Aug 20 2013

Catatan FB sang Syahida

Published by at 1:38 pm under Vatepri

tawazun
12 Desember 2009 pukul 8:02
adalah kemunduran perempuan islam
jika hanya berkutat sepanjang waktunya
hanya untuk urusan pekerjaan rumah
sementara dia bisa berbuat lebih tuk berjuang
adalah kelalaian juga jika tidak memperdulikannya
dengan alasan emansipasi
---
terima kasihku tuk kekasih pasangan hidupku
tuk memahamiku sedalam laut
mendukungku setinggi langit
mempercayaiku seluas samudra
tak kan kukhianati dirimu...

Komentar

Taman Baca Rumah Pelangi kuntum khoiru ummatin ukhrijat linnasi ta'muruna bil ma'rufi wa tanhauna 'anil munkari wa tu'minuuna billahi wal yaumil akhiir...
12 Desember 2009 pukul 9:15

Lembaga Rumah Pelangi "kuntum khoiru ummatin ukhrijat linnasi ta'muruna bil ma'rufi wa tanhauna 'anil munkari wa tu'minu billah......"(Ali Imran : 110)
"kamu skalian adalah umat terbaik yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah....."
14 Desember 2009 pukul 8:03

Gustin Hendriani salah satu ayat inspiratif perjuangan
21 Desember 2009 pukul 9:42

---
stop fesbuk...

12 Desember 2009 pukul 8:48

stop fesbuk seminggu
jangan ganggu
ingin berkhalwat dengan buku
tuk mendalami ilmu
sebagai bekal hidupku
menghadapMu...

ampuni hamba ya Rabbku
atas khilaf dan dosaku
sebelum jauh langkahku
susupi kesadaran dihatiku
maafkan hamba ya Tuhanku...
Komentar

Taman Baca Rumah Pelangi carilah hikmah kehidupan lewat buku....
12 Desember 2009 pukul 9:17

Heru Purwanto buku warisan para ulama
12 Desember 2009 pukul 11:42

Tri Sihono dgn bukulah jejak ilmu pengetahuan akan menyambungkan sejarah peradaban
12 Desember 2009 pukul 15:21

---
titik balik kekuatan jiwa

27 Desember 2009 pukul 13:42

"Ketika aku memohon kekuatan...
Kau berikan aku ujian"

Saat ini aku tersadar dengan makna kata-kata di atas..bahwasannya kekuatan di dapat melalui ujian yang datang silih berganti. Ketika kita mampu bertahan...bertambahlah kekuatan jiwa kita...bertambahlah keikhlasan kita...bertambahlah kecintaan kita pada Allah...
Subhanallah....
Komentar

Tri Sihono Dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 152, Allah berfirman, ''Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.'' Rasulullah selalu berzikir kepada Allah SWT setiap saat, beliau selalu merasakan kehadiran Allah SWT. Beliau yakin bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan lepas dari pengawasan dan kekuasaan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ''Segala urusan hanya pada Allah. Dia meletakkan menurut kehendak-Nya.''
1 Januari 2010 pukul 9:16 •

