Mar 21 2012

Allah Akbar

Published by at 12:16 pm under Perlu Diketahui

Al-Quran Versi Cetak Terbesar di Dunia ada di Kazan Tartastan

Al-Quran di Masjid Qolsharif Kazan, Republik Tartastan telah mendapat sertifikat Guinness World Records sebagai Al-Quran versi cetak terbesar di dunia, kata anggota majelis negara Tatarstan Mintimer Shaimiyev, Jumat.

Edisi ini berukuran 150x200 cm, memiliki 632 halaman dan beratnya 800 kilogram. Al-Quran tersebut dicetak di atas kertas Skotlandia. Penutupnya terbuat dari perunggu dan batu semi mulia dan bertatahkan phyanite, giok, daun emas dan perak.

Edisi ini berukuran 150x200 cm, memiliki 632 halaman dengan berat 800 kilogram.

"Kami telah menerima sertifikat Guinness World Record yang mengatakan bahwa Al-Quran kami adalah versi cetak terbesar di dunia," kata Shaimiyev.

Kitab suci Al-Quran tersebut ditempatkan di Masjid Qolsharif November lalu.

Pada bulan Juni tahun ini, Al-Quran tersebut akan dipindahkan ke Bolgary di Tatarstan dan akan disimpan dalam sebuah bangunan yang didirikan untuk memperingati penggunaan Islam sebagai agama negara dari Volga Bulgaria pada tahun 922. (an/ria/http://www.voa-islam.com/news/world-world/2012/02/19/17806/alquran-versi-cetak-terbesar-di-dunia-ada-kazan-tartastan/)

---

Injil bertinta emas yang menyatakan ''Yesus yakin kedatangan Nabi Muhammad (SAW)'' ditemukan di Turki

Sebuah Injil rahasia yang berisi pernyataan, Yesus (Isa 'alaihi salam) yakin tentang kedatangan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam (SAW) ke dunia ditemukan di Turki. Penemuan ini telah menjadi “perhatian serius” Vatikan.

Paus Benedict XVI mengatakan ingin “melihat” Kitab yang telah berusia sekitar 1.500 tahun itu, yang banyak orang mengklaim bahwa itu adalah Injil Barnabas, yang telah disembunyikan oleh negara Turki selama 12 tahun, seperti yang dilaporkan Daily Mail.

Kitab tersebut adalah salinan Injil yang ditulis dengan tinta emas, ditulis dalam bahasa yang diyakini bahasa asli Yesus, bahasa Aram (bahasa sekitar 3.000 tahun lalu yang mirip dengan bahasa Arab dan bahasa Ibrani –red), yang dilaporkan berisi ajaran-ajaran awal Yesus yang juga berisikan tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Injil berbahasa Aram tersebut  teksnya ditulis pada kulit hewan, disampul oleh kulit hewan, ditemukan oleh polisi yang sedang melakukan operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000.

Kitab Injil ini dijaga ketat hingga tahun 2010, ketika akhirnya diserahkan ke Musium Etnografi, dan akan segera ditampilkan kembali ke hadapan publik setelah sedikit perbaikan keamanan.

Satu lembar halaman fotocopy dari Injil tersebut dihargai hingga 1,5 juta poundsterling.

Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugul Gunay mengatakan bahwa Kitab itu bisa jadi adalah versi asli dari Injil, yang disembunyikan oleh Gerja-gereja Kristen karena kuatnya dalil yang berhubungan dengan Islam mengenai Yesus (Nabi Isa ‘alaihi salam).

Gunay juga mengatakan bahwa Vatikan telah membuat sebuah permohonan khusus untuk “melihat” naskah ayat dari Injil rahasia itu – sebuah ayat yang “kontroversial”, yang merupakan penguat dalil yang sejalan dengan keyakinan Islam, yang menyatakan dengan jelas dan terang memperlakukan YESUS SEBAGAI MANUSIA BUKAN TUHAN, yang tentu saja menolak keyakinan Trinitas dan kisah palsu penyaliban Yesus dan naskah ayat dalam Injil tersebut juga menyatakan bahwa Yesus menyatakan kabar kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah versi Injil, Yesus dikatakan telah berkata kepada seorang pendeta: “Bagaimana Mesiah disebut? Muhamamad adalah nama yang diberkati”.

