPI, jangan tersinggung yah...

FPI juga singkatan dari Forum Pasangan Intim alias pacaran. Ana udah ngebahas di postingan yang lain. Jadi, dengan sangat ana menganjurkan kepada setiap yang menyebut Virus Merah Jambu menjadi Firus Panah Iblis. Dengan menyebutnya sebagai Firus Panah Iblis maka akan memberi efek psikologis bahwa virus ini bisa sangat berbahaya dan merusak jiwa. Coba bandingkan kalau disebut dengan nama Virus Hijau Melon, Virus Ungu Terong, Virus Kuning Telur, Virus Manis Gula, Virus Merah Bawang, atau Virus Pedas Merica. Malah sudah bisa buat masak sayur kan?

Beberapa ikhwan yang mudah sakit jatuh cinta karena terserang FPI memiliki tips dan trik tertentu dalam mencegah penyakit ini. Ada yang sering minum suplemen, olahraga setiap hari, membersihkan lingkungan tempat tinggal, ikut klub kebugaran, membuang sampah pada tempatnya dan makan empat sehat lima sempurna.... (Lho? Kok malah sehat raga dan badan?)

Ana mencari tips-tips khusus yang khas untuk menghindarkan diri dari mudahnya terserang FPI ini dari beberapa ikhwan. Untuk cara paling umum seperti ikhlas, gadhul bashar, puasa, hijab fisik dan jaga hati tidak ana masukkan dalam tips khusus karena merupakan metode umum, di Quran dan hadits sudah ada. Tips ini belum tentu benar bagi seseorang dan salah bagi seseorang yang lain. Semua tergantung pada personal yang mengalami dan memiliki trik untuk tetap sehat dan tidak mudah terserang FPI. Kalaupun akhirnya terserang maka itu memang fithrah ikhwan untuk terjatuh. Asal jangan jangan jatuh cinta melulu, harus ada saatnya untuk bangun cinta (pinjam istilahnya Salim A. Fillah).

Tips ini sifatnya masing-masing mandiri, berdiri sendiri dan independen dari tips yang lain, jadi dari tips yang satu bisa bertentangan dengan tips yang lain. Kalau mau dipraktikkan silakan, kalau mau ditolak juga silakan karena beberpa tips jika diterapkan kepada seseorang malah akan membuatnya lebih mudah kena serangan FPI. Kepada ikhwan yang telah berbagi tips ini, ana ucapkan syukran jiddan, jazakumullah khairan katsiran. Continue Reading »

No responses yet

Nov 25 2011

Wanita Keluar Rumah U/ berHijab

Published by under Pesona

Sebuah Nasehat dari Samâhatusy Syaikh Al-‘Allâmah Ibnu Bâz rahimahullâh

Merebaknya kejahatan seksual kian memprihatinkan

Namun sedikit yang menyadari bahwa semua itu bersumber dari tersebarnya kerusakan sebagai akibat dari diumbarnya aurat wanita di tempat-tempat umum. Bocah yang masih ingusan atau kakek yang telah renta bisa menjadi pelaku kejahatan karena mereka secara terus-menerus ‘dipaksa’ mengkonsumsi pemandangan yang bukan haknya.

Ironisnya, sebagian korban adalah bocah perempuan yang belum mengerti apa-apa. Artikel berikut barangkali bisa menjadi renungan untuk kita semua.

Agama Islam datang dengan memberikan kemuliaan kepada wanita, memeliharanya dan menjaganya dari terkaman serigala dari kalangan manusia. Sebagaimana Islam menjaga hak-hak wanita, mengangkat harkat dan martabatnya. Islam menjadikan wanita berserikat dengan lelaki dalam hak memperoleh warisan.

Islam mengharamkan perbuatan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Islam mewajibkan adanya izin dari pihak wanita bila ia hendak dinikahkan oleh walinya. Wanita pun diberikan kebebasan dalam mengatur dan mengurusi hartanya bila memang memiliki kecakapan.

Islam mewajibkan kepada seorang suami untuk menunaikan kewajiban yang banyak berkaitan dengan istrinya, sebagaimana Islam mewajibkan kepada seorang ayah dan karib kerabat si wanita untuk memberikan nafkah kepadanya ketika ia membutuhkan. Islam mewajibkan wanita untuk menghijabi dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Agar ia tidak menjadi barang dagangan murahan yang bisa dinikmati oleh setiap orang. Continue Reading »

No responses yet