Sep 16 2012

Akhlak Terpuji

Published by at 5:11 pm under Hikmah

Begitu pentingnya akhlak terpuji, sampai-sampai Rasulullah SAW pada satu kesempatan berdoa, ''Ilahi, tunjukkan aku pada akhlak terpuji, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya kecuali hanya Engkau. Hindarkan aku dari akhlak tercela, karena tidak ada yang bisa menghindarkannya selain Engkau.'' (HR Ibnu Abid-Dunya).
Keberhasilan Rasulullah membangun umat bukan lantaran kecanggihan teknologi, kekuatan angkatan perang, persenjataan tangguh, dan kecakapan orang-orang terdekatnya. Agama baru yang diperkenalkan Rasulullah berhasil dianut bermiliar orang hingga hari ini, karena Nabi mengerti bagaimana cara memperkenalkannya dan mampu meluluhkan hati yang membatu. Akhlak terpuji yang selalu ditunjukkan Nabi dalam segenap sisi kehidupannya membuat agama ini lebih mudah dan lebih cepat menyebar memasuki hati manusia dari ufuk timur ke ufuk barat.
Jargon Nabi pada saat berdakwah juga selalu berkait dengan pembenahan aspek moral, selain tentu saja permasalahan ketauhidan. Sabda Nabi yang sangat terkenal menyebutkan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak terpuji. Akhlak terpuji sesungguhnya sudah dikenal masyarakat sebelum Nabi diutus. Karena, konsep akhlak terpuji pada dasarnya sudah dimiliki oleh masyarakat secara naluriah. Nabi hanya meneguhkan kembali sesuatu yang masih bersifat naluriah itu menjadi sesuatu yang bersifat ibadah.
Anas bin Malik, abdi Nabi selama puluhan tahun, suatu kali mendegar Rasulullah SAW bersabda, ''Akhlak terpuji itu bagian dari amal calon penghuni surga.'' Karena, ''Allah itu terpuji. Dia selalu menyukai hal-hal yang terpuji. Allah itu pemurah. Dia selalu menyukai memberi. Dia menyukai akhlak terpuji dan tidak menyukai sebaliknya,'' kata Nabi pada waktu yang lain.
Dua hadis itu memberikan rumus untuk melihat siapa yang akan menjadi calon penghuni surga dan siapa yang akan menjadi calon penghuni neraka. Akhlak di sini tidak bermakna sempit, karena ia meliputi semua bentuk penghormatan terhadap etika dan nilai-nilai moral baik kepada Allah, Rasulullah, makhluk Allah yang lain, termasuk lingkungan sekitar kita, maupun diri kita sendiri.
Akhlak terpuji tidak sama dengan melakukan perbuatan karena riya (melakukan perbuatan karena mengharapkan pujian orang lain). Meski boleh mendapat pujian, tetapi berakhlak terpuji tidak benar bila diniatkan semata-mata untuk dipuji. Pujian yang dibenarkan adalah pujian yang tidak memengaruhi amal dan akhlak kita pada saat kita tidak dipuji.
(Hikmah Republika by Syarif Hade Masyah)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*