May 01 2012

Dakwah Thoharoh Model Ustadz Fadlan

Published by at 9:38 am under Sketsa

Pengajian Akbar oleh Ustadz Fadlan Garamatan atas prakarsa DPPAI UII dan Takmir Masjid Ulil Albab, Jum’at (27/4) berlangsung di Masjid Ulil Albab usai sholat Jum’atan. Disampaikan dalam sambutan pembuka oleh Wakil Rektor I UII Nandang Sutrisno, SH, LLM, M.Hum, Ph.D. “ustadz Fadlan Garamatan bisa memberikan pencerahan pada kita sekalian dan sekaligus berbagi pengalaman dimana wilayah dakwah di Papua menurut kita adalah gambaran lokasi yang sangat sulit dijangkau,” ungkapnya. Ustadz kita ini adalah sebagai suri tauladan dalam aktifitas dakwah beliau, sebagimana UII yang ber-Catur Dharma tinggi berbeda dengan PT lain yang Tri Dharma: seperti Pendidikan dan pengajaran kemudian penelitian, pengabdian masyarakat dan di UII dengan tambahan Dakwah Islamiyah. Untuk itu seluruh civitas akademika UII bahwa dakwah sesungguhya adalah merupakan kewajiban bagi kita semua. “Ustadz Fadlan merupakan contoh bahwa dakwah itu bisa dilakukan dalam kondisi apapun dalam situasi apapun termasuk dalam situasi yang sangat sulit. Dan semoga semangat dakwahnya dapat tertular kepada kita semua yang senantiasa akan kita ikuti dengan kemampuan kita semua.” pungkas Nandang.

Menghadirkan Ustadz Fadlan Garamatan (M. Zaaf Fadzlan Rabbani Al Garamatan), kiai yang kondang dengan julukan Da’i Sabun. Seorang Da’i fenomenal yang berhasil mengislamkan 45% warga asli pedalaman Papua. Yaitu berdakwah dengan sabun atau melalui Thoharoh sebagai pengajaran Islam yang pertama.

Keadaan masyarakat Papua di daerah pedalaman yang hidup dalam kondisi terbelakang  secara tidak langsung menjadi  tantangan tersendiri bagi Ustadz Garamatan dalam berdakwah. Dan Model dakwah yang digunakan oleh Fadlan berbeda dengan rekan-rekannya. Apabila para ustad selama ini lebih banyak berdakwah dalam bentuk majelis taklim, Fadlan justru memilih menggunakan sabun dan shampoo untuk mengajak masyarakat Papua keluar dari keterbelakangan.

---
Profil
Pria ini bernama M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan. asli Irian, berkulit gelap, berjenggot kemana-mana memilih membalut tubuhnya dengan jubah. Lahir dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-fak, sejak kecil dia sudah belajar Islam. Ayahnya adalah guru SD, juga guru mengaji di kampungnya. `'Kami di Irian, khususnya di kampung kami, ketika masuk SD kelas 1 sudah harus belajar Alquran'' tuturnya.
Pengetahuan ilmu agamanya kian dalam ketika kuliah dan aktif di berbagai organisasi keagamaan di Makassar dan Jawa. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini akhirnya memilih jalan dakwah. Dia mendirikan Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara. Melalui lembaga sosial dan pembinaan sumber daya manusia ini, Ustadz Fadlan begitu ia kerap disapa mengenalkan Islam kepada masyarakat Irian sampai ke pelosok. Dia pun mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada, mencarikan kesempatan anak-anak setempat mengenyam pendidikan di luar Irian.

---

Dikisahkan oleh Ust.Fadlan bahwa orang-orang muslim di Indonesia, masih terbersit opini bentukan penjajah bahwa di wilayah Indonesia Timur, terutama Papua, banyak penduduknya yang non muslim masih melekat. Hal itu pernah ia buktikan kala mengisahkan pengalamannya saat Ust.Fadlan masuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar di tahun 80'an.

