Dec 30 2013

Mi Instan Jitu Aman

Published by at 9:55 am under Perlu Diketahui

Mi instan merupakan makanan yang paling simpel dikonsumsi. Mudah dan praktis. Namun perlu diingat bahayanya. Misalnya, endapan zat pewarna yang sangat berbahaya bagi tubuh.

Ahli gizi Afrinia Ekasari menuturkan, mi instan terbuat dari bahan dasar tepung, terigu, telur, air dan mineral, serta dilengkapi bumbu dan minyak sayur. Memang ada kandungan vitamin, tapi pada faktanya, jauh dari standar untuk memenuhi angka kebutuhan gizi. Terutama bagi anak-anak.

Ada beberapa kandungan berbahaya pada mi instan, yakni bahan pengawet dan pewarna yang tidak dapat diurai di dalam tubuh, sehingga cenderung tidak dapat dikeluarkan. Jadi, apabila zat-zat tersebut terlalu sering dikonsumsi, dapat mengendap dalam tubuh dan bersifat karsinogenik atau merusak.

“Karena itu, untuk memenuhi zat gizi, sebaiknya mi instan ditambahkan sayuran dan protein hewani seperti telur, ayam, udang,” ujar wanita yang lama berkarir di perusahaan makanan tersebut. Afrinia menyarankan jangan terlalu sering mengonsumsi mi instan.

Sementara Andi Imam Arundhana, ahli gizi dari Universitas Hasanuddin menguraikan bahwa dalam prinsip-prinsip makanan seimbang, apa yang dikonsumsi harus beraneka ragam, memiliki kandungan gizi. “Tidak hanya mengandung karbohidrat, tapi juga lemak, protein dan vitamin. Tidak cukup dengan kenyang saja,” ujarnya.


Sebagai gambaran, lanjut Andi, saat sarapan, seseorang membutuhkan sekitar 15-25 persen dari kebutuhan zat gizinya. Sementara kandungan mi instan baru memenuhi sekitar 16 persen kebutuhan karbohidrat dan lemak seseorang (kebutuhan 2.000 kkal).

Terkait dengan bahan pengawet, Andi mengungkapkan, kendati bisa hilang, memang sangat sulit. “Melalui sistem sekresi manusia, setidaknya sekitar empat hari kemudian,” ujarnya.

Karena itulah, dia mengatakan, kalaupun terpaksa harus mengonsumsi mi instan, durasi paling banyak 4-5 hari sekali. “Misalkan hari ini kita sudah konsumsi mi instan, empat hari sampai lima hari kemudian baru bisa konsumsi lagi,” jelasnya.

Andi dan Afrinia sependapat bahwa cara memasaknya harus diperhatikan, selain menambah bahan makanan lain saat mengonsumsi mi instan, demi kesehatan.  Keduanya menyarankan agar ketika memasak mi instan, air rebusan pertamanya dibuang. Hal itu perlu dilakukan untuk membuang pengawetnya.

“Barulah mi instan dimasukkan ke dalam air mendidih yang baru, sehingga kadar pengawetnya keluar,” jelas Andi.

Cara lainnya yang bisa ditempuh adalah tidak menggunakan bumbu bawaan dari mi. “Kita bisa mengolah bumbunya sendiri seperti saat memasak,” kata Andi. Atau, minimal kurangi penggunaan bumbu mi instan. Ini untuk meminimalisasi masuknya pengawet ke dalam tubuh kita.

“Jika sudah terasa cukup, buang saja sisa bumbunya. Bila ingin lebih asin, ada baiknya ganti dengan menambahkan garam,” katanya. “Berbagai cara tadi bisa ditempuh, bila memang kita tidak bisa menghindari konsumsi mi instan.”

Bagian lain yang perlu diperhatikan, yaitu ketika membeli. Kata Afrinia Ekasari, selain melihat tanggal kedaluwarsa, komposisi, logo halal, pastikan juga kemasan tidak cacat atau robek. Sebab dalam kondisi cacat atau robek, berbagai macam serangga dapat mengontaminasi mi instan tersebut.

