Dec 24 2013

Gaji Istri Milik Siapa?

Published by at 9:29 am under Motivasi

Tulisan saya sebelumnya mengenai Uang Suami, Uang Istri  ternyata menyisakan beberapa pertanyaan dari pembaca. Di antara pertanyaan yang masih banyak didiskusikan: Apakah penghasilan istri yang bekerja sepenuhnya menjadi hak istri?

Membaca beragam komentar dari pembaca, saya melihat ada dua titik ekstrem. Pertama, yang menganggap gaji istri yang bekerja sepenuhnya hak istri karena dia yang bersusah payah. Tidak bisa diganggu-gugat oleh suami.

Kedua, ada juga yang menulis komentar, jika istri yang bekerja maka gajinya menjadi hak suami. Sebab suami yang memberikan izin pada istrinya untuk bekerja. Dengan begitu, suami berhak meminta gaji tersebut. Setelah itu, suami yang mengatur nafkahnya.

Saya lebih senang agar kita menyelesaikan permasalahan ini bukan dengan “benar” atau “salah”, tapi mencari jalan terbaik bagi kedua belah pihak yang telah memutuskan hidup bersama. Untuk mengingatkan, bisa dilihat kembali paragraf terakhir pada tulisan saya sebelumnya:

Hak adalah batas maksimal yang kita minta. Kewajiban adalah batas minimal yang kita berikan. Karena cinta pada pasangan, kita berikan lebih dari yang diwajibkan atas diri kita. Karena cinta, tak perlu menuntut hak yang terlewat dari pasangan. Bukankah kita sudah memutuskan untuk hidup dalam kebersamaan?


Jika diselesaikan hanya dengan melihat hak dan kewajiban saja, ada benarnya istri yang bekerja bisa mengatur sendiri gajinya. Dia yang bersusah payah. Tapi di sisi lain, suami juga punya hak untuk tidak mengizinkan istrinya bekerja di luar rumah. Jika ini yang terjadi, keduanya sama-sama rugi. Hubungan menjadi tidak harmonis, keuangan pun berantakan.

Biarlah istri menikmati hasil pekerjaanya. Tapi, mengingat istri bekerja atas izin suami, tak berlebihan jika terjadi kompromi agar istri ikut berkontribusi dalam keuangan keluarga. Saya rasa itu adalah solusi paling adil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Bagaimana dengan yang berpendapat bahwa gaji istri menjadi sepenuhnya hak suami? Menurut saya, ini semacam bentuk halus dari perbudakan. Istri diminta bekerja oleh suaminya, lalu gajinya dikuasai juga oleh sang suami. Padahal, bukan itu maksud pernikahan dijalankan.

Kita kembalikan saja pada maksud dan tujuan pernikahan, yaitu membangun kebersamaan dalam kebaikan. Jika istri memiliki kekurangan, tugas suami mencukupinya. Jika suami berada dalam kelemahan, tugas istri menyokongnya. Termasuk, jika suami berada dalam kondisi lemah secara ekonomi, itu peluang bagi istri untuk memberikan sedekah yang paling baik, yaitu kepada suaminya sendiri.

Kalau begitu, mengapa harus repot mengatur uang istri dan uang suami? Kalau sudah hidup bersama, disatukan saja hartanya. Mengapa tidak?

Saya menghormati komentar atau pendapat seperti itu. Memang tidak salah untuk menyatukan harta menjadi milik bersama atas kehendak kedua pihak. Tapi, kita juga tidak boleh egois. Ada hak orang lain dalam harta kita, yaitu para ahli waris.

Dalam kondisi tertentu, ahli waris dari suami dan istri mungkin berbeda orang. Bukan hanya anak-anaknya, tapi bisa melibatkan saudara atau orang tua kandung kedua pihak. Harta peninggalan suami diwariskan sebagian kepada istri, anaknya, serta saudara kandungnya. Begitu juga harta istri, sebagian diwariskan kepada suami, anak, serta saudara kandungnya.

Jangan sampai, ketidakjelasan ini menjadi potensi masalah di masa depan. Misalnya, ada seorang janda yang diusir dari rumahnya setelah ditinggal mati suaminya, padahal ia berhak atas bagian hartanya sendiri dan hak warisnya.

