Nov 25 2013

Pembatalan Perkawinan

Published by at 4:13 pm under Hikmah Keluarga

BERITA yang menghebohkan di awal pekan ini: Asmirandah mendadak mengajukan pembatalan atas pernikahannya dengan Jonas Rivanno.

Pembatalan beda dengan perceraian. Pada hakikatnya pembatalan berarti pernikahan yang pernah terjadi dianggap batal atau dianggap tak pernah terjadi.

Anda mungkin ingat, saat gonjang-ganjing perkawinan Kim Kardashian dan pebasket NBA Kris Humphries yang hanya berlangsung 72 hari tahun 2011 silam. Masing-masing pihak mengajukan gugatan. Tapi ada bedanya. Kim mengajukan gugatan cerai, sedang Humphries mengajukan pembatalan perkawinan.

Artinya, Kris ingin perkawinannya dengan Kim dianggap tak pernah terjadi. Dalam gugatan yang diajukan ke pengadilan Kris mencantumkan tanda pada kotak "pembatalan perkawinan" dan menyebut alasannya "penipuan."

Hukum California--tempat Kim dan Kris berdomisili--mensyaratkan, pembatalan perkawinan bisa dikabulkan dengan sejumlah syarat. Selain "penipuan", perkawinan bisa dibatalkan bila telah terjadi perkawinan dengan orang lain, inses, kekerasan rumah tangga, atau pasangan yang menikah berada di bawah umur yang dibolehkan hukum untuk menikah.

Hukum kita pun mengakui perkara pembatalan perkawinan. Pasal 22 UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan menyatakan pembatalan perkawinan dapat dilakukan, bila para pihak tidak memenuhi syarat melangsungkan perkawinan. Syarat melangsungkan pernikahan menurut pasal 6 undang-undang yang sama mengatakan: 1) Ada persetujuan dari kedua belah pihak; 2) Untuk yang belum berumur 21 tahun harus mendapat izin kedua orangtua; 3) Bila orangtua telah meninggal, izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang memiliki hubungan darah dalam garis lurus ke atas. Bagi yang beragama Islam, dalam perkawinan harus ada (Pasal 14 Kompilasi Hukum Islam [KHI]): 1) Calon istri; 2) calon suami; 3) wali nikah; 4) dua orang saksi; 5) ijab dan kabul.

Kita tahu Asmirandah dan Jonas Rivanno menikah dengan hukum Islam pada 17 Oktober silam. Vanno sebelumnya memeluk Islam. Pernikahan Andah dan Vanno tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) Beji, Depok.

Menurut pasal 23 UU No.1 tahun 1974, pihak-pihak yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan di antaranya suami atau istri. Begitu pula menurut pasal 73 KHI. Alasan pembatalan perkawinan ada beberapa. Salah satunya, menurut pasal 27 UU No.1 tahun 1974, perkawinan dapat dibatalkan bila salah satu pihak memalsukan identitas dirinya. Identitas palsu misalnya tentang status, usia, atau agama.

Pembatalan perkawinan dapat diajukan ke Pengadilan agama (bagi yang beragama Islam) atau Pengadilan Negeri (bagi non-muslim) di dalam daerah hukum di mana perkawinan dilangsungkan atau domisili pasangan (suami-istri). Namun demikian, ada batas waktu pengajuan pembatalan perkawinan. Untuk pernikahan sendiri, misal istri mengajukan pembatalan perkawinan karena merasa ditipu, pengajuan dibatasi hanya dalam waktu enam bulan setelah perkawinan terjadi. Jika sampai lebih dari enam bulan telah hidup bersama sebagai suami-istri, hak untuk mengajukan permohonan pembatalan dianggap gugur (pasal 27 UU No.1 tahun 1974).

Batalnya perkawinan dimulai setelah ada keputusan Pengadilan yang memiliki kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan. (ade/ade)

Sumber

---

Menjaga Keutuhan Pernikahan

Banyak yang bilang, usia 5 tahun adalah stage bahaya pertama dalam sebuah pernikahan. Di sini diuji apakah Anda dan pasangan cukup kuat untuk terus bersama, atau tidak. Kelak, ujian-ujian lain akan datang setiap 5 tahun berikutnya. Ngomong-ngomong, kalau yang sudah lewat 5 tahun bisa baca 9 Hal dari 9 tahun perkawinan, cerita Hanzky dan suaminya yang sudah merayakan 9 tahun pernikahan di sini.

Tahun ini, pernikahan saya dan suami genap menginjak usia 5 tahun. Perjalanan kami nggak mulus-mulus amat. Ada kalanya saya ingin berteriak saking frustrasi dengan sifatnya. Dan saya yakin, dia pasti merasakan hal yang sama.

Apalagi selama 3 tahun pertama, kami harus tinggal bareng mertua. Friksi-friksi pun banyak terjadi. Niatan untuk berpisah sudah melintas di kepala saya ribuan kali, saking stresnya.

Lantas, kenapa bisa kuat bertahan selama 5 tahun? Padahal banyak lho teman-teman saya yang menyerah dan berpisah pada usia pernikahan 3 tahun, bahkan tak sedikit yang hanya menikah selama beberapa bulan saja.

Terus terang, saya kadang juga sering terpukau dengan diri sendiri, kok kuat ya? Hahaha.. Apalagi sejak dulu saya bukanlah tipe yang suka berada dalam komitmen jangka panjang.