Perlakuan yang mengejutkan beliau rasakan ketika hari pertama kuliah agama Islam. Ketika kelas dimulai, dosen berkata, “Kuliah Agama Islam sebentar lagi dimulai, dimohon bagi yang selain Islam untuk keluar ruangan”. Namun tidak ada yang keluar. Dosen mengulang lagi, ”Kuliah Agama Islam sebentar lagi dimulai, dimohon bagi yang selain Islam untuk keluar rauangan!”. Kali ini agak lebih keras. Namun tetap tidak ada yang keluar.
Tiba-tiba dosen menghentak, “KAMU”
“Saya Pak”, ucap Fadlan
“Ya Kamu, cepat keluar ruangan”
Beliau berucap dalam hati, “Ooo rupanya yang dikira orang nonmuslim saya”.
“Baik Bapak, saya akan keluar setelah tiga pertanyaan saya Bapak Jawab”
”Apakah agama Islam hanya untuk orang berkulit putih, Jawa, Bugis atau untuk semua orang yang hidup di dunia? Siapa sahabat nabi Saw yang berkulit hitam dan berambut keriting namun merdu suaranya? Siapa saja yang ada dikelas ini yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar?” tandasnya.
Ditanya seperti itu, sang dosen hanya menanggapi pertanyaan yang ke-3 saja. Ternyata, dari 47 mahasiswa yang hadir, hanya tujuh orang yang bisa. Salah satunya adalah orang yang berkulit hitam dan berambut keriting tersebut. Langsung saja Ustadz Fadlan mendapat kesempatan memberi nasehat kepada semua yang di kelas yang tadi mau mengusirnya. Selama dua jam dia memberi nasehat, sehingga mata kuliah agama hari itu selesai.

Dosennya pun langsung menyatakan Ustadz Fadlan lulus dengan nilai A di hari pertama masuk kelas agama. Karena, selain puas dengan nasihat Ustadz Fadlan yang menyatakan jangan merasa bangga hanya karena beda warna kulit atau lainnya, Fadlan mampu membaca Alqur’an (salah satu kemuliaan agama Islam) dengan baik dan benar.
---

Jalan Berdakwah

Lulus sebagai sarjana ekonomi, Fadlan tidak memilih untuk menjadi pegawai negeri atau pengusaha, tapi Da’i, penyeru agama Islam dan mengangkat harkat martabat orang Fak-fak, Asmat, dan orang Irian lainnya. Dia tidak setuju kalau orang-orang ini dibiarkan tidak berpendidikan, telanjang, mandi hanya tiga bulan sekali dengan lemak babi, dan tidur bersama babi. Semua penghinaan itu hanya karena alasan budaya dan pariwisata. ”Itu sama saja dengan pembunuhan hak asasi manusia” katanya.

Dia pun berjuang dan berdakwah untuk semua itu. Tempat yang pertama kali dikunjungi adalah lembah Waliem, Wamena. Dengan konsep kebersihan sebagian dari iman, Fadlan mengajarkan mandi besar kepada salah satu kepala suku. Ternyata ajaran itu disambut positif oleh sang kepala suku. ”Baginya mandi dengan air, lalu pakai sabun, dan dibilas lagi dengan air sangat nyaman dan wangi,” jelasnya.

Selain itu juga ada beberapa orang yang tertarik dengan ibadah sholat. Sambil mengingat masa itu, dia bercerita, ”Di Irian itu, babi banyak berkeliaran kayak mobil antri. Sehingga untuk mendirikan sholat harus mendirikan panggung dulu. Saat itu orang-orang langsung mengelilingi. Selesai sholat, kami ditanya mengapa mengangkat tangan, mengapa menyium bumi?”.

Jawabnya,”Kami bersedekap bertanda kami menyerahkan diri kepada satu-satunya Pencipta seluruh alam. Mencium bumi karena disinilah kita hidup. Tumbuhan dan hewan, yang mana makanan kita berasal dari mereka juga tumbuh di atas bumi”

Dakwah seperti ini yang dia gunakan. Mengajarkan kebersihan, dialog dengan apa yang mereka pahami, pergi ke hutan rimba, dan membuka informasi. Dengan dakwah yang sudah dijalankannya selama 19 tahun ini, banyak orang yang masuk Islam di sana. Tercatat 45% warga asli memeluk agama Islam. Jika ditambah dengan para pendatang, maka pemeluk Islam sebanyak 65% dari seluruh manusia yang ada di pulau burung tersebut.