Namun penemuan injil kuno berbahasa Aram ini menimbulkan banyak kontroversi tentang keaslian keseluruhan isi Injil tersebut. Belum ada yang dapat memastikan keaslian keseluruhan dari isi Injil ini, apakah seluruhnya memuat apa yang diajarkan Nabi Isa 'alaihi salam, atau telah ada perubahan padanya.

Sementara itu, Profesor teologi Turki Ömer Faruk Harman mengatakan kepada Daily Mail, bahwa harus melakukan penelitian ilmiah untuk mengklarifikasi apakah itu ditulis oleh Barnabas sendiri atau pengikutnya. Allahu A'lam. (siraaj/arrahmah.com/http://www.voa-islam.com/lintasberita/arrahmah/2012/02/28/17953/injil-bertinta-emas-yang-menyatakan-yesus-yakin-kedatangan-nabi-muhammad-saw-ditemukan-di-turki/)

---

Lelucon Murtadin Fatimah-1: Wudhu & Bersuci Mengakibatkan Frustasi?

Kesaksian murtadin masih menjadi andalan misionaris Kristen untuk memurtadkan umat Islam. Baru-baru ini beredar mailis kesaksian seorang Kristen mantan muslimah yang mengaku bernama Fatimah, berasal dari negara Islam (Timur Tengah).

Dalam kesaksiannya, Fatimah mengaku memutuskan murtad menjadi Kristen setelah mempelajari buku-buku Islam terbitan dalam bahasa Inggris selama 9 tahun. Dari buku-buku itu ia merasa bahwa ibadah dalam Islam itu sangat ruwet. Berikut kesaksiannya:

“Saya mempunyai kerinduan untuk bersaksi kepada orang-orang bahwa saya telah meninggalkan Islam. Itulah sebabnya saya mencoba membagikan kesaksian saya melalui tulisan ini.

Saya tinggal di negara Islam. Lahir dan dikelilingi orang-orang Islam. Selama tiga puluh tahun saya hidup bahagia sebagai Muslim, dan menjalankan agama dengan sungguh-sungguh.Suatu hari saya mulai mempelajari agama Islam lebih dalam. Inilah awal yang mengubah iman Islam saya. Saya membutuhkan waktu sembilan tahun untuk menyadari bahwa agama Islam tidak mungkin berasal dari Allah.
Saya mulai membaca ulang Al-Quran dalam bahasa Arab dan Inggris, juga hadits dan tafsiran serta biografi Muhammad. Saya sungguh kecewa! Semakin saya membaca, semakin saya menjauh dari Islam. Saya pun berdoa dengan takwa. Berseru di atas sajadah, memohon agar Allah memberi petunjuk.

Ritual agama Islam yang ruwet. Beribadah tidak dapat menenangkan diri saya. Saya juga tidak dapat lagi menikmati Ramadhan. Pada hal umat Muslim percaya shalat dapat menenangkan jiwa dan mereka juga menikmati Ramadhan.

Ritualnya ruwet sekali, bahkan dapat membuat frustasi. Seperti, berwudhu akan dianggap batal bila kita buang angin. Sehingga harus diulang lagi. Buang angin saat shalat, maka wudhu dan shalatnya harus diulang dari awal. Seseorang yang sudah menikah, selesai bersetubuh harus mandi sesegera mungkin dengan ritual tersendiri. Jika tidak, dianggap tidak “bersih” untuk shalat berikutnya. Perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh menyentuh Al-Quran.”

Sayangnya, otentisitas kesaksian itu tidak detil sehingga tidak bisa dilacak kebenarannya. Penulis kesaksian hanya mengaku bernama Fatimah dan tinggal di negara Islam tanpa menyebutkan secara lengkap alamat maupun nama negaranya. Dengan anonim seperti ini, maka kesaksian itu patut diragukan kebenarannya. Kemungkinan besar, kesaksian itu hanyalah rekayasa para misionaris Kristen untuk mempengaruhi akidah kaum awam agar murtad.

Meski kesaksian itu tidak jelas, namun karena sudah menjelek-jelekkan Islam, maka edisi ini penulis mengupas seperlunya.