Anyway, berikut ini ada beberapa hal yang mungkin bisa saya bagi dari pernikahan saya. Masih seumur jagung sih, tapi lumayan lah 🙂

1. Opposite attract
Saya dan suami memiliki banyaaaakk sekali perbedaan yang bagaikan bumi dan langit. Saya benci bangun pagi, suami tidak bisa jika tidak bangun pagi. Saya benci beres-beres rumah, suami gemar sekali beres-beres. Saya cenderung easy going dalam berbagai hal jadi jarang terserang stres, suami selalu overthink dalam berbagai hal makanya gampang stres. Saya gemar traveling, suami benci traveling. Saya punya banyak teman dan sahabat, suami hanya punya sedikit teman dan 1 orang sahabat. Saya cenderung pesimis dan kurang pede, suami amat optimis dan pede. Saya tipe fun, suami tipe boring. Saya mudah puas, suami perfeksionis. Saya lebih suka berkomunikasi via tulisan, suami lebih suka via berbicara langsung.

Wah kalo ditulis semua, daftar perbedaan antara kami berdua bisa 5 halaman sendiri kayaknya, hehehe..
Dengan segitu banyak perbedaan, nggak ribet? Nah di sinilah untungnya saya punya sifat easy going. Saya berusaha menjalani semua dengan santai. Sepanjang sifat-sifat kami tidak merusak satu sama lain, atau malah saling mengisi, ya nggak masalah lah ya. Suami pun jadi ketularan sifat saya ini.
Bahkan, ipar saya sempat bilang “Mas, bagus deh lo merit sama Ira. Jadi hiduplo yang ibarat TV hitam putih jadi agak berwarna sekarang.” Hahaha..

Yah, meski begitu, sering juga kami bertengkar perihal perbedaan-perbedaan ini. Tapi ya itu tadi, kami berusaha menyikapi dengan tenang. Dan tentu saja, menggunakan logika, yang akan dibahas di poin berikutnya.

2. Kedepankan Logika
Di balik semua perbedaan tadi, kami punya satu kesamaan, yakni kami berdua sama-sama orang yang logis. Makanya, salah satu alasan saya mau menikah dengan suami adalah karena saya bisa berdiskusi berbagai macam hal dengannya, tanpa harus bertengkar. Sepanjang hidup saya, hanya sedikit pria yang bisa begini. Rata-rata jika diajak diskusi langsung malas saat saya terlihat lebih menguasai topik. Mereka enggan terlihat “kalah” pintar. Zzz…

Ternyata, suami pun merasakan hal yang sama dengan saya. “Among my friends, family and ex girlfriends, you’re the only person whom I can discuss anything and everything with. From politics, music, movies to religion. Your knowledge is compatible and sometimes, exceeding mine,” said hubby to me last night. Aduh, biarin deh gak pernah dikasih bunga (curcol bok). Tapi dipuji kayak gitu, saya langsung GR! Hahaha…

Jadi ya gitu deh. Kalo ada masalah, kami memecahkannya dengan logika dan berdiskusi, macam kerja kelompok ya, hehehe… Sulitnya, jika salah satu dari kami tengah merasa terpuruk dan down, masalah ini agak susah diselesaikan pakai logika. Bingung deh karena ini di luar kebiasaan, kan?

3. Cinta Dewasa

Beberapa waktu lalu seorang teman curhat tentang tunangannya. Ia merasa masih ada yang kurang dari hubungan mereka karena “koq perasaan gue ke dia nggak semeletup-letup ke first love gue dulu ya, Ra? Takutnya nanti pas nikah gue jadi bosen deh.”

Terus terang, itu juga saya alami dengan suami. Waktu kami pacaran dan memutuskan menikah, kami melakukannya berdasarkan cinta. Tapi, menurut saya, cinta yang kami rasakan sudah dalam kategori dewasa ya. Pakai perasaan dan ada chemistry, sudah pasti. Tapi tidak melupakan logika.

Kalau dibandingkan dengan cinta masa ABG dulu, apalagi first love yang unforgettable itu, ya beda lah sensasinya. First love selalu menggetarkan hati, serta membuat siapa saja membuncah perasaannya saat mengalaminya. And we’d do anything for our first love, right?Beda dengan cinta dewasa yang menurut saya nih, tidak meletup-letup dan menggebu-gebu. Tapi menggunakan logika bahkan menghitung untung-rugi agar tidak sia-sia.

Jadi ya begitulah, saya mendefinisikan perasaan antara saya dan suami. Apalagi kebetulan kami sama-sama menikah di usia dewasa, dan sama-sama ingin serius. Jadi begitu klik, langsung menikah dan Alhamdulillah, survived sampai sekarang 🙂

4. Tentukan Hal-hal Prinsip
Saya selalu ingat wejangan Mama saya sebelum menikah. “Jangan gampang minta cerai, nanti kalo bener terjadi, pasti sakit hati. Kalau ada masalah, dilihat dulu apakah masalah itu masuk prinsip kamu dan suami atau tidak. Kalo bukan hal-hal yang prinsip, jangan dijadikan alasan untuk bercerai.”

Karena itu, saat menikah, pertama-tama kami merumuskan apa-apa saja hal prinsip yang tidak boleh kami langgar. Saat ini sih, hal paling prinsip yang sama-sama kami sepakati adalah soal perselingkuhan. Saya sudah berkali-kali bilang pada suami, jika dia berselingkuh, silakan say goodbye pada saya dan Nadira. Soalnya saya nggak yakin bisa memaafkan sekaligus melupakan jika suami begitu (amit-amit, knock on woods).

Tiap-tiap pasangan memiliki hal prinsip yang berbeda-beda. Ada yang tidak masalah dengan perselingkuhan, tapi amat tidak bisa menolerir urusan finansial, misalnya. Jadi saran saya, silakan tentukan sendiri dengan pasangan Anda supaya tahu, batas mana yang boleh dan tidak boleh dilanggar dalam pernikahan.

