Oct 22 2013

Ta'aruf praNikah=bid’ah sesat

Published by at 11:27 am under Pesona

Saya telah mempertimbangkan pemuatan artikel ini dalam waktu yang lama. Bayangkan! Buku yang saya kupas tersebut sudah saya baca di awal terbitnya, yaitu November 2006. Sudah hampir dua tahun saya menahan diri untuk tidak mengemukakan kupasan saya itu di depan publik.

Saya sudah beberapa kali mengingatkan penerbit melalui moderator di milisnya. (Penulis buku tersebut adalah salah seorang editor di penerbit tersebut.) Pada mulanya pesan itu secara halus (tanpa menyebut istilah bid’ah). Namun pesan saya tidak ditanggapi. Mereka masih saja menerbitkan buku yang mengandung bid’ah itu, sehingga mereka menjangkau pembaca yang semakin banyak. Karenanya, kemudian terpaksalah saya sampaikan pesan tersebut secara terbuka supaya para pembaca buku seperti itu dapat kita ingatkan. Jika saya tidak mengingatkan pembaca buku tersebut, maka saya merasa berdosa.

Naskah semula:

Disamping bahaya zina pada budaya pacaran, kita juga perlu mewaspadai bahaya lain yang bahkan lebih mengerikan, yaitu bid’ah pada budaya ta’aruf praNikah. Mengapa lebih mengerikan? Sebab, bahaya ini cenderung kurang disadari. (Pelakunya menyangka menunaikan sunnah Rasul, padahal melakukan bid’ah yang sesat dan menyesatkan.)

Meskipun istilah taaruf itu terdapat dalam Al-Qur’an (al-Hujurat 13), bukanlah ini berarti bahwa semua bentuk taaruf itu dapat kita terima keberadaannya. Bagaimanapun, kita harus bertaaruf sesuai syariat Tuhan. Kita tidak boleh melakukan bid’ah, yakni “mengada-adakan tradisi yang tertentu dalam beragama”. (Menurut Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa, tradisi yang kita adakan dalam beragama itu bukan bid’ah apabila kita tidak menetapkan aturannya, kecuali bila ditetapkan oleh Allah atau Rasul-Nya.)

Pada budaya taaruf pranikah, ternyata ada sejumlah aktivis dakwah yang berusaha menetapkan aturannya, padahal aturan tersebut bukan berasal dari Allah atau Rasul-Nya. Untuk contoh, marilah saya tunjukkan sepuluh bentuk bid’ah yang terdapat di sebuah buku terbitan Lingkar Pena, 2006. Judulnya: Taaruf, Keren..! Pacaran, Sorry Men! (Nama penulisnya tidak saya sebut. Sebab, saya tidak bermaksud menyerang penulisnya. Yang saya kritik hanyalah tulisannya.)
1. Pembatasan Tujuan Taaruf
Katanya, “Tujuan taaruf sudah jelas, untuk menikah.” (hlm. 12 dan 31) Menurut penulis buku tersebut , kita tidak boleh taaruf bila tujuannya bukan untuk menikah. Katanya, “Sebelum kamu taaruf, kamu harus yakin apakah kamu sudah benar-benar siap untuk menikah.” Padahal, penetapan (pembatasan) tujuan taaruf itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad saw. dan para sahabat justru terkadang berusaha mengenal (bertaaruf) dengan seorang lawan-jenis, walau tidak hendak menikah dengannya. Usaha mengenal itu tampak jelas pada pengajuan pertanyaan “siapa kau” atau “siapa dia”. Contohnya: “Nabi saw. datang menemui ‘Aisyah r.a.. Ketika itu di samping ‘Aisyah ada seorang wanita. Nabi saw. bertanya, ‘Siapa wanita itu?’ ….” (HR Bukhari dan Muslim)

2. Penetapan Durasi (Lamanya) Taaruf
Katanya, “Deadline taaruf maksimal tiga bulan.” Jadi, kalau “taarufmu lebih dari tiga bulan dan tidak ada perkembangan menuju pernikahan, berarti kamu sedang PACARAN dan bukan TAARUF.” (hlm. 16) Padahal, penetapan (pembatasan) durasi taaruf itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Untuk menuju pernikahan, Islam hanya menganjurkan pelaksanaannya sesegera mungkin, tanpa menetapkan lamanya.

3. Jaminan Kehalalan
Katanya, taaruf itu “100% halal” (hlm. 18). Padahal, kehalalannya tidak dijamin oleh Allah dan Rasul-Nya. Adanya bid’ah pada konsep taaruf ini jelas membuktikan bahwa taaruf itu tidak dijamin “100% halal”. Taaruf yang halal hanyalah yang islami.

4. Pengharusan Adanya Perantara
Katanya, “Kamu tidak bisa taaruf berdua saja [tanpa perantara atau mediator].” (hlm. 21) Padahal, pengharusan adanya perantara itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Kita justru dapat menjumpai banyak contoh bahwa Nabi saw. dan para sahabat itu berkomunikasi langsung dengan seorang lawan-jenis tanpa perantara. Contohnya: “Seorang wanita dari kalangan Anshar datang kepada Nabi saw.. Lantas Nabi saw. berduaan dengannya [di dekat orang-orang] dan berkata, ‘Sesungguhnya kalian [kaum anshar] ialah orang-orang yang paling saya cinta’.” (HR Bukhari dan Muslim)

5. Pengharusan Mengajukan Pertanyaan

Katanya, “segala hal yang ingin kamu ketahui tentang calon pasangan hidupmu … wajib kamu tanyakan”. (hlm. 21) Padahal, pengharusan mengajukan pertanyaan itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Kita justru dapat menjumpai banyak contoh bahwa Nabi saw. dan para sahabat itu berusaha mengenal seorang lawan-jenis, termasuk dalam kaitannya dengan menikah, tanpa mengajukan pertanyaan. Contohnya: “Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku datang untuk memberikan diriku kepadamu.’ Lalu Rasulullah saw. memandangnya dengan menaikkan dan menurunkan pandangan beliau kepadanya, kemudian beliau menundukkan kepala.” (HR Bukhari dan Muslim)