Di setiap daerah yang dikunjungi, Ust.Fadlan selalu bersikap santun. Shalat di tengah-tengah komunitas `asing' tak pernah ia tinggalkan. Perlahan-lahan jejaknya diikuti oleh masyarakat setempat. `'Ketika menyaksikan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, saya tidak kuat. Air mata menetes,'' ucapnya.

--

Dikisahkan, Ust Fadlan pernah berdakwah sendirian untuk menuju suatu perkampungan dengan waktu tempuh tercepat 3 bulan berjalan kaki. Dan Subhanallah hal tersebut tidak pernah menyurutkan hatinya untuk terus berdakwah, jika ada aral melintang dia selalu kembalikan kepada Allah SWT, dan dia selalu ingat bagaimana dulu Rasulullah SAW berdakwah dengan jarak ribuan kilo dan di padang tandus.

Ust Fadlan juga mengisahkan cerita ada seorang da'i dari Surabaya ingin ikut berdakwah dengannya di tanah Papua, dan diajaklah dia. Awalnya da'i tersebut tidak menyangka akan mendapatkan perjalanan yang sangat berat di tanah Papua. Da'i bersama dengan Ust. Fadlan harus menempuh perjalanan selama 12 hari berjalan kaki untuk menembus daerah yang akan di kunjungi. Pada hari ke-10 da'i dari Surabaya sudah merasakan kelelahan sehingga dia marah-marah, Ust. Fadlan pun bilang, "Jika anda ingin kembali silahkan anda kembali sendiri, saya akan tetap meneruskan perjalanan ini, dan anda bukanlah umat Rasulullah SAW, karena anda hanya bisa mengeluh, anda tidak ingat betapa beratnya perjuangan Rasulullah SAW waktu pertama kali berdakwah?". Setelah itu Ust. Fadlan tetap melanjutkan perjalanannya dan da'i tersebut dengan wajah menyesal mengikutinya.

Setelah tiga bulan menetap di daerah tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk Islam, Ust. Fadlan mengatakan kepada da'i dari Surabaya bahwa ini karena da'i tersebut mempunyai niat yang salah sewaktu memulai perjalanan tersebut. Da'i tersebut merasa sangat bersalah sekali, dan dia berniat untuk memperbaikinya, dan Ust. Fadlan mengusulkan agar da'i tersebut untuk menikahi salah satu wanita yang ada di daerah tersebut. Da'i tersebut meminta waktu untuk shalat istikarah, setelah 7 hari beristikarah, dia memberi jawaban bahwa dia mendapatkan petunjuk dengan cahaya putih, Ust. Fadlan menyimpulkan bahwa itu artinya da'i tersebut memang harus menikah dengan wanita dari daerah tersebut. Maka di bawalah salah seorang wanita dari penduduk setempat untuk di ajak ke pulau Jawa, dan di tanah Jawa dia diajarkan semua tentang agama Islam, dan akhirnya mereka menikah di tanah Jawa.

--

Dikisahkan pula,pada suatu waktu Ust. Fadlan menceritakan tatkala ia bersama 20 orang berniat ingin mengunjungi daerah yang masyarakatnya masih asing dengan orang luar, dia mengatakan bahwa jika mereka kesana maka kemungkinan mereka akan langsung berhadapan dengan panah-panah beracun, maka Ust. Fadlan menanyakan apakah mereka siap untuk mati syahid, dalam menghadapi hal-hal semacam itu. Ternyata hanya 6 orang yang bersedia untuk mati syahid dan berani mendampingi ust. Fadlan ke daerah tersebut. Setelah mendekati daerah tersebut, mereka melihat masyarakat disana sudah siap menghadang mereka dengan senjata-senjata tradisional mereka. Selanjutnya di tengah perjalanan Ust. Fadlan menanyakan kembali kesediaannya dari 6 orang tersebut, apakah mereka benar-benar siap untuk mati syahid, dan mereka semua menyatakan siap. Sebelum mereka melangkah, Ust. Fadlan memberikan satu pesan, yaitu jika, Ust. Fadlan terkena panah dan sudah tidak dapat berdiri, ke-6 orang tersebut harus lari menyelamatkan diri. Setelah ada kesepakatan, mereka pun melangkah dengan langkah pasti. Dan masyarakat tersebut pun menyambut mereka dengan panah-panah beracun yang di lepaskan, hingga ust. Fadlan terkena panah di beberapa bagian badannya, dan akhirnya jatuh tersungkur, dan ust. Fadlan tetap berusaha untuk berdiri dan terus melangkah walaupun darah terus mengalir dari tubuhnya, sedangkan ke-6 orang tadi melihat ust. Fadlan telah tersungkur, dan ingat pesannya, maka mereka pun melarikan diri. Dan melihat keadaan ust. Fadlan yang masih berusaha untuk berdiri, ketua adat daerah tersebut pun meminta agar masyarakatnya menghentikan panah-panah beracun. Dia menghampiri ust. Fadlan dan membantunya, Ust. Fadlan hanya ingin kembali ke tempatnya agar bisa di obati luka-lukanya, dan ketua adat tersebut mengatakan bahwa dia akan ikut mengantarkannya. Ust. Fadlan mengira bahwa ketua adat akan menghantarkan dirinya sampai batas desa saja, tetapi ternyata ketua adat menghantarkannya hingga sampai ke rumahnya, sepanjang perjalanan ketua adat tersebut mengobati luka-luka Ust. Fadlan dengan bahan-bahan yang ada dari sekitar dan ketua adat tersebut bahkan berkeras untuk mengikuti ke rumah sakit yang ada di Makassar. Setelah pulang ketua adat tersebut akhirnya mengikrarkan diri masuk Islam.

