Oct 22 2012

Selayang Khitbah

Published by at 1:44 pm under Hikmah Keluarga

Tanya :

Kalau seorang laki-laki meminta seorang wanita untuk menikah dengannya tanpa melalui wali si wanita itu, apakah sudah termasuk khitbah? Apa hukumnya? (081328473234)

Jawab :

Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui lebih dahulu pengertian khitbah (melamar / meminang). Dalam kitab Al-Khitbah Ahkam wa Adab karya Syaikh Nada Abu Ahmad hal. 1, pada bab Definisi Khitbah (Ta'rif Khitbah), diterangkan pengertian syar'i (al-ma'na asy- yar'i) dari khitbah sebagai berikut.

"[Khitbah adalah] permintaan menikah dari pihak laki-laki yang mengkhitbah kepada perempuan yang akan dikhitbah atau kepada wali perempuan itu." (Mughni Al-Muhtaj, 3/135).

Dari definisi tersebut, jelaslah bahwa seorang laki-laki boleh hukumnya mengkhitbah perempuan secara langsung kepadanya tanpa melalui walinya. Boleh juga laki-laki tersebut mengkhitbah perempuan tersebut melalui wali perempuan itu. Dua-duanya dibolehkan secara syar'i dan dua-duanya termasuk dalam pengertian khitbah. Keduanya dibolehkan karena terdapat dalil-dalil As-Sunnah yang menunjukkan kebolehannya.

Dalil bolehnya laki-laki mengkhitbah perempuan secara langsung tanpa melalui walinya, adalah hadits riwayat Ummu Salamah RA, bahwa dia berkata :

"Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah SAW mengutus Hathib bin Abi Baltha'ah kepadaku untuk mengkhitbahku bagi Rasulullah SAW..." (Arab : lamma maata Abu Salamata arsala ilayya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallama Haathiba 'bna Abi Balta'ah yakhthubuniy lahu shallallahu 'alaihi wa sallama). (HR Muslim).

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Rasulullah SAW langsung mengkhitbah Ummu Salamah RA, bukan mengkhitbah melalui wali Ummu Salamah RA.

Sedang dalil bolehnya laki-laki mengkhitbah perempuan melalui walinya, adalah hadits riwayat Urwah bin Az-Zubair RA, dia berkata :

"Bahwa Nabi SAW telah mengkhitbah 'Aisyah RA melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq RA…" (Arab : anna an-nabiyya shallallahu 'alaihi wa sallama khathaba 'A'isyata radhiyallahu 'anhaa ilaa Abi Bakrin radhiyallahu 'anhu) (HR Bukhari).

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Rasulullah SAW telah mengkhitbah 'Aisyah RA melalui walinya, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. (Lihat Syaikh Nada Abu Ahmad, Al-Khitbah Ahkam wa Adab, hal. 3).

Perlu kami tambahkan, dalam mengkhitbah dibolehkan seorang laki-laki mewakilkan kepada orang lain untuk mengkhitbah, sebagaimana dibolehkan pula laki-laki itu sendiri yang mengkhitbah (tanpa mewakilkan). (Lihat Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, Bogor : Al-Azhar Pess, 2007, hal. 177).

Kebolehan ini didasarkan pada keumuman dalil-dalil wakalah (akad perwakilan), di samping diperkuat pula dengan dalil-dalil As-Sunnah yang telah kami kemukakan di atas. Pada saat mengkhitbah Ummu Salamah RA, Rasulullah SAW mengirim utusan (wakil) beliau yaitu Hathib bin Abi Baltha'ah RA. Adapun pada saat mengkhitbah 'Aisyah RA, Rasulullah SAW tidak mewakilkan melainkan langsung mengkhitbah sendiri kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sebagai wali 'Aisyah RA.

Dengan demikian, jelaslah bahwa syara' membolehkan khitbah disampaikan langsung kepada pihak perempuan atau disampaikan kepada wali perempuan itu. Wallahu a'lam [ ]

Penulis: Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Sumber

--

Meminang wanita yang telah dipinang, bila...

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Orang mu’min itu adalah saudara bagi mu’min yang lain.
Maka tidak dihalalkan bagi seorang mu’min untuk membeli barang yang sudah dibeli saudaranya dan janganlah seorang mu’min meminang di atas pinangan saudaranya kecuali jika pinangan itu telah ditinggalkan.”
(Shahih Muslim 2/1034 no.1414, Kitab Nikah bab Haramnya khitbah di atas khitbah saudaranya kecuali jika di-izinkan atau jika lamaran itu telah ditinggalkan)

Tentang hadits ini, Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan :

“Hadits2 ini secara jelas menunjukan tentang pengharaman khitbah seseorang di atas khitbah saudaranya dan para ulama telah bersepakat atas pengharamannya, yaitu apabila telah jelas bahwa khitbah itu telah diterima, dan si peng-khitbah (yang telah diterima itu) tidak mengizinkan (orang lain untuk meng-khitbah) dan juga khitbah  itu tidak pernah ditinggalkan (dibatalkan).”
(Al-Minhaj syarh Shahih Muslim 9/179)