5. Percaya Saja
Saya bukan tipe pencemburu. Jadi saya berharap pasangan saya juga begitu. Alhamdulillah, suami saya bukan pencemburu. Dia juga berupaya memberikan saya lebih banyak kebebasan dan tidak suka mengekang.

Kenapa? Menurutnya, jika ia pencemburu dan suka mengekang, ia hanya akan menghabiskan energi dan pikiran saja. “Lagi pula, siapa yang bisa menjamin kalo aku mengekang dan mencemburui kamu terus-terusan, kamu akan 100% setia? Terus, dari pengalaman teman-temanku, rata-rata istri yang dikekang suami, justru akan selingkuh jika ada kesempatan,” kata suami.

Bisa dibilang, kami saling memercayai satu sama lain saja. Jarang sekali saya cemburu, begitu pula sebaliknya. Paling-paling saya jadi cemburuan saat hamil dulu. Kayaknya karena perpaduan hormon dan rasa insecure karena tubuh sebesar kuda nil deh, hahaha…

Mungkin itu aja ya 5 hal yang bisa saya share dari 5 tahun pernikahan saya. Nggak spektakuler bahkan membosankan, mungkin. But they keep us survived this whole time. Not bad, eh? 🙂

Sumber

---

Tujuh Bahaya Laten yang Mengancam Pernikahan Anda

Anda mungkin sudah tahu bahwa masalah keuangan, mertua yang ikut campur, atau adanya orang ketiga berpotensi menghancurkan rumah tangga. Tapi di luar hal-hal ekstrem itu, ternyata banyak hal kecil dalam pernikahan yang justru bisa lebih berbahaya.

1. Komunikasi digital
Mengirim SMS, BBM, WhatsApp, atau bahkan email, memang lebih cepat dan praktis dibanding menelepon atau bertemu langsung. Apalagi jika Anda berdua sama-sama sibuk. Namun penelitian yang dilakukan Oxford University menemukan bahwa semakin sering pasangan berkomunikasi secara digital, semakin mereka tak puas dengan pernikahannya.

Jenev Caddell, PsyD, ahli psikologi pernikahan, mengatakan bahwa teknologi memperlancar komunikasi, tapi tidak memuaskan secara emosi. Untuk mengatasinya, pastikan bahwa komunikasi digital dilakukan hanya untuk hal-hal rutin saja. Sedangkan untuk hal-hal penting, tetap bicarakan secara tatap muka. Simpan hal-hal menarik yang ingin Anda ceritakan untuk sesi khusus obrolan santai di akhir hari.

2. Hobi nonton film romantis
Banyak wanita senang nonton film romantis. Tapi hati-hati, jangan anggap serius film-film tersebut, karena riset menunjukkan bahwa pasangan yang percaya pada romansa ala film biasanya jadi tidak sepenuh hati menjalankan hubungan asmaranya sendiri.

Dalam film, meski cobaan dan kesedihan melanda, selalu ada akhir yang bahagia dan mengejutkan. Tentu saja hal ini tidak terjadi di dunia nyata. Tidak semua lelaki bisa berlaku seperti pangeran impian, dan tidak semua pernikahan berjalan layaknya di film romantis. Gunakanlah film-film ini sebagai inspirasi bagi pernikahan Anda, tapi selalu ingat bahwa film hanya karya fiksi.

3. Kurang tidur

Riset yang dilakukan UC Berkeley menemukan bahwa sebagian besar pasangan bertengkar hebat dalam kondisi kurang tidur. "Jika Anda kurang tidur, konsentrasi akan menurun dan Anda tak bisa berpikir jernih," ujar Leslie Becker-Phelps, PhD, psikolog dan relationship expert untuk WebMD. Jadi lain kali, jika Anda sedang beradu mulut dengan suami, coba ajak dia baik-baik untuk membicarakan masalah ini besok pagi setelah terbangun dari tidur nyenyak.

4. Tak pernah bertengkar
Karena Anda tak pernah berantem dengan suami, bukan berarti semua baik-baik saja. "Yang juga tak pernah bertengkar adalah pasangan yang tak jujur kepada satu sama lain," ujar Dr. Becker-Phelps. Bertengkar sesekali, menurut penelitian Universitas Michigan, justru baik untuk kesehatan. Karena jika ada masalah dan hanya dipendam saja, hormon stres akan meningkat tajam dan memicu penyakit fisik.

Namun bukan berarti Anda harus membesar-besarkan hal kecil dan membuatnya jadi pertengkaran. Cukup saling jujur dan terbuka saja, bicarakan semua hal yang mengganggu pikiran Anda. Jika Anda kurang suka dengan kebiasannya melempar baju kotor sembarangan, alih-alih dipendam bertahun-tahun hingga akhirnya meledak jadi pemicu pertengkaran saat Anda sedang sensitif, lebih baik bilang baik-baik pada suami. Katakan bahwa Anda mencintainya, namun Anda akan lebih bahagia jika ia menyimpan baju kotornya di keranjang yang sudah disediakan.
5. Masalah rumah tangga teman

Penelitian menunjukkan bahwa perceraian cenderung mewabah dalam lingkaran sosial, keluarga, bahkan tempat kerja. Jika suami teman Anda ketahuan berselingkuh, tanpa disadari Anda akan mulai bertanya-tanya apakah hal yang sama mungkin terjadi pada suami Anda. Terlebih jika Anda memiliki sejumlah teman yang bercerai, karena ini membuat Anda berpikir pada perceraian adalah salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan.

Bukan berarti Anda harus meninggalkan teman yang rumah tangganya bermasalah. Tentu saja tidak. Cukup tingkatkan kesadaran diri bahwa pernikahan setiap orang berbeda-beda, karena terdiri dari dua orang yang memiliki nilai moral dan kepribadian yang berbeda pula. Apa yang terjadi pada rumah tangga sahabat Anda tak bisa dibandingkan dengan rumah tangga Anda.

