May 22 2012

Building a Media Relations

Published by at 4:03 pm under Pelatihan

Kekuatan media massa

1. Menyatukan Sikap Pandangan publik
2. Mampu memberikan ide, gagasan, pengaruh dan rangsangan publik.
3. Pemberitaan Pers bisa menjadikan kebijakan publik.
4. Mengangkat citra organisasi, perusahaan, lembaga, produk.
5. Kontrol sosial.

Media Massa Konvensional Cetak dan Elektronik

  • Suratkabar
  • Majalah
  • Tabloid
  • Televisi
  • Radio

Media Baru

  • Face Book
  • Twitter
  • Website
  • HP

PERTUMBUHAN MEDIA CETAK
2010
Harian      : 306 merek
Mingguan : 389 merek
Bulanan    : 257 merek
TOTAL      : 952 merek

2011
Harian      : 322 merek (16)
Mingguan : 402 merek (13)
Bulanan    : 357 merek (0)
TOTAL      : 1.081 merek

Sumber: Data Pers Nasional 2010,
Dewan Pers, cetakan pertama
Desember 2010

PERTUMBUHAN MEDIA AUDIO VISUAL-AUDIO
2010
Televisi    : 118
Radio       : 378
TOTAL     : 496
2011
Televisi    : 140 (22)
Radio       : 531 (153)
TOTAL     : 671
TV and Radio
Cinema and Internet

Sumber: Data Pers Nasional 2010,
Dewan Pers, cetakan pertama
Desember 2011
Mengirim Siaran Pers
Ada yang perlu diperhatikan untuk membantu kelancaran pengiriman Siaran Pers.
1. Membaca dan memeriksa ulang.
Jangan terburu-buru mengirimkan siaran pers, sebelum dibaca lagi. Bacalah dari awal sampai akhir, kalau anda merasa sudah jelas, baru anda tandatangani dan kirimkan.
a. Kepala surat.
b. Pengamatan secara spesifik
c. Pencantuman tulisan siaran pers.
d. Pencantuman catatan khusus, misalnya embargo atau batas waktu pemuatan.
e. Judul ringkas, jelas dan sejalan dengan materi.
f. Dead line
g. Lead jelaskan ringkas, jelas dan lugas.
h. Apakah sudah dilengkapi 5 W + 1 H.
i. Penulisan menggunakan piramida terbalik.
j. Body text ditulis dengan spasi ganda. Jangan diulang-ulang kalimatnya.
k. Alinea bodytext ditulis jelas, padat, ringkas, misalnya satu alenea satu atau dua persoalan saja.
l. Antar alinea runtut.
m. Kutipan pendapat harus menyebutkan sumer, siapa yang bicara.
n. Jelaskan kalau ada istilah asing, atau akronim.
o. Perhatikan ejaan yang benar serta nama, jabatan, nara sumber secara benar.
p. Penanda halaman.
q. Tanda teks selesai atau bersambung.
r. Nama penulis dan jabatan.
s. Nama penulis/contact person.
t. Jangan berbau iklan.
2. Mempertimbangkan lampiran.
Menyertakan lampiran memang tidak harus, tetapi kalau memang perlu, sertakan saja. Lampiran bisa juga berguna sebagai back ground information.
3. Kemana mengirim siaran pers.
Pertimbangkan, apakah perlu mengirim ke semua media massa, atau hanya tetentu yang sesuai dengan substansi berita.
4. Secepatnya Kirimkan Siaran Pers
Aktualitas tetap prioritas.
5. Cara Pengiriman

  • Kirim langsung.
  • Melalui internet
  • Melalui faksimili
  • Melalui pos.

6. Siaplah Merespons
Karena nomor telepon atau contact person sudah disertakan, bisa jadi redaktur akan melakukan penanambahan keterangan. Karena itu, pengirim harus siap merespons, memberi jawaban.
7. Memantau
Jika siaran pers sudah dimuat, ada baiknya mengucapkan terima kasih. Ini sebagai salah satu cara menjaga silaturahmi hubungan.
Menulis bisa mengirim via email.
Tak boros,Tinggal klik...
1.    Jawa Pos : editor@jawapos.co.id
2.     Kompas : kompas@kompas.com
Kompas : opini@kompas.co.id
3.     Kompas edisi Jogja- Jateng
Kompasjogja@kompas.com
4.     Kedaulatan Rakyat
- redaksi@kr.co.id
- redaksikaer@gmail.com
5. Media Indonesia :Redaksi@mediaindonesia.co.id
6. Pikiran Rakyat : redaksi@pikiran-rakyat.com
7. Minggu Pagi : Minggupagi@Kr.co.id
8. Tempo : Koran@tempo.co.id
9.  Republika : sekretariat@republika.co.id
10. Bali Post :balipost@indo.net.id
11. Kupang Pos : poskupang@persda.co.id
12. Solopos : solopos@bumi.net.id
13. Joglo semar : harianjoglosemar@gmail.com
14. Suara Karya : redaksi@suarakarya-online.com
15. Kabar Indonesia : redaksi@kabarindonesia.com

Siapa yang paling sering jadi nara sumber wartawan

Memiliki kredibilitas

Orang nomor satu. Adalah orang yang posisi kedudukannya pada paling atas. Posisi ini membuat menjadi incaran wartawan sebagai nara sumber.