6. Penetapan Kriteria Hafal Surat an-Nisa’
Katanya, “Seorang teman saya bahkan mengatakan, untuk pasangan yang berencana menikah, setidaknya sudah menghapal dan memahami arti dari keseluruhan Al Quran surat Annisa.” (hlm. 34) Padahal, penetapan kriteria tersebut bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.
7. Pelarangan bagi Calon Istri untuk Mendatangi Keluarga Calon Suami
Katanya, “proses perkenalan kepada orangtua secara langsung, hanya bisa dilakukan oleh calon suami kepada keluarga calon istri. Sebab, tidak baik jika calon istri mendatangi keluarga calon suami.” (hlm. 38) Padahal, pelarangan tersebut bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.
8. Pembatasan Perkenalan Calon Istri dengan Foto Saja
Katanya, “untuk memperkenalkan calon istri kepada keluarga calon suami, calon suami cukup membawa foto keluarga besar calon istri dan menceritakan secara lengkap tentang keadaan dan kondisi keluarga calon istri …” (hlm. 38) Padahal, pembatasan dan penetapan tersebut bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.
9. Pengharusan Adanya Foto dalam Biodata
Katanya, dalam biodata yang hendak diserahkan ke si dia, “Kamu [yang belum tingkat tinggi] juga harus menyertakan menyertakan foto yang jelas dan berwarna. Biasanya, kalau sudah tingkat tinggi, alias yang menikah benar-benar ingin beribadah, foto bukan lagi hal yang penting.” (hlm. 46) Padahal, aturan pengharusan adanya foto dalam biodata itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya. (Di zaman Rasul itu belum ada fotografi, bukan?)
10. Penghentian Pertemuan Bila Tidak Berlanjut ke Taaruf Berikutnya
Katanya, “Setelah pertemuan pertama ini, kamu akan semakin tahu kecenderungan hatimu. … Kalau mantap, berlanjut ke taaruf berikutnya. Kalau tidak, ya di-cut.” Padahal, penghentian pertemuan dengan ketentuan seperti itu bukanlah berasal dari Allah dan Rasul-Nya.

Wallaahu a’lam.

Solo, 4 Juli 2008
M Shodiq Mustika, penulis buku best-seller Istikharah Cinta

---

SPIP (seorang penentang islamisasi pacaran) menyangkal artikel saya di atas dengan menyatakan:

Yang perlu dipahami adalah bahwa Ta’aruf itu sendiri bukanlah amaliyah semacam ibadah Mahdah yang telah tetap rukun dan tata caranya, tetapi ia adalah anjuran Qurani ….

Nah! Justru itulah yang perlu dipahami oleh para pengamal dan terutama pendakwah taaruf. Sayangnya, seperti yang saya kemukakan dalam artikel dan dalam komentar Donny Reza di atas, ada yang memperlakukannya sebagai ritual “yang telah tetap rukun dan tata caranya” sehingga “menyaingi” ibadah mahdoh. Mereka tidak menempatkannya sebagai anjuran Qurani, melainkan sebagai keharusan dan kewajiban ritual “yang telah tetap rukun dan tata caranya”.

Syukurlah SPIP telah menyadari hal itu. Mudah-mudahan kesadaran itu senantiasa diamalkan dan ditularkan kepada mereka yang amat bergairah dalam bertaaruf itu, sehingga tidak terjerumus dalam bid’ah. Aamiin.

Sementara itu, hendaknya SPIP menyadari bahwa segala ritual (walaupun bukan ibadah mahdoh) yang diperlakukan bagaikan ibadah mahdoh itu dapat tergolong bid’ah. Umpamanya, pernikahan itu bukan ibadah mahdoh. Namun jika dalam ijab-qabulnya ditetapkan aturan bahwa sepasang mempelai harus berciuman, atau aktivitas lain yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka itu tergolong bid’ah juga. Wallaahu a’lam.

Sumber

--

Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?

Pada beberapa tahun terakhir ini, ada gejala pergeseran makna taaruf. Ada kecenderungan, taaruf tidak lagi diartikan menurut makna asli yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13: “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku li ta‘ârafû (supaya kamu saling kenal). …. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jadi, makna asli istilah taaruf itu adalah proses saling kenal dengan siapa pun selama hayat dikandung badan. Namun sekarang, ada banyak ikhwan yang bilang, “taaruf adalah perkenalan antara seorang ikhwan dan seorang akhwat yang akan menikah.” Bahkan, ada tak sedikit akhwat yang ngomong, “taaruf adalah proses pendekatan selama maksimal tiga bulan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang akan menikah.” Aneh, ya? (Bukan hanya aneh, malah bisa jadi bid’ah sesat.)

Gimana nggak aneh? Bayangin aja. Mereka batasi makna taaruf hanya untuk pendekatan ketika akan menikah. Itu pun selama maksimal tiga bulan saja. Mereka dengung-dengungkan istilah taaruf dengan makna yang agak menyimpang dari makna yang terkandung dalam Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13. Padahal, mereka kan rajin membaca Al-Quran. Tekun pula menyimak terjemahnya dan mengkaji isinya.

Lantas, apakah mereka itu asal beda? Asal pake istilah dari bahasa Arab biar kedengaran Islami? Ataukah asal keren?

Gak usahlah kita berprasangka buruk kepada mereka. Mending kita berprasangka baik bahwa sesungguhnya sudah ada kata-kata khas yang digunakan oleh Allah dan/atau Rasul-nya ketika membicarakan perlunya pendekatan antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. Kita cari yuuuk!

Kalau kata-kata khas tersebut seakar dengan istilah taaruf (seperti pada Al-Quran, surah al-Hujurât [49], ayat 13), maka istilah “taaruf pranikah” lebih elok daripada “taaruf” supaya tersedia ruang yang lapang bagi jenis-jenis taaruf lainnya. Seandainya kata-kata khas tersebut tidak seakar dengan istilah taaruf, kita dapat memanfaatkannya untuk merumuskan istilah lain yang lebih tepat.

Dari ayat-ayat Al-Quran, aku belum menemukan kata-kata khas yang dimaksud itu. What about you?

Dari hadits-hadits Nabi yang shahih, aku telah menemukannya! Alhamdu lillaah…. Mo tau? Gini niy….
Istilah Lain Yang Lebih Tepat

Di kitab Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’at (kitab ini menghimpun hadits-hadits shahih mengenai hubungan pria-wanita), aku jumpai enam hadits shahih mengenai perlunya “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 53-56.)

Di situ, ada satu kata khas yang selalu muncul pada keenam hadits tersebut. Apakah kata khas ini seakar dengan istilah “taaruf” (saling kenal)?

Tidak. Istilah taaruf atau pun kata-kata yang seakar dengannya tidak pernah muncul di situ. Kata khas yang muncul adalah “nazhar”. Kemunculannya berbentuk kata kerja “yanzhuru” (memperhatikan) dan kata perintah “unzhur” (perhatikanlah).

Nah! Dari situ kita jadi ngeh, ternyata kita tidak diperintahkan untuk sekadar “taaruf” (saling kenal) bila hendak segera menikah. Yang disyariatkan dalam keadaan ini adalah “tanazhur” (saling memperhatikan).

Terus, apakah kata “nazhar” itu eksklusif khusus bagi yang hendak segera menikah?

Enggak juga. Contohnya, dalam suatu riwayat yang ngetop dikabarin, Ali r.a. berwasiat: “Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.” (Perhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau perhatikan siapa yang mengatakan.)

Jadi, buat ngebedain ama jenis-jenis tanazhur lainnya, istilah yang lebih tepat untuk “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah adalah TANAZHUR PRANIKAH.

Mungkin bagi sebagian orang di antara kita, istilah “tanazhur pranikah” ini kedengarannya kurang keren ketimbang “taaruf” atau pun “taaruf pranikah”. Namun, kita memilih istilah bukan lantaran asal keren, ‘kan?

