May 14 2012

Direktorat Pemberdayaan Konsumen

Published by at 11:19 am under Perlu Diketahui

Kemendag> Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen>Direktorat Pemberdayaan Konsumen

Profile

Perlindungan konsumen di Indonesia dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). UUPK dirumuskan dengan mengacu pada filosofi pembangunan nasional, dimana dalam pembangunan nasional melekat upaya yang bertujuan memberikan perlindungan kepada rakyat Indonesia.

Pelaksanaan pembinaan atas penyelenggaraan perlindungan konsumen sesuai Undang-undang Perlindungan Konsumen berada pada Menteri Perdagangan. Secara hierarki (struktural dan fungsinya) tugas tersebut dilimpahkan kepada Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, yang kemudian dilaksanakan oleh Direktorat Pemberdayaan Konsumen.

Sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan perannya, upaya tersebut terkait dengan perumusan kebijakan, standar, norma, kriteria dan prosedur, bimbingan teknis, serta evaluasi pelaksanaan di bidang kerjasama, informasi dan publikasi pemberdayaan konsumen, analisis penyelenggaraan pemberdayaan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, pelayanan pengaduan serta fasilitasi kelembagaan perlindungan konsumen.

Selain hal tersebut, dilaksanakan juga kegiatan untuk membudayakan gerakan konsumen cerdas, melakukan kemitraan dengan lembaga konsumen yang didukung oleh peran aktif kepemimpinan di setiap lini serta secara cerdas pula merekomendasikan penerbitan berbagai "smart regulation". "Smart regulation" merupakan regulasi teknis yang bukan hanya melindungi konsumen, tetapi juga memperkuat pasar dalam negeri terhadap masuknya produk impor yang tidak memenuhi persayaratan perlindungan konsumen.

Pada intinya, peran Direktorat Pemberdayaan Konsumen adalah menciptakan lingkungan yang kondusif dimana konsumen dan pelaku usaha dapat bertransaksi dengan percaya diri, dan keduanya dapat merealisasikan hak-hak serta kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah adalah menetapkan peraturan per-undang-undangan, mengendalikan pengukuran melalui pengawasan pasar dan mengem-bangkan serta memelihara infrastruktur yang dapat mendukung akurasi pengukuran tersebut (melalui ketertelusuran) yang sangat mendasar untuk melengkapi peran pemerintah.

Orientasi kebijakan Direktorat Pemberdayaan Konsumen

  • Meningkatkan pembinaan terhadap konsumen dan pelaku usaha
  • Meningkatkan peran aktif dan kepedulian pelaku usaha
  • Menumbuhkembangkan dan memperkuat kapasitas kelembagaan perlindungan konsumen
  • Meningkatkan pelayanan informasi konsumen dengan memanfaatkan jaringan teknologi informasi
  • Meningkatkan analisis dan evaluasi penyelenggaraan perlindungan konsumen sebagai upaya umpan balik (feedback) bagi penyusunan berbagai peraturan dan ketentuan mengenai perlindungan konsumen
  • Meningkatkan koordinasi, kerjasama dan publikasi dalam rangka perlindungan konsumen

Pendekatan Kebijakan

Kebijakan Pemberdayaan konsumen didasarkan pada 3 prinsip pendekatan, yang untuk memudahkan disebut SMARTS 3, yaitu:
1     Smart Policy dan Smart Regulatory, yaitu upaya pengembangan kebijakan yang bertujuan untuk menghasilkan suatu kebijakan/regulasi yang cerdas, yang dalam penerapannya dapat melindungi konsumen dan secara lebih luas lagi dapat mengamankan pasar dalam negeri.

Kebijakan ini mencakup program Penyusunan perangkat kebijakan perlindungan konsumen, serta Evaluasi dan analisa kebijakan perlindungan konsumen.
2     Smart consumers/Traders/Producers, yaitu upaya memberdayakan konsumen untuk menjadi komunitas konsumen yang cerdas dan meningkatkan tanggung jawab pelaku usaha agar berorientasi perlindungan konsumen, tertib ukur, tertib mutu dan tertib usaha.

Kebijakan ini mencakup program Pembudayaan kepada masyarakat (konsumen, pelaku usaha, aparat); Sosialisasi/Publikasi/Diseminasi; Koordinasi dan partisipasi aktif dalam forum komunikasi lintas sektor; dan Membentuk motivator perlindungan konsumen.
3     Smart Partnership, yaitu pengembangan kelembagaan dan meningkatkan jejaring koordinasi dengan lembagalembaga perlindungan konsumen dalam penyelesaian kasus dan sengketa konsumen dengan pelaku usaha yang mencakup program Penguatan dan pengembangan BPSK, Mengembangkan kemitraan dan faslitasi LPKSM, serta Konsultasi dan pengembangan advis dengan BPKN

Tata Laksana Direktorat Pemberdayaan Konsumen

Mempertimbangkan skala dan daya dukung Direktorat Pemberdayaan Konsumen sebagai suatu unit organisasi pemerintah, maka sebagai sumber dan jalur informasi, Direktorat Pemberdayaan Konsumen tidaklah harus selalu berhubungan langsung dengan masyarakat konsumen. Direktorat Pemberdayaan Konsumen dapat menyampaikan informasi melalui jalur (badan/lembaga) yang mempunyai hubungan dengan target group konsumen.

