Apr 17 2012

Mengambil Jarak Dari Rutinitas

Published by at 9:07 am under Tajuk

Rutinitas seringkali menjebak dan membelenggu, menjadikan orang tidak kreatif dan tidak berpikir jangka panjang. Rutinitas mendorong untuk berpikir ke jangka pendek dan mengerjakan apa yang di hadapan. Aktifitas yang dikerjakan terasa seringkali mendesak dan “penting”, tetapi hakikatnya tidak strategis sama sekali untuk memperoleh kemajuan yang sebenarnya. Pelakunya sering merasa telah “berbuat banyak” dan mengerjakan banyak hal serta merasa paling berperan, tetapi dalam konteks “big picture” tujuan organisasi, sebenarnya hanya jalan di tempat. Akibatnya, organisasi akan terjebak pada status quo. Kapasitas dan kompetensinya mandek dan tidak berkembang, karena hanya mengerjakan yang rutin tanpa perlu berpikir mendalam. Padahal kalau mau berpikir lebih strategis dengan memanfaatkan kapasitasnya, apa yang dapat diperoleh akan jauh lebih baik.
Hadirnya kembali momentum Milad UII yang ke-69 merupakan masa yang tepat, terutama para decision maker untuk mengambil jarak dari rutinitas guna bermuhasabah, berefleksi. Pada pertengahan tahun 2012 ini bertepatan dengan Rajab 1433 H, UII berusia 69 tahun menurut kalender Hijriyah, dan 67 tahun menurut kalender Masehi. Milad dalam sejumlah besar budaya dianggap sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan kehidupan. Milad biasanya selalu diingat dan diperingati karena  ia menjadi momentum untuk menguatkan komitmen akan perubahan demi kemajuan dan merecharge serta merefresh semangat yang mungkin sempat meredup karena padatnya aktifitas yang menjelma menjadi rutinitas. Oleh karena itu, Milad menjadi momentum yang tepat untuk mengambil jarak untuk sementara waktu dari rutinitas guna refleksi diri, apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan, serta bagaimana seharusnya menjalani  hidup organisasi ke depan.

Pada Jumat, April 2012 yang lalu sirine telah dibunyikan menandai dimulainya aktifitas perayaan Milad UII. Serangkaian kegiatan akan dilaksanakan untuk merayakan Milad UII. Tidak ada salahnya merayakan milad dengan kegiatan-kegiatan pertandingan dan hiburan bila ini bagian dari upaya membangun budaya organisasi baru, menghilangkan sekat-sekat antargenerasi dan antar pemimpin dan yang dipimpin, membangun sportivitas, membangun budaya kompetisi dan seterusnya. Demikian pula, tidak ada larangan untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serius berkarakter ilmiah untuk mempromosikan hasil karya para civitas academica yang membanggakan. Semua kegiatan itu adalah bagian dari rasa syukur atas pencapaian yang telah diraih. Namun yang perlu diingat dan selalu diingat, janganlah aktifitas-aktifitas itu hanya serangkaian “rutinitas perayaan Milad”, seakan kalau Milad ya rutin menyelenggarakan aktifitas-aktifitas itu, akibatnya aktifitas-aktifitas yang sangat baik itu menjadi kehilangan ruh, kehilangan makna, efeknya terasa hambar.

Refleksi yang perlu kita kemukakan cukup banyak. Misalnya, sebagai dosen atau tenaga kependidikan, kita dapat bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita bekerja optimal untuk UII. Selama ini lebih banyak menuntut atau memberi pada UII?. Sebagai dosen, sudahkah kita memberikan yang terbaik dan termanfaat untuk  mahasiswa dan UII, atau baru asal ngajar? Sebagai tenaga kependidikan, sudahkah kita memberikan service terbaik untuk semua stakeholders, atau masih asal melayani? Hingga kini, apa yang telah kita berikan untuk UII? Apakah kita bagian dari problem atau solusi? Kalau berdasar hukum pareto atau hukum 20 : 80, kita termasuk yang golongan 20 atau 80? Bagaimana bisa menjadi golongan 20? Apakah kita termasuk yang rajin atau yang malas bekerja untuk UII? Dan masih banyak lagi.

Ada sebuah kisah menarik tentang malas dan nasib. Alkisah, suatu ketika seekor katak yang tinggal di tengah sawah mengunjungi teman lamanya yang memilih tinggal di pinggir jalan. Mengawali obrolannya, sang katak yang tinggal di tengah sawah berkata: “Wahai temanku, tempatmu ini terlalu berbahaya. Apakah kamu tidak khawatir terlindas kendaraan manusia yang lalu lalang? Ayo tinggallah denganku! Temannya menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah”. Beberapa hari kemudian, ketika katak “sawah” bersilaturahmi ke “katak pinggir jalan”, ia menemukan temannya sudah mati dilindas mobil yang lewat. Mari kita merenung, mengeksplorasi kisah tersebut. Jika anda setuju, salah satu hasil renungannya adalah ternyata untuk menggenggam nasib baik kita sendiri, kuncinya adalah “mau berubah” dan “menghindari kemalasan”. Dengan kata lain: kemauan untuk terus berubah menjadi lebih baik dan menghindari malas adalah kunci untuk menjadikan kebaikan nasib UII dan nasib semua civitas akademikanya. Semoga Allah memanjangkan umur UII dan selalu melimpahkan barakah pada setiap detik umurnya. Dirgahayu (panjang umur) UII.

Pemred UIINews Nur Kholis

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*