--

Ust.Fadlan pernah bercerita pula karena dia berkulit gelap, sewaktu dia memberi salam kepada saudaranya yang muslim, saudara-saudara yang muslim belum tahu kalo dia muslim tidak pernah menjawab salam-salam beliau, padahal Rasulullah mempunyai seorang sahabat yang selalu mengumandangkan adzan yang mantan budak dan berkukit, dialah Bilal dan Islam sendiri tidak pernah membedakan warna kulit seseorang, bahkan dalam Al-Qur'an manusia di ciptakan berbeda untuk saling mengenal.

Dakwahnya yang beliau lakukan tidak pernah berhenti berhenti, selalu berlanjut baik dengan program pemberdayaan ekonomi. Bekerja sama dengan Baitul Maal Mu’amalat (BMM), selain itu, Fadlan mendirikan lembaga sosial dakwah dan pembinaan SDM kawasan Timur Indonesia Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN). Dengan lembaga tersebut, orang-orang Irian diajak membuat produk seperti buah merah, ikan asin, dan manisan pala bermerk BMM AFKN. Pasarannya sudah masuk di Jakarta, termasuk Carefour. Selain itu, Sagu irian juga diekspor ke India.

SDM pun juga tidak ketinggalan. Anak-anak muda dalam bimbingan lembaga tersebut sudah tersebar di seluruh indonesia demi menuntut ilmu guna memajukan kehidupan di tempat dimana matahari terbit pertama kali memberikan cahayanya (Nu Waar) untuk Indonesia.

Selain itu pula, beliau bersama dengan Badan Wakaf Qur'an beberapa tahun lalu pernah mengusahakan agar masyarakat di Papua mengupayakan mendapatkan Al-Qur'an untuk di tadaburi, dan juga pembangunan tenaga Listrik Mikro Hidro (sumber air yang berlimpah) agar dapat memberdayakan masyarakat disana jika listrik telah di pasang.
--

Info Pendukung

Nu Waar adalah nama pertama pulau paling timur di wilayah Indonesia. Di pulau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Irian ini ternyata memiliki sejarah perkembangan Islam sejak abad ke-12. Nama Nu Waar diberikan oleh pedagang muslim yang datang saat itu. Islam masuk pada 17 Juli 1214, sedangkan agama lainnya (selain animisme dan dinamisme) baru masuk sekitar abad XVIII. Nama Nu Waar sendiri berarti cahaya. Pedagang muslim dari Gujarat, yang membawa agama Islam tersebut, ingin pulau ini menjadi cahaya bagi Asia. Namun nama tersebut sama sekali tidak popular, bahkan di kalangan umat Islam Indonesia. Parahnya lagi, informasi yang kurang hingga saat ini menambah kesalahpahaman kita terhadap pulau paling timur ini.