Dalam kesaksian itu Fatimah mengakui bahwa selama tiga puluh tahun taat menjadi seorang Muslimah, ia hidup dalam damai sejahtera. Fatimah sendiri berterus terang bahwa saat itu ia menjalankan agama dengan sungguh-sungguh.

Kemudian Fatimah merasa ragu-ragu terhadap Islam, setelah ia mempelajari buku-buku bahasa Inggris yang mengupas tentang Islam. Meski Fatimah tidak menjelaskan apa saja judul buku yang dibacanya, tapi kita bisa memastikan bahwa buku-buku yang ditelaah adalah buku-buku orientalis atau misionaris salibis yang memojokkan Islam. Terbukti, setelah membaca buku-buku itu Fatimah menggerutu: “Saya sungguh kecewa! Semakin saya membaca, semakin saya menjauh dari Islam.”

Setelah membaca buku-buku non Islam itu, pemikiran Fatimah teracuni misi pemurtadan, sehingga beranggapan negatif terhadap ibadah Islam. Ia pun menuding kaifiyat ibadah Islam sangat ruwet, tidak menenangkan jiwa dan membuat frustasi.

Beberapa aturan ibadah Islam yang dianggap ruwet dan membuat frustasi adalah syariat thaharah (bersuci), antara lain batalnya wudhu bagi orang yang buang angin (kentut) dan wajibnya mandi janabat (mandi besar) bagi pasangan suami istri setelah bercampur (jima’).

Pada hakikatnya tak ada sedikit pun kesulitan dalam menjalankan ibadah Islam, termasuk thaharah. Semua syariat itu diturunkan Allah untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk memberi beban yang memberatkan.

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (Qs Al-Ma’idah 6).

Thaharah (bersuci) diwajibkan kepada umat Islam sebelum beribadah menghadap Allah Yang Maha Suci (Al-Quddus). Sebagai hamba Allah yang bertakwa, bersuci sebelum menghadap-Nya merupakan kewajiban. Karena Allah Yang Maha Suci itu sangat mencintai hamba-Nya yang mensucikan diri.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (Qs Al-Baqarah 222).

...Jika Fatimah merasa ruwet dan frustasi mengamalkan syariat thaharah. Ini bukti bahwa dia adalah wanita jorok dan primitif yang tidak suka kebersihan...

Bersuci adalah persiapan menghadap Allah, karena dalam keadaan suci, maka ibadah kepada Allah dapat dilakukan dengan khusyuk dan sempurna.

Dalam kitab Hikmatut-Tasyri’ Wafalsafatuh, dijelaskan bahwa dengan bersuci secara kotoran dan najis fisik, umat Islam diharapkan bisa menyelami hikmah dan falsafah bersuci, yaitu menyucikan diri dari noda perbuatan dosa, membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, dan membersihkan jiwa dari syirik.

Salah satu hikmah mengapa buang angin membatalkan wudhu, karena angin yang keluar dari lubang belakang (anus/dubur) adalah biangnya penyakit. Di antara empat angin yang keluar dari tubuh manusia, hanya angin yang keluar dari dubur saja yang membatalkan wudhu. Sedangkan angin yang keluar dari  qubul, sendawa dan bersin tidak membatalkan wudhu karena tidak masuk dalam kategori biang penyakit.

Secara teologis, syariat thaharah itu sangat indah dan sesuai dengan ajaran para nabi terdahulu. Seharusnya kita tidak merasa asing dengan thaharah, kitab Imamat Musa dalam Bibel sendiri menekankan pentingnya kedudusan/kesucian, sehingga menetapkan syariat halal-haram dan suci-najis (Imamat 10:10). Karenanya, Musa dalam Bibel mengajarkan berwudhu sebelum masuk rumah ibadah (Keluaran 40:31-32), melepas kasut di tanah kudus (Keluaran 3:5, Yosua 5:15), dll.

Jika Fatimah merasa ruwet dan frustasi mengamalkan syariat thaharah, maka bisa dipastikan bahwa murtadin Kristen ini adalah wanita yang jorok dan primitif yang tidak suka dengan kebersihan.