Sumber

---

Kerugian Mengkonsumsi Makanan Hangatan

Selain olahraga dan pola makan yang sehat untuk menjaga kesehatan tubuh, ternyata cara mengolah makanan juga sangat penting. Selain lebih baik menghindari makanan yang digoreng, maka disarankan juga untuk tidak mengkonsumsi makanan hangatan, karena tubuh akan mendapatkan kerugian.


Menurut Andang Widhawari Gunawan, ahli terapis nutrisi mengatakan makanan yang terkena panas sedikit saja, maka zat gizinya bisa hancur dan rusak, maka apalagi jika makanan yang terus berulang kali dihangatkan.

Dilansir dari detikhealth, efek kehilangan gizi ini akan semakin terasa jika menu yang dihangatkan berulang tersebut berupa sayuran. Selain rasanya yang juga berubah, menghangatkan sayuran berulang kali juga bisa menghilangkan gizi yang dikandungnya.

“Saya menganjurkan untuk masak secukupnya saja, jadi jangan dihangat- hangatkan. Itu nggak baik. Lebih baik sekali masak langsung habis,” terangnya.

Tak hanya masakan di rumah, makanan yang sering dihangatkan seperti pada jamuan pesta juga sebenarnya kurang sehat, karena menurut Adang, makanan tersebut dimasaknya sudah terlalu lama, dan harus dihangatkan sepanjang pesta agar tetap hangat.

Walaupun rasanya makanan hangatan kurang nikmat, tetapi ia menyarankan untuk tetap mengkonsumsi makanan sebelumnya dalam kondisi dingin. Jika tetap ingin mendapatkan manfaat kandungan gizinya.

“Jadi lebih baik tetap makan saja walaupun dingin, daripada dipanaskan terus-terusan,” terangnya.

Sumber

---

Kebanyakan Buah Bikin Gemuk & Diabet

Beragam cara dilakukan tiap individu ketika datang keinginan untuk menurunkan berat badan, salah satunya mengganti nasi dengan rutin konsumsi banyak buah. Lantas, apa cara seperti ini dibenarkan

Pakar Gizi Rumah sakit Pusat Pertamina, dr. Titi Sekarindah, MS, SpGK menilai salah bila ada orang yang lebih fokus dan memperbanyak porsinya dalam mengonsumsi buah. Terlebih bila perbanyak konsumsi buah itu hanya untuk menurunkan berat badan.

"Kalau ingin kurus dengan cara perbanyak makan buah itu salah besar. Buah itu mengandung gula. Bila terlalu banyak mengonsumsinya, maka secara tak langsung menaikkan kadar gula dalam tubuh. Kurus enggak, gemuk dan obesitas, iya," kata dr. Titi saat diwawancarai Health Liputan6.com, Jumat (27/12/2013)

Menurut Titi, seseorang jangan hanya fokus mengonsumsi buah saja, melainkan harus menyeimbangkannya dengan makanan lainnya, seperti karbohidrat kompleks. Karbohidrat kompleks ini bisa didapati di dalam beras merah, oat, dan roti gandum.

"Sehat itu artinya mengurangi gula. Kalau perbanyak makan buah tanpa makanan seimbang, apanya yang dikurangi Perlu diketahui, makan buah terlalu banyak tidak mengurangi gula sama sekali," kata Titi menambahkan.

Dilanjutkan Titi, dianjurkan bagi seseorang untuk mengonsumsi 3 jenis buah setiap harinya. Sebab, bila mengonsumsi buah dalam jumlah berlebih, berakibat pada lemak dalam darah semakin buruk saja kondisinya.

"Kan ini sudah ditentukan WHO. Kalau mau banyak makan yang sehat, makanlah sayur. Kalau buah, 3 saja cukup," kata Titi menjelaskan.

Maka itu, Titi menekankan kepada para individu yang ingin mengurangi berat badan untuk tidak hanya fokus dalam mengonsumsi buah-buahan saja, tetapi juga harus diimbangi dengan olahraga.

"Intinya kan, kalau tubuh enggak bergerak, percuma. Apa yang dibakar Kalau mau menurunkan berat badan, jangan lupa olahraga," kata Titi menekankan.

Sumber

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*