Kesalahpahaman itu masih ditambah dengan usaha penjajah yang saat itu cukup berhasil menghilangkan jejak khazanah Islam dengan mengganti namanya menjadi Papua. Tetapi nama tersebut tidak disukai umat muslim setempat karena artinya orang kulit hitam yang gemar melakukan kriminal alias menghina mereka. Sehingga muslimin lokal masih memiliki semangat memperjuangkan dan hanya mengakui nama pulau burung tersebut sebagai Pulau Nu Waar. Sedangkan nama Irian diberikan setelah Presiden Pertama RI berhasil merebutnya. Nama yang juga masih kurang baik, karena berarti penduduk yang tidak berbusana.
Itulah beberapa sekelumit kisah perjuangan seorang da'i yang tidak kenal lelah untuk mengenalkan masyarakat di sekitarnya untuk mengenal sang Pencipta. Subhanallah!!!

--

Berikut ini terlampir pula petikan dialog kisah pengalaman Ustadz Fadlan kepada Burhanuddin Bella dan Nina Chairani dari Republika. yang diterbitkan oleh harian surat kabar Republika (Ahad, 07 Mei 2006) :

Sepanjang pengetahuan Anda, bagaimana awalnya Islam masuk ke Irian?

Dari agama-agama yang ada di Irian, Islam sudah ada di sana sejak abad ke-13, 17 Juli 1214. Itu di Fak-fak, Kaemana, Raja Ampat, Babo, Bituni. Islam diperkenalkan pertama dari Kerajaan Samudara Pasai, Syekh Iskandar ketika datang ke sana. Setelah itu Belanda masuk ke Irian baru Sultan Tidore dan Ternate melakukan perjalanan dakwah kedua. Tapi, jauh sebelumnya sudah ada.

Apa yang mendorong Anda mau berdakwah sampai ke pedalaman-pedalaman Irian?

Saya punya kewajiban. Bukan saya pribadi, tapi bangsa Indonesia ini akan bertanggung jawab kepada Allah ketika hari kiamat, Tuhan bertanya, kenapa Anda sudah menjadi Muslim Anda biarkan mereka begitu? Apalagi dengan membiarkan mereka tetap telanjang. Kedua, di Indonesia ini orang Irian yang pertama melakukan shalat Subuh, pertama shalat Idul Fitri, pertama shalat Jumat, pertama buka puasa. Ini berarti ada satu rahasia Allah yang perlu orang Islam di negeri ini menyampaikan semua orang. Bahwa perlu ada sebuah dakwah. Karena itulah saya membuat Yayasan Al Fafti Kaffa Nusantara untuk membina masyarakat Muslim maupun mualaf asal Irian, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan lain. Yayasan ini bertujuan mempersiapkan generasi Islam asal Nuwar yang berakidah dan bertauhid, yang kokoh dan membekali diri dari berbagai disiplin ilmu untuk membangun umat, terutama yang ada di pedalaman.

Apa yang dilakukan di yayasan itu?

Orientasi awal adalah pengembangan SDM. Anak-anak Muslim maupun mualaf asal Nuwar atau Irian tidak pernah mendapat beasiswa khusus. Sebenarnya pemerintah kasih untuk orang Irian seluruhnya, tapi orang Irian Muslim tidak menguasai birokrasi sehingga semua beasiswa dikasih habis oleh orang-orang bukan Islam. Dari sisi itulah kami punya lembaga ini, menghimpun orang-orang yang tidak mampu, tidak punya kekuatan keuangan, ekonomi. Kami akan berusaha ke semua lembaga Islam yang ada di Jakarta atau di Jawa, di Makassar, bahwa ini anak-anak kami, tolong dibina mengenal Allah, mengenal Islam, mengenal Nabi Muhammad, dan kalau bisa diberikan keterampilan dalam bentuk ilmu pengetahuan lain.

Anda menyebut Nuwar. Apa itu?

