Dec 30 2013

Danger Up Motorcycle Without Masks

Published by at 11:19 am under Perlu Diketahui

Apakah Anda sering bepergian dengan menggunakan kendaraan bermotor? Jika iya, maka Anda sebaiknya mulai menggunakan masker dari sekarang setiap berkendara dengan motor. Tahukah Anda berapa banyak partikel dan kandungan kandungan berbahaya yang dapat terhirup dan tersimpan didalam tubuh Anda?

Setiap kendaraan bermotor melepaskan partikel berbahayayang merupakan sisa pembakaran dari kendaraan. Gas-gas beracun seperti monoksida (CO), karbondioksida (CO2), Nitrogen (N),  bahkan hingga logam berat seperti timbal terkandung di dalam asap kendaraan bermotor.

Anda mungkin tidak merasakan gejala apa-apa pada saat ini, batuk ringan, dan sesak nafas merupakan efek yang dirasakan secara langsung akibat asap kendaraan bermotor. Tetapi masih banyak efek yang baru akan muncul dikemudian hari seperti Penyakit Paru Obstrukf Kronik (PPOK) bahkan kanker.

Kadang kita tidak terlalu mementingkan dan kurang sadar akan efek dari asap kendaraan bermotor,  Jika Anda sudah paham dari bahaya bahaya rokok yang mengancam maka Anda juga harus sadar dan cerdas akan bahaya asap kendaraan bermotor. Karena pada dasarnya asap kendaraan bermotor sama bahayanya dengan asap rokok terutama di kota kota besar seperti Jakarta.

Namun  tidak perlu khawatir karena hanya dengan menggunakan masker setiap berkendara motor Anda sudah mengurangi risiko-risiko tersebut, sederhana bukan?

Sumber

---

Benarkah Angin Malam Sebabkan Penyakit Paru-paru Basah?a

Paparan angin malam disebut-sebut dapat menyebabkan seseorang menderita paru-paru basah. Benarkah pemahaman masyarakat tersebut?

Ahli kesehatan dr. Rifsia Ajani Husen mengatakan, paru-paru basah yang dimaksud adalah pneumonia. Tentu tidak tepat seandainya ada anggapan di masyarakat bahwa hal itu disebabkan oleh angin malam.

“Pneumonia disebabkan terjadinya infeksi dari bakteri, virus, microplasma, jamur, berbagai senyawa kimia dan partikel,” katanya.

Pneumonia merupakan penyakit yang bisa diderita masyarakat dari seluruh golongan umur. Dalam beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, pasien penderita pneumonia akut meninggal dunia akibat terlambat penanganan.

Beragam penelitian menunjukan bahwa gejala pneumonia meliputi batuk-batuk, sakit dada, demam, dan biasanya diikuti gejala kesulitan bernapas.  Dari data Asosiasi Paru-Paru Amerika, kebanyakan disebabkan oleh virus dari pernapasan.

Menurut dr. Rifsiah, orang yang sudah terkena pneumonia semestinya segera berobat. Sebab, jika penyakit ini dibiarkan akan fatal akibatnya. “Penderita bisa meninggal jika penyakit ini dibiarkan,” jelasnya.

Pneumonia juga mudah menular. Ada beberapa faktor risiko penularan infeksi pneumonia. Di antaranya adalah kekebalan tubuh lemah. Mereka yang daya tahan tubuhnya sedang tidak baik akan mudah tertular penyakit bila di lingkungannya ada penderita.

Selain itu, orang berusia lanjut sangat rentan tertular. “Jadi tidak ada hubungan pneumonia dengan angin malam,” tegas dokter yang praktek di RS Asih, Tangerang ini.

Meski demikian, masih banyak cara untuk mencegah penularan penyakit tersebut, seperti menempuh pola hidup sehat. Menjaga kondisi tubuh sangat penting. “Jika ada yang batuk, sebaiknya kita menutup mulut dan hidung,” anjurnya.

Sementara untuk orang lanjut usia disarankan melakukan vaksinasi guna mencegah penyakit ini.