---

Meminang Bidadari
8 Januari 2010 pukul 10:08

"Menikah ?"
"Ya.."
"Tentu", jawab Ayesha tanpa ragu.
"Pertimbangkan dulu. Jangan cepat ambil keputusan." Bibinya berkata benar. Ayesha sedikit tersipu, tangannya membenahi abaya yang dipakainya dengan rikuh.
"Dengan siapa, Ammah ?"
Wajah lembut itu tiba-tiba mengeras. Kedua matanya mendadak menyembung. Mungkin karena air mata yang siap turun, entah kenapa. Luapan bahagiakah, karena keponakannya yang diurus sejak kecil ini akhirnya ada yang meminang ? Ayesha menunggu jawaban dari ammahnya. Tapi beberapa kejap hanya dilalui gelombang senyap.
"Ammah....dengan siapa ?"
Pandangan tajam wanita berumur itu menembus bola mata Ayesha. Seperti menimbang-nimbang kesiapan keponakan yang dicintainya itu, menikah. Ayesha membalas pandang, lebih karena ia tak mengerti kenapa pernikahan, kalau memang itu yang akan terjadi padanya, tak disambut ammah dengan riang, seperti pernikahan pada umumnya.
"Dengan Ayyash !"
”Ayyash ?”
Ammah mengangguk. Wajahnya pucat, namun terkesan lega. Biarlah.....biarlah Ayesha yang memutuskan....ini hidupnya.
Suara hati wanita itu bicara.
Di depannya tubuh Ayesha seperti kaku. Seolah tak percaya. Senang, tapi juga tahu apa yang akan dihadapinya. Berita itu mungkin benar. Yang jadi pertanyaan, siapakah dia ? "Kau pikirkan dulu, ya ? Ia memberi waktu sampai tiga hari. Katanya lebih cepat lebih baik." Ayesha masih tak bergerak. Pandangannya menembus jendela, menyisiri rumah-rumah di lingkungannya, dan debu tebal yang terembus di jalan.
Pernikahan....sungguh penantian semua gadis. Dengan Ayyash pula, siapa yang keberatan? Tapi semua pun tahu, apa arti sebuah pernikahan di Palestina. Tantangan, perjuangan lain yang membutuhkan kesiapan lebih besar. Terutama bagi setiap gadis, yang menikahi pemuda pejuang macam Ayyash!
***
Dulu sekali, sewaktu kecil, ia tak memungkiri, kerap memperhatikan Ayyash dan teman-temannya dari balik kerudung yang biasa ditutupkan ke wajah, jika mereka kebetulan berpapasan. Mereka bertetangga. Begitulah Ayesha mengenal Ayyash, dan melihat bocah lelaki yang usianya lebih tua lima tahun darinya, tumbuh dewasa.
Ayah Ayyash salah satu pemegang pimpinan tertinggi di Hamas, sebelum tewas dalam aksi penyerangan markas tentara Israel. Ibunya, memimpin para wanita Palestina dalam berbagai kesempatan, mencegat, dan mengacaukan barisan tentara Yahudi, yang sedang melakukan pengejaran atas pejuang intifadah.
Mereka biasa muncul tiba-tiba dari balik tikungan yang sepi, atau memadat di pasar-pasar, dan menyulitkan pasukan Israel yang mencari penyusup. Bukan tanpa resiko, karena semua pun tahu, para tentara itu tak menaruh kasihan pada perempuan, atau anak-anak. Para perempuan yang bergabung, menyadari betul apa yang mereka hadapi. Terkena tamparan atau tendangan, bahkan popor senapan, hingga tubuh mengucurkan darah, bahkan terlepas nyawa, adalah taruhannya.
Ayesha sejak lima tahun yang lalu, tak pernah meninggalkan satu kalipun aksi yang diadakan. Ia iri dengan para lelaki yang mendapat kesempatan lebih memegang senjata. Itu sebabnya gadis berkulit putih kemerahan itu, tak ingin kehilangan kesempatan jihadnya, sejak usia belia.
Tiga tahun lalu, ketika ibunda Ayyash syahid, dalam satu aksinya, setelah sebuah peluru mendarat di dahinya, mereka semua datang, juga Ayesha, untuk menyalatkan wanita pejuang itu. Pedihnya kehilangan ummi, Ayesha menyadari perasaan berduka yang bagaimanapun memang manusiawi. Begitu kagumnya ia melihat ketegaran Ayyash, mengatur semua prosesi, hingga tanah menutup dan memisahkannya dari ibunda tercinta. Tak ada sedu sedan, tak ada air mata. Hanya doa yang terucap tak putus. begitulah Ayyash menghadapi kehilangan abi, saudara-saudara lelakinya, adik perempuannya yang paling kecil, lalu terakhir ummi yang dikasihi. Begitu pula yang dipahami Ayesha, cara pejuang menghadapi kematian keluarga yang mereka cintai.