Sumber

--
Dampak Buruk Zina (dalam sorotan Ibnu Qayyim)

Di buku Taman Jatuh Cinta (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), Ibnu Qayyim memaparkan (hlm. 681):

Perbuatan zina akan mengakibatkan pelakunya dijangkiti oleh semua pekerti yang buruk, seperti menipisnya agama, lenyapnya wara’ [kesucian diri]; moralnya menjadi bejat; dan hilangnya rasa cemburu. Oleh karena itu, Anda tidak akan menjumpai seorang pezina yang menyandang pekerti wara’, tetap janji, jujur dalam berbicara, suka memelihara hubungan dengan teman, dan punya rasa cemburu kepada istrinya. Sikap curang, dusta, khianat, menipisnya rasa malu, tidak merasa diawasi oleh Allah, tidak merasa enggan terhadap perkara yang haram, dan lenyapnya kecemburuan dari dalam hati, semuanya itu termasuk konsekuensi dan akibat dari perbuatan zina.

Selain itu, masih ada banyak dampak buruk lain yang dikemukakan oleh Ibnu Qayyim, antara lain (hlm. 682-689):

  1. pelakunya beroleh murka dari Allah,
  2. wajahnya menjadi suram,
  3. hatinya menjadi gelap,
  4. kefakiran menetap,
  5. kehormatannya hilang,
  6. berpredikat tidak baik,
  7. predikat sebagai mukmin tercabut,
  8. menjadi penghuni tungku neraka,
  9. termasuk golongan buruk [yang takkan beroleh jodoh yang baik],
  10. kesepian terlihat dari raut wajahnya,
  11. wibawanya memudar,
  12. tidak dipercaya orang,
  13. mulut dan tubuhnya berbau,
  14. dadanya terasa sempit dan sesak,
  15. kehilangan kesempatan mereguk kenikmatan bersama bidadari di surga,
  16. mudah terdorong berbuat durhaka.

Ibnu Qayyim menandaskan, “Semua yang telah disebutkan di atas merupakan sebagian dari bahaya dan kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan zina.” (hlm. 689) Oleh karena itu, jangan dekati zina! (Kalau sudah terlanjur berzina, bertaubatlah segera selagi masih ada kesempatan!)

Wa Allaahu a’lam.

Sumber

--

Cara Melamar Calon Istri Yang Islami

Assalamualikum rumah fiqih.

Insya dalam waktu dekat saya akan melamar seorang wanita, tapi pengetahuan saya belum mengetahui tentang tata cara melamar yang sesuai contoh Nabi Muhammad SAW.

Mohon do'a nya agar bisa berlangsung secepatnya,

Terima kasih atas jawabanya

Jawaban


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Melamar yang islami itu adalah melamar yang tidak melanggar ketentuan syariah. Tentang teknik dan gayanya, silahkan disesuaikan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku pada tiap masyarakat.

Perbedaan Khitbah Dengan Pertunangan

Makna khitbah dalam bahasa Indonesia ada bermacam terjemahan, antara lain bermakna melamar atau meminang. Namun khitbah tidak selalu sama dengan pertunangan.

Pertunangan adalah semacam upacara atau ritual tertentu yang meresmikan bahwa suatu pasangan itu sepakat mau menikah nantinya. Budaya ini datang dari Barat, biasanya ditandai dengan disematkannya cincin pertunangan di jari masing-masing calon pasangan.

Sedangkan bertunangan sendiri bukan sesuatu yang original datang dari syariah Islam. Bisa saja orang menggelar acara pertunangan, tetapi di dalamnya belum tentu berupa khitbah. Atau kadang sebenarnya merupakan khitbah, tetapi diberi nama pertunangan. Sebab antara keduanya memang ada perbedaan yang mendasar.

Perbedaannya terletak pada langkahnya. Khitbah adalah pengajuan lamaran atau pinangan kepada pihak wanita. Namun pengajuan ini sifatnya belum lantas berlaku, karena belum tentu diterima. Pihak wanita bisa saja meminta waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang atas permintaan itu untuk beberapa waktu.

Apabila khitbah itu diterima, maka barulah wanita itu menjadi wanita yang berstatus makhthubah (مخطوبة), yaitu wanita yang sudah dilamar, sudah dipinang, atau bisa disebut dengan wanita yang sudah dipertunangkan.

Namun apabila khitbah itu tidak diterima, misalnya ditolak dengan halus, atau tidak dijawab sampai waktunya, sehingga statusnya menggantung, maka wanita itu tidak dikatakan sebagai wanita yang sudah dikhitbah. Dan pertunangan belum terjadi.
Kepada Siapa Khitbah Diajukan?

Berbeda dengan yang sering kita saksikan di dalam film Barat, atau di sinetron sesat tentang melamar seorang wanita, Islam punya prinsip melamar yang unik.

Kalau di Barat sana, laki-laki melamar seorang wanita untuk dijadikan istri. Posisinya biasanya si laki-laki berlutut di depan wanita yang ingin dilamarnya itu, sambil mengulurkan cincin pertunangan.

Tetapi dalam syariat Islam, lamaran itu bukan diajukan kepada wanita, melainkan kepada ayah kandung sebagai wali dari wanita. Sebab beliau lah nantinya yang akan menikahkan, kalau lamaran itu diterima dan pernikahan terjadi.

Jadi dalam Islam tidak akan dikenal ungkapan,"Will you marry me?'. Yang ada adalah pengajuan seorang laki-laki kepada ayah kandung wanita yang ingin dinikahinya, setidak-tidaknya berbunyi,"Kalau diizinkan, perkenankan Saya ingin menikahi puteri Bapak".

Namun biasanya urusan melamar ini dilakukan tidak langsung oleh calon suami, melainkan dengan mengajak juga orang tuanya. Sehingga nanti yang menyampaikan lamaran itu pihak orang tua laki-laki kepada pihak orang tua calon istri.

Belum Harus Diumumkan

Berbeda dengan pernikahan yang disunnahkan untuk diumumkan, sunnahnya lamaran itu tidak diumumkan, tetapi dilakukan secara tertutup atau terbatas.

Mengapa demikian?

Karena lamaran itu belum lagi merupakan kepastian sebuah pernikahan. Setelah melamar, bisa saja lamaran itu diterima dan bisa saja tidak. Atau bisa saja diterimanya nanti setelah beberapa waktu berlalu.

Nah, kalau belum apa-apa, sebuah lamaran sudah diumumkan, maka kalau ternyata tidak sampai ke jenjang pernikahan, tentu akan jadi sia-sia saja. Lain halnya kalau sudah sampai kepada akad nikah, maka sunnahnya memang diumumkan.

Pengajuan Lamaran Belum Berarti Sah dan Diterima

Penting juga untuk dicatat bahwa yang namanya pengajuan lamaran itu bukan berarti sudah mengesahkan calon istri sebagai wanita yang berstatus makhtubah. Namun harus ada jawaban dulu dari pihak wanita tentang apakah lamaran ini diterima atau tidak.