6. Melupakan kencan
Banyak pasangan setelah menikah, apalagi punya anak, berhenti meluangkan waktu untuk kencan berdua saja. Padahal berkencan sangat penting untuk menghangatkan hubungan, untuk beristirahat sejenak dari berbagai kewajiban rumah tangga, mengurus rumah, mengurus anak, dan sebagainya, dan mengingatkan diri bahwa pernikahan bukan sekadar "pekerjaan", tapi komitmen yang didasari rasa cinta.

Tak perlu merencanakan liburan atau bulan madu kedua ke tempat yang jauh-jauh. Berkencan sebaiknya malah dilakukan sering dan rutin, misalnya setiap malam minggu, persis seperti waktu Anda masih berpacaran.

7. Terlalu banyak minta maaf

Jika Anda memang melakukan kesalahan, minta maaf memang sudah sewajarnya. Yang berbahaya adalah jika Anda atau suami adalah tipe yang meminta maaf hanya supaya pertengkaran berakhir. Padahal bisa jadi pihak yang meminta maaf tersebut tidak tahu kesalahan apa yang dia lakukan, atau bahkan tahu tapi tidak mengerti kenapa itu jadi kesalahan di mata pasangannya.

Yang lebih berbahaya adalah jika Anda atau pasangan gemar meminta maaf hanya karena malas bertengkar, tapi dalam hati memendam kesal. Yang terbaik adalah selalu memberi tahu pasangan apa yang Anda rasakan. Jika Anda senang melakukan A, tapi dia tak suka, jangan langsung meminta maaf dan memendam kecewa. Bicarakan pada pasangan kenapa Anda senang melakukan A, dan minta dia untuk mengerti, atau setidaknya cari jalan tengah yang sama-sama menguntungkan.

Sumber

--

5 Saran dari Orang yang Bercerai

Selama 25 tahun mempelajari tentang pernikahan, Dr. Terri Orbuch, profesor peneliti di University of Michigan dan penulis buku baru "Finding Love Again: 6 Simple Steps to a New and Happy Relationship," telah mengumpulkan beberapa saran terbaik untuk hubungan asmara.

Saran-saran terbaik ini, uniknya, berasal dari orang-orang yang telah bercerai.

Pada 1986, Orbuch memulai sebuah studi jangka panjang yang mengkaji hubungan 373 pengantin baru. Pada 2012, 46 persen pasangan tersebut bercerai. Dalam wawancara dengan Orbuch, orang yang telah bercerai atau yang sering mengakhiri hubungan serius mengangkat lima isu serupa yang mereka ingin perbaiki jika mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya lagi.

1. Uang

"Banyak orang yang bercerai mengatakan, uang merupakan sumber utama konflik di tahun-tahun awal pernikahan," kata Orbuch. Dia juga menemukan bahwa, "6 dari 10 orang mengatakan bahwa mereka tidak akan berbagi biaya hidup dalam hubungan mereka berikutnya."

Orbuch merekomendasikan masing-masing pasangan untuk mengevaluasi pendekatan mereka sendiri untuk menggunakan dan menabung uang serta berdiskusi dengan pasangan mereka sejak dini. Memang, tidak ada rencana keuangan yang cocok bagi semua orang, tetapi pasangan perlu untuk menentukan peraturan mereka sendiri dan mematuhi peraturan tersebut.

2. Kasih sayang

Ternyata pria mendambakan kasih sayang (tapi belum tentu seks) lebih banyak dari perempuan. "Ini berlawanan dengan anggapan pada umumnya," kata Orbuch. "Pria mengharapkan perasaan istimewa dan diperhatikan oleh istri mereka."

Pria yang mengakui tidak mendapatkan kasih sayang nonseksual yang cukup, kata Orbuch, dua kali lebih mungkin untuk meminta cerai, tetapi hal sebaliknya tidak terjadi pada perempuan. "Perempuan beruntung. Kita mendapatkan rasa disayangi dari lebih banyak orang dalam hidup kita, ibu kita, anak-anak, teman-teman baik" — jadi wanita cenderung membutuhkan lebih sedikit cinta dari suami.

Dia merekomendasikan untuk sering menunjukkan kasih sayang dengan memeluk, mencium, memegang tangan, dan mengatakan "Aku mencintaimu."

3. Disalahkan

Periksalah apa yang salah dalam hubungan Anda, bukan mencari siapa yang salah, saran Orbuch. Dan pikirkan tentang cara menyelesaikan konflik dengan lebih baik di hubungan berikutnya. "Ketika pasangan bercerai yang bermasalah menggunakan kata 'kita,’ mereka lebih mungkin menemukan cinta ketimbang menggunakan kata 'aku' atau 'kamu’."

4. Komunikasi

Orbuch mengatakan, pasangan sering jatuh ke dalam perangkap "pemeliharaan hubungan" daripada komunikasi yang sejati. Dia menyarankan untuk menerapkan "aturan 10 menit" setiap hari ketika Anda, "Berbincang dengan pasangan Anda tentang sesuatu selain pekerjaan, hubungan, rumah, atau anak-anak."

Kuncinya adalah mengungkapkan sesuatu tentang diri Anda sendiri dan belajar sesuatu tentang pasangan Anda. "41 persen dari orang yang bercerai mengatakan bahwa mereka ingin mengubah gaya komunikasi mereka," ujar Orbuch, "dan 91 persen pasangan menikah yang bahagia mengatakan bahwa mereka mengenal pasangannya secara intim."

5. Melupakan

Melepas masa lalu adalah kunci untuk mendapatkan hubungan yang bahagia. Hal ini berlaku untuk orang yang saat ini menikah maupun orang yang sedang dalam pencarian cinta.