Buktinya, Fatimah menganggap ruwet terhadap kewajiban bersuci bagi pasangan suami istri usai jima,’ dan tidak sah shalatnya sebelum mandi besar. Apakah Fatimah ingin agar bebas beribadah kepada Tuhan dalam kondisi tidak suci usai bercampur suami istri? Apakah ini alasan Fatimah pindah ke Kristen, supaya bebas ibadah dalam kondisi tak suci? Astagfirullah, betapa joroknya murtadin Kristen ini!

...Kesucian jasmani dan rohani sangat penting bagi manusia. Tanpa itu, tak ada beda antara manusia dengan binatang...

Kesucian sangat penting bagi manusia, baik suci jasmani maupun rohani. Tanpa itu, tak ada bedanya antara manusia dengan binatang.

Wanita Mana Berani Mengamalkan Syariat Bibel?

Murtadin Fatimah menganggap aturan Islam yang melarang wanita haid (menstruasi) memegang kitab suci Al-Qur'an, sebagai aturan yang ruwet dan membuat frustasi.

Hanya orang tak waras saja yang frustasi dengan syariat bersuci. Namanya saja kitab suci, maka logika sederhana manapun pasti bisa menerima bila orang yang memegangnya harus orang yang tidak najis (hadas).

Wajar jika Fatimah murtad masuk Kristen supaya bebas memegang dan membaca Bibel dalam keadaan junub maupun menstruasi. Sebab hanya kitab yang benar-benar Kitab Suci saja yang layak dibaca oleh orang-orang yang suci dari najis.

Bila mengkaji Islam secara objektif, sesungguhnya syariat itu sangat mudah dan relevan. Wanita menstruasi tidak menajiskan, tapi hanya najis dan dilarang melakukan shalat, shaum, thawaf, menyentuh dan membawa mushaf, masuk masjid dan bersetubuh (coitus). Wanita yang suci dari haid pun cukup bersuci dengan mandi janabah (mandi besar).

Mari kita lakukan studi komparasi antara syariat thaharah menurut Islam dengan syariat Bibel.

Syariat haid dalam Bibel mengajarkan secara ekstrem bahwa wanita menstruasi itu najis dan menajiskan selama tujuh hari (Imamat 15:19-30). Setiap orang yang kena darah menstruasi menjadi najis sampai matahari terbenam (ayat 19); semua benda yang ditiduri dan diduduki menjadi najis (ayat 20); orang yang kena tempat tidur atau tempat duduk wanita menstruasi menjadi najis sampai matahari terbenam dan harus mencuci pakaian dan tubuhnya dengan air (ayat 21-22); orang yang menyentuh benda yang ada di tempat tidur wanita haid menjadi najis sampai matahari terbenam (ayat 23); laki-laki yang tidur bersama wanita haid menjadi najis selama 7 hari (ayat 24); setelah suci dari haid, maka pada hari kedelapan harus mempersembahkan 2 ekor burung tekukur atau 2 ekor anak burung merpati sebagai korban bakaran (ayat 29-30).

...Pada zaman modern sekarang ini, siapa yang mampu mengamalkan syariat haid dalam Bibel?...

Dalam Bibel Perjanjian Baru, Yesus tidak berkomentar apapun tentang wanita menstruasi. Secara umum disebutkan dalam Matius 5:17-18 bahwa dia tidak merombak hukum Taurat, tapi menggenapinya.

Pada zaman modern sekarang ini, siapa yang mampu mengamalkan syariat haid dalam Bibel? Adakah orang Yahudi maupun Kristen yang konsekuen mempraktikkan ayat Bibel tersebut? Dengan syariat yang ekstrem tersebut, akankah Fatimah merasa ruwet dan frustasi lalu pindah agama lagi? [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara Islam]

Sumber: http://www.voa-islam.com/counter/christology/2012/03/11/18105/lelucon-murtadin-fatimah1-wudhu-bersuci-mengakibatkan-frustasi/

---

Lelucon Murtadin Fatimah-2: Ibadah Haji adalah Ritual Pembunuhan?

Untuk meyakinkan pembaca bahwa murtad dari Islam ke Kristen adalah keputusan terbaik, Penginjil Fatimah menghujat ibadah haji dan shalat dalam rukun Islam.