Kemudian pula, Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan:

“Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan :  “Makna dari hadits ini adalah dibencinya seorang laki2 meminang di atas pinangan saudaranya. Apabila seorang laki2 telah meminang seorang wanita dan si wanita itu telah ridha atas pinangan laki2 tersebut, maka tidak boleh seorang laki2 lain pun boleh meminang di atas pinangan (yang telah diterima) itu.”
(Sunan At-Tirmidzi 3/440)

Semua ini menunjukan akan tidak bolehnya seorang laki2 untuk melamar wanita yang telah dilamar oleh laki2 yang lain, sedangkan lamaran dari laki2 yang lain itu telah diterima oleh pihak si wanita.

Adapun dalam hal ini pengecualian yang ada diantaranya adalah jika pihak si wanita belum menerima lamaran dari laki2 yang pertama melamar, atau pihak si wanita belum memberikan jawaban yang tegas apakah akan menerima atau menolak lamaran dari laki2 pertama tersebut, maka diperbolehkan bagi laki2 yang lain untuk melamar wanita itu.

Hal ini telah di isyaratkan oleh imam An-Nawawi rahimahullah dan dari perkataan imam Malik rahimahullah di atas.

Pengecualian ini adalah berdasarkan satu peristiwa yang terjadi di masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu apa yang di alami oleh Fathimah binti Qais radhiyallaahu ‘anha, beliau mengatakan :

“Ketika aku telah halal, aku ceritakan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm telah meng-khitbahku.
Maka Rasulullah shallallaahu  ‘alaihi wa sallam bersabda : “Adapun Abu Jahm, maka tidaklah ia meletakan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Mu’wiyah, ia adalah orang yang miskin dan tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.”
(Sunan Abu Dawud 1/659 no.2284)

Dalam peristiwa ini ada 2 orang sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang meng-khitbah Fathimah binti Qais radhiyallaahu ‘anha, dan kemudian hal itu tidak disalahkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Bahkan selanjutnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengajukan laki2 lain kepada Fathimah radhiyallaahu ‘anha, yaitu ‘Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anhu untuk menikahinya.

Maka berkenaan dengan hal ini, kemudian imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan sebagaimana dinukilkan oleh imam At-Tirmidzi rahimahullah, yaitu :
“Hal ini di sisi kami adalah jika seorang laki2 meng-khitbah seorang wanita dan wanita itu ridha kepada (khitbah)nya dan cenderung kepadanya (yakni menerimanya), maka tidak boleh bagi seorang laki2pun untuk mengkhitbah lagi di atas khitbah-nya itu.
Sedangkan apabila sebelum diketahui ke-ridha-annya dan kecenderungannya kepada khitbah tersebut, maka tidak mengapa jika ada laki2 yang mengkhitbah-nya lagi.
Hujjah dalam kebolehan ini adalah berdasarkan hadits dari Fathimah binti Qais radhiyallaahu ‘anha……
…………………………………
Makna hadits Fathimah ini di sisi kami ialah –wallaahu a’lam- bahwa Fathimah tidaklah mengabarkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia telah ridha kepada salah seorang diantara dua sahabat Nabi yang telah meng-khitbahnya, sebab kalau saja Fathimah telah mengabarkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (bahwa ia telah ridha atau menerima kepada khitbah salah satunya), maka tentulah Nabi shallallaahu ‘’alaihi wa sallam tidak akan menunjukan laki2 lain kepadanya selain dari dua laki2 yang disebutkan oleh Fathimah.”
(Sunan At-Tirmidzi 3/440)

Yakni kalaulah Fathimah radhiyallaahu ‘anha telah menerima atau ridha kepada khitbah-nya salah satu diantara Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhu dan Abu Jahm radhiyallaahu ‘anhu, maka tentu saja Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam-pun tidak akan mengajukan laki2 yang lain yaitu ‘Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anhu dan kemudian meminta Fathimah radhiyallaahu ‘anha untuk menikahinya.

Sehingga pada akhirnya, hal ini menunjukkan bahwa apabila pihak si wanita belum ridha, atau belum memutuskan untuk menerima khitbah dari seorang laki2 - bahkan meski yang meng-khitbah wanita tersebut lebih dari 1 laki-laki-, maka tetap masih diperbolehkan bagi laki-laki lainnya untuk mengkhitbah wanita tersebut, yaitu selama khitbah2 yang ada belum diterima oleh si wanita atau si wanita belum memutuskan untuk menerima salah satu diantara khitbah2 tersebut.

Demikianlah.