Berikut langkah strategis untuk mencegah pneumonia sebagaimana rekomendasi dr. Rifsiah:

- Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.
- Mengusahakan sirkulasi udara yang baik di tempat tinggal maupun ruang kerja.
- Hindari rokok dan penderita batuk.
- Makanlah dengan gizi seimbang.
- Lakukan imunasi, terutama untuk anak. Vaksin Hb sudah banyak dipakai untuk menangkal pneumonia.

Sumber

---

Ini Dia Penyebab Utama Kanker Paru-Paru !

International Agency for Research on Cancer (IARC) mengutarakan bahwa pada tahun 2010, sekitar 223.000 kasus kematian diseluruh dunia disebabkan oleh kanker paru-paru akibat polusi udara, bahkan ada bukti yang meyakinkan polusi udara juga meningkatkan risiko kanker kantung kemih.

Polusi udara sudah diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti penyakit pernapasan dan penyakit jantung. Namun itu semua tergantung pada tingkat paparan dari berbagai negara belahan dunia.

Dalam sebuah pernyataan pada jumpa pers di Jenewa, Swiss, beberapa waktu lalu, wakil kepala badan kanker dunia di WHO, Dana Loomis, mengatakan,”Tugas utama kami adalah untuk mengevaluasi semua udara dan bukan hanya pada polusi udara dalam kondisi tertentu.”

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh badan kanker dunia, risiko meningkatnya kanker paru-paru secara signifikan terjadi pada orang yang terkena polusi udara, yang sebagian besar disebabkan oleh transportasi, pembangkit listrik, dan emisi industri, namun risiko yang sama juga ditemukan pada asap rokok.

Survei ini juga menunjukan tingkat paparan polusi udara telah meningkat pada beberapa negara di dunia dengan populasi besar dan memiliki industri yang maju, salah satunya Cina.

Di Indonesia sendiri penyakit pernapasan menempati urutan ke empat dari daftar penyebab kematian.

So, let’s go green ! (boy)

Sumber

---

65 Persen Kematian di Asia Disebabkan Polusi Udara

Polusi udara di outdoor telah terdaftar sebagai salah satu dari 10 faktor pembunuh manusia di dunia dan sebanyak 65 persen dari kematian akibat pencemaran udara terjadi di Asia.

Global Burden Disease (GBD), sebuah organisasi inisiatif global yang melibatkan WHO, meneliti kematian dan penyakit dari semua faktor penyebab di seluruh dunia.

Menurut penelitian, di Asia selatan, polusi udara kini berada di peringkat keenam sebagai pembunuh manusia yang paling berbahaya di dunia. Polusi udara sudah menyebabkan 3,2 juta kematian di seluruh dunia.

Angka ini telah meningkat dari total 800.000 kematian, yang diperkirakan oleh GBD pada 2000. Peningkatan ini mencapai 300 persen.

Di Asia Selatan, polusi udara bergabung bersama faktor-faktor kematian lainnya seperti tekanan darah, merokok tembakau, polusi udara indoor, asupan miskin buah-buahan dan diabetes.

Menurut angka perkiraan GBD terbaru, lebih dari 2,1 juta kematian prematur dan 52 juta tahun menderita sakit pada 2010 akibat pencemaran udara partikel halus di Asia.

Sumber

---

Polusi Udara Picu Serangan Jantung

Meskipun bukan menjadi penyebab utama serangan jantung, menghirup udara yang penuh polusi akan meningkatkan risiko serangan jantung. Risiko ini meningkat enam jam setelah menghirup polusi.

Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan 20 ribu kasus serangan jantung di Inggris dan Wales dengan data polusi udara di daerah tersebut. Hasilnya menunjukkan zat yang terkandung dalam asap knalpot kendaraan dapat memicu terjadinya serangan jantung.