Murtadin yang mengaku mantan muslimah Timur Tengah ini menuduh haji sebagai ibadah yang salah karena Tuhan melakukan pembunuhan terhadap umat yang menyembah-Nya dalam ibadah tersebut. Berikut kutipannya:

“Saya terus berdoa, berpuasa dan berzakat. Tapi satu hal yang tidak ingin saya lakukan adalah pergi naik Haji.... Ketakutan untuk naik haji berawal ketika seorang kerabat saya ikut terbakar pada kejadian kebakaran tahun 1977. Dua tahun kemudian dia meninggal karena komplikasi. Tahun 2003 teman saya meninggal karena terinjak-injak ketika naik Haji. Kecelakaan memang bisa terjadi di mana dan kapan saja. Tapi ketika naik Haji, kita berangkat untuk beribadah kepada Allah.  Kita berharap pengalaman tersebut, atau paling tidak ibadah kita, akan diberkati, bukan terpanggang atau terinjak sampai mati.

Mengapa Allah membunuh orang yang menyembah-Nya? Selama bertahun-tahun, ada satu pemikiran yang terus mengganggu saya: Mengapa Allah membunuh orang-orang yang menyembah-Nya? Mengapa Ia begitu kejam jika mereka melakukan hal yang benar? Bukankah ini merupakan pertanda ada yang tidak benar tentang ibadah naik Haji?”

Fakta adanya beberapa jamaah haji yang wafat di tanah suci, dianalisa secara nakal oleh Penginjil Fatimah bahwa Tuhan membunuh orang yang menyembah-Nya. Lalu disimpulkan secara miring bahwa ibadah haji ini tidak benar.

Bila konsisten dengan logika berpikirnya, seharusnya Penginjil Fatimah juga menggugat fakta-fakta tragedi kejahatan seksual di gereja. Puluhan ribu jemaat Katolik menjadi korban pelecehan seksual dan pedofilia oleh para pastor, uskup dan biarawan di Irlandia, Jerman, Austria, Belanda, Denmark, Swiss, Amerika Serikat, dll.

...Dengan logika yang sama, seharusnya Penginjil Fatimah membuat kesimpulan: “Mengapa Tuhan melakukan pelecehan seksual terhadap orang-orang yang menyembah-Nya di gereja Katolik?...

Dengan logika yang sama nakalnya, seharusnya Penginjil Fatimah membuat kesimpulan: “Mengapa Tuhan melakukan pelecehan seksual terhadap orang-orang yang menyembah-Nya di gereja Katolik? Mengapa Ia begitu kejam jika mereka melakukan hal yang benar? Bukankah ini merupakan pertanda ada yang tidak benar tentang ibadah naik Haji?”

Itulah logika berpikir obat nyamuk ala misionaris Kristen yang sangat bernafsu melecehkan Islam. Logikanya berputar-putar tanpa ada pedoman yang pasti. Seperti obat nyamuk, pada ujungnya akan habis terbakar tinggal sisa-sisa abu belaka.

Mencari kebenaran tidak bisa memakai logika obat nyamuk. Mencari kebenaran harus didasarkan pada dalil-dalil yang jelas, tidak berdasarkan perasaan, emosional, perkiraan maupun prasangka.

Rumusan berpikir benar, bila benar katakan benar, dan sebaliknya bila salah katakan salah. Pedoman salah dan benar suatu agama adalah kitab suci. Bukan menghakimi segala hal dengan pertanyaan dan prasangka mengambang.

Sangat berbahaya bila prasangka dan logika obat nyamuk dijadikan dasar menilai suatu ajaran, karena sangat berpotensi membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Hujatan penginjil Fatimah sebetulnya terbantah oleh pernyataannya sendiri. Dia sendiri mengatakan bahwa dalam ibadah haji itu ada jamaah yang “terbakar” dan “terinjak-injak.” Dua kata ini adalah kata kerja yang tidak disengaja.

Bila ada jamaah yang meninggal karena terinjak atau terbakar karena tidak disengaja dan kesalahan teknis penyelenggara haji, mengapa Allah yang disalahkan? Lalu ibadah yang diperintahkan-Nya disimpulkan tidak benar?

