Oct 22 2013

Pembatasan Taaruf (Bid’ah & No Bid’ah)

Published by at 11:19 am under Pesona

Seorang pembaca bertanya, “Adapun pembatasan 3 bulan itu tidak pernah dimasukkan sebagai bagian ibadah, kenapa harus dikategorikan bid’ah?” Sementara itu, SPIP (seorang penentang islamisasi pacaran) menyangkal artikel saya di sini dengan menyatakan:

Yang perlu dipahami adalah bahwa Ta’aruf itu sendiri bukanlah amaliyah semacam ibadah Mahdah yang telah tetap rukun dan tata caranya, tetapi ia adalah anjuran Qurani ….

Kemudian pada update yang kami tempatkan di akhir artikel tersebut, kami terangkan:

Nah! Justru itulah yang perlu dipahami oleh para pengamal dan terutama pendakwah taaruf. Sayangnya, seperti yang saya kemukakan dalam artikel dan dalam komentar Donny Reza di sana, ada yang memperlakukannya sebagai ritual “yang telah tetap rukun dan tata caranya” sehingga “menyaingi” ibadah mahdoh. Mereka tidak menempatkannya sebagai anjuran Qurani, melainkan sebagai keharusan dan kewajiban ritual “yang telah tetap rukun dan tata caranya”.

Syukurlah SPIP telah menyadari hal itu. Mudah-mudahan kesadaran itu senantiasa diamalkan dan ditularkan kepada mereka yang amat bergairah dalam bertaaruf itu, sehingga tidak terjerumus dalam bid’ah. Aamiin.

Sementara itu, hendaknya SPIP menyadari bahwa segala ritual (walaupun bukan ibadah mahdoh) yang diperlakukan bagaikan ibadah mahdoh itu dapat tergolong bid’ah. Umpamanya, pernikahan itu bukan ibadah mahdoh. Namun jika dalam ijab-qabulnya ditetapkan aturan bahwa sepasang mempelai harus berciuman, atau aktivitas lain yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka itu tergolong bid’ah juga.

Lalu seorang pembaca berargumen:

Padahal hikmah pembatasan itu sendiri agar ada kepastian bahwa ta’aruf bukan sekedar untuk melegalkan kisah kasih cumbu rayu yang bisa mengotori hati tanpa hubungan pernikahan. Karena kalau itu berlarut-larut terlalu lama, malah akan membawa ketidakpastian.. bahasa kerennya menggantung .. hihi…

Hampir semua pelaku bid’ah memandang perbuatannya mengandung kebaikan. Namun, “hikmah” itu tidak boleh dijadikan alasan untuk melegalkan bid’ah. Kita selaku mubalig, da’i, murobbi, dsb, tidak boleh menetapkan aturan pembatasan lamanya taaruf pranikah bagi saudara-saudara kita yang menjalankannya. Sebab, penetapan aturan tersebut merupakan bid’ah. Yang dapat kita lakukan hanyalah menyeru mereka untuk segera menikah pada saat yang tepat.

Kemudian supaya hubungan di antara mereka tidak menggantung, kedua belah pihak yang bertaaruf prnikah itu hendaknya mengadakan kesepakatan sebaik-baiknya mengenai berapa lama masa taaruf mereka. Mereka boleh menyepakati waktu sebulan, tiga bulan, lima bulan, atau yang lain, menurut pertimbangan keadaan mereka.

Lain “pasangan”, bisa lain pula masa taaruf pranikahnya. Karena kesepakatan tersebut BUKAN berdasarkan penetapan aturan manusia (dari murobbi, ustadz, jamaah, ormas Islam, dsb), maka kesepakatan pembatasan seperti itu bukan bid’ah. Jelas?

Wallaahu a’lam.

Sumber

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*