Dan kini, Ayesha dua puluh dua tahun. masih menyimpan pendar kekaguman dan simpati yang sama bagi Ayyash. Bocah lelaki bermata besar itu sudah menjelma menjadi lelaki gagah, dengan kulit merah kecoklatan, hidung bangir, dan mata setajam elang. Semangat perjuangan dan ketabahan lelaki itu sungguh luar biasa. Sewaktu kedua abangnya melakukan aksi bom bunuh diri, meledakkan gudang logistik Israel, ia hanya mengucapkan innalillahi, sebelum bangkit dan menggemakan Allahu Akbar, saat memasuki rumah, dan mengabarkan berita itu pada umminya.
Lalu ketika Fatimah, adiknya yang berpapasan dengan tentara, diperkosa, dan dibunuh sebelum dilemparkan ke jalan dengan tubuh tercabik-cabik. Ayyash masih setabah sebelumnya. Padahal siapapun tahu, cintanya pada Fatimah, bungsu di keluarga mereka.
Ayesha tak mengerti terbuat dari apa hati lelaki itu. Setelah semua kehilangan, tak ada dendam yang lalu membuatnya membabi buta atau meluapkan amarah dengan makian kotor. Ayyash menerima semua itu dengan keikhlasan luar biasa. Hanya matanya yang sesekali masih berkilat, saat ada yang menyebut nama adiknya. Di luar itu, hanya keshalihan, dan ketaatannya pada koordinasi gerak Hamas, yang kian bertambah. Begitu, dari hari ke hari.
***
Mereka berhadapan. Pertama kali dalam hidupnya ia bisa bebas menatap wajah lelaki itu dari jarak dekat. Ayyash yang tenang. Hanya bibirnya yang menyunggingkan senyum lebih sering, sejak ijab kabul diucapkan, meresmikan keberadaan keduanya.
Ayyash yang tenang dan hati Ayesha yang bergemuruh. Bukan saja karena kebahagiaan yang meluap-luap, tapi oleh sesuatu yang lain. Sebetulnya hal itu ingin disampaikannya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.
Namun saat terbayang apa yang telah dihadapi Ayyash, dan senyum yang dilihatnya pertama kali begitu cerah. Batin Ayesha urung. Biarlah....nanti-nanti saja, atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia tak mau ada yang merisaukan hati lelaki itu, terlebih karena waktu yang mereka miliki tak banyak. Bahkan sebentar sekali. Dua hari lalu, Ayyash sendiri yang meyampaikan kebenaran berita itu, niatan lelaki berusia dua puluh tujuh tahun, yang sudah selama dua pekan ini dibicarakan dari mulut ke mulut.
"Ayyash mencari istri ?"
"Ia akan menikah secepatnya, akhirnya "
"Tapi siapa yang akan menerima pernikahan berusia sehari semalam ?" Percakapan gadis-gadis di lingkungan mereka. Awalnya Ayesha tak mengerti.
"Kenapa sehari semalam ?", tanyanya pada ammahnya.
"Sebab, lelaki itu sudah menentukan hari kematiannya, Ayesha. Kini tinggal sepekan lagi. Waktunya hampir habis." Ayesha ingat ia tiba-tiba menggigit bibir menahan sesak yang tiba-tiba melanda. Ayyash pasti sudah menyanggupi melakukan aksi bom bunuh diri, seperti dua saudaranya dahulu. Cuma itu alasan yang bisa diterima, kenapa pejuang yang selama ini terkesan tak peduli dan tak pernah memikirkan untuk menikah, tiba-tiba seolah tak sabar untuk segera menikah. "Saya ingin menghadap Allah, yang telah memberi begitu banyak kemuliaan pada diri dan keluarga saya, dalam keadaan sudah menyempurnakan separuh agama. Kalimat panjang lelaki itu, wajahnya yang menunduk, dan rahangnya yang terkatup rapat. Menunggu jawaban darinya. Ayesha merekam semua itu dalam ingatannya. Dua hari lalu, saat khitbah dilangsungkan. "Ya...."jawabannya memecah kesunyian. Ammah serta merta memeluknya dengan wajah berurai air mata. Bahagia berbaur kesedihan atas keputusan Ayesha. Membayangkan keponakannya yang selalu dibanggakan karena semangatnya yang tak pernah turun, akan menjalani pernikahan. Yang malangnya, bahkan lebih pendek dari umur jagung.