Penginjil Fatimah boleh mempersalahkan dan menuduh Allah membunuh umat dalam ibadah haji, bila dalam nas-nas suci terdapat perintah baik implisit maupun eksplisit.

Padahal semua perintah haji dalam Al-Qur'an maupun hadits tidak satu kata pun yang menyatakan adanya misi pembunuhan itu. Perhatikan salah satu perintah haji berikut:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (Qs Ali Imran 97).

Tak perlu banyak penjelasan, jelaslah bahwa tuduhan penginjil Fatimah terhadap ibadah haji adalah omong kosong dan mengada-ada berdasarkan khayalannya sendiri.

Memang cara pandang Islam yang haq dengan logika batil orang kafir itu jauh berbeda, misalnya dalam menyikapi musibah.

Memandang adanya korban wafat ketika menukaikan ibadah haji, penginjil Kristen langsung menyalahkan Tuhan sebagai kambing hitam pelaku pembunuhan.

Sebaliknya, umat Islam menyikapi musibah dengan iman dan sabar sepenuh pengharapan, sesuai ajaran Rasulullah SAW:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan baik baginya dan kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar, dan itulah yang terbaik untuknya” (HR Imam Muslim).

Berdasarkan petunjuk yang mulia ini, maka setiap mukmin senantiasa bersyukur saat mendapat kesenangan dan selalu bersabar saat mendapat musibah. Musibah adalah takdir dan ujian hidup untuk peningkatan iman menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi, maka ia tidak akan menggerutu dan berputus asa (Qs Al-Baqarah 155).

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Qs Az-Zumar 10).

Walhasil, cara pandang Penginjil Fatimah soal ibadah dan ketuhanan itu sangat aneh dan menggelikan. Melihat fenomena meninggalnya umat Islam ketika sedang menunaikan ibadah, buru-buru ia mengambinghitamkan Tuhan sebagai pembunuh. Padahal logika sederhana dan waras tidak ada yang menyimpulkan demikian.

Di sisi lain, Penginjil Fatimah bisa menerima bulat-bulat doktrin Kristen bahwa Tuhan berubah wujud (menjelma/inkarnasi) menjadi manusia Yesus untuk disiksa, diludahi, disesah, dipaku, diarak hanya dengan secarik kain, lalu dibunuh di tiang salib oleh manusia yang notabene adalah ciptaan Tuhan sendiri.

Untuk mengampuni dosa warisan seorang Adam, Tuhan harus repot-repot menjelma jadi manusia untuk dibunuh secara tragis? Padahal nalar sehat meyakini Tuhan Maha Pengampun yang setiap saat mengampuni hamba-Nya yang bertaubat. [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara-Islam]

Sumber:

---

Lelucon Murtadin Fatimah-3: Mengaku Mantan Islam Tapi Tak Kenal Azan

Dalam kesaksiannya, penginjil Fatimah juga menuangkan alasan lain meninggalkan Islam. Ia mengaku meninggalkan Islam karena tidak bisa menerima doa-doa dalam ibadah shalat. Fatimah menulis:

“Saya menyembah satu Allah lima kali sehari dengan ritual yang melelahkan. Lima kali sehari azan menegaskan bahwa Muhammad adalah nabi Allah yang harus didoakan berkat baginya. Berdoa agar diberikan tempat terbaik di surga serta kedudukan yang lebih tinggi dari siapa pun.  Dengan demikian Muhammad akan bisa bersyafaat seperti yang dijanjikan Allah!

Dari kesaksian ini jelaslah bahwa Fatimah tidak pernah menganut agama Islam, melainkan orang yang mengaku mantan Islam untuk komoditi supaya diundang ceramah kesaksian di gereja-gereja.

Terbukti, ia tidak tahu bacaan azan, sehingga menuduh bacaan azan dikumandangkan untuk mendoakan Nabi Muhammad supaya masuk surga. Siapapun, orang Islam pasti mengenal azan, baik bacaannya maupun maknanya. Dalam bacaan azan, tak ada kalimat yang mendoakan Nabi Muhammad supaya masuk surga. Perhatikan bacaan azan berikut:

“Allahu Akbar Allahu Akbar. Asyhadu alla illahaillallah. Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Haiya ‘alas sholah. Haiya ‘alal falah. Allahu Akbar Allahu Akbar. La ilaha illallah.”

