Mar 11 2014

Pengantar Penerbit: Asyiknya Menjadi Teladan di Sepanjang Jaman

Published by at 5:52 pm under Vatepri

Menjadi teladan yang baik sungguh berpahala besar dan berlipat. Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam mengajarkan, siapa saja yang memberikan teladan yang baik maka dia akan mendapatkan pahala ditambah lagi pahala sebesar pahala yang diberikan Allah pada orang yang mencontoh kebaikan kita. Sebaliknya, yang memberikan contoh jelek akan mendapat dosa ditambah sebesar dosa orang yang mengikutinya.
Dari Ibnu Umar Jarir Bin Abdillah Radhiyallahu ’anhu, dia berkata: Berkata Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam: ”Barangsiapa yang memulai melakukan suatu perbuatan yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya ditambah dengan pahala orang yang ikut mengerjakan sesudahnya tanpa mengurangkan pahala orang yang mengikutinya. Dan (sebaliknya) barang siapa yang memulai perbuatan yang buruk maka ia akan menanggung dosanya ditambah dengan dosa-dosa orang yang mengikuti sesudahnya tanpa dikurangkan sedikitpun dosa orang yang mengikutinya itu.” (Hadits Riwayat Muslim)
Pelajaran yang bisa kita petik dari hadits tersebut antara lain, kita dituntut supaya memberi teladan atau menjadi pelopor dalam kebaikan sehingga diikuti oleh orang lain atau generasi sesudahnya. Maka yang demikian itu akan mendatangkan pahala yang berlipat selama contoh yang kita berikan itu diikuti orang lain atau generasi sesudahnya. Sebaliknya, langkah buruk akan mendatangkan dosa dan akan berlipat dosanya jika diikuti orang lain atau generasi sesudahnya.


Agustin Hendriani adalah seorang sosok yang telah berusaha mengamalkan pelajaran dari Rasulullah tersebut. Bukan hanya dalam hal perilaku, yang kesehariannya memang dia dikenal santun, tapi juga dalam hal berbagi ilmu dan pengalaman. Pada suatu Ahad, 17 Juni 2007, Bu Pelangi, demikian dia akrab disapa, mendirikan perpustakaan bertajuk ”Taman Baca Rumah Pelangi”. Lokasinya di Perumahan Bumi Guwosari Indah Blok VIII, Jalan Nakula 1/44, RT 05 Pringgading, Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY, yang kebetulan menjadi tempat tinggal Bu Agustin bersama keluarga. Taman Baca Rumah Pelangi pun di-launching secara nasional pada hari Ahad, 22 Juli 2007.
Usaha Agustin Hendriani selaku ketua pengelola Taman Baca Rumah Pelangi yang didukung penuh sang suami, Tri Sihono selaku ketua Lembaga Rumah Pelangi, ternyata mendapat sambutan positif dan dukungan menggembirakan dari berbagai pihak. Buktinya, Taman Baca Rumah Pelangi tumbuh dan berkembang di sembilan lokasi. Ada Taman Baca Rumah Pelangi 1, 2, 3 sampai 9 yang semuanya banyak memberi kontribusi dalam memperluas cakrawala dan menerangi nurani. Insya Allah, Bu Agustin dan Pak Tri yang telah mempelopori Rumah Pelangi mendapat pahala berlipat sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas.
Perkembangan Taman Baca Rumah Pelangi yang penuh prestasi ternyata menarik minat seorang mahasiswa Fisipol Universitas Airlangga Surabaya untuk melakukan penelitian. Heru Purwanto, sang mahasiswa Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan itu, kemudian menuliskannya menjadi skripsi berjudul ”Taman Baca Rumah Pelangi (Perluas Cakrawala dan Terangi Nurani, Secercah Cahaya dari Gua Selarong)”.
Waktu terus berlalu, suasana berubah. Bersama Taman Baca Rumah Pelangi, Agustin Hendriani terus melangkah untuk berbagi faedah. Menebar dakwah, menggalang ukhuwah tak kenal lelah, hingga akhirnya meraih husnul khatimah.
Dalam Al-Quran, Allah sudah menegaskan: ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati...” (QS. Al-Anbiya’: 35). Juga dijelaskan, jika sudah datang saatnya meninggal, Allah tidak akan menangguhkannya dan tak seorang pun kuasa menolak nya ( Al-Munafiqun: 11). Dan tak ada seorang pun yang bisa mengundur atau memajukan kematian (Al-A’raf: 43).
Meski keluarga dan masyarakat berharap serta berdoa agar Bu Agustin dikarunia panjang umur dan bisa terus berbagi manfaat, ternyata takdir berbicara lain. Pada 3 Ramadhan 1434 Hijriyah atau Jum’at, 12 Juli 2013 pukul 00.10 WIB Allah berkenan memanggil menghadap-Nya. Bu Agustin syahid beberapa saat setelah melahirkan melahirkan anak ketiga. Innalillaahi wainnaa ilaihi raji’uun.
Meninggalnya Sang Syahida, Bu Agustin, telah meninggalkan banyak ’jejak harum’ salah satunya adalah Taman Baca Rumah Pelangi. Beliau meninggalkan seorang suami, tiga anak, sembilan Taman Baca Rumah Pelangi, dan ribuan orang yang mengambil manfaat dari ’jejak harum’nya. Agustin Hendriani pun layak disebut telah menjadi teladan di sepanjang jaman.
Jika Taman Baca Rumah Pelangi bisa dinilai sebagai ’sedekah’ mudah-mudahan termasuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir. Jika semasa hidupnya Bu Agustin banyak berbagi ilmu mudah-mudahan itu menjadi amalan yang tiada putus pahalanya. Ketiga anak yang ditinggalkannya pun semoga menjadi anak-anak shalih-shalihah yang mendoakan orangtuanya. Klop sudah dengan apa yang disebut Nabi.
”Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah darinya amal, kecuali dari tiga hal. Dari sedekah yang terus mengalir, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.” (HR. Muslim).
Skripsi karya Heru Purwanto yang mengisahkan tentang kiprah Bu Agustin dan Taman Baca Rumah Pelangi secara detail pun bisa menjadi dokumentasi yang berarti dan referensi yang memadai. Juga menjadi inspirasi yang menggugah hati bagi pihak manapun yang ingin memperluas cakrawala dan menerangi nurani. Untuk itu, informasi yang ada dalam skripsi ini perlu dibagi-bagi. Atas masukan dari berbagai pihak, skripsi itu pun diterbitkan menjadi buku ini. Tentu setelah dilengkapi di sana-sini.
”Jejak Harum Sang Syahida; Perluas Cakrawala dan Terangi Nurani” sengaja dipilih untuk judul ini. Untuk awal, bahasa di buku ini sengaja masih tampil dalam bahasa skripsi. Meski demikian, buku ini berisi informasi yang asli dan penuh arti.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Tim Penerbit untuk kesempurnaan buku ini. Tapi ibarat pepatah ”Tiada gading yang tak retak”, kami menyadari buku ini masih penuh kekurangan di sana-sini. Untuk itu, berbagai masukan dari pembaca sangat diharapnantikan.
Selamat membaca. Mari terus mewujudkan langkah nyata dalam memperluas cakrawala dan menerangi nurani. Semoga hidup kita selalu diridhai Ilahi dan penuh arti.

Editor: Sutrisno
kang_tris72@yahoo.co.id

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*