Jika Anda kesal karena masalah mantan pacar pasangan Anda atau perkelahian yang terjadi beberapa pekan lalu, Anda mungkin tidak berinteraksi dengan cara yang sehat dan positif. "Rasa benci tersebut membuat Anda tidak dapat berhubungan secara maksimal," kata Orbuch.

Ia juga menyebutkan bahwa orang yang merasa netral terhadap mantan mereka secara signifikan lebih mungkin untuk menemukan cinta setelah bercerai. Jika Anda tidak dapat melepaskan kemarahan Anda, Orbuch menyarankan beberapa cara untuk melakukannya. Salah satu caranya termasuk membakar surat-surat untuk orang yang membuat Anda geram.

Sumber

---

Alasan Janda atau Duda Lebih Tangguh Menghadapi Penyakit Kronis

Banyak hal dikatakan mengenai manfaat pernikahan bagi kesehatan baik fisik maupun emosional. Namun kini para ilmuwan menemukan manfaat yang mengejutkan dari menjanda atau menduda: Hal ini memungkinkan Anda menjadi lebih mampu menghadapi penyakit kronis dibandingkan orang lain. “Terus terang, apa yang kami temukan sangat mengejutkan,” ujar kepala peneliti James Wade, profesor bidang kejiwaan di Virginia Commonwealth University, kepada Yahoo Shine.

Untuk penelitian yang diterbitkan pada September di jurnal Pain Research and Treatment itu, Wade dan koleganya meneliti 1.914 pasien dengan penyakit kronis. “Orang-orang ini adalah mereka yang mengidap penyakit yang mengancam nyawa mereka,” jelas Wade. “Dan penyakit tersebut amat menyebalkan. Anda merasa cemas, depresi; Anda bahkan tidak mampu membuang sampah.”Apa yang para peneliti cari, ujar Wade, adalah hubungan positif antara menikah dan kemampuan menghadapi penyakit kronis dan semua hal yang muncul bersamaan dengan hal itu. Namun yang mereka temukan adalah kebalikannya. “Hubungan yang amat jelas adalah, jika Anda seorang janda atau duda, Anda jauh lebih mampu menghadapi rasa sakit dari penyakit kronis yang Anda alami,” jelas Wade.

Pada awalnya para peneliti berteori penderita penyakit kronis dari kalangan lansia merupakan orang yang paling kuat menghadapi rasa sakit karena mereka yang kemungkinan paling  mendapatkan keuntungan dari “bijaksana karena usia.” Namun, penelitian tersebut dilakukan berdasarkan suku, seberapa parahnya penyakit dan usia, dengan usia rata-rata 41 tahun. Para peneliti juga mempertimbangkan kemungkinan duda atau janda mendapatkan lebih banyak dukungan moril dari dari orang-orang yang ada di sekitarnya dibandingkan orang lain -- namun penjelasan tersebut juga tidak sepenuhnya benar. Akhirnya, para ilmuwan berpikir, kemungkinan mereka yang sudah kehilangan pasangannya memandang penyakit yang mereka derita dengan perspektif yang berbeda dan tidak tidak terlalu ambil pusing dibandingkan orang lain yang tidak menduda atau menjanda, namun teori tersebut juga terbukti salah.

“Satu-satunya hal yang berbeda dari orang yang menjanda dan menduda, bahkan dibandingkan mereka yang baru saja bercerai atau berpisah, adalah bahwa Anda kehilangan pasangan di luar kendali Anda,” ujar Wade. Para peneliti kemudian mengambil kesimpulan, tambahnya, bahwa “Karena Anda terpaksa dihadapkan dengan salah satu momen kehilangan terbesar dalam hidup Anda, setelah melaluinya Anda menjadi lebih kuat. Batin manusia sangat tangguh.”

Francine Russo, dalam majalah Time, menulis bagaimana ia menjadi tertarik dengan penelitian baru tersebut dari perspektif pribadinya. Setelah tidak terduga menjanda dalam usia 46 tahun, dengan dua orang putri, ia harus belajar caranya menghadapi segala hal di dalam rumah tangganya seorang diri. “Namun yang terpenting, saya harus mengatasi rasa sakit yang saya alami,” tulisnya. “Tidak seperti hal lainnya yang membuat saya terpukul dalam hidup ini - putus hubungan asmara, kegagalan di tempat kerja - saya tidak bisa mengatasi rasa sakit ini dengan dihibur oleh para sahabat. Hal ini seperti api yang harus saya lewati untuk pindah ke tempat lain. Dan akhirnya saya berhasil melewatinya meskipun menyisakan sejumlah luka. Sejak saat itu, saya menjadi lebih kuat untuk menghadapi luka hidup.”

Meskipun sejumlah psikolog dan pakar rasa sakit mengatakan kepada Russo bahwa mereka berpikir penelitian Wade membutuhkan penelitian lebih lanjut, beberapa pihak lainnya mengatakan penelitian tersebut sangat menjanjikan. Contohnya, Simon Rego, profesor psikologi di Albert Einstein College of Medicine, mengatakan penelitian Wade terdengar masuk akal karena menjanda atau menduda dan konsekuensinya secara emosional tidak dapat dihindari, mereka yang kehilangan pasangan kemungkinan mengasah kemampuan menerima keadaan  sebagai cara untuk bertahan hidup. Konsultan duka cita Robert Zucker, penulis buku “The Journey Through Grief and Loss: Helping Yourself and Your Child When Grief Is Shared”, mengatakan kepada Yahoo Shine bahwa ia menganggap penelitian tersebut menarik. Namun ia mempertanyakan sudah berapa lama orang-orang yang diteliti tersebut menjanda atau menduda.

