Jul 25 2012

'Petrus'

Published by at 8:47 am under News

Tim Penyelidikan Proyustisia Komnas HAM menemukan beragam jenis kejahatan yang dilakukan penembak misterius yang akrab disebut petrus. Peristiwa Petrus dari 1982-1985 dilakukan oleh mereka yang mengambil bagian aparat keamanan negara.

"Cara mereka pelaku petrus adalah dengan pembunuhan, penyiksaan, perampasan kemerdekaan, atau kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang, penghilangan orang secara paksa," ujar Wakil Ketua Komnas HAM Yosep Adi Prasetyo di Komnas HAM, Jakarta, Selasa (24/7/2012).

Korban Petrus ini, menurut Yosep, telah dipilih secara khusus, bahkan sudah ada masuk daftar Target Operasi. Mereka kerap dinyatakan sebagai penjahat, preman, gali, dan mantan residivis, dan semuanya memiliki tato. Ada yang menjadi korban lantaran namanya sama.

Upaya pemberantasan Petrus memang kejam. Dari cerita Yosep berdasar penuturan pelaku, korban, keluarga korban, dokter, dan perawat, mengundang kita geleng-geleng kelapa. Jika ada yang kebal peluru, maka pelornya diganti dengan emas.

Lain lagi jika korban memiliki ilmu kanuragan. Mereka dibunuh bukan ditembak, melainkan dicekik. Ada lagi yang ditembak tidak mati, kemudian dimasukkan ke dalam tong besi, dan dilas, lalu dibuang ke laut. Bahkan, ada yang jantungnya dipahat sampai terbuka.

Peristiwa Petrus terjadi hampir di seluruh Jawa dan Sumatera. Wilayah sebaran yang dapat diidentifikasi adalah Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Medan, Palembang, Magelang, Solo, Cilacap, Malang, dan Mojokerto. Tak menutup juga terjadi di Bandung, Makassar, Pontianak, Banyuwangi, dan Bali.

Sumber

---

Korban `Petrus` 1982-1985 Capai 10 Ribu Orang

Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Yosep Adi Prasetyo mengatakan jumlah korban dari peristiwa penembakan misterius tahun 1982 sampai 1985 mencapai 10 ribu orang.

Data tersebut ia kutip dari penelitian David Bourchier yang berjudul "Crime, Law, and State Authority in Indonesia" pada 1990, yang diterjemahkan oleh Arief Budiman. Sedangkan dari pengaduan yang diterima oleh Komnas HAM, jumlah korban mencapai 2.000 orang lebih.

"Jumlah tersebut termasuk orang yang ditemukan meninggal atau hilang. Tidak termasuk yang bisa melarikan diri," kata Yosep, Selasa, 24 Juli 2012.

Menurut penelitian David Bourchier, pelaku pembunuhan bertindak dalam konteks melaksanakan perintah jabatan di bawah koordinasi Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Republik Indonesia, yang juga berada di bawah komando Presiden Republik Indonesia. Selain pelaku yang memiliki kewenangan, ditemukan pula bukti adanya pelaku individu yang bertindak secara aktif dan disebut sebagai "operator".

Bukti tersebut diperkuat dengan bukti-bukti yang ada di lapangan, misalnya pada tali tambang dan kayu yang digunakan untuk mencekik korban. Menurut Yosep, alat untuk eksekusi tampak sudah dipersiapkan sebelumnya. Kayu pegangan dipotong dengan halus, bahkan diserut. Sedangkan jenis ikatan clove-hitch pada talinya menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang terlatih dan mengerti tali-temali.

"Pola pencekikan dengan tali muncul setelah Menteri Luar Negeri Belanda Van Den Broek menanyakan mengapa banyak orang yang ditemukan meninggal dengan luka tembakan," ujar Yosep. Setelah dibombardir protes, teknik pembunuhan pun berubah dari penembakan menjadi pencekikan dan berbagai cara penghilangan orang.

Peristiwa Petrus juga ditandai dengan berbagai pola yang ditemukan pada tubuh mayat. Misalnya Mister X, julukan untuk orang yang ditemukan tanpa identitas, dalam keadaan tidak bernyawa dengan kedua tangan terikat di belakang. Mayat ditemukan dengan tiga luka tembakan di kepala atau mati karena tercekik.

"Selain itu, biasanya di atas tubuh mayat diletakkan uang Rp 10 ribu untuk biaya penguburan mayat," kata dia.

Selain korban yang ditetapkan sebagai penjahat, korban petrus sering kali juga berasal dari korban salah tangkap. Misalnya petani dan pegawai negeri sipil karena bernama sama.

Kejadian petrus sempat menggegerkan dunia karena tidak terjadi di satu lokasi saja, tapi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Seperti Jakarta, Yogyakarta, Bantul, Semarang, Medan, Palembang, Magelang, Solo, Cilacap, Malang, dan Mojokerto.

"Tak tertutup kemungkinan juga ada di lokasi lain, seperti di Bandung, Makassar, Pontianak, Banyuwangi, dan Bali," ujar Yosep.

Sumber

---

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*