Kalau diterima, maka status calon istri itu menjadi makhtubah, sehingga sejak saat itu hingga pernikahan berlangsung, dirinya sudah tidak boleh lagi menerima lamaran laki-laki lain. Atau sampai lamaran itu dimentahkan atau dibatalkan oleh salah satu pihak, baik oleh pihak lak-laki maupun oleh pihak perempuan.

Calon Istri Belum Masih Wanita Ajnabi Yang Haram Diapa-apakan

Banyak orang keliru memahami, bahwa mentang-mentang sudah terjadi lamaran, seolah-olah sudah layaknya jadi suami istri. Orang tua lantas membolehkan pasangan ini kemana-mana berduaan, bahkan tidak sedikit mereka yang sudah mendahului melakukan percumbuan sampai zina bersetubuh.

Sayang sekali pandangn keliru ini kemudian dianggap biasa, seiring dengan masuknya gaya hidup hedonis dan permisif yang melanda umat Islam. Masyarakat seolah membolehkan kalau pasangan yang belum sah jadi suami istri berduaan dan melakukan apa-apa yang sebenarnya belum boleh mereka lakukan.
Dua Jenis Khitbah

Dalam menyampaikan khitbah dikenal ada dua macam metode, yaitu tashrih (تصريح) dan ta'ridh (تعريض).

1. Tashrih

Yang dimaksud dengan tashrih (تصريح) adalah ungkapan yang jelas dan tegas, dimana khitbah disampaikan dengan menggunakan ungkapan yang tidak bisa ditafsirkan apapun kecuali hanya khitbah. Seperti kalimat berikut ini :

Saya melamar dirimu untuk kujadikan istriku

atau

Bila masa iddahmu sudah selesai, Aku ingin menikahi dirimu

Para ulama sepakat bahwa tashrih ini bila disampaikan kepada wanita yang masih belum boleh dikhitbah, seperti wanita yang belum usai masa iddahnya, hukumnya haram. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

وَلاَ تَعْزِمُواْ عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىَ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

Dan janganlah kamu ber`azam untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya.(QS. Al-Baqarah : 235)

Namun khitbah dengan cara tashrih ini boleh disampaikan bila wanita yang dikhitbah memang seorang wanita yang bebas dari ikatan pernikahan dan hal-hal yang sejenisnya.

2. Ta'ridh

Yang dimaksud dengan ta'ridh (تعريض) adalah penyampaian khitbah yang menggunakan kata bersayap, sehingga bisa ditafsirkan menjadi khitbah atau juga bisa bermakna sesuatu yang lain di luar khitbah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Sumber

--

MELAKUKAN KHITBAH SECARA ISLAMI

MAKNA KHITBAH

Khitbah adalah bahasa yang sering kita terjemahkan dengan pinangan atau lamaran. Akar katanya di dalam Bahasa Arab adalah berasal dari huruf kho’, tho’ dan ba’ yang bermakna berbicara. Dari akar kata yang sama pula diambil kata khutbah, yang bermakna pembicaraan yang dilakukan oleh seorang juru dakwah, pada Hari Jum’at atau yang lainnya. Sedangkan khitbah ini ketika diucapkan, maka konotasinbya adalah pembicaraan yang memiliki makna khusus, yang maknanya adalah pembicaraan untuk melakukan permohonan restu kepada seorang wanita atau walinya untuk menikahinya.

PENSYARI’ATAN KHITBAH

Khitbah disyari’atkan di dalam Islam berdasarkan firman Allah ta’ala dalam Surat Al Baqoroh ayat 235 :

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma`ruf. Dan janganlah kamu ber`azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.

Ayat ini jelas menyebutkan kata khitbah. Pada ayat ini Allah membolehkan seorang laki-laki untuk meminang secara sindiran kepada wanita yang ditinggal oleh suaminya. Jika ini diperbolehkan, maka meminang wanita yang belum memiliki suami adalah lebih diperbolehkan.
Demikian juga khithbah ini juga disebutkan di dalam Sunnah Qouliyah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah :

عَنِ ابْنَ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا أنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِب

“Dari Ibnu Umar radliallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah seorang laki-laki itu meminang pinangan saudaranya, sehingga peminang sebelumnya meninggalkan pinangannya atau dia diberikan ijin untuk meminangnya”. (HR Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa pinangan  itu disyari’atkan untuk peminang pertama dan pinangannya itu harus dihargai oleh kaum muslimin yang lainnya dengan cara tidak meminang wanita yang telah dipinangnya tersebut.

Sedangkan di dalam sunnah fi’liyah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan pinangan kepada calon-calon istrinya, seperti yang dilakukannya ketika akan menikahi Ummu Salamah seperti yang akan kami jelaskan kemudian.

Dan di dalam sunnah taqririyah, para sahabat pada masa beliau telah melakukan pinangan dan beliau tidak melarangnya. Tetapi malah menyetujuinya, bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Mughirah bin Syu’bah untuk meliohat calon istrinya sebelum menikahinya. Beliau bersabda : “Lihatlah calon istrimu itu. Sesungguhnya yang demikian itu akanlebih mengekalkan kasih sayang diantara kalian berdua”.[1]

Adapun hukumnya adalah mubah pada dasarnya. Tetapi khithbah itu dapat menjadi haram pada beberapa keadaan, seperti yang akan kami jelaskan kemudian.

TUJUAN KHITBAH

Seseorang yang melakukan pinangan itu adalah untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang sangat banyak, diantaranya adalah :
a)      Untuk memudahkan jalan ta’aruf diantara kedua calon pengantin serta keluarga kedua belah pihak.
b)      Untuk menumbuhkan mawaddah diantara kedua belah pihak yang akan melangsungkan akad penikahan yang di dalam Al Qur’an disebut dengan istilah mitsaqon gholidzo (janji yang kuat, An Nisa’ : 21)
c)      Untuk memberikan ketenteraman jiwa kepada kedua calon pengantin.

CALON ISTRI/SUAMI YANG DIPINANG

Pernikahan adalah perserikatan hidup diantara sepasang suami dan istri. Oleh sebab itu keduanya harus benar-benar selektif dalam memilih pasangan hidupnya. Memilih pasangan tidaklah sama dengan memilih baju yang dapat dia coba-coba sekehendaknya atau dia beli kemudian ditinggalkannya begitu saja ketika sudah tidak menyukainya. Oleh karena itu haruslah masing-masing memiki kriteria yang jelas untuk calon pendamping hidupnya. Di bawah ini kami akan menjelaskan kriteria-kriteria itu dengan menjelaskan wanita-wanita yang haram untuk dikhithbah dan yang dianjurkan untuk dikhithbah.