“Saya akan terkejut jika orang-orang yang baru saja kehilangan pasangannya menghadapi rasa sakit dengan lebih baik, karena Anda cenderung sangat terpukul pada masa awal perpisahan,” ujar Zucker. “Namun saya dapat memahami anggapan bahwa rasa duka mengubah seseorang dengan cara tertentu. Ada istilah yang disebut ‘perkembangan pasca trauma’, yang mengatakan mengalami momen kehilangan dan kembali bangkit memperkuat batin kita dan memberikan kita pengalaman yang kita butuhkan untuk menangani kesulitan dengan lebih baik.”

Terakhir, Wade menyimpulkan temuan dari penelitiannya tersebut menggembirakan. “Saya perlu beritahukan kepada publik [mengenai apa yang kami temukan] karena orang-orang hidup lebih panjang dan kemungkinan hidup lebih lama dari pasangan mereka, dan mereka dihadapkan dengan kecemasan mengenai bagaimana caranya menghadapi rasa sakit,” jelasnya. “Hal ini memberikan kita kabar bagus. Rata-rata, mereka yang mengalami kehilangan menjadi lebih kuat.” (ab/pt)

Sumber

---

6 Mitos Seputar Perselingkuhan

Tak melulu soal percintaan, mitos seputar perselingkuhan pun banyak beredar. Namun tidak semua sepenuhnya benar. Yuk cari tahu kebenarannya.

MITOS: Perselingkuhan hanya terjadi ketika pasangan selalu bertengkar.
FAKTA: Penelitian membuktikan, tak jarang orang berselingkuh padahal (kasat mata) hubungannya dengan pasangan baik-baik saja. Penyebab utama perselingkuhan bukanlah konflik, melainkan emosi dan perasaan saling memiliki yang mungkin terkikis karena berbagai konflik yang timbul.

MITOS: Bukan selingkuh namanya jika tak ada hubungan fisik.
FAKTA: Selingkuh tak melulu harus dibuktikan dengan adanya hubungan fisik. Saat seseorang merasakan ketertarikan terhadap orang lain yang bukan pasangannya, lalu berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih jauh, hal itu sudah disebut pengkhianatan terhadap kepercayaan pasangannya. Sehingga sudah tergolong perselingkuhan.

MITOS: Mereka yang berselingkuh berarti tak lagi cinta pasangannya.
FAKTA: Banyak penelitian yang sudah membuktikan, terkadang mereka yang berselingkuh masih amat mencintai pasangannya. Hanya saja mereka tak lagi merasakan sisi emosional serta kasih sayang yang dulu terasa kuat. Oleh karena itu mereka memutuskan mencari di tempat lain. Tapi tak tertutup kemungkinan juga, perselingkuhan terjadi atas dasar cinta yang sesungguhnya.

MITOS: Tak ada hubungan yang bertahan setelah adanya perselingkuhan.
FAKTA: Cukup mencengangkan, menurut penelitian, banyak hubungan cinta yang pernah dilanda badai perselingkuhan justru bertambah kuat. Mereka yang berselingkuh, ketika memutuskan untuk kembali ke pasangannya, biasanya disertai dengan tekad yang kuat untuk memperbaiki hubungan. Alhasil hubungan cintanya jauh lebih baik dari sebelumnya.

MITOS: Sekali selingkuh, maka selanjutnya akan selingkuh lagi.
FAKTA: Tak semua orang memiliki bakat untuk menjadi playboy (atau playgirl). Setiap orang memiliki alasan berbeda saat berselingkuh, sehingga belum tentu mereka sanggup menyakiti pasangan berulang kali. Biasanya saat masalah yang terjadi pada hubungan diperbaiki, maka ia tak lagi punya niat untuk berselingkuh.

MITOS: Membicarakan perselingkuhan di masa lalu akan merusak hubungan.
FAKTA: Membicarakan detail perselingkuhan akan membuka luka lama — baik bagi yang berkhianat maupun dikhianati. Untuk memperbaiki hubungan, biasanya yang dilakukan konselor pernikahan adalah membahas alasan terjadinya perselingkuhan, bukan bentuk perselingkuhan tersebut.

Sumber

---

6 Larangan Dalam Hubungan Cinta

Dalam berhubungan cinta, ada beberapa peraturannya. Ada beberapa perilaku yang bisa membuat hubungan cinta jadi berantakan, jadi jangan lakukan hal-hal berikut.

1. Selingkuh
Kesetiaan dan kepercayaan adalah fondasi utama dalam hubungan. Satu kali saja Anda merusaknya, maka kekuatan hubungan tak lagi sama. Jadi jangan pernah berselingkuh.

2. Tak peduli
Apa intinya memiliki hubungan cinta jika tak saling peduli? Ucapan cinta jangan di bibir saja. Kepedulian juga salah satu bentuk rasa cinta Anda pada pasangan.

3. Menyimpan emosi
Menyimpan emosi demi menghindari konflik bukanlah hal yang baik. Anda hanya memasang bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Jika ada hal yang menganggu Anda, lebih baik utarakan. Jika tak ingin menyulut konflik, utarakan perasaan Anda dalam keadaan kepala yang dingin dan tenang, sehingga emosi tak mudah tersulut.

4. Tidak bahagia
Untuk apa menjalin hubungan dengan seseorang yang tak bisa membuat Anda bahagia? Jangan siksa diri Anda dengan menjalankan hubungan yang sia-sia. Jika memang kebahagiaan tak lagi bisa Anda dapatkan, sebaiknya akhiri saja hubungan tersebut.

5. Mencemburui teman-temannya
Cemburu akan menjadi bumbu manis dalam sebuah hubungan. Namun cemburu juga butuh batasan dan alasan yang jelas dan masuk akal. Jika Anda selalu mencemburui siapapun yang berada di dekat pasangan, maka itu sama saja dengan cemburu buta. Apalagi jika yang Anda cemburui adalah teman-teman baik pasangan.