Sumber

---

Cara Melamar Dengan Dalil
Di dalam sunnah terdapat beberapa cara mengkhitbah akhwat/ wanita, di antaranya :

1. Lamaran melalui fihak keluarga wanita, ”Dari Urwah bahwa nabi saw melamar Aisyah kepada Abu Bakar, lalu Abu Bakar berkata, ”ssungguhnya aku adalah saudaramu.” Nabi menjawab, ”Engkau adalah saudaraku dalam agama Allah dan kitabNya dan dia halal bagiku.” (HR Bukhori)

2. Meminang dengan berbicara langsung kepada si wanita. Dalam kitab-kitab fiqh hal ini diistilahkan dengan: ”meminang wanita dewasa langsung kepada yang bersangkutan sendiri.’ Contoh peristiwa ini adalah saat Anas bin Malik menceritakan proses khitbah ibunya, ”Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim, lalu Ummu Sulaim berkata, ”Demi Allah, orang yang sepertimu ini tidak patut ditolak, wahai Abu Thalhah. Tetapi engkau orang kafir sedang aku wanita muslimah, dan aku tidak halal kawin denganmu. Jika engkau mau masuk Islam, maka yang demikian itu sudah cukup sebagai maskawinku, dan aku tidak meminta yang lain lagi kepadamu...” (HR Nasai)

3. Orang tua si wanita atau kerabatnya menawarkan kepada orang-orang yang mereka ridhai Akhlak dan agamanya. Contoh peristiwa ini adalah saat Umar bin Khattob menawarkan Hafshah, putrinya yang menjadi janda karena suaminya Khunais bin Khudzafah as Sahmi wafat di Madinah. Ia menawarkannya kepada Utsman bin Affan, lalu karena Utsman menolah, ia tawarkan ke Abu Bakar. Mereka berdua menolak karena telah melihat isyarat bahwa Rasulullah menginginkannya.

4. Pihak laki- laki melamar wanita melalui pemuka masyarakat, guru ngaji atau tokoh. Rasulullah SAW pernah menjadi perantara di mana beliau mengutus seorang shahabat datang kepada keluarga wanita untuk melamar putrinya, dan lamaran ini atas saran beliau SAW.

5. Wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang shalih, Anas berkata, ”Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw menawarkan dirinya secara langsung seraya berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah engkau berhasrat kepadaku?”

Cara mana yang kau pilih?

Sumber

---

Khitbah atau bikin Ge-Er?
Assalamu’alaikum wr. wb.

Ba’da tahmid washolawat,

Ibu Anita yang dirahmati Allah, saya berusia 24 tahun. Kurang lebih baru 2 bulan terakhir saya saling berkomunikasi kembali via SMS dengan teman kuliah dulu, teman satu organisasi. Setelah lulus kuliah kita sama-sama kembali ke kampung halaman dan sibuk dengan aktifitas baru, kami bekerja di kota masing-masing. Waktu itu sudah tidak terlintas sama sekali di benak saya dengan teman ini (lupa) karena HP saya hilang dan saya lost contact dengan hampir semua teman saya hampir 2 tahun sejak lulus kuliah, sampai akhirnya dia menghubungi saya kembali dan menanyakan kabar saya sekarang.

Untuk diketahui saja, waktu berada dalam sebuah organisasi dakwah di kampus dulu kami saling menjaga pergaulan ibu, tidak terbersit sedikitpun perasaan suka atau lebih dari itu di antara kami. Kami selalu berusaha saling menjaga kebersihan hati.

Melalui SMS yang intens, dia menanyakan seputar hal pernikahan dengan saya, langsung. Pertanyaan seperti, "Kapan menikah?" sering ditanyakan melalui SMS. Dan masih banyak hal lagi yang ditanyakan dan banyak nasihat yang dia berikan tanpa saya meminta dan akhirnya sampai pada kesimpulan dia menganjurkan saya untuk segera menikah. Dari sinilah tiba-tiba muncul perasaan simpati dan empati saya terhadap dia, entahlah akhir-akhir ini saya seperti tidak bisa mengontrol perasaan saya lagi, Bu. Bahkan saya akhirnya sangat berharap untuk bisa menikah dengannya

Yang saya tanyakan, menurut ibu Anita, apakah dia bermaksud mengkhitbah saya atau hanya sekedar menanyakan kabar saja, Bu? Apakah saya terlalu ge-er dengan sedikit atensi yang dia berikan? Parahnya saya sekarang seperti terkena sindrom orang yang sedang jatuh cinta. Saya takut bertepuk sebelah tangan dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Untuk menanyakan langsung saya malu, Bu Anita. akhirnya perasaan ini saya pendam sendiri tapi akibatnya saya malah merasa tersiksa.