Karena itu, tak perlu repot tegas membedakan harta suami dan istri dengan cara yang kaku. Penghasilan bisa dinikmati bersama. Untuk harta-harta yang bernilai besar seperti properti, kendaraan , dan aset keuangan, ada baiknya diperjelas dari sisi kepemilikan.

Ingat, harta tak dibawa mati. Sebaiknya harta menjadi maslahat untuk yang ditinggalkan. Bukan masalah yang membawa pada perpecahan.

Salam berkah,

Sumber

---

Uang Suami, Uang Istri

SELAMA ini ada semboyan yang beredar di sebagian masyarakat, terutama diyakini para istri bahwa uang istri adalah uang istri. Uang suami pun milik istri juga. Benarkah?

Dalam ekonomi rumah tangga Islam, uang istri memang haknya. Islam mengakui dan menghormati kepemilikan harta oleh seorang istri yang terlepas dari suaminya. Sehingga, harta yang jelas dimiliki oleh seorang istri tidak bisa dikuasai oleh suaminya.

Sekali lagi, ini berlaku pada harta yang jelas milik istri sendiri. Misalnya, harta bawaan sebelum menikah dengan suaminya. Atau, harta warisan yang diterima oleh seorang istri dari orang tuanya sendiri, ini juga hak mutlak milik dirinya.

Begitu juga dengan mahar atau mas kawin yang diterima dari suaminya, maka itu miliknya sendiri. Termasuk hadiah yang telah diterima dari suaminya, itu juga menjadi miliknya dan tidak bisa diminta kembali.

Para suami harus menghormati hak kepemilikan istrinya. Tidak boleh dikuasai menjadi aset bersama seperti yang berlaku dalam hukum perdata.

Untuk para suami, prinsipnya sederhana saja. Tidak boleh minta dari istri, tapi kalau diberi, jangan pernah ditolak.

Tentu saja ini hanya berlaku untuk harta yang memang murni milik istri sendiri. Sedangkan harta yang diusahakan bersama, juga menjadi miliki bersama. Misalnya, jika suami dan istri sama-sama membesarkan sebuah usaha di rumahnya, tentu ini milik bersama karena diusahakan bersama pula.

Nah, sekarang bagaimana dengan harta suami? Apakah otomatis menjadi milik istri juga?

Saya tidak menemukan alasannya. Tentu suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Dalam arti, suami harus mencukupi semua kebutuhan mereka sesuai kondisi dan kemampuannya.

Namun, bukan berarti tidak semua harta ataupun penghasilan suami menjadi hak bersama istrinya. Seberapa besar nafkah untuk istri dan anaknya? Dengan cara yang makruf (baik), tentu saja sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing yang berbeda kebutuhannya.

Bagaimana jika suami tidak memberikan nafkah yang layak sedangkan ia mampu? Sejarah mencatat bagaimana seorang istri "curhat" (berkeluh kesah) pada Nabi Muhammad SAW:

"Hindun binti 'Utbah berkata, ‘Wahai Rasulullah, Abu Sufyan begitu kikir. Apakah saya berdosa kalau mengambil hartanya untuk memberi makan keluarga kami (Hindun dan anak-anaknya) tanpa sepengetahuannya‘. Rasulullah menjawab, ‘Tidak berdosa bagimu jika menafkahi mereka (anak-anaknya) dengan cara yang patut (batas wajar)." (HR. Muslim)

Rasulullah SAW sudah memberikan jawaban. Harta yang boleh diambil oleh seorang istri adalah apa yang menjadi hak ia sendiri dan anak-anaknya. Dalam konteks sekarang, uang belanja dan semua kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan, dan pengasuhan untuk anak-anak. Tentu juga untuk kebutuhan dasar istri sendiri.

Itu semua adalah batasan hak dan kewajiban suami istri dalam harta dan nafkah. Suami wajib memberi nafkah dan menghormati kepemilikan harta istrinya. Sebagaimana juga istri menghormati harta milik suaminya dan berhak untuk nafkah kebutuhannya pribadi.

Namun dalam kehidupan rumah tangga, di mana kita sudah berjanji setia untuk saling mencintai, hak adalah batas maksimal yang kita minta. Sementara kewajiban merupakan batas minimal yang kita beri.

Karena cinta, seorang suami sah membagi kepemilikan harta dengan istrinya. Dengan cinta pula, tidak dilarang jika istri yang berpenghasilan ikut membantu keuangan keluarga.

Salam Berkah,

Sumber

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*