Ingat, sahabat dan teman dekat pasangan adalah salah satu yang bisa memengaruhi mereka. Jika Anda memusuhinya, maka mereka juga tak akan menganggap Anda teman. Jangan harap mereka akan mendukung hubungan Anda, jika hal ini terus berlanjut.

6. Memiliki ekspektasi terlalu tinggi.

Ada hal-hal yang tak bisa diubah dari pasangan. Jadi buat apa berusaha keras untuk mengubahnya menjadi seseorang yang lain. Ingat-ingatlah alasan Anda jatuh cinta padanya untuk pertama kali.

Sumber

---

Ini Namanya Cinta?

Ada orang yang sangat menarik di depan mata, lalu Anda tidak bisa mengartikan perasaan yang berkecamuk di hati. Benarkah itu cinta? Atau hanya ketertarikan biasa?

Jangan bingung lagi. Berikut ini ciri-ciri yang namanya cinta:

1. Suasana hening juga menyenangkan
Terkadang Anda berdua kehabisan bahan obrolan, akan tetapi suasana yang tiba-tiba hening tetap terasa menyenangkan. Apapun keadaannya, Anda tetap merasa nyaman, asalkan berada di dekatnya.

2. Anda ingin dia menang
Dalam setiap permainan, Anda rela untuk mengalah demi melihat kebahagiannya sewaktu meraih kemenangan. Melihatnya senang, Anda juga senang.

3. Menyukai kekurangannya
Banyak orang yang mengeluhkan caranya tertawa atau becanda. Tapi bagi Anda, itulah yang membuatnya menjadi orang yang menyenangkan.

4. Ingin mengenalkannya pada keluarga
Walaupun status belum ada, tapi Anda merasa si dia pantas untuk dikenalkan pada keluarga. Anda ingin keluarga juga mengetahui semua kelebihannya.

5. Berkhayal
Anda tak hanya memimpikan dirinya di malam hari. Saat ada waktu senggang di siang hari, pikiran Anda dipenuhi olehnya.

6. Pertengkaran bukan masalah
Tak jarang Anda dan dia berbeda pendapat dan berselisih paham. tak jarang juga hal itu berujung pada pertengkaran. Walau begitu, semua itu justru membuat Anda merasa lebih mengenalnya.

7. Ingin terlihat sempurna
Anda selalu ingin menunjukkan diri Anda yang terbaik di depannya, demi menarik perhatiannya. Di depannya, sikap dan penampilan Anda tanpa cela.

8. Tak peduli telepon genggam

Saat bersamanya, Anda sama sekali tak merasa perlu mengecek panggilan masuk atau pesan singkat di telepon genggam. Karena telepon dan pesan singkat dari dirinyalah yang paling Anda tunggu.

Bagaimana, apakah Anda sedang jatuh cinta?

Sumber

---

Fakta Baru Tentang Perselingkuhan

Sebuah survei yang dilakukan terhadap agen konseling profesional dari YourTango.com — yang terdepan di dunia digital dalam masalah cinta dan romansa — menemukan fakta baru dalam masalah perselingkuhan.

Ternyata, perselingkuhan muncul bukan sekadar karena seks. Alasan utamanya adalah ketidakpuasan emosional, menurut para pakar. Ketidakpuasan seksual sendiri berada di tempat kedua. Hanya 8 persen responden menyebutkan bahwa pria "sudah ditakdirkan" untuk "menyebarkan benih mereka."

Mengenai statistik ini, pakar dari YourTango, Lynn R. Zakeri berpendapat: "Mungkin terdengar mengejutkan, tapi banyak pria yang mencari seseorang yang untuk berhubungan dengan mereka, baik menjadi sahabat dan partner intim, dan ketika mereka kehilangan kedekatan itu di pernikahan, mereka mencarinya ke tempat lain."

Sementara itu, pakar YourTango, Dr. Susan Heitler menambahkan, "Meski ada banyak faktor yang bisa menimbulkan perselingkuhan seksual di pernikahan, kerenggangan emosional adalah salah satu hal yang bisa dicegah para pasangan. Jika ada tekanan, perselisihan atau terlalu lebarnya jarak, coba ambil kelas pendidikan pernikahan untuk belajar bagaimana caranya berhubungan dengan nyaman."

Para anggota YourTango Experts, sebuah organisasi yang terdiri dari 1.200 psikoterapis, konselor, pelatih dan profesional bantuan lainnya, menyelesaikan sebuah survei yang menunjukkan pandangan lain mengenai perselingkuhan, termasuk penyebab, tindakan pencegahan dan saran untuk para pelaku perselingkuhan.

Meski 50 persen responden setuju bahwa teknologi menjadi penyebab perselingkuhan, hanya 7 persen yang setuju bahwa Facebook membuat jumlah perselingkuhan meningkat signifikan. Sebanyak 90 persen mengatakan, situs cari jodoh seperi Match.com hanya memberikan kesempatan. Karena jika seseorang ingin berselingkuh, mereka tidak akan pedulu tersedia atau tidaknya layanan untuk hal tersebut.

Dua langkah terbaik untuk mencegah perselingkuhan adalah: (1) dua orang dalam hubungan romantis harus merasa dihargai dan penting untuk satu sama lain dan (2) memiliki komunikasi yang baik. Kepuasan seksual berada di tempat ketiga.

"Data ini sesuai dengan penelitian kami sebelumnya yang menekankan masalah sesungguhnya yang dialami kebanyakan pasangan adalah bukan tentang seks dan lebih ke permasalahan merasa dihargai dan berkomunikasi dengan sukses," ujar Andrea Miller, CEO dan pendiri YourTango.