Berganti-ganti Ayesha melihat wajah ammah yang basah air mata, lalu senyum dari bibir Ayyash yang tak henti melantunkan hamdalah. Di depan Ayesha, Ayyash tampak begitu bahagia, karena tiga hari, sebelum tugas itu dilaksanakan, ia berhasil menemukan pengantinnya. Seorang bidadari dalam perjuangan yang ia hormati, dan kagumi kekuatan mental maupun fisiknya. Ya, Ayesha. Mereka masih bertatapan. Saling menyunggingkan senyum. Ayesha yang wajahnya masih sering bersemu dadu, tampak sangat cantik di mata Ayyash. Pengantinnya, bidadarinya.....kata-kata itu diulangnya berkali-kali dalam hati. Namun betapapun cantiknya Ayesha, Ayyash tak hendak melanggar janji yang ditekadkan jauh dalam sanubarinya. "Ayesha.....saya tak menginginkanmu, bukan karena saya tak menghormatimu." Senyum Ayesha surut. Matanya yang gemintang menatap Ayyas tak berkedip, menunggu kelanjutan kalimat lelaki itu. Ini malam pertama mereka, dan setelah ini, tak akan ada malam-malam lain. Besok selepas waktu dhuha, lelaki itu akan menemukan penggal akhir hidupnya, menemui kekasih sejati. Allah Rabbul Izzati. Tak layakkah Ayesha memberikan yang terbaik baginya ?
Bagi ia yang akan menjelang syahid ? Pendar di mata Ayesha luluh. Ayyash mendongakkan dagunya, tangannya yang lain menggenggam jari-jari panjang Ayesha, seakan mengerti isi hati
istrinya.
"Saya mencintaimu, Ayesha. Dan saya meridhai semua yang telah dan akan Ayesha lakukan selama kebersamaan ini dan setelah saya pergi. Saya percaya dan berdoa, Allah akan memberimu seorang suami yang lebih baik, selepas kepergian saya." Ayesha tersenyum. Menyembunyikan hatinya yang masih gemuruh. Seandainya ia bisa menceritakannya pada Ayyash. Tapi ia tak sanggup. "Tak apa. Saya mengerti." Cuma itu yang bisa dikatakannya pada Ayyash. Suasana sekitar hening. Langit tanpa bulan tak mempengaruhi kebahagiaan di hati Ayyash. Bulan, baginya, malam ini telah menjelma pada kerelaan dan keikhlasan istrinya.
"Saya ingin, Ayesha bisa mendapatkan yang terbaik." Lelaki itu melanjutkan kalimatnya. "Dan karenanya saya merasa wajib menjaga kehormatanmu. Kita bicara saja, ya ? Ceritakan sesuatu yang saya tak tahu, Ayesha." Ayesha menatap mata Ayyash, lagi. Disana ia bisa melihat kegarangan dan keteduhan melebur satu. Sambil ia berpikir keras apa yang bisa ia ceritakan pada lelaki itu ? Tak lama dari bibir wanita itu meluncur cerita-cerita lucu tentang masa kecil mereka. Canda teman-teman mainnya, dan kegugupannya saat pertama berhadapan dengan Ayyash. Juga jari-jari tangannya yang berkeringat saat ia mencium tangan Ayyash pertama kali.
Betapa ia hampir terjatuh karena kram, akibat duduk terlalu lama, ketika mencoba bangun menyambut orang-orang yang datang menyalami mereka tadi pagi. Di antara senyum dan derai tawa suaminya, Ayesha masih berpikir tentang lelaki yang duduk di hadapannya. Sungguh, ia ingin membahagiakan Ayyash, dengan cara apapun. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Ayyash, membuat Ayesha tak habis pikir. Kenapa kebahagiaan orang lain, bisa membuatnya begitu bahagia ? Tapi inilah kebahagiaan itu, bisiknya sesaat setelah mereka menyelesaikan sholat malam dan tilawah bersama. Kali pertama dan terakhir. Kebahagiaan bukan pada umurnya, tapi pada esensi kata bahagia. Dan Ayesha belum pernah sebahagia itu sebelumnya.
Mereka masih belum bosan menatap satu sama lain, dan berpegangan tangan. Saat ia merebahkan diri di dada Ayash setelah sholat subuh, lelaki itu tak menolak.
"Biarkan saya berbakti padamu, Ayyash"
Ia ingat Ayyash menundukkan wajah dalam, seperti berpikir keras, sebelum kemudian mengangguk dan menerimanya.
Beberapa jam lagi, Ayesha menghitung dalam hati. Kedua matanya memandangi wajah Ayyash yang pulas di depannya. Tinggal beberapa jam lagi, dan mereka akan tinggal kenangan. Dirinya dalam kenangan Ayyash, Ayyash dalam kenangan orang-orang sekitarnya. Ketika fajar mulai menampakkan diri, Ayesha yang telah rapi, kembali menatap Ayyash yang tertidur pulas, mencium kening dan tangan lelaki itu, sebelum meninggalkan rumah dengan langkah pelan.
***