A. WANITA-WANITA YANG HARAM DIPINANG

Secara global wanita-wanita yang haram dipinang adalah wanita-wanita yang haram dinikahi, yang disebutkan perinciannya di dalam Al Qur’an di dalam Surat An Nisa’ : 22 – 23, Surat Al baqoroh : : 221 dan Surat An Nisa’ : 3, wanita yang mempunyai suami, wanita yang masih dalam masa iddah, wanita yang sedang melakukan ihram haji dan wanita yang sedang dipinang oleh orang lain. Secara rinci dapat kami sebutkan sebagai berikut :

1)      Haram dinikahi karena nasab, yaitu :
a)      Ibu, sampai ke atas
b)      Anak perempuan, sampai ke bawah
c)      Semua saudara perempuan, yang sekandung, seayah atau seibu
d)      Semua bibi dari pihak ayah
e)      Semua bibi dari pihak ibu
f)        Semua anak perempuan dari saudara laki-laki yang sekandung, seayah atau seibu
g)      Semua anak perempuan dari saudara perempuan yang sekandung, seayah atau seibu.

2)      Haram dinikahi karena susuan
a)      Ibu yang menyusui
b)      Ibu dari ibu yang menyusui
c)      Saudara perempuan dari ibu yang menyusui
d)      Saudara perempuan dari suami ibu yang menyusui
e)      Anak perempuan dari semua anak ibu yang menyusui
f)        Semua saudara perempuan sepersusuan.

3)      Haram dinikahi karena pernikahan
a)      Ibu istri sampai ke atas
b)      Anak perempuan istri jika telah bercampur dengannya sampai ke bawah
c)      Istri anak atau cucu sampai ke bawah
d)      Istri ayah

Semua pengharaman pada ketiga sebab diatas adalah bersifat abadi.

4)      Sebab mahram, yaitu melakukan pinangan kepada saudara perempuan atau bibi dari istri yang masih sah atau istri yang dicerai tetapi masih dalam masa iddah, karena haram hukumnya menikahi dua orang saudara semahram.
5)      Wanita-wanita yang musyrik (QS. Al Baqoroh : 221)
6)      Haram menikah dari sisi jumlah, karena istrinya telah empat orang misalnya, sehingga diharamkan baginya untuk melakukan pinangan kepada wanita lainnya. Kecuali jika dia telah menceraikan salah satu istrinya dan telah habis masa iddah istrinya.
7)      Wanita-wanita yang msaih menjadi istri orang lain (QS. An Nisa’ : 24) dan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

َمَنْ خَبَّبَ عَلَى امْرِئٍ زَوْجَتَهُ أَوْ مَمْلُوكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang merusak istri seseorang orang atau budaknya maka dia bukan termasuk golongan kami”. (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Demikian juga diharamkan bagi seorang wanita untuk meminta agar seseorang laki-laki menceraikan istrinya agar dia dipinang dan dijadikan istrinya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَلَا تَسْأَلُ الْمَرْأَةُ طَلاَقَ أُخْتِهَا لِتَكْفَأَ مَا فِي إِنَائِهَا

“Dan janganlah seorang wanota itu meminta perceraian saudaranya agar dia dinikahi”. HR Bukhar, Muslim, Turmudzi, Nasa’I dan Ahmad).

8)      Meminang wanita yang sedang menjalankan iddah, baik karena ditinggal mati oleh suaminya atau karena dicerai oleh suaminya atau pernikahannya dibatalkan oleh Hakim (fasakh), kecuali dilakukan dengan cara sindiran. Seperti yang disebutkan pada Surat Al Baqoroh : 235. contoh pinangan sindiran adalah pinangan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk Usamah bin Zaid kepada Fathimah bin Qais : “Jika engkau masa iddahmu telah  selesai, maka beritahukanlah kepadaku”[2]. Atau dengan perkataan : “Aku berharap Allah mengaruniakan kepadaku seorang istri yang shaleh”. Jika pinangan itu mengarah kepada pinangan secara terang-terangan, maka haruslah dialihkan. Seperti yang terjadi pada Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib ketika meminang Sakinah binti Handzalah yang ditinggal mati oleh suaminya, dengan sindirian. Dia  berkata : “Engkau telah mengtahui hubunganku dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan hubunganku dengan Ali bin Abi Thalib serta kedudukanku di hadapan Bangsa Arab”. Maka wanita itu berkata : “Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu ja’far. Engkau adalah panutan umat. Apakah engkau meminangku di masa iddah ?”. Maka jika pada saat itu Abu Ja’far menjawab dengan : “Ya”, maka jadilah lamaran yang terang-terangan. Karena dia itulah dia mengalihkannya dengan berkata : “Aku hanya memberitahukan kepadamu tentang hubunganku dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan dengan Ali bin Abu Thalib”.[3]

9)      Wanita yang masih dalam pinangan orang lain, seperti yang disebutkan di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar di atas. Ini jika pinangan itu sudah jelas diterima atau ada tanda-tanda diterima, baik pinangan itu dilakukan oleh orang yang shaleh atau orang yang fasek, selama dia adalah seorang muslim. Adapun jika pinangan itu tidak dijawab dan orang lain itu diijinkan atau orang yang datang kemudian tidak mengetahui piangan terdahulu, maka tidak apa-apa. Seperti yang terjadi pada Fathimah binti Qais ketika dithalak tiga oleh suaminya.

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ أَنَّ أَبَا عَمْرِو بْنَ حَفْصٍ طَلَّقَهَا الْبَتَّةَ وَهُوَ غَائِبٌ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا وَكِيلُهُ بِشَعِيرٍ فَسَخِطَتْهُ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا لَكِ عَلَيْنَا مِنْ شَيْءٍ فَجَاءَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لَيْسَ لَكِ عَلَيْهِ نَفَقَةٌ فَأَمَرَهَا أَنْ تَعْتَدَّ فِي بَيْتِ أُمِّ شَرِيكٍ ثُمَّ قَالَ تِلْكِ امْرَأَةٌ يَغْشَاهَا أَصْحَابِي اعْتَدِّي عِنْدَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ رَجُلٌ أَعْمَى تَضَعِينَ ثِيَابَكِ فَإِذَا حَلَلْتِ فَآذِنِينِي قَالَتْ فَلَمَّا حَلَلْتُ ذَكَرْتُ لَهُ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ انْكِحِي أُسَامَةَ فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ

Diriwayatkan dari Fathimah binti Qais bahwa Abu Amru bin hafsh mentahlaknya tiga kali poada waktu dia bepergian. Dia mengirimkan utusannya dengan membawa buah sya’ir. Maka fathimah membuatnya marah dan dia berkata : “Kamu bukan apa-apa bagiku”. Kemudian Fathimah datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menceritakan hal itu. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Kamu tidak brehak mendapatkan nafkah. Laksanakanlah iddah di rumah Ummu Syuraik”. Kemudian dia berkata : “Sahabat-sahabatku sering masuk ke rumahnya. Laksanakan iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum. Dia adalah seseorang yang buta. Kamu dapat melepaskan bajumu. Dan jika masa iddahmu telah selesai, maka beritahukanlah aku”. Fathimah berkata : “Ketika iddahku telah selesai, aku memberitahukan kepada Rasulullah bahwa Mu’awiyah dan Abu Sufyan meminangku. Maka Rasulullah berkata : “Abu Jaham adalah seorang yang tidak menurunkan tongkatnya dari pundaknya dan Abu Sufyan adalah orang yang tidak memiliki harta. Nikahlah kamu dengan Usamah”. Fathimah berkata : “Aku tidak menyukainya”. Kemudian Rasulullah berkata : “Nikahlah dengan Usamah”. Maka aku menikah dengannya dan Allah memberikan karunia kebaikan kepadaku dan para wanita menjadi iri kepadaku”.[4]

10)  Melakukan pinangan kepada wanita yang sedang melakukan ibadah ihram/ haji. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ

Dari Utsman bin Affan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seseorang yang melakukan ihram itu tidak boleh menikah, atau dinikahkan atau melamar”.[5]

Itulah penjelasan tentang wanita-wanita yang haram untuk dipinang atau dikhithbah.