"Dan meski 50 persen perselingkuhan dilakukan secara seksual, perselingkuhan emosional berada di angka 40 persen. Kurangnya kedekatanlah yang biasanya mendorong perselingkuhan dan perselisihan."

Untungnya, ada harapan untuk para tukang selingkuh. Sebanyak 81 persen responden tidak setuju dengan pepatah "sekali tukang selingkuh, akan selalu berselingkuh." Pakar YourTango, Dr. Shoshanna Bennett menjelaskan, "Kadang faktor tertentu yang bercampur dalam kehidupan seseorang mendorong terjadi perselingkuhan. Jika situasi tersebut bisa diatasi atau berhasil diselesaikan, godaan berselingkuh biasanya hilang, tidak akan pernah kembali."

Fakta lainnya yang ditemukan:
- 59 persen pakar setuju pornografi berpengaruh terhadap perselingkuhan.
- 47 persen pakar mengatakan, selebritas tidak berselingkuh lebih sering dari kita. Namun, 76 persen pakar mengklaim bahwa skandal perselingkuhan selebritas berpengaruh terhadap pandangan kita akan perselingkuhan.
- 57 persen responden mengatakan jika seseorang berselingkuh dalam suatu hubungan, memberitahu pasangan tentang itu tidaklah selalu menjadi jalan terbaik.

Sumber

---

Mengapa Perselingkuhan Wanita Lebih "Berbahaya"

Jika ada yang menyebut kata "selingkuh", biasanya yang pertama terlintas di pikiran kita adalah seorang playboy atau sesosok pria yang sering menyakiti hati wanita. Selingkuh seolah-olah identik dengan perilaku dan kebiasaan lelaki. Padahal kenyataannya tak begitu.

Baru-baru ini Manchester Metropolitan University di Inggris melakukan penelitian tentang perilaku berselingkuh pada wanita dan pria. Hasilnya, 20 persen pria mengaku pernah berselingkuh dari pasangannya.

Bagaimana dengan wanita? Ternyata angkanya tak jauh berbeda. Sebanyak 16 persen wanita di Inggris mengaku pernah tak setia. Tapi sebetulnya pria perlu lebih berhati-hati menjaga agar pasangannya tak berselingkuh. Penelitian lainnya tentang perselingkuhan membuktikan bahwa perselingkuhan wanita ternyata lebih "berbahaya" dibandingkan perselingkuhan pria. Bagaimana bisa?



Wanita berselingkuh jika hubungannya bermasalah

Sebagian besar pria berselingkuh karena tak dapat menahan nafsu. Bisa saja hubungannya dengan istri/kekasihnya sebetulnya tak bermasalah. Ia hanya semata tergoda oleh wanita lain atau dihadapkan pada kesempatan untuk berselingkuh yang tak dapat ia tolak. Menurut Ruth Houston, penulis buku "Is He Cheating On You", hanya 20 persen wanita yang berselingkuh karena nafsu. Sedangkan pada pria, angkanya mencapai 80 persen.

Wanita justru sebaliknya. Jika hubungannya asmaranya baik-baik saja, ia biasanya tak akan berselingkuh. Alasan utama wanita berselingkuh adalah karena ia sebetulnya tak bahagia dengan hubungannya. Alasannya bisa karena kesepian, seks yang tak memuaskan, atau kebutuhan emosi yang tak terpenuhi. Intinya ada sesuatu yang tak bisa dipenuhi oleh suami atau pasangannya itu.

Menurut Helen Fisher, PhD, antropolog biologi dan penulis buku "Why We Love", 66 persen wanita yang berselingkuh mengaku tak bahagia dalam pernikahannya. Sedangkan pada pria, angkanya hanya 44 persen.

Wanita terikat secara emosi pada selingkuhannya

Karena wanita berselingkuh dengan alasan emosional (bahasa kerennya "main hati"), biasanya akan lebih sulit pula bagi wanita untuk mengakhiri perselingkuhan tersebut. Tak jarang wanita merasa jatuh cinta pada pria idaman lain tersebut, bahkan mencintainya lebih dari pasangannya sendiri.

Ikatan emosional antara wanita dengan selingkuhannya juga lebih kuat dibandingkan pria dengan selingkuhannya. Sebuah penelitian membuktikan bahwa perselingkuhan yang dimulai atau diawali oleh sang wanita biasanya bertahan tiga kali lebih lama dibanding perselingkuhan yang dimulai oleh laki-laki.

Wanita berselingkuh dengan lebih "serius"

Pria mungkin bisa dengan mudah dan tanpa pikir panjang memutuskan untuk selingkuh. Tak demikian halnya dengan wanita. Wanita selalu memikirkan baik-baik apa risikonya jika ia berselingkuh. Jika hubungan terlarang itu dia anggap hanya buang-buang waktu, atau risikonya tak sepadan dengan kesenangannya, ia tak akan melanjutkan. Pria dapat berselingkuh berkali-kali dengan banyak wanita karena baginya itu tak berarti apa-apa, tapi bagi wanita, jika ia memutuskan untuk selingkuh artinya pria idaman lain itu istimewa.

Wanita lebih jago menyembunyikan perselingkuhan
Wanita seringkali mengetahui saat pasangannya berselingkuh, tapi tidak sebaliknya. Selain pria tak memiliki insting mendeteksi kebohongan seperti wanita, kaum wanita juga lebih piawai menyembunyikan hubungan terlarangnya. Wanita sudah terlatih untuk berbohong sejak kecil demi menjaga perasaan orang lain. Hal yang sama tak terjadi pada pria, sehingga pria biasanya merasa lebih gugup saat berbohong.

Sumber

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*