Ia terbangun oleh gedoran di pintu. Pukul setengah tujuh pagi. Kerumunan di depan rumahnya. pagi pertama pernikahan mereka. Ada apa ? "Ayyash....istrimu, Ayesha." Ada titik air meruah di wajah ammah Ayesha. Lalu suara-suara gemang berdengung. Saling meningkahi, semua seperti tak sabar menyampaikan berita itu padanya.
"Setengah jam yang lalu, Ayyash. Ledakan...Ayesha yang melakukannya..."
"Gudang peluru itu. Bunyi...bagaimana kau bisa tak mendengar ?"
Ayyash merasa tubuhnya mengejang. Istrinya.....Ayesha mendahuluinya ? Kepalan tangannya mengeras. Mengenang semua keceriaan dan kejenakaannya, serta upaya Ayesha membahagiakannya semalam. Jadi....Masya Allah !
Istrinya kini....benar-benar bidadari.
Pikiran itu menghapuskan rasa sedih yang sesaat tadi mencoba menguasai hatinya. meski senyum kehilangan belum lepas dari wajah lelaki itu, sewaktu ia undur diri, dari kerumunan di depan rumah.
Keramaian yang sama masih menantinya dengan sabar, ketika tak lama kemudian lelaki itu berkemas, lalu dengan ketenangan yang tak terusik, melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.
Waktunya tinggal sebentar. Tentara Israel pasti akan melakukan patroli kemari, sesegera mungkin, setelah apa yang dilakukan Ayesha. Ia harus segera pergi. Ayyash mempercepat langkahnya. teman-temannya sudah menunggu di dalam jip terbuka yang membawa mereka berempat.
Sepanjang jalan, tak ada kata-kata. semua melarutkan diri dalam zikir dan memutihkan niatan. Operasi hari ini rencananya akan menghancurkan salah satu pusat militer Israel di daerah perbatasan. Memimpin paling depan, langkah Ayyash sedikitpun tak digelayuti keraguan, saat diam-diam mereka menyusup. Allah memberinya bidadari, dan tak lama lagi, ia akan menyusulnya.
Pikiran bahagianya bicara. Ayyash tersenyum, mengaktifkan alat peledak yang meliliti badannya. Ini, untuk perjuangan...
Dan bumi yang terharu atas perjuangan anak-anaknya, pun meneteskan air mata.
Hujan pertama pagi itu, untuk Ayyash dan Ayesha.