Itu nama Irian pertama. Nu itu cahaya, War itu menyimpan rahasia alam. Itu sebelum nama Papua dan Irian. Nuwar itu adalah pulau Irian secara keseluruhan. Ketika Portugis menjajah pulau itu, namanya diganti Papua. Konotasi kami istilah Papua itu jelek. Sedangkan istilah Irian berasal dari beberapa bahasa di Irian. Tapi, yang paling utama diambil dari penelitian Ibnu Batuta pada 1517. Ketika dia datang ke sana, masih ada orang Irian yang telanjang, masih pakai koteka. Maka dia bilang, kalau begitu orang-orang ini disebut dengan orang-orang Urian. Urian bahasa Arab, artinya telanjang. Sementara dari bahasa Biak artinya bumi yang panas. Bahasa Fak-fak, Uri itu diambil dari (kata yang) artinya daerah batasan. Lalu dalam konferensi Malino ditetapkan dengan istilah Irian yang bahasa politiknya 'Ikut Republik Indonesia Anti Netherland', dan ditambah Barat. Terus diubah jadi Irian Jaya. Kami anak-anak Muslim lebih senang menggunakan Irian daripada Papua.

Jalan dakwah yang dilakoninya selama 19 tahun itu tentu saja tidak selalu mulus. Mereka pernah bertemu OPM (Organisasi Papua Merdeka), bahkan sempat dikejar-kejar dan disandera. ''Mungkin mereka tidak tahu, tapi setelah dia lihat orang Irian, dia tidak lakukan itu. Dan orang Irian tidak sejahat yang diisukan. Yang penting kita baik.'' Ketika mendekati masyarakat itulah, tidak sedikit ada yang membenci, mencaci-maki, dan mengancam. Namun, sikap dan perilaku baik melumerkan kekakuan itu. Mereka pun memilih menjadi Muslim. Setelah masuk Islam, tugas dakwah itu berlanjut dengan pengembangan ilmu dan ekonomi masyarakat. ''Tidak ada air bersih, kita bikin. Tidak ada listrik, kita adakan. Uangnya dari mana, umat Islam menyumbang. Tidak ada sekolah, kita cari bagaimana ada sekolah di situ. Lalu melalui jalur pemerintah, kita minta bangun pendidikan di situ.''

Bagaimana Anda berdakwah?

Pertama, kita mulai dari sifat kebersihan. Kita perkenalkan kebersihan, mandi yang sebenarnya. Setelah itu kita menutup aurat mereka, lalu kita melakukan tindakan. Kami juga menggunakan pendekatan kemanusiaan, sesudah itu kami bimbing. Pengalaman ketika saya di lokasi-lokasi dakwah, saya pergi shalat, saya takbir, mereka bertanya, `'Kenapa angkat tangan, kenapa sujud?'' Saya menjelaskan bahwa agama kami Islam. Kami mengangkat tangan artinya menyerahkan seluruh jiwa dan raga kami kepada Tuhan Allah, sehingga kami menyebut Allah Maha Besar. Kami ini tidak ada artinya.

Anda melakukan dakwah sampai ke pelosok yang sarat dengan kepercayaan animisme. Bagaimana Anda melakukan dakwah di tempat itu?

Kita datang pertama tidak memperkenalkan agama, tapi melihat keadaan, kehidupan masyarakat, apa yang dihadapi. Sebab kita anak Islam selalu terlambat datang di lokasi yang sudah didatangi oleh orang-orang bukan Islam. Setelah datang, kita lihat kira-kira konsep apa yang kita perkenalkan. Kita pakai konsep kemanusiaan, lalu diberikan pemikiran, inilah Islam, lalu mereka tertarik dengan Islam.

Ada pertimbangan tertentu ketika memilih masuk ke satu daerah?

Sepanjang kita punya kemampuan untuk sampai ke situ, kita dakwah. Kita pernah sampai ke Enarotame dengan cara jalan kaki 12 hari. Daerah pantai pun kita telusuri berhari-hari. Tapi, sekarang dengan mahalnya BBM, saya bilang, ini ancaman buat dakwah.

Mengapa menjadi ancaman?

Kalau kita bawa bantuan perlu pakai motor tempel. Kita sewa, diantar 7 hari Rp 15-30 juta. Ya, kita harus sampaikan bantuan sampai ke lokasi-lokasi itu. Sampai di lokasi kita tidur di sana, bersilaturahmi, bermain dengan mereka, hingga mereka mengatakan inilah Islam. Sampai mereka bilang, oh ternyata Islam ini bangun pagi shalat, bekerja. Dzuhur shalat. Dan itu subhanallah, ketika kami bertahun-tahun di situ, mereka bilang, luar biasa kalau begitu Islam. Alhamdulillah, sekarang tidak seperti masa lalu. Sekarang keluarga lain datang berjalan melihat mereka beriman, lalu memilih masuk Islam. Malah kami sekarang kewalahan.