WANITA-WANITA YANG DIANJURKAN UNTUK DIPINANG

Dalam hal ini ada beberapa hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang dapat kami sebutkan sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Carilah wanita yang beragama, maka kamu akan beruntung”. [6]

عَنِ ابْنِ عَمْرُو رََضِيَ اللهُ عَنْهَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَكَحَ الْمَرْأَةَ لِمَالِهَا وَجَمَالَهَا حُرِمَ مَالُهَا و جَمَالُهَا وَمَنْ نَكَحَ لِدِيْنِهَا رَزَقَه اللهُ مَالَهَا وَجَمَالَهَا

Dari Abdullah bin Amru ra bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menikahi seorang perempuan karena hartanya dan kecantikannya, maka dia tidak akan mendapatkan hartanya dan kecantikannya. Dan barangsiapa yang menikahinya karena agamanya, maka Allah akan mengkaruniakan kepadanya kecantikannya dan hartanya”.[7]

عَنْ أنَسِ بْنِ مَالِك رََضِيَ اللهُ عَنْهَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأةً لِعِزِّهَا لَمْ يَزِدهُ اللهُ إلاَّ ذُلاًّ , وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لَمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إلاَّ فَقْرًا , وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إلاَّ دَنَاءَةً , وَمَنْ تَزَوَّجَ امْرَأةً لَمْ يُرِدْ بِهَا إلاَّ أنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ وَيُحْصِنَ فَرْجَهُ أوْ يَصِلَ رَحِمَهُ بَرَكَ اللهُ لَهُ فِيْهَا وَبَارَكَ اللهُ لَهَا فِيْهِ

Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena kemulyaannya, maka Allah hanya akan menambahkan kehinaan untuknya. Barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena hartanya, maka Allah hanya akan menambahkan kefakiran untuknya.  Barangsiapa yang menikahi seorang wanita karena keturunannya, maka Allah hanya akan menambahkan kerendahan untuknya. Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita dan dia berkeinginan untuk menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya atau untuk menjalin silarurahmi, maka Allah akan memberikan berkah kepada keduanya”.[8]

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah mahar dan biaya hidupnya”.[9]

عَنْ عاَئشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مِنْ يُمْنِ الْمَرْأةِ أنْ تَتَيَسَّرَ خِطْبَتُهَا وَأنْ يَتَيَسَّرَ خِطْبَتُهَا وَأنْ يَتَيَسَّرَ رَحِمُهَا

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Diantara tanda keberkahan seorang wanita adalah jika mudah pinangannya, mudah mudah maharnya dan mudah rahimnya (subur rahimnya).[10]

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَمَنْصِبٍ إِلَّا أَنَّهَا لَا تَلِدُ أَفَأَتَزَوَّجُهَا فَنَهَاهُ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَنَهَاهُ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَنَهَاهُ فَقَالَ تَزَوَّجُوا الْوَلُودَ الْوَدُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ

Dari Mi’qal bin Yasar bahwa dia berkata : “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata : “Aku menemukan seorang wanita yang memiliki keturunan yang baik dan kedudukan, tetapi dia itu mandul. Bolehkan aku menikahinya. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Lalu dia datang untuk kedua kalianya, dan Rasulullah melarangnya. Kemudian dia datang yang ketiga kalinya, maka Rasulullah bersabda : “Menikahlah kalian dengan seorang wanita yang memiliki anak banyak dan penuh kasih sayang. Sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya umatku dengan kalian”.[11]

عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَقِيَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَتَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا قَالَ قُلْتُ بَلْ ثَيِّبًا قَالَ فَهَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُكَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كُنَّ لِي أَخَوَاتٌ فَخَشِيتُ أَنْ تَدْخُلَ بَيْنِي وَبَيْنَهُنَّ قَالَ فَذَاكَ إِذًا إِنَّ الْمَرْأَةَ تُنْكَحُ عَلَى دِينِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِهَا فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ   . وَفِيْ رِوَايَةِ الِّترْمِذِيْ  : فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ مَاتَ وَتَرَكَ سَبْعَ بَنَاتٍ أَوْ تِسْعًا فَجِئْتُ بِمَنْ يَقُومُ عَلَيْهِنَّ قَالَ فَدَعَا لِي

Diriwayatkan dari Jabir bahwa dia menikahi seorang wanita pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menemuinya dan berkata : “Apakah kamu sudah menikah, wahai Jabir ?. Dia berkata : “Ya”. Dia berkata : “Perawan atau janda ?”. Aku berkata : “Tetapi dengan janda”. Dia berkata : “Mengapa tidak dengan perawan agar kamu dapat saling bercengkerama”. Dia berkata : “Wahai Rasulullah, aku memiliki banyak saudara perempuan, maka aku takut jika perawan itu akan merusak hubunganku dengan saudara-saudaraku”. Rasulllah berkata : “Jika demikian, wanita itu dinikahi karena agamanya, hartanya dan kecantikannya. Maka pilihlah wanita yang beragama. Semoga kamu sukses”.[12] Dan di dalam Riwayat Tirmidzi disebutkan : “Sesungguhnya Abdullah (Ayah Jabir) telah meninggal dunia dan meninggalkan tujuh atau sembilan anak. Maka aku mendatangkan seorang wanita yang dapat merawat mereka semua”. Maka Rasulullah kemudian berdo’a untukku.

عَنْ عُوَيْمِ بْنِ سَاعِدَةَ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ

Diriwayatkan dari Uwaim bin Sa’idah Al Anshori dari ayahnya dari kakeknya bahwa dia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pilihlah wanita-wanita yang perawan. Sesungguhnya mereka itu lebih manis mulutnya, lebih bersih rahimnya dan lebih ridla dengan sesuatu yang sedikit”.[13]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Diriwayatkan dari Abu hurairah bahwa dia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika telah datang kepada kalian seseorang pelamar yang kalian ridlai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan anakmu. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di atas bumi dan kerusakan yang besar”.[14]

Hasan Bashri pernah didatangi oleh seseorang yang menanyakan calon suami terbaik untuk anak perempuannya, maka dia berkata : “Nikahkanlah dia dengan seseorang yang bertakwa kepada Allah. Jika dia mencintainya, maka dia akan menghormatinya dan jika dia tidak mencintainya, maka dia tidak mendzaliminya”.

