Archive for January 16th, 2014

Jan 16 2014

Pasal Karet Dicabut MK

Published by under News

Pasal 335 Ayat (1) Butir 1 KUHP Sudah Tidak Menjadi "Pasal Karet"

Pada akhirnya frasa, 'Sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan' dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP bertentangan dengan UUD 1945 sebagaimana diputus oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang PUU, di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, pada hari ini, Kamis, 16 Januari 2013 (Situs Detik.com 16/1/2014).

Penulis mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Muhammad Sholeh dan kawan-kawan selaku Kuasa Hukum dari Oei Alimin Sukamto Wijaya yang mengajukan permohonan tersebut. Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada MK yang telah menyatakan bahwasanya frasa tersebut tidak mengikat secara hukum. Ucapan terima kasih yang selanjutnya adalah kepada Prof. DR. Jur. Andi Hamzah yang telah menuangkan pemikirannya beberapa waktu lalu terkait hal ini dalam bukunya, Delik-Delik Tertentu di dalam KUHP. The last but not least kepada para ahli hukum dan/atau praktisi hukum yang meniscayakan dihapusnya frasa tersebut.

Prof. DR. Jur. Andi Hamzah beberapa waktu lalu menyatakan bahwasanya mengharapkan ke depannya, frasa dalam kalimat “ataupun perbuatan yang tidak menyenangkan atau ancaman perbuatan tidak menyenangkan” dalam Pasal 335 KUHP dihapus dikarenakan jika ditelusuri ke belakang, di dalam KUHP Belanda sendiri tidak ditemukan frasa-frasa tersebut.

Hal ini menjadi penting adanya dikarenakan jika ketentuan tersebut masih menggunakan frasa tersebut, maka dikhawatirkan dapat menjerat siapa saja dan dapat disalahgunakan. Mengingat, tidak ada batasan yang jelas, terkait “perbuatan lain maupun perlakuan tak menyenangkan”. Peran subyektif dapat berperan besar di frasa-frasa sebagaimana dimaksud di atas.

Dengan demikian bunyi pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP berubah menjadi, "Diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 4.500,00 (empatribu limaratus rupiah): ke-1. barangsiapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain."

Salam keadilan... 😉

Sumber

-

No responses yet

Jan 16 2014

Anis Matta: Menjadi Otak, Hati, Tulang Punggung

Published by under News

Memimpin Indonesia tidak akan berhasil hanya karena menjadi seorang presiden, tidak akan berhasil hanya karena punya banyak menteri. Anda akan berhasil memimpin Indonesia apabila mau menjadi otaknya Indonesia, hatinya Indonesia, dan tulang punggung Indonesia.

Demikian konsepsi pemimpin menurut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disampaikan Presiden PKS M Anis Matta dalam wawancara khusus dengan Kompas di kantor The Future Institute, Jakarta, Kamis (9/1/2014).

Menurut dia, pemimpin negeri ini harus menguasai wacana, memiliki kemampuan mengarahkan atau menggerakkan emosi publik, serta mampu merealisasikan rencana atau program-program pembangunan.

Menurut Anis, fungsi tersebut bisa dilihat dalam pemerintahan Orde Baru. ”Militer bisa memimpin selama Orde Baru itu bukan karena Pak Harto (Presiden Soeharto),” katanya.

Sejak awal Orde Baru, militer sudah intensif mengembangkan wacana keindonesiaan. Bahkan, hasil seminar TNI Angkatan Darat tahun 1966 digunakan sebagai ide dasar penyusunan platform pembangunan. Pada sisi inilah, militer berhasil memosisikan diri sebagai otaknya Indonesia.

Militer juga berhasil menggerakkan emosi masyarakat dengan menciptakan kepercayaan diri dan optimisme bangsa. Selain itu, militer juga menguasai pemerintahan karena diberlakukan Dwifungsi ABRI.
”Itulah kenapa dia (militer) mampu mengeksekusi (merealisasikan) semua rencana pembangunan yang dicanangkan sebelumnya,” ujarnya.

Pelajaran untuk parpol

Mengambil pengalaman pemerintahan Orde Baru bukan berarti PKS menginginkan militer berkuasa kembali. Peran yang diambil militer sebagai otak, hati, dan tulang punggung bangsa itulah yang seharusnya menjadi pelajaran partai politik sebagai pabrik pemimpin bangsa. Continue Reading »

No responses yet