Bagaimana dengan bantuan yang Anda peroleh?

Alhamdulillah, bantuan tidak pernah putus setelah kita menyampaikan foto dan CD kegiatan kita. Kami juga menggunakan dana umat Islam untuk membangun masjid. Sampai saat ini, masjid yang sudah dibangun dari lembaga kita mencapai 300-400 masjid. Ada juga orang yang datang bersama kita membangun, kita hanya mengawasi. Tapi, di seluruh Irian sudah ada 900 lebih masjid.

Apa program yang Anda lakukan sekarang?

Kita bikin penataran dai-dai (di Irian) dengan mendatangkan dai dari Jakarta. Kita juga upayakan peningkatan ekonomi masyarakat, supaya potensi yang ada di wilayah itu akan hidup, dia punya uang sendiri, punya keimanan, punya tauhid.

Apakah semua wilayah Irian sudah dijelajahi?

Belum.

Kendalanya apa?

Kita harus punya `peluru' yang banyak. `Peluru' ini kita biasa minta dari umat Islam. Kita sekarang di daerah selatan, dari punggung burung ke kepala burung (peta Irian). Di Utara juga sudah, daerah Timur sudah ada, cuma masih kecil.

Apa kesulitan yang dialami selama ini?

Kesulitan kita hanya wilayah yang jauh. Transportasi kita tidak punya, fasilitas tidak ada. Kita apa adanya.

Bagaimana menghadapi orang Irian yang masih pakai koteka?

Kita berusaha memperkenalkan berpakaian. Mereka sebenarnya, yang penting kita melakukan pendekatan dengan sopan santun. Ikhlas adalah niat awalnya terjun ke medan dakwah. ''Ikhlas itu sebuah kebenaran maka saya ingin mencari ridho Allah.'' Perasaan ini muncul ketika dia berusaha memperbaiki orang Irian. Untuk memelihara perasaan ikhlas itu, dia selalu menghindar ketika ada media yang memintanya untuk diwawancara. Namun, Fadlan luluh ketika banyak orang yang membujuknya untuk mengungkap kegiatan dakwahnya. ''Sudahlah, antum harus bicara bahwa ini dakwah antum bersama teman-teman antum yang lain,'' ujarnya menirukan bujukan itu. Bahkan, demi dakwah, keluarganya harus rela tinggal berjauhan. ''Sudah ada komitmen dengan keluarga, sepanjang mereka punya ekonomi kita siapkan dan kita berdakwah ikhlas.''

Ada organisasi tertentu tempat Anda memperdalam Islam?

Tidak. Semua organisasi saya datang dan saya bertanya. Kalau saya anggap itu mendekati Al-Quran dan sunnah saya ambil, yang tidak saya tidak boleh jelekkan. Saya pernah aktif di HMI, remaja masjid, Mahasiswa Pencinta Musalah. Sekarang di HTI, Hizbut Tahrir Indonesia.

Kelihatannya Anda tidak pernah bercita-cita jadi dai karena memilih belajar ekonomi?

Tidak pernah. Niatnya mau jadi pengusaha, bahkan pernah jadi pengusaha, sampai hari ini masih berusaha. Saya menjadi konsultan di bidang lingkungan hidup, sekaligus bersama teman-teman membangun SDM, lebih khusus untuk orang-orang Irian.

Apa hiburan Anda?

Yang paling suka nonton tinju. Sebenarnya takut tinju juga, tapi melihat mereka ingin belajar bagaimana bisa menjatuhkan lawan.

Apa yang Anda impikan dengan aktivitas ini?

Yang kita mau agar anak-anak Muslim Irian dan orang Irian umumnya dapat menikmati perubahan sikap. Ketika dia berada di Irian, dia mampu mengolah alamnya dan secara sadar bahwa ini alam harus diolah dengan keterampilan sehingga hidupnya bermakna.

Sampai kapan mau melakukan ini?

Ya, sepanjang hayat dikandung badan. Kami dakwah di Irian tidak punya duit. Tapi, kami selalu minta dukungan ke umat Islam atau lembaga-lembaga Islam. Kita bawa barang (kebutuhan masyarakat) dari Jakarta ke Irian berton-ton.

Sumber: RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*