Dec 10 2012

Penipuan dan Penggelapan

Published by at 1:18 pm under Perlu Diketahui

Penggelapan dan penipuan diatur dalam pasal-pasal yang berbeda dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP.

Penggelapan diatur dalam pasal 372 KUHP. Yang termasuk penggelapan adalah perbuatan mengambil barang milik orang lain sebagian atau seluruhnya) di mana penguasaan atas barang itu sudah ada pada pelaku, tapi penguasaan itu terjadi secara sah. Misalnya, penguasaan suatu barang oleh pelaku terjadi karena pemiliknya menitipkan barang tersebut. Atau penguasaan barang oleh pelaku terjadi karena tugas atau jabatannya, misalnya petugas penitipan barang. Tujuan dari penggelapan adalah memiliki barang atau uang yang ada dalam penguasannya yang mana barang/ uang tersebut pada dasarnya adalah milik orang lain.

Sementara itu penipuan diatur dalam pasal 378 KUHP. Yaitu dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang.

Dilihat dari obyek dan tujuannya, penipuan lebih luas dari penggelapan. Jika penggelapan terbatas pada barang atau uang, penipuan termasuk juga untuk memberikan hutang maupun menghapus piutang.

Dalam perkara-perkara tertentu, antara penipuan, penggelapan agak sulit dibedakan secara kasat mata. Sebagai contoh, si A hendak menjual mobil miliknya. Mengetahui hal tersebut B menyatakan kepada A bahwa ia bisa menjualkan mobil A ke pihak ketiga. Setelah A menyetujui tawaran B, kemudian ternyata mobil tersebut hilang.

Dalam kasus seperti ini, peristiwa tersebut dapat merupakan penipuan namun dapat juga merupakan penggelapan. Termasuk sebagai penipuan jika memang sejak awal B tidak berniat untuk menjualkan mobil A, namun memang hendak membawa kabur mobil tersebut. Termasuk sebagai penggelapan jika pada awalnya memang B berniat untuk melaksanakan penawarannya, namun di tengah perjalanan B berubah niat dan membawa kabur mobil A.

Di bawah ini kami kutipkan pengaturan penggelapan dan penipuan dalam KUHP.

Perbuatan:Penggelapan

KUHP:pasal 372

Rumusan: Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Sedangkan

Perbuatan: Penipuan

KUHP: pasal 378

Rumusan: Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Dasar hukum: Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek Van Strafrecht, Staatsblad 1915 No. 732)

Sumber

--

“Penipuan” dan “Penggelapan” . kedua istilah ini memiliki pengertian yang beda tipis. Motivasi kedua istilah itu sama-sama ingin memiliki Benda yang dimiliki oleh orang lain, namun ada unsur yang bertentangan dengan aturan-aturan Hukum yang berlaku.

Namun jika Dilihat dari obyek dan tujuannya, penipuan lebih luas dari penggelapan. Penggelapan terbatas pada barang atau uang, sementara Penipuan termasuk juga untuk memberikan hutang maupun menghapus piutang.

Untuk lebih jelasnya, didalam KUHP Pasal 378 mengenai Penipuan, dikatakan bahwa : “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan menggerakan orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun” . Sedangkan Penggelapan diatur dalam Pasal 372 KUHP, yaitu : “Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukam memiliki suatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, diancam karena penggelapan dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp.900,- “ dengan demikian dapat kita katakan bahwa didalam penipuan, adanya unsur melawan Hukum yang dilakukan oleh si pelaku untuk memiliki suatu Benda yang bukan merupakan Hak nya. misalnya dengan memakai nama palsu, tipu muslihat, adanya bujukan / rayuan atau rangkaian kebohongan. sehingga menyebabkan orang lain menyerahkan suatu benda kepadanya.

Dalam penggelapan, dimilikinya suatu benda terjadi bukan karena perbuatan yang melawan hukum / bukan karena perbuatan yang tidak sah, melainkan karena suatu perbuatan yang sah. Perbuatan dimilikinya barang itu dilakukan dengan kesadaran bahwa si pemberi dan penerima barang sama-sama menyadari perbuatan mereka, namun pada akhirnya dimilikinya benda tersebut oleh penerima barang dipandang sebagai perbuatan yang tidak dikehendaki Oleh aturan Hukum.

Contoh Tindak Pidana Penipuan: Lamhot meminjam uang kepada Lisbeth sebesar satu juta rupiah dengan menjanjikan kepada Lisbeth, Bahwa ia akan membayarnya setelah 1 bulan kemudian dan akan memberikan satu buah Handphone kepadanya + tambahan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah. (namun, dalam hal ini, lamhot tersebut bukanlah merupakan nama dia yang sebenarnya. nama yang sebenarnya ialah pardosi. pardosi menunjukkan KTP palsunya yang bernama lamhot agar Lisbeth yakin dan percaya bahwa dia memanglah benar bernama lamhot) Setelah Lisbeth menyerahkan uang, ternyata satu bulan kemudian, dua bulan kemudian, tiga bulan kemudian, dst,.. lamhot tidak juga membayar hutangnya tersebut. jangankan untuk memberikan tambahan berupa handphone dan uang senilai tiga ratus ribu rupiah, hutang ‘pokok’nya yang senilai satu juta rupiah pun tak kunjung dibayar. Bahkan, kabarnya lamhot tlah melarikan diri.
Lisbeth tentu saja tidak akan menyerahkan uang kepada Lamhot jika Lamhot tidak menjanjikan Hadphone + uang tiga ratus ribu tersebut. Dalam hal ini, Lamhot telah membohongi Lisbeth. apalagi beliau menggunakan nama palsu. perbuatan demikian salah satu perbuatan yang telah melakukan penipuan.

Contoh Tindak Pidana Penggelapan: Ucok dan Butet merupakan Sahabat. pada suatu ketika Ucok meminjam Handphone milik si butet. karena Ucok merupakan sahabat butet, tanpa curiga butet mau meminjamkan Handphonenya kepada Ucok. namun setelah beberapa lama kemudian, Ucok malah menjual Handphone milik butet tanpa sepengetahuan butet, lantaran si Ucok ini tidak memiliki uang. pada akhirnya butet mengetahui hal ini. tentu saja perbuatan yang dilakukan oleh Ucok ini merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki butet dan tidak di kehendaki Oleh aturan Hukum. Hal ini merupakan tergolong salah satu perbuatan tindak pidana penggelapan.

SUMBER HUKUM : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*