Ibu Anita, kalaupun ternyata saya menikah dengannya apakah ‘proses’ yang saya lalui masih syar’i? Dan kalaupun belum ditakdirkan berjodoh, apa dan bagaimana sikap saya selanjutnya karena yang pasti saya akan mengalami apa yang dinamakan ‘broken heart’ dalam hidup saya. Sebenarnya saya tidak mau berada dalam keadaan seperti ini, saya kadang menyesalkan kenapa dia menghubungi saya kembali setelah lama tidak berkomunikasi dengannya. Mohon nasehatnya. Jazakillah.

Assalammu’alaikum wr. wb.

Hamba Allah yang sholehah,

Bingung juga ya mbak, jika seseorang menyampaikan maksudnya kepada kita dengan samar-samar. Kita disuruh menebak-nebak maksud di balik perkataannya, dan lebih meresahkan lagi ketika ternyata perasaan kita sudah demikian mendalam sehingga punya harapan lebih kepadanya. Ya, resiko terkena "virus merah jambu" karena kita berhubungan intensif dengan lawan jenis yang bukan mahrom.

Tak mungkin bukan kita bermain air namun tidak mau basah? Sebagaimana tak mungkin juga jika kita menaruh hati kepada seseorang tapi tidak mau kena resiko patah hati. Resiko untuk berlangsungnya hubungan kasih atau putus di tengah jalan merupakan hal yang pasti ditemui bagi mereka yang merasakan jatuh cinta tanpa ikatan pernikahan. Oleh karena itu pernikahan memang jalan terbaik untuk merasakan cinta yang sesungguhnya.

Berada dalam keadaan yang tidak pasti merupakan hal yang menyiksa diri. Hidup memang pilihan, anda dapat memilih untuk berada pada situasi ini terus-menerus atau memilih memastikan hubungan yang anda jalani saat ini. Sebenarnya cepat atau lambat dengan situasi yang anda jalani sekarang maka mendapatkan cintanya atau putus cinta pasti dirasakan, hanya tinggal masalah waktu.

Menurut saya lebih cepat anda tahu situasinya adalah lebih baik. Memang ada harga yang harus dibayar untuk menemukan kepastian, yaitu mungkin rasa malu ketika anda bertanya langsung, namun jika rasa malu tersebut membuat anda mendapat kepastian perasaan dan maksud dia, bukankah itu harga yang pantas demi ketenangan hati?

Jadi daripada anda berlama-lama dalam kegelisahan, saran saya beranikan diri untuk mempertanyakan maksud dia menyinggung masalah pernikahan. Jika memang bermaksud melamar maka segerakanlah prosesnya agar hubungan yang terjadi selama ini tidak membuat anda gelisah atau selalu berada dalam ketidakpastian. Karena cinta yang anda rasakan saat ini baru terasa menenangkan jika anda sudah menikah.

Dan berhati-hatilah jika yang keluar dari lisannya hanyalah sebuah janji untuk menikahi karena berdasarkan pengalaman, terlalu banyak mudhorot yang diakibatkan oleh janji dan sebagai wanita saya khawatir bahwa akan lebih banyak kerugian yang anda peroleh karena komitmen atau janji bathil pernikahan yang tidak sesuai dengan syariat meminang dalam Islam. Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Sumber

---

Adab Khitbah dan Hal Terkait Pinangan

Adab menghitbah adalah tulisan pertama saya yang berkaitan dengan fiqih, setelah beberapa tulisan saya terdahulu yang berkaitan dengan sains dan realita kehidupan, pada kesempatan ini saya mencoba mengulas tentang fiqih meminang (khitbah).

Dari sebuah situs jejaring sosial, saya membaca sebuah judul artikel yang menarik, “Khitbahlah Wanita yang Engkau Kagumi“. Sekilas judul tersebut mengisyaratkan kepada seorang laki-laki yang apabila ia mengagumi kepribadian seorang perempuan, dalam hal ini adalah karena kebaikan agama dan akhlak seorang perempuan, maka dia diperbolehkan mengkhitbah atau meminang perempuan tersebut.

Bagi para pemuda yang ingin mengkhitbah wanita yang dicintainya, perlunya diketahui lebih dahulu pengertian khitbah (melamar / meminang). Dalam kitab Al-Khitbah Ahkam wa Adab karya Syaikh Nada Abu Ahmad hal. 1, pada bab Definisi Khitbah (Ta’rif Khitbah), diterangkan pengertian syar’i (al-ma’na asy- yar’i) dari khitbah sebagai berikut.

“[Khitbah adalah] permintaan menikah dari pihak laki-laki yang mengkhitbah kepada perempuan yang akan dikhitbah atau kepada wali perempuan itu.” (Mughni Al-Muhtaj, 3/135).