Orang terkenal/terkemuka
Media menganut name make news, yakni orang-oerang terkenal atau terkemuka akan menjadi nara sumber.
Pakar di bidangnya. Pakar di bidangnya atau yang berkompeten. Meski ada seorang profesor, tetapi kalau bukan bidangnya, bukan menjadi nara sumber yang disukai.

Memiliki wewenang
Yang dianggap layak atau kredibel, adalah orang yang dianggap punya wewenang dalam peristiwa tersebut.

Berprestasi atau unggul
Menjadi krdibel, bisa juga karena berprestasi atau unggul di bidangnya. Semain tinggi prestasinya, maka wartawan menganggap kredibel sebagai nara sumber. Namun ada     kalanya karena beberapa hal mengetaho soal jurnalisitik, maka yang dibawahnya  menjadi nara sumber.

Tajam dan analitis
Banyak yang bergelar doktor atau profesor di kampus, tetapi  ketika bicara belum tentu analitis dan tajam. Dari ribuan ahli, maka yang bisa bicara tajam dan analitis dalam pengamatan suatu masalah, itulah yang selanjutnya menjadi langganan menjadi sumber berita.

Kaya data dan Informasi aktual
Banyak pakar kecewa karena omongannya tak dimuat oleh media. Padahal sudah berapi-api bicara. Mengapa? karena data yang dikemukakan sudah sering muncul di media massa. Bisa jadi data yang lama, padahal yang baru sudah ada. Karenanya carilah data yang paling mutakhir.

Berani
Berani bukan berarti asal ngomong. Tetapi berani dengan analisis tajam, dan berabi bertanggungjawab. Banyak dijumpai tokoh yang sedikit-dikit bicara 'of the record'. Tokoh inilah yang pasti dijauhi wartawan. Nara sumber yang asal berani tanpa opini dan analisis tajam, juga tak disukai media.

Berpikir runtut
Banyak tokoh-tokoh yang memenuhi syarat sebagai nara sumber wartawan, tetapi ketika kemudian menyampaikan pendapatnya tidak runtut. Jawabannya berputar-putar membuat orang tidak cepat tahu apa maksudnya.

Berwawasan luas
Seseorang yang menarik, adalah yang tidak sekadar tahu mengenai persoalan dirinya sendiri. Tetapi ia menjadi sosok yang berpikiran luas. Ia bisa bicara engeai seseuatu yang aktual, dengan tinjauan yang luas.

Bukan jago kandang
Banyak sosok yang kalau bicara di lingkuingan fakultasnya bagus, atau di kalangan sendirinya sangat berani. Namun ketika muncul di kalangan yang lebih luas, nyalinya menciut, tak berani. Iia hanya seperti jago kandang saja. Tak menarik jadi nara sumber untuk media yang luas.

Konsisten
Seorang nara sumber, harus konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Ia tidak akan menarik, ketika kemudian tak konsisten dengan apa yang diungkapkan sebelumnya. Biasabya ia segera ditinggalkan pers.

Gampang dihubungi
Meski semua lengkap, namun akan menjadi repot andai nara sumber tersebut sulit dihubungi. Sulit bukan berarti berada di luar kota atau tempat terpencil, karena toh sekarang ada Ponsel. Tetapi karena terlalu birokratis. Banyak aturan yang kaku kalau ingin ketemu, sehingga ini sering merugikan diri sendiri.

Paham dunia jurnalistik
Nah, setelah semuanya, sangat baik kalau tahu dunia jurnalistik. Paling tidak unsur-unsur yang ada dalam nilai jurnalistik, sampai soal media dan sebagainya.

Unsur Menaikkan Nilai Berita
Aktualitas. Kedekatan (proximity)

Penting. Orang penting dan ternama dan Peristiwa penting.Luar biasa.Akibat yang ditimbulkan.
Ketegangan. Konflik atau pertentangan.
Kemajuan
Emosi
Humor.

Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang,dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran :
a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai     dengan suara hati nurani tanpa campurtangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

b. Akurat berarti dipercaya benar sesuaikeadaan objektif ketika peristiwa terjadi.
c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.
d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan     semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran :
Cara-cara yang profesional adalah:
a. Menunjukkan identitas diri kepada narasumber;
b. Menghormati hak privasi;
c. Tidak menyuap, disuap;
d. Menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya;
e. Rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang;
f. Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara;
g. Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;
h. Penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran :
a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang     kebenaran informasi itu.
b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.
c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal     ini berbeda dengan opin iinterpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.
d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsiran :
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh     wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan     foto, gambar, suara,grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

Penafsiran :
a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.
b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran
a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang     mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi     independensi.

Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo,informasi latar belakang, dan 'off the record' sesuai dengan kesepakatan.

Penafsiran :
a. Hak tolak adalah hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan     keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya.
b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.
c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari     narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.
d. Off the record adalah segala informasi atau data dari     narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit,agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah,miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Penafsiran :
a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik     mengenai sesuatu sebelum mengetahui secarajelas.
b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan.

Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsiran :
a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati.
b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran :
a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada     maupun tidak ada teguran dari pihak luar.
b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan     substansi pokok.

Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran :
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang  dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki. Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers.

Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.

Membangun Relasi Media Sumber: Octo Lampito (Pemimpin Redaksi Skh Kedaulatan Rakyat) dalam acara Pelatihan Workshop How to Handle Press Well "Mengelola Krisis di Media & Merancang Hak Jawab" 15 Mei 2012, di Harian Kedaulatan Rakyat - Yogyakarta

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*