Apr 17 2012

Belajar Konsistensi pada Air

Published by at 9:08 am under Refleksi

Tradisi peringatan Milad Universitas Islam Indonesia ke-69 yang telah dibuka oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, diawali sarasehan bersama dengan keluarga pendiri, mantan pimpinan, alumni, pensiunan dan pimpinan di Auditorium Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII diharapkan tidak hanya menjadi sebuah rutinitas yang sarat dengan muatan seremonial. Akan tetapi yang paling penting adalah, bagaimana menjadikan momentum Milad sebagai sarana untuk melakukan kilas balik, perenungan, sekaligus introspeksi serta evaluasi atas konsistensi untuk senantiasa mengasah kepekaan nurani, terhadap berbagai bentuk problematika sosial yang terjadi di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Alangkah baiknya kita merefleksikan kembali konsistensi UII dengan belajar pada sifat-sifat air. Barangkali sebagian di antara kita juga sudah pernah merenungkan tentang bagaimana sifat-sifat air dan apa yang bisa kita ambil pelajaran dari air.

Apabila kita cermati, pelajaran utama dari air adalah pelajaran tentang kebermanfaatan. Semua kita tahu bahwa air adalah salah satu sumber utama kehidupan kita, setelah udara. Airlah yang membuat kehidupan di jagad raya ini bisa terus bertahan. Tanaman akan cepat layu dan kemudian mati jika tidak diberi asupan air dalam waktu tertentu. Binatang juga akan mati kehausan jika tidak meminum air. Tidak terkecuali manusia. Pendeknya, kehidupan ini membutuhkan keberadaan air. Ketiadaan air sama dengan ketiadaan kehidupan.

Dengan demikian, sebagai manusia, mestinya sifat kebermanfaatan air ini bisa menginspirasi kita agar juga bisa menjadi makluk yang bermanfaat untuk kehidupan di sekitar kita. Siapapun dan apapun “embel-embel kemanusiaan” kita, mestinya keberadaan kita dirasakan manfaatnya oleh lingkungan kita, tidak hanya manusia di sekililing kita, juga bagi hewan dan tumbuhan.

Karenanya sangat tepat ketika Rasulullah SAW mengatakan “Khairunnas anfa'uhum linnas”, sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak mamfaat bagi orang lain. Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini? Kalau dulu orang-orang di sekitar kita semua tersenyum gembira melihat dan menyambut kelahiran kita, maka nanti saatnya kita tersenyum meninggalkan dunia fana ini, ketika orang yang kita tinggalkan menangisi kepergian kita. Dan itu hanya mungkin terjadi ketika kehidupan kita dirasakan manfaatnya oleh orang lain, bukan sebaliknya.

Sifat dasar air yang lain adalah bahwa air biasanya akan berusaha mengalir ke tempat yang rendah untuk sampai ke tujuan akhirnya, bertemu muara. Air dimanapun akan berusaha besrsikap konsisten bergerak menuju kerendahan ini. Ia akan terus mengalir menuju muara, walau ada halangan merintang atau walau alirannya tidak selalu berjalan mulus.

Ketika jalannya terhalang oleh batu batu sungai, ia tidak mengalah, tapi ia juga tidak perlu mengalahkan batu itu. Ia lewat di sampingnya. Ketika dibendung oleh manusia dan tak dapat lagi mengalir, ia tidak mengalah. Ia tidak perlu mengalahkan bendungan itu, tapi ia meresap menjadi mata air di tempat yang lain atau menjadi uap air lalu menjadi hujan di tempat yang lain dan menjadi mata air di tempat yang lain. Yang pasti, ia tetap pada tujuannya yaitu laut, tanpa mengalahkan batu batu sungai, bendungan, dan lain-lain.  Tidak pernah ia menyerah pada apa yang telah menjadi tujuannya yaitu laut. Semua itu dicapainya tanpa mengalah dan mengalahkan perintangnya.

Dengan demikian, dari sini kita belajar bagaimana pentingnya konsistensi usaha yang pantang menyerah untuk mencapai sebuah tujuan. Dalam hidup, tentu kita punya cita-cita dan impian. Namun, sunnatullah kehidupan adalah biasanya usaha untuk mencapai impian kita itu tidak selalu berjalan mulus. Biasanya ada saja kendala yang menghalanginya. Dengan belajar kepada air, semestinya kita juga tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Kita boleh saja berhenti sejenak untuk mengumpulkan energi atau memikirkan strategi baru. Dan kemudian terus mengayunkan langkah menggapai impian-impian kita. Barangkali ada di antara kita yang pernah bertemu lempengan batu yang berlubang atau cekung. Setelah diperhatikan, ternyata lekung di batu tersebut adalah akibat tetes air di atasnya. Kapan air yang sejatinya lembut itu bisa melubangi atau bahkan memecahkan batu yang keras? Yaitu saat air yang lembut itu terus menetes, dan menetes. Itulah konsistensi.

Kalau tadi kita bicara bahwa air itu adalah sumber kehidupan, namun di lain waktu air juga bisa menjadi sumber penyakit. Air bisa menjadi sumber kehidupan yang baik, jika dia terus mengalir. Air mengalir itulah air yang sehat, suci dan mensucikan. Namun, jika air benar-benar berhenti total, tergenang, dan tidak lagi bergerak, maka saat itulah air berpotensi menjadi sumber penyakit. Tempat bersarangnya bintik-bintik nyamuk, dan untuk kemudian bisa membahayakan kehidupan di sekitarnya. Nah, jika kita ingin menjadi sumber kehidupan yang baik di sekitar kita, jangan pernah berhenti untuk bekerja dan beramal untuk kebaikan, apapun bentuknya. Ketika kita memiliki kelebihan rezeki maka alirkanlah kepada saudara kita kaum dhuafa dan fakir miskin, bagaikan aliran air tidak pernah berhenti mengalir ke tempat yang lebih rendah, maka rezeki kita akan lebih barakah. Dengan amal yang terus menerus seperti inilah, eksistensi kita akan membawa manfaat bagi sekitar kita. Sebaliknya, ketika kita berhenti berbuat baik (baca: amal sholeh), maka hati-hatilah bahwa diamnya kita bisa saja menjadi awal keburukan bagi diri kita, dan kemudian bisa berdampak pada dunia di sekitar kita.

Sungguh, seringkali dalam hidup ini kita harus memilih antara dua pilihan; bergerak bersama kebaikan, atau berhenti dan kemudian menjadi penyakit untuk kehidupan. Karenanya, pilihlah menjadi air yang terus mengalir sampai ke muara, jangan menjadi air tergenang yang menjadi sarang penyakit. Wallahu a'lam bishawab

UIINews by Pemimpin Umum UIINews: Bagya Agung Prabowo

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*