Secara umum, kegiatan pelamaran ini dilakukan oleh pihak lelaki kepada pihak wanita, walaupun boleh bagi wali wanita untuk menawarkan walinya kepada seorang lelaki yang dianggap pantas dan baik agamanya. Hal ini sebagaimana dalam kejadian yang terjadi antara tiga manusia terbaik umat ini setelah nabinya, ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma bercerita:
“Tatkala Hafshah bintu ‘Umar ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Khunais bin Hudzafah As-Sahmy -beliau termasuk sahabat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang wafat di Medinah-, maka ‘Umar ibnul Khoththob berkata, “Saya mendatangi ‘Utsman bin ‘Affan lalu saya menawarkan Hafshah kepadanya, maka dia menjawab, “Saya pertimbangkan dulu”, maka sayapun menunggu hingga beberapa malam lalu dia mendatangiku dan berkata, “Telah saya putuskan, saya tidak mau dulu menikah pada saat-saat ini”. Kemudian saya menemui Abu Bakr dan berkata, “Jika engkau mau saya akan menikahkan engkau dengan Hafshah bintu ‘Umar”, maka Abu Bakr diam dan tidak membalas tawaranku, dan sikapnya itu lebih berpengaruh padaku daripada penolakan ‘Utsman. Maka sayapun menunggu selama beberapa malam dan akhirnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melamarnya (hafshah) maka sayapun menikahkannya dengan beliau”.
Jadi, seseorang boleh menawarkan putrinya atau saudara perempuannya untuk dinikahi seorang laki-laki yang shalih.

Seorang laki-laki boleh hukumnya mengkhitbah perempuan secara langsung kepadanya tanpa melalui walinya. Boleh juga laki-laki tersebut mengkhitbah perempuan tersebut melalui wali perempuan itu. Dua-duanya dibolehkan secara syar’i dan dua-duanya termasuk dalam pengertian khitbah. Keduanya dibolehkan karena terdapat dalil-dalil As-Sunnah yang menunjukkan kebolehannya.
Dalil bolehnya laki-laki mengkhitbah perempuan secara langsung tanpa melalui walinya, adalah hadits riwayat Ummu Salamah RA, bahwa dia berkata :
“Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah SAW mengutus Hathib bin Abi Baltha’ah kepadaku untuk mengkhitbahku bagi Rasulullah SAW…” (Arab : lamma maata Abu Salamata arsala ilayya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama Haathiba ‘bna Abi Balta’ah yakhthubuniy lahu shallallahu ‘alaihi wa sallama). (HR Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut dapat diketahui bahwa Rasulullah SAW langsung mengkhitbah Ummu Salamah RA, bukan mengkhitbah melalui wali Ummu Salamah RA.

Sedang dalil bolehnya laki-laki mengkhitbah perempuan melalui walinya, adalah hadits riwayat Urwah bin Az-Zubair RA, dia berkata :
“Bahwa Nabi SAW telah mengkhitbah ‘Aisyah RA melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq RA…” (Arab : anna an-nabiyya shallallahu ‘alaihi wa sallama khathaba ‘A’isyata radhiyallahu ‘anhaa ilaa Abi Bakrin radhiyallahu ‘anhu) (HR Bukhari).

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Rasulullah SAW telah mengkhitbah ‘Aisyah RA melalui walinya, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.

Disamping itu, seorang lelaki diperbolehkan meminang (mengkhitbah) seorang perempuan dengan mewakilkannya pada orang lain, sebagaimana diperbolehkannya Ia meminang sendiri perempuan yang Ia cintai.

Dan boleh juga bagi seorang wanita untuk menawarkan dirinya kepada lelaki yang sholeh dan memiliki kemuliaan agar lelaki tersebut mendatangi orang tuanya (wanita tersebut) untuk melamarnya.

Dari Anas Bin Malik R.A berkata:“Seorang wanita datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan menawarkan dirinya kepada beliau (untuk dinikahi) …”
Namun hendaknya yang demikian ini tidak dilakukan oleh seorang wanita karena beberapa alasan yaitu :
1. Membuka pintu-pintu percakapan yang tidak bermanfaat -bahkan mengarah kepada kefajiran- yang berkepanjangan dan berlanjut antara seorang wanita dan lelaki yang bukan mahramnya, baik secara langsung, lewat telepon, sms, email dan selainnya. Disinilah awal kerusakan akan muncul.
2. Seorang wanita akan merendahkan dan melembutkan suaranya ketika berbicara dengan laki-laki
3. Ketika penawaran seorang wanita diterima oleh lelaki tapi ditolak oleh wali dari lelaki tersebut maka biasanya mereka tetap melakukan komunikasi karena sudah adanya keterikatan hati antara keduanya dengan adanya penawaran tersebut, na’udzu billahi min dzalik.

Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi membuat segalanya menjadi mudah, sehingga muncul pertanyaan, Bolehkah mengkhitbah melalui sms, telpon, e-mail, dan lainnya? Secara tidak sengaja, saya menemukan artikel tersebut dan saya berusaha meng-share-kan di web pribadi saya ini.