Berdasarkan hadits-hadits diatas, maka kriteria wanita yang dianjurkan untuk dikhithbah adalah sebagai berikut:
1)      beragama baik dan shalehah. Terlebih lagi jika berasal dari keturunan yang baik, memiliki harta dan cantik.
2)      mudah pinangannya dan maharnya
3)      subur kandungannya
4)      perawan. Terkecuali jika ada kemashlahatan yang lebih besar dengan menikah dengan janda, seperti yang terjadi pada Jabir dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri.
5)      di dalam pesan Bangsa Arab disebutkan bahwa ada lima jenis wanita yang seharusnya dihindari untuk dijadikan istri, yaitu :
a.       annanah, yaitu wanita yang senantiasa mengeluh setiap harinya, karena sakit-sakitan atau pura-pura sakit,
b.      mannanah, yaitu wanita yang suka mengungkit-ungkit jasa yang pernah dia lakukan untuk suaminya atau keluarganya,
c.       hannanah, yaitu wanita yang selalu menyatakan rindu kepada suaminya yang terdahulu,
d.      barraqah, yaitu wanita menghabiskan waktunya sepanjang hari dihadapan cermin untuk merias wajahnya dan tubuhnya.
e.       Syaddaqah, yaitu wanita yang cerewet dan bawel.
6)      Di samping itu idealnya dianjurkan agar wanita yang akan dipinang adalah bukan dari keluarga dekat, sekalipun sebenarnya hukum menikahinya dalam Islam diperbolehkan.
7)      sedangkan laki-laki yang hendaknya diterima lamarannya adalah laki-laki yang memiliki agama dan ketakwaan yang baik.

MELAKUKAN PINANGAN DAN KIAT SUKSESNYA

setelah seorang laki-laki itu menentukan pilihan wanita yang akan dipinanganya, diantaranya yang memenuhi kriteria-kriteria diatas, maka ketika dia datang ke rumah calon istrinya untuk meminanganya, maka ada beberapa hal yang selayaknya diperhatikan olehnya dan dilakukannya, diantaranya adalah:
1)      Saling mengenali diri, dengan mengenali watak dan kerpibadian masing-masing dengan melakukan pembicaraan berdua di hadapan mahramnya.
2)      Melihat calon istri. Dalam hal ini ada beberapa ayat dan hadits yang perlu diperhatikan untuk mengetahui apa saja yang halal untuk dilihat dan yang haram untuk dilihat, agar seseorang tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Firman Allah :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Janganlah seorang wanita itu menampakkan perhiasannya”.[15]

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ خَطَبْتُ امْرَأَةً عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا قُلْتُ لَا قَالَ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah bahwa dia berkata : “Aku meminang seorang perempuan pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka dia berkata :” Apakah kamu telah melihatnya ?”. dia berkata : “Tidak”. Dia berkata : “Lihatlah dia. Seseungguhnya hal itu lebih layak untuk memperlanggeng pernikahan kalian berdua”.[16]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ قَالَ فَخَطَبْتُ جَارِيَةً فَكُنْتُ أَتَخَبَّأُ لَهَا حَتَّى رَأَيْتُ مِنْهَا مَا دَعَانِي إِلَى نِكَاحِهَا وَتَزَوُّجِهَا فَتَزَوَّجْتُهَا

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa dia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, maka jika dapat melihat kepada sesuatu yang dapat mendorongnya untuk menikahinya, maka hendaklah dia melakukanya”. Jabir berkata : “Maka aku meminang seorang gadis dan aku bersembunyi untuk melihatnya, sehingga aku melihat kepada sesuatu yang mendorongku untuk menikahinya, kemudian aku menikahinya”.[17]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seorang wanita yang diutus untuk melihat calon wanita yang hendak dilamarnya : “Ciumlah bau mulutnya dan bau ketiaknya dan perhatikanlah otot-ototnya”.[18]

Berdasarkan ayat dan hadits-hadits di atas, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal ini, yaitu :

a)      Melihat calon istri hukumnya adalah boleh
b)      Boleh mengutus seseorang, terutama wanita untuk mengenal secara lebih detail diri pribadi wanita itu.
c)      Melihat wanita yang dipinang itu tidak harus seijin dari wanita itu. Maka baik dia rela atau tidak rela, maka laki-laki peminang boleh melihat calon istrinya.
d)      Adapun bagian mana saja yang boleh dilihat oleh laki-laki peminang. Maka disini para ulama sepakat boleh melihat kepada wajah dan telapak tangan. Para fuqoha’ Madzhab Hanafi menambahkan boleh melihat kepada telapak kaki. Dan para fuqoha’ Madzhab Maliki memperbolehkan melihat kepada lengan tangan. Dan menurut riwayat dari Madzhab Ahmad boleh melihat kepada apa yang umumnya nampak pada wanita yang hendak dipinang.
e)      Untuk lebih mempermudah perkenalan permualaan, maka bolehlah seseorang melihat photo calon pasangannya dan saling mengirimkan data pendahuluan

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang laki-laki yang hendak melihat calon istrinya, yaitu :
a)      Wanita yang hendak dipinangnya adalah wanita yang halal dinikahinya
b)      Dia harus menentukan seorang wanita untuk dipinang, bukan melihat banyak wanita, kemudian datang meminang dan melihat bagian tubuhnya
c)      Hendaklah dia memiliki dugaan kuat bahwa pinangannya akan diterima
d)      Tujuannya tidak boleh hanya untuk memuaskan nafsu birahinya saja.
3)      Meminta nasehat dan pendapat dari orang yang lebih mengetahui
4)      Menggunakan perantara orang-orang yang memiliki kedudukan, terutama dihadapan keluarga wanita yang hendak dipinang
5)      Melakukan shalat istikharah
6)      Cinta bukanlah segalanya. Yang paling penting adalah tangung jawab dan semangat memberikan pengayoman
7)      Tidak ada salahnya jika seorang wanita datang meminang seorang laki-laki, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Sahal bin Sa’ad dan seperti yang terjadi antara Rabi’ah binti Isma’il dan Ahmad bin Abul Huwari. Bahkan pernikahan yang terjadi antara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan Khadijah adalah bermula dari inisiatif pihak wanita.