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Marilah shalat. Marilah menuju kebahagiaan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan melainkan Allah.”

Dari bacaan azan tersebut, kalimat mana yang bisa diartikan mendoakan Nabi Muhammad supaya masuk surga? Sama sekali tidak ada!

Dusta Penginjil Fatimah untuk misi pemurtadan dan kristenisasi ini sangat memalukan. Dengan alasan untuk memashurkan nama Tuhan, ia bersaksi untuk menguatkan iman kristiani sembari menginjak agama lain. Kesaksian dusta seperti ini tidak akan memuliakan Tuhan, justru dikutuk Tuhan. Bibel sendiri mengutuk segala bentuk dusta dan tipu muslihat dengan alasan apapun. Bahkan Tuhan tidak marah besar bila nama-Nya diperalat untuk misi  dusta dan tipu-menipu:

“Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allah-mu; Akulah Tuhan” (Imamat 19:12).

“Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya” (Amsal 12:22).

Jadi, menurut Bibel sendiri, dusta di bibir Penginjil Fatimah adalah kekejian bagi Tuhan!! [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara-Islam]

Sumber: http://www.voa-islam.com/counter/christology/2012/03/19/18249/lelucon-murtadin-fatimah3-mengaku-mantan-islam-tapi-tak-kenal-azan/

---

Jawaban untuk Misionaris Kristen (1): Ayat Al-Qur'an Dikorup 127 Ayat?

SALAH satu rujukan misionaris untuk menyatakan Al-Qur'an palsu adalah buku The Origins of the Koran, Classic Essays on Islam’s Holy Book karya Ibn Warraq (nama samaran). Setelah keluar dari Islam, murtadin asal Pakistan yang pernah menjadi kurir Salman Rushdie ini mendirikan Institute for the Secularisation of Islamic Society (ISIS), yang memfokuskan diri pada kritik Al-Qur'an.

Di antara amunisi Ibn Warraq untuk menggugurkan otentisitas Al-Qur'an adalah tudingan bahwa surat Al-Ahzab yang dimiliki umat Islam ini sudah tidak asli, karena menyusut 127 ayat dari Al-Qur'an asli yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut kutipannya:

“Variant Versions: Verses Missing, Verses Added. Almost without exceptions Muslims consider that the Quran we now possess goes back in its text and in the number and order of the chapters to the work of the commission that ‘Uthman appointed. Muslim orthodoxy holds further that ‘Uthman’s Quran contains all of the revelation delivered to the community faithfully preserved without change or variation of any kind and that the acceptance of the ‘Uthmanic Quran was all but universal from the day of its distribution. The orthodox position is motivated by dogmatic factors; it cannot be supported by the historical evidence. –Charles Adams–

While modern Muslims may be committed to an impossibly conservative position, Muslim scholars of the early years of Islam were far more flexible, realizing that parts of the Koran were lost, perverted, and that there were many thousand variants which made it impossible to talk of the Koran. For example, As-Suyuti (died 1505), one of the most famous and revered of the commentators of the Koran, quotes Ibn ‘Umar al Khattab as saying: "Let no one of you say that he has acquired the entire Quran, for how does he know that it is all? Much of the Quran has been lost, thus let him say, ‘I have acquired of it what is available’" (As-Suyuti, Itqan, part 3, page 72). Aisha, the favorite wife of the Prophet, says, also according to a tradition recounted by as-Suyuti, "During the time of the Prophet, the chapter of the Parties used to be two hundred verses when read. When ‘Uthman edited the copies of the Quran, only the current (verses) were recorded" (73)” (The Origins of the Koran, Classic Essays on Islam’s Holy Book, editor Ibn Warraq, p. 5-6)

[Bermacam Versi: Ayat yang Hilang dan Ayat yang Ditambahkan. Tanpa kecuali, setiap orang Islam mengatakan bahwa Quran yang kita miliki sekarang sama persis baik dalam teks, nomor dan urutan bab dengan Al-Qur'an yang disusun oleh komisi yang ditunjuk khalifah Usman. Malah Muslim konservatif mengatakan bahwa Qurannya Usman berisi semua wahyu yang disampaikan pada masyarakat dan dijaga dengan teliti tanpa mengalami satu perubahan atau variasi macam apapun. Dikatakan pula bahwa Qurannya Usman memang universal dari hari pertama disebarkan. Tapi sikap ortodoks ini dimotivasi oleh faktor dogma yang tidak didukung bukti sejarah. (Charles Adams).