Boleh hukumnya mengkhitbah (melamar) lewat SMS atau media komunikasi yang lain, karena ini termasuk mengkhitbah lewat tulisan (kitabah) yang secara syar’i sama dengan khitbah lewat ucapan. Kaidah fikih menyatakan : al-kitabah ka al-khithab (tulisan itu kedudukannya sama dengan ucapan/lisan). (Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 2/860).
Kaidah itu berarti bahwa suatu pernyataan, akad, perjanjian, dan semisalnya, yang berbentuk tulisan (kitabah) kekuatan
hukumnya sama dengan apa yang diucapkan dengan lisan (khithab). Penerapan kaidah fikih tersebut di masa modern ini banyak sekali. Misalnya surat kwitansi, cek, dokumen akad, surat perjanjian, dan sebagainya. Termasuk juga “bukti/dokumen tertulis” (al-bayyinah al-khaththiyah) yang dibicarakan dalam Hukum Acara Islam, sebagai bukti yang sah dalam peradilan. (Ahmad Ad-Da’ur, Ahkam Al-Bayyinat, hal. 71; Asymuni Abdurrahman, Qawa’id Fiqhiyyah, hal. 52).

Dalil kaidah fikih tersebut, antara lain adanya irsyad (petunjuk) Allah SWT agar melakukan pencatatan dalam muamalah yang tidak tunai (dalam utang piutang) (QS Al-Baqarah : 282). Demikian pula dalam dakwahnya, selain menggunakan lisan, Rasulullah SAW juga terbukti telah menggunakan surat. (Kholid Sayyid Ali, Surat-Surat Nabi Muhammad, Jakarta : GIP, 2000). Ini menunjukkan bahwa tulisan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan lisan.

Jadi, seorang ikhwan (pria) boleh hukumnya mengkhitbah seorang akhwat (wanita) lewat SMS, berdasarkan kaidah fikih tersebut. Namun demikian, disyaratkan akhwat yang dikhitbah itu secara syar’i memang boleh dikhitbah. Yaitu perempuan tersebut haruslah : (1) bukan perempuan yang haram untuk dinikahi; (2) bukan perempuan yang sedang menjalani masa ‘iddah; dan (3) bukan perempuan yang sudah dikhitbah oleh laki-laki lain. (Nida Abu Ahmad, Al-Khitbah
Ahkam wa Adab, hal. 5).