-

Komentar

•    Tri Sihono dan Taman Baca Rumah Pelangi menyukai ini.

•Gustin Hendriani truly angel....
8 Januari 2010 pukul 10:10

Heru Purwanto seandainya Allah memberikan kesyahidan padaku seperti itu maka aku adalah orang yang paling beruntung didunia
8 Januari 2010 pukul 15:42

Gustin Hendriani ya akhifillah....kudo'akan semoga dirimu segera bertemu dengan 'truly fairy ayesha' di dunia nyata...dan bersama-sama menjadi sepasang mujahid...yang tak pernah lelah tuk menolong agama Allah dimanapun dan kapanpun...sampai maut menghampiri...
9 Januari 2010 pukul 5:57

Heru Purwanto AMIN...
9 Januari 2010 pukul 8:23

Jini Barbara amin..........!
9 November 2011 pukul 9:36

Martina Tina Subhanallah...

---

Untuk Ukhti Tersayang
8 Januari 2010 pukul 10:13
apa kabar imanmu hari ini?
semoga selalu menapak maju
apa kabar hatimu hari ini?
semoga selalu bersih dari debu juga kelabu
apa kabar cintamu hari ini?
semoga selalu berpeluh rindu pada Nya...

Ukhti..
sungguh indah hidup setelah menikah
apa yang sebelumnya haram menjadi halal
semua perbuatannya mendapat pahala yang berlimpah di sisiNya
suka duka dilalui berdua
senang sedih ada yang menemani
tawa tangis pun bersama

Ukhti..
menikah adalah setengah dien
dan ia menggenapkan dien menjadi satu
sungguh, menikah seperti melihat dunia lain yang tiada pernah
dikunjungi sebelumnya
apa yang tidak bisa dilihat sebelum menikah kini tidak lagi
seakan membuka mata kanan yang sebelumnya belum pernah dibuka
begitu luas, begitu indah, hingga Rasul pun menyunnahkan suatu
pernikahan ini
"bukan termasuk ummatku, jika ia berkeinginan tidak menikah..."

Ukhti..
menikah adalah keputusan besar dari suatu perjanjian berat
pernah ada yang berkata..
"saat akad diucapkan Arsy tertinggi berguncang karena suatu perjanjian
berat diucapkan, karena itu saat akad terjadi ada tangis disana..tangis
suka, tangis duka..."
Allah menjadi saksi karena Dia Yang Maha Melihat lagi Menatap
dan setiap undangan yang datang akan mendoakan pernikahan ini

Ukhti..yang sedang menanti "terkasih"
menantilah dengan sabar
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu
siapkan dirimu, hatimu..
sangat mudah bagiNya memberikan "terkasih" untukmu ataupun tidak
berharap dan mintalah padaNya..
pemilik alam raya dan pencipta "terkasih"mu
Komentar
•    De Wi menyukai ini.

De Wi Dalam masa penantian.. persiapkan diri baik2.. semua akan indah pada waktunya..

jazakillah bu gustin udah di tag..
8 Januari 2010 pukul 11:20

Taman Baca Rumah Pelangi It's very beautiful poem
8 Januari 2010 pukul 16:12

Heru Purwanto heem

8 Januari 2010 pukul 16:15

Gustin Hendriani ....dan kau hembuskan nafas cintamu....mekarlah kuncup bungaku....duhai terkasihku....

---

---

Jangan Ditanya....
12 Januari 2010 pukul 7:30

Jangan ditanya kapan mereka bertemu
Jawabnya ada pada Al-Wahhab
yang pemberiannya tiada terbatas

Jangan ditanya lewat apa mereka bertemu
Jawabnya ada pada Al-Khabir
yang pengenalannya tiada berjarak

Jangan ditanya bagaimana mereka bisa mengangguk
Jawabnya ada pada Al-Jaami’
yang menyatukan segala yang terpisah

Jangan ditanya akankah mereka bahagia
Jawabnya ada pada Al-Mahbub

Inilah jawaban permintaan mereka

Allahumma inni as aluka hubbaka
wa hubba kulli ‘amalin
yuqarribu ila hubbika

Ya Allah sesungguhnya aku memohon cinta-Mu
Dan aku memohon cinta siapa saja yang mencintai-Mu
serta kecintaan terhadap segala amal
yang mendekatkan pada cinta-Mu

Komentar
•    Tofan Tri, Heru Purwanto, dan Prasasti Bintarum menyukai ini.