Sebagai sumber dan jalur informasi yang memiliki kredibilitas bagi konsumen dan pelaku usaha, fungsi Direktorat Pemberdayaan Konsumen mencakup:

  • Menjelaskan dalam konteks pembinaan dan edukasi mengenai hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha berdasarkan hukum yang berlaku.
  • Menyampaikan informasi tentang pemanfaatan yang aman atas suatu produk/jasa.
  • Memfokuskan pada kelompok konsumen tertentu yang mempunyai kendala dalam mengakses informasi, atau mereka yang berpotensi terperangkap dalam kesepakatan transaksi yang merugikan dirinya.

Dasar Hukum Perlindungan Konsumen

Pembangunan perlindungan konsumen di Indonesia dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK). UUPK dirumuskan dengan mengacu pada filosofi pembangunan nasional dimana dalam pembangunan nasional, melekat upaya yang bertujuan memberikan perlindungan kepada rakyat Indonesia.

Peraturan perundang-undangan lainnya :

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2001 tentang Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN);
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Konsumen;
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 59 tahun 2001 tentang Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM);
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 302 tahun 2001 tentang Pendaftaran LPKSM ;
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 350 tahun 2001 tentang Tugas dan Wewenang  badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK);
  6. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 01/2006 tentang Tatacara Pengajuan Keberatan Terhadap Keputusan BPSK;
  7. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 13/M-Dag/Per/3/2010 Tentang Pengangkatan Dan Pemberhentian Anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dan Sekretariat Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
  8. Keputusan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 76/2010 tentang Juknis Tatacara Pemilihan calon Anggota BPSK, Pengangkatan Ketua BPSK dan Wakil Ketua BPSK dan Sekretariat BPSK;
  9. Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Nomor 40/PDN/SE/02/2010 tentang Penanganan dan Penyelesaian Sengketa Konsumen
  10. Lain-lain.

---

VISI DAN MISI

Visi Direktorat Pemberdayaan Konsumen:

"Terwujudnya sistem penyelenggaraan pemberdayaan konsumen yang menjamin diperolehnya hak dan dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha."

Misi Direktorat Pemberdayaan Konsumen:

Menyelenggarakan pemberdayaan konsumen dengan azas keseimbangan dan kesetaraan antara konsumen dan pelaku usaha.

Strategi Direktorat Pemberdayaan Konsumen:

"Mengembangkan jejaring kerjasama untuk mengaktivasi gerakan konsumen cerdas dengan melibatkan peran aktif seluruh stakeholders perlindungan konsumen.."


VISI, MISI DAN NILAI-NILAI:

Pengembangan kebijakan dan Pemberdayaan Konsumen Indonesia dilaksanakan oleh Direktorat Pemberdayaan Konsumen selaras dan mengacu kepada Visi dan Misi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan, sebagai berikut:

HUBUNGAN VISI DAN MISI DIREKTORAT PEMBERDAYAAN KONSUMEN DENGAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN

---

TUGAS POKOK DAN FUNGSI DIREKTORAT PEMBERDAYAAN KONSUMEN

TUGAS POKOK
Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan pedoman, norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan konsumen.

FUNGSI
Fungsi dari Direktorat Pemberdayaan Konsumen adalah :

Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan kosumen;
Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan kosumen, bimbingan konsumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan konsumen;
Penyiapan penyusunan pedoman, standar, norma, prosedur, dan kriteria di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan konsumen, bimbingan kosnumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan kosumen;
Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang kerja sama, informasi dan publikasi, analisa penyelenggaraan perlindungan kosnumen, bimbingan kosumen dan pelaku usaha, fasilitasi kelembagaan pemberdayaan konsumen; dan
Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.

---

Struktur Organisasi

Kontak Person:

Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen

Dra. Nus Nuzulia Ishak

Gedung I Lantai 6 Jln. M.I. Ridwan Rais No. 5 Jakarta Pusat 10110
Telp : (021) 3451692, (021) 3858171 Pes. 1225
Fax : (021) 3858205

-

Sekertaris Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen

Widodo, SH

Gedung I Lantai 6 Jln. M.I. Ridwan Rais No. 5 Jakarta Pusat 10110
Telp : (021) 3850986, (021) 3858171 Pes. 1212
Fax : (021) 3842531

-

Direktur Standardisasi

Ir. Frida Adiati, MSc.

Gedung II Lantai 8 Jl. M. I. Ridwan Rais No. 5 Jakarta Pusat 10110
Telp : (021) 3863928, (021) 3858171 Pes. 1060
Fax : (021) 3863928

-

Direktur Pemberdayaan Konsumen

Srie Agustina, SE, ME.

Gedung II Lantai 10 Jln. M.I. Ridwan Rais No. 5 Jakarta Pusat 10110
Telp : (021) 3858187, (021) 3858171 Pes. 1130
Fax : (021) 3847954

-

---

Sumber

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*