Adapun Adab-Adab yang perlu diperhatikan dalam mengkhitbah adalah :
1. Nadzor (نضر) yang artinya melihat calon pinangannya. Yakni melihat kepada apa-apa yang bisa membuat dia tertarik untuk menikahinya, atau sebaliknya ketika dia melihat calonnya dan mendapati ada sesuatu yang tidak dia senangi darinya maka dia boleh untuk membatalkan pelamarannya.
Beberapa hadits yang mensunnahkan kedua belah pihak saling melihat sebelum memutuskan untuk melanjutkan pelamaran.
a. Hadits Jabir bin ‘Abdillah -radhiallahu ‘anhuma- secara marfu’:
“Jika salah seorang di antara kalian melamar seorang wanita, maka jika kamu mampu untuk melihat apa yang bisa membuat dia tertarik untuk menikahinya maka hendaknya dia lakukan”.
Jabir berkata, “Maka sayapun melamar seorang wanita lalu saya melihatnya dengan sembunyisembunyi (tanpa sepengetahuannya) sampai akhirnya saya melihat darinya apa yang membuat saya tertarik untuk menikahinya maka sayapun menikahinya”.
b. Hadits Al-Mughirah bin Syu’bah -radhiallahu ‘anhu-.Beliau berkata, “Saya mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- lalu saya menceritakan kepada beliau perihal seorang wanita yang saya lamar, maka beliau bersabda:
“Pergilah kamu (kepadanya) dan lihatlah dirinya, karena hal itu akan membuat kasih sayang di antara kalian akan langgeng”
Hadits ini menunjukkan bahwa pembolehan untuk nazhor bukan hanya terkhusus bagi kaum lelaki tapi juga dibolehkan bagi seorang wanita yang akan dilamar. Karena kasih sayang itu muncul dari kedua belah pihak sehingga pembolehan di sini juga berlaku bagi kedua belah pihak.
c. Hadits Abu Humaid -radhiallahu ‘anhu- secara marfu’:
“Jika salah seorang di antara kalian melamar seorang wanita, maka tidak mengapa baginya untuk melihat kepadanya jika memang dia melihatnya hanya untuk pelamarannya, walaupun wanita tersebut tidak mengetahui (dirinya sedang dilihat)”
Dalam melakukan nadzhor pun terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu :
* Dia sudah memiliki niat yang kuat untuk menikah dan tidak ada yang menghalanginya untuk menikah kecuali tinggal mencari calon istri. Hal ini berdasarkan hadits Abu Humaid di atas, yang mana Nabi bersabda, “jika memang dia melihatnya hanya untuk pelamarannya”.
* Batasan terakhir dari bolehnya memandang adalah sampai dia melihat sesuatu yang membuat dia tertarik untuk menikahinya. Maka kapan dia telah melihat hal tersebut sehingga niatnya sudah bulat untuk menikahinya atau sebaliknya dia tidak melihat sesuatu yang membuat dirinya tertarik sehingga berniat untuk membatalkan pelamarannya, maka seketika itu juga dia wajib untuk menundukkan pandangannya dan tidak lagi melihat kepada wanita tersebut.
Karena hal ini (melihat kepada lamaran) hanyalah rukhshoh (keringanan) yang syari’at berikan bagi orang yang mau melamar, maka jika sudah tetap dia akan menikahinya atau sebaliknya dia akan membatalkan pelamarannya maka hokum melihat kepada wanita yang bukan mahram kembali kepada hukum asal, yaitu haram sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat An Nur 30-31.
* tidak boleh dilakukan dalam keadaan berkhalwat (berduaduaan), akan tetapi sang wanita wajib ditemani oleh mahramnya yang laki-laki.
Hal ini berdasarkan keumuman hadits-hadits yang melarang darihalwat, seperti sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
“Tidak boleh seorang lelaki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita, karena yang ketiganya adalah setan”
Adapun batasan tubuh wanita yang boleh dilihat menurut Imam Ibnu Qudamah -radhiallahu ‘anhu- berkata, “Tidak ada perselisihan di kalangan para ulama akan bolehnya melihat kepada wajahnya”.
Adapun selain wajah maka para ulama berselisih, dan yang paling kuat adalah apa yang dinukil dari Imam Ahmad -dalam satu riwayat- bahwa boleh bagi seorang lelaki untuk melihat aurat wanita yang biasa nampak darinya ketika wanita tersebut bersama mahramnya, seperti: kepala, leher, tangan, betis, dan yang semisalnya, inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (9/490).
Hal ini berdasarkan hadits Jabir di atas, dimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membatasi bagian tubuh tertentu yang boleh dilihat, akan tetapi beliau bersabda, “melihat apa yang bisa membuat dia tertarik untuk menikahinya”.
Dan inipula yang dipahami dan diamalkan oleh 2 sahabat besar ‘Umar ibnul khoththob dan ‘Ali bin Abi Tholib -radhiallahu ‘anhuma-. Diriwayatkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al-Mushonnaf (6/163) dan Sa’id bin Manshur dalam As-Sunan (521) bahwa ‘Umar pernah melamar putri Ali, maka ‘Ali berkata, “Sesungguhnya dia masih kecil”, maka ada yang mengatakan kepada Umar bahwa ‘Ali tidak menginginkan dengan ucapannya kecuali untuk menahan putrinya. Maka ‘Ali berkata, “Saya akan menyuruh anak saya mendatangimu, jika dia ridho maka dia adalah istrimu”. Maka diapun mengutus putrinya lalu ‘Umar mendatanginya lalu menyingkap betisnya, maka putri dari ‘Ali berkata, “Turunkan, seandainya kamu bukan amirul mu`minin (pemimpin kaum mu`minin) maka saya akan menampar lehermu”.
Sementara mengenai hukum nadzhor tanpa sepengetahuan pihak wanita adalah dibolehkan sebaimana yang dikatakan Imam Ibnu Qudamah : “Tidak mengapa melihat wanita tersebut dengan izinnya atau tanpa izinnya, karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan untuk melihat dan memutlakkannya”.

2. Berpenampilan sederhana dalam melamar.
Berkaitan dengan hal ini, saya jadi teringat pada nasihat budhe saya saat saya menghadiri acara lamaran sepupu saya yang terkesan sangat mewah. Budhe saya berkata : Nak, nanti kalau dilamar, jangan mau berlebihan seperti ini ya…sampaikan pada mas nya, kalau tidak mau sederhana, lebih baik tidak usah melamar. Waktu itu, saya hanya tersenyum menanggapinya (karena memang belum ada calon yang mau melamar saya 😀 ).
Tidak diperbolehkan bagi pelamar untuk takalluf (membebani diri) dengan memakai pakaian yang sangat indah serta parfum yang sangat harum. Hal ini karena kesediaan seorang wanita untuk dinazhor, sama sekali bukanlah tanda akan keridhoan dari kedua belah pihak, dan sangat mungkin sang wanita akan terfitnah dengan penampilan lelaki tersebut sehingga menimbulkan perkara-perkara yang tidak terpuji, khususnya jika pelamarannya ditolak oleh salah satu pihak.