MASA SETELAH PINANGAN

Setelah seorang laki-laki datang kepada seorang wanita untuk dipinang, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Lamaran itu diterima atau ditolak. Jika wanita itu sudah baligh, maka di dalam Madzhab Hanafi cukuplah dengan keridlaannya saja. Tetapi menurut jumhur, keridlaannya itu harus didukung dengan keridlaan walinya.
  2. Boleh merayakan pinangan yang telah diterima dan menandainya.
  3. Boleh memberikan hadiah kepada calon pengantin.
  4. Boleh menyerahkan mahar jika telah ditentukan pada waktu pinangan. Tetapi hal ini tergantung kepada kemashlahatan yang ada.
  5. Boleh berkunjung ke rumah calon istri yang telah menerima lamaran dengan membawa hadiah dan atau yang semisalnya dan berbicara dengannya dengan syarat tidak berkhalwat dengannya.
  6. Tidak ada ketentuan rentang waktu yang pasti yang ditentukan di dalam Islam antara penerimaan pinangan dengan dilangsungkannya akad prenikahannya. Semua tergantung kepada kemashlahatan dan kesepakatan kedua belah pihak. Tetapi semakin cepat adalah semakin baik, karena setan selalu berusaha meniupkan rasa waswas di hati setiap manusia.
  7. Jika terjadi pembatalan pinangan di tengah jalan, maka pihak pria tidak boleh mengambil hadiah yang telah diberikannya. Dan pihak wanita harus mengembalikan hadiah tersebut jika pembatalan itu berasal dari pihaknya. Tetapi jika benda yang telah diberikan oleh pihak pria itu merupakan syarat-syarat nikah, seperti mahar misalnya, maka pihak wanita harus mengembalikannya, baik pembatalan itu berasal dari pihak laki-laki atau pihak wanita. Karena mahar hanya wajib dibayarkan setelah sempurnanya akad pernikahan. Wallaahu a’lam.

[1] HR. Turmudzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad
[2] HR Muslim, Abu Dawud, Nasa’I , Ibnu majah dan Ahmad.
[3] Tafsir Al Qurthubi, III : 188 – 189
[4] HR Muslim,  Abu Dawud, Nasa’I,  Ibnu Majah dan Ahmad
[5] HR Muslim, Nasa’I, Abu dawud dan Ahmad. Dan Malik menambahkan di dalam Al Muwatho’nya : “baik lamaran itu untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain”.
[6] HR Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’I, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Ad Darimi
[7] HR Thabrani
[8] HR Ibnu Hibban
[9] HR Ahmad
[10] HR Ahmad dan Baihaqi
[11] HR Nasa’I dan Abu Dawud
[12] HR Nasa’I
[13] HR Ibnu Majah
[14] HR Turmudzi
[15] Al Ahzab : 31
[16] HR Nasa’i
[17] HR Abu Dawud
[18] HR Thabrani dan Baihaqi

Sumber

---

Sukseskan Taaruf

Bagi siapapun ikhwan / akwat yang sudah merasa siap untuk menikah, hal pertama yang wajib dilakukan sebelum memulai untuk mencari calon adalah berdoa, semoga langkahnya dalam rangka mencari / menjemput sang belahan hati diberi kemudahan oleh Allah, sang pengatur jodoh.
Lalu silahkan memulai tahap-tahap berikut

1. Mengkondisikan keluarga.
Hal awal yang musti dilakukan adalah mengkondisikan keluarga terlebih dulu sebelum mencari calon. Sampaikan kepada mereka gambaran berproses secara islami, terutama bagi antum yang keluarganya masih awam. Hal ini sangat penting, mengkondisikan keluarga jauh2 hari. jangan sampai baru menyampaikan kepada keluarga mendadak ketika antum sudah mendapatkan calon, bisa berabe dan membuat shock keluarga antum. Sampaikan niat antum pada keluarga. terutama orang tua, tanyakan kepada mereka kriteria calon menantu sperti apa yang diharapkan. biasanya karakter orang tua itu macam-macam. ada yang menyerahkan hak pilih sepenuhnya kepada sang anak, ada juga yang memberikan kriteria-kriteria tertentu, seperti : ingin menantu yang minim lulusan S2, pinter masak, bukan orang ndeso, cantik, penurut, mau tinggal sama ortu DLL. Nah bagi antum yang memiliki ortu tipe kedua, maka klop kan dulu kriteria antum dengan kriteria orang tua jika merasa permintaan ortu terlalu berat, tawarlah semaksimal mungkin, jika antara anak dan ortu sudah cocok silahkan masuk ke tahap berikutnya. Intinya peran keluarga / orang tua dalam berproses itu sangat penting dan dominan, banyak disana kisah-kisah taaruf yang gagal karena alasan orang tua. So.. bersiaplah ^.^

2. Mencari calon.
Mencari calon disini bisa melalui beberapa cara. Tapi ingat, caranya mesti syar’i yah. Bisa minta tolong teman, guru, orang tua, tetangga dll. oiya satu tips, carilah perantara yang agamanya bagus, karena ini biasanya juga mencerminkan seperti apa pemahaman agama si calon yang bakal di kenalkan kepada antum. Jangan asal minta tolong sama orang yang baru dikenal buat nyariin jodoh, bisa-bisa dikasih asal-asalan ntar . Atau bisa juga antum menembak langsung seseorang yang menurut antum oke dan layak di tembak. Tapi… kalo antum memilih buat menembak , antum wajib menyelidiki dulu apakah si target free / tidak, sudah siap menikah atau belum, sudah punya incaran atau belum dll, supaya kemungkinan diterimanya besar . Oya siapin biodata jangan lupa. Biodata yang lengkap selengkap lengkapnya, tulis semua kisah hidup dari kecil sampai skr, semua riwayat pendidikan formal non formal, deskripsikan selengkap-lengkapnya ya. Kalo mau contoh form biodata bisa download di sini

3. Proses pengenalan si calon
Nah setelah kita menemukan satu orang, selidikilah dia, baik buruknya, teman-temannya, dll, jika antum merasa cocok n oke masuklah ke tahap berikutnya yaitu taaruf face to face, dengan didampingi perantara ya, perantaranya usahakan yang sudah menikah. Taaruf face to face disinia dalah kesempatan antum bertanya apapun yang ingin antum ketahui tentang si calon, prinsip2 yang dia pegang, kebiasaan sehari-hari, pokoknya semua hal yang bersifat prinsip silahkan antum tanyakan di forum ini. jika antum yang kebagian ditanya, antum harus menjawabnya jujur dan apa adanya, jangan ada yang ditutup-tutupi. tanyakan juga mengenai keluarga si calon bagaimana, sudah terkondisikan atau belum dll. jangan lupa istikhoroh

4. Jika memang sama-sama oke
waktunya mengenalkan calon ke orang tua. eh tunggu… anyakan dulu pastinya keluarga si calon sudah oke atau belum, kalo memang sudah oke n tidak ada ganjalan, baru kenalkan si calon ke ortu.

5 Khitbah dan aqad , insya Allah kalo memang jodoh
yang perlu digaris bawahi disini adalah, jangan lupa istikhoroh dan banyak2 berdoa serta mendekatkan diri kepada Allah, sang pengatur jodoh. Ingat jodoh tidak akan tertukar, selama belum ada akad ijab & qobul dia masihlah orang asing, yang kemungkinan menjadi suami / istri antum masih 50%. gantungkan segala pilihan hanya pada-Nya

Good Luck, Baarokallahufikum

-

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*