Direktur Asosiasi Jantung Inggris, Jeremy Pearson, mengatakan risiko serangan jantung terjadi setelah 6 jam dan kemudian menurun. "Kita tahu polusi memiliki akibat yang buruk bagi kesehatan. Ia dapat membekukan darah dan meningkatkan risiko serangan jantung," ujarnya sebagaimana dilansir BBC, Rabu (21/9).

Pemimpin penelitian ini, Krishnan Bhaskara, mengungkapkan memang polusi bukanlah pemicu utama serangan jantung, tetapi hal tersebut perlu dihindari. Diet yang tidak sehat dan rokok adalah pemicu utama serangan jantung. "Dianalogikan seperti sepotong kue, polusi menjadi krim dalam kue pemicu serangan jantung," ujarnya.

Masyarakat sebisa mungkin untuk tidak mendekati wilayah yang tingkat polusinya tinggi dan menerapkan hidup sehat. Bagaimana dengan polusi di Jakarta?

Sumber

---

Kiat Menangkal Bahaya Akibat Menghirup Polusi Udara

Polusi udara adalah salah satu masalah serius yang dihadapi masyarakat perkotaan. Setiap hari, tak terhitung banyaknya volume asap kendaraan yang kita hirup. Apa ya akibatnya bagi tubuh kita?

Ahli Kesehatan Masyarakat Dr. dr. Hafni Bachtiar, MPH menjelaskan, polusi udara yang berbahaya adalah karbon monoksida (CO) yang dihasilkan dari pembakaran kendaraan bermotor.

Selama kendaraan bermotor menggunakan bahan bakar karbon, zat itulah yang akan dihasilkan. “Solusinya, penggunaan mobil listrik bisa mengurangi polusi udara dari karbon monoksida,” kata dr. Hafni.

Karbon monoksida sangat berbahaya bagi kesehatan jika sampai terhirup. Dampak jangka pendek yang dirasakan saat zat tersebut masuk paru-paru adalah dada terasa sesak serta batuk-batuk.

“Tetapi dampak dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti timbul penyakit kanker,” ujar pengajar di Universitas Andalas ini.

Selain karbon monoksida, debu juga bisa mendatangkan masalah serius bila terhirup dan masuk paru-paru. “Bahayanya tergantung dari jenis debu yang kita hirup. Bila kita menghirup debu silika maka akan menyebabkan silikosis, pengapuran dalam paru-paru,” jelasnya.

Kendati demikian, masyarakat bisa menangkal atau setidaknya meminimalisasi dampak polusi. Berikut kiatnya seperti disampaikan dr. Hafni:

  • Penangkal paling efektif terutama dari pengguna dan produsen kendaraan bermotor.  Pengguna kendaraan bermotor bisa meminimalkan pemakaian kendaraan pribadi. Selain itu, gunakan bahan bakar yang mengurangi polusi, seperti solar cell, gas dan listrik.
  • Masyarakat  harus membiasakan diri mengenakan masker. “Tidak perlu memakai masker ideal karena harganya mahal. Masker ideal biasanya khusus dipakai untuk orang-orang yang akan memasuki tempat dengan tingkat polusi tinggi,” katanya.
  • Untuk sehari-hari masyarakat cukup mengenakan masker yang dibeli di apotek. Penggunaan masker sangat penting terutama untuk menangkal debu agar jangan terhirup.
  • Hindari wilayah yang memiliki kadar polusi berat. “Di kota-kota besar terdapat daerah-daerah yang kadar polusinya sudah terpantau. Sebisa mungkin hindari tempat-tempat yang tingkat polusinya tinggi,” jelasnya.
  • Radikal bebas yang terhirup sebenarnya bisa dinetralisir dengan makanan yang mengandung antioksidan. Oleh karena itu, masyarakat di kota besar harus mengonsumsi makanan yang banyak mengandung antioksidan, seperti buah-buahan.
  • Penghijauan merupakan langkah baik untuk mengurangi dampak polusi.
  • Masyarakat harus mendukung pemerintah untuk menciptakan transportasi massal demi mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Jika kendaraan bermotor di jalan dikurangi, tingkat polusi udara otomatis akan turun.

Sumber

---

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*