Ari Yanto Barokalloh
12 Januari 2010 pukul 8:33

Henny Kartika Wati mas tri sekarang agak beda, kurusan yo bu.......
12 Januari 2010 pukul 11:42

Gustin Hendriani ga pa2 yang penting tambah cakep....
13 Januari 2010 pukul 11:36

Henny Kartika Wati wkwkwkwkw......tetep PD betul,betul..........
14 Januari 2010 pukul 6:41

Hani Susetyo Rini Wuih cakepnya ... pertama mau aku pangling jeng ... mosok kuwi gustin sih ... GR mode on mesti ... he he he
14 Januari 2010 pukul 15:05

Gustin Hendriani kecantikan hakiki adalah kecantikan hati...yang kan memancar keluar dari dalam diri...tak kan lekang di makan usia...
15 Januari 2010 pukul 7:21

Hani Susetyo Rini Betul betul betul, Duh gustin, sekarang dirimu begitu dewasa, q musti banyak belajar ya ...
15 Januari 2010 pukul 10:15

Gustin Hendriani sama2 belajar ya...
16 Januari 2010 pukul 9:47

Ine Sumarni Seperti msh pengantin baru, padahal momongannya sdh 2, udah ada yg SD pula. Romantis bu...hihihi
19 Januari 2010 pukul 21:39 melalui seluler

Hani Susetyo Rini iya, pertama tadinya tak kira upload undangan mantennya sapa gituuu ... eh setelah tak perhatiin kok jadi profile picturenya gustin ... tak tamat2ke ... ooo cen gustin thooo ... asli pertamanya pangling hi hi hi
20 Januari 2010 pukul 6:41

Gustin Hendriani @bu ine:mesq anaknya nanti dah banyak (amiin),mesq usia merambat senja dan mesq2 lainnya terjadi.... tetep harus mesra n romantis kan bu yudi...
@hani:makanya silahturahim ke rumah biar ga pangling lagi jeng...kan sm2 di bantul kita...
20 Januari 2010 pukul 7:26

Ine Sumarni Betul bu, setuju, saya acungi jempol, tp bkn jempol kaki lho bu...hihihi
20 Januari 2010 pukul 9:11 melalui seluler

Hani Susetyo Rini Iya deh, mudah2an bisa silaturahmi ke rumah ...
20 Januari 2010 pukul 14:57

---

Untukmu Pejuang Dakwah
21 Desember 2011 pukul 5:05

Dakwah adalah cinta
cinta akan meminta semuanya darimu
perhatianmu
pikiranmu
jalanmu
dudukmu
bahkan ditengah lelapmu
mimpimupun tentang dakwah
tentang umat yang kau cintai
dakwah akan menyedot energi terbaikmu
sampai tulang belulangmu luluh lantak diseret-seret
yang hancur karena dipaksa berlari...

Hmm...dakwah bukannya tidak melelahkan
bukan tidak tidak membosankan
bukan tidak menyakitkan
bahkan pejuang-pejuang dijalan ini tak sepi dari godaan kefuturan

TIDAK !
justru sakit itu slalu membersamai mereka
hingga hasrat tuk mengeluh tak lagi menggoda
hingga mereka berseri-seri saat menemui Rabbnya
saat mata mendapati indah jannahNya...
Komentar
•    Dewi Ratni Indra, Kun Tari dan 3 orang lainnya menyukai ini.

De Wi T_T saat futur mendera, butuh penguatan bu... hiks...
21 Desember 2011 pukul 6:14

Adriani Ganie setuju mba Dewi,
nuhun ya dh di tag mba Gustin
21 Desember 2011 pukul 13:18

Any Andriyani I like it
21 Desember 2011 pukul 15:09

Dewi Ratni Indra nuwun bu...dua jempol
22 Desember 2011 pukul 4:41

---

...ayo bertempur...
23 Desember 2011 pukul 5:53

Setiap pertempuran tak selalu dimenangkan dgn maju...
Mundur bukan selalu berarti kekalahan
Maju adalah strategi, mundur jg strategi
Mundur harus teratur, tetapi tak selalu harus terlihat teratur
Mundur adalah strategi
Penampilan saat mundur jg strategi...

Sumber

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*