Dan yang merupakan tuntunan salaf dalam hal ini adalah sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Abdullah bin Thowus bahwa ayahnya berkata kepadanya mengenai wanita yang hendak dinikahi oleh anaknya, “Pergilah engkau melihatnya”. ‘Abdullah berkata, “Maka sayapun memakai pakaian (yang indah), lalu memakai minyak dan bergaya”, maka tatkala Thowus melihat anaknya berpenampilan seperti itu, dia berkata, “Duduklah kamu”, beliau benci melihat anaknya melakukan nazhor dengan penampilan seperti itu.

3. Wanita yang akan dinazhor diperbolehkan berhias sekadarnya. ‘Amr bin ‘Abdil Mun’im berkata menjelaskan batasan dari berhias, “Telah berlalu dalam hadits Subai’ah penjelasan mengenai sifat berhias bahwa hiasannya tidak boleh melewati dari sekedar celak mata dan khidhob. Maka tidak boleh bagi seorang wanita berhias untuk pelamarnya melebihi hal tersebut dengan menggunakan make up (arab: masahiqul mikyaj) atau memakai parfum dan wewangian atau yang sejenisnya berupa hiasan yang besar (arab: mugollazhoh). Akan tetapi dia hanya terbatas menggunakan celak mata dan khidhob saja, karena perhiasan selain keduanya sangat terlarang dinampakkan di depan orang yang bukan mahramnya”.

4. Istikhoroh. Jika proses nazhor sudah selesai, maka disunnahkan bagi keduanya untuk melakukan sholat istikhoroh, berharap taufik dan petunjuk dari Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Hal ini ditunjukkan dalam kisah pengutusan Zaid bin Haritsah oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk melamar Zainab -radhiallahu ‘anha-, maka Zainab berkata:
“Saya tidak akan melakukan sesuatu apapun kecuali dengan perintah Tuhanku”. Maka beliaupun (Zainab) berdiri dan melaksanakan sholat di mesjidnya”.

5. Sederhana dalam Mahar.

Jika proses nazhor sudah selesai dan kedua belah pihak telah saling meridhoi, maka berarti sang wali telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Kemudian setelah itu, hendaknya wali tersebut berbuat baik kepada wanita yang dia perwalikan dengan cara mempermudah proses pernikahan dan tidak memasang target mahar yang tinggi, karena sesungguhnya keberkahan seorang wanita terletak pada murahnya maharnya.
Sesungguhnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sangat membenci dan menegur keras seorang wali yang menetapkan mahar terlalu tinggi, dalam sabda beliau kepada seorang lelaki yang akan menikahi seprang wanita Anshor, dan dia mengabarkan kepada Nabi bahwa maharnya 4 ‘awaq. Maka beliau bersabda:
“Engkau menikahinya dengan mahar 4 ‘awaq?!, seakan-akan kalian memahat (baca: mengambil) perak dari gunung ini …”.
Kemarahan beliau ini wajar, karena mahar yang tinggi akan sangat menyulitkan bagi pihak lelaki, karena seorang lelaki itu menikah dengan tujuan untuk mendapatkan ketenangan dan ketentraman bukan bertujuan agar dia menanggung utang yang banyak. Dan sungguh telah ada suri tauladan yang baik pada diri Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tatkala beliau menikahkan seorang wanita dengan seorang lelaki dari kalangan sahabat beliau dengan mahar hafalan dan pengajaran Al-Qur`an dari lelaki tersebut.

Bagaimana dengan batasan waktu mengkhitbah?
Adapun mengenai batas waktu khitbah, yaitu jarak waktu khitbah dan nikah, sejauh ini, tidak ada satu nash pun baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang menetapkannya. Baik tempo minimal maupun maksimal.
(Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, hal. 77). Dengan demikian, boleh saja jarak waktu antara khitbah dan nikah hanya beberapa saat, katakanlah beberapa menit saja. Boleh pula jarak waktunya sampai hitungan bulan atau tahun. Semuanya dibolehkan, selama jarak waktu tersebut disepakati pihak laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda,”Kaum muslimin [bermu'amalah] sesuai syarat-syarat di antara mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau yang menghalalkan yang haram.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi). (Ash-Shan’ani, Subulus Salam, 3/59).
Namun para ulama’ cenderung menyatakan semakin cepat menikah adalah semakin baik. Sebab jarak yang lama antara khitbah dan nikah dapat menimbulkan keraguan mengenai keseriusan kedua pihak yang akan menikah, juga keraguan apakah keduanya dapat terus menjaga diri dari kemaksiatan seperti khalwat dan sebagainya. Keraguan semacam ini sudah sepatutnya dihilangkan, sesuai sabda Rasulullah SAW,”Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang
tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi & Ahmad). Wallahu a’lam.

Artikel ini disadur dari berbagai sumber, semoga memberi manfaat bagi para pembaca dan menjadi nasihat bagi pribadi saya sendiri. Apabila ada hal yang perlu dishare kan dengan senang hati saya akan menerimanya.

Wallahu a’lam bishowab…

Sumber

-0-

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*