Sementara kaum cendekiawan Muslim dari tahun-tahun awal Islam jauh lebih fleksibel daripada Muslim sekarang. Mereka menyadari bahwa ada bagian-bagian Al-Qur'an yang hilang, menyimpang, dan ada banyak ribu variasi. Misalnya, As-Suyuti (wafat 1505), salah seorang pakar Al-Qur'an yang paling terkenal dan dihormati, mengutip pernyataan Ibnu Umar Al-Khatthab: "Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan bahwa ia telah mendapatkan seluruh Quran, karena bagaimana dia tahu bahwa itu memang keseluruhannya? Banyak dari Quran telah hilang. Oleh karena itu kalian harus mengatakan, "Aku telah mendapatkan bagian Al-Qur'an yang ada" (As-Suyuti, Itqan, jilid III, halaman 72). As-Suyuti juga menceritakan, Aisyah istri tersayang nabi mengatakan, “Pada masa Nabi, surat Al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Tapi setelah Usman melakukan kodifikasi, jumlahnya menyusut menjadi seperti sekarang (yakni 73 ayat)”]

Tuduhan bahwa Al-Qur'an kehilangan 127 ayat itu, sampai sekarang menjadi rujukan para misionaris Kristen maupun untuk memurtadkan umat Islam. Misionaris lain yang mengungkapkan tudingan itu adalah Robert Morey dalam bukunya The Islamic Invasion.

Secara sederhana, validitas khabar yang dikutip Ibn Warraq itu patut dipertanyakan, karena tidak mencamtumkan sanad yang shahih sampai kepada shahabat Aisyah RA.

Secara ilmiah, ulama hadits Syaikh Muhammad Thahir Ibnu 'Asyur menyimpulkan bahwa riwayat tersebut tidak bisa dipercaya. Penulis kitab tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir –yang lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Asyur– ini menyebut riwayat yang men­­catut nama Aisyah Ummul Mukminin itu sebagai “sanad yang paling lemah” (Tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir X/246).

Ulama lainnya, Syaikh Muhammad Izzah Daruzah yang telah melakukan penelitian terhadap khabar itu, menyebutnya sebagai khabar yang tidak dipercaya (dhaif) dan tidak terdapat dalam kitab hadits yang shahih. Maka tawaquf (abstain) dari khabar tersebut lebih afdhal.

Selain itu, dalam mushaf Utsman RA dinukil dari mushaf yang telah disusun pada masa Abu Bakar RA, tidak mungkin terjadi penghapusan satu ayat pun, apalagi sampai ratusan ayat seperti yang dituduhkan itu. Apalagi Aisyah RA adalah wanita yang kuat hafalan baik terhadap ayat-ayat Al-Qur'an maupun hadits nabi. Sehingga sangat tidak masuk akal jika Aisyah hanya berdiam diri saat menjumpai ada ratusan ayat yang dihapus. Kalaupun pengurangan ayat itu terjadi tidak masuk akal pula kalau dirinya tidak membantah” (At-tafsir Al-Hadits; Tafsir Suwar Murattabah Hasba Nuzul, VIII/238-239).

Secara logika, penyusutan ayat dari 200 menjadi 73, artinya hilang 127 ayat. Ini bukan suatu jumlah yang sedikit. Seandainya Utsman RA mengorupsi 127 ayat Al-Qur’an pada proses pem­bukuan, bisa dipastikan umat Islam akan heboh pada waktu itu, bahkan bisa terjadi konflik berdarah yang akan menggagalkan proses pembukuan Al-Qur’an. Jika berani mengo­rupsi ayat Al-Qur’an meskipun hanya satu ayat, pastilah Utsman akan menuai komplain dari para shahabat lainnya, karena jumlah shaha­bat yang hafal Al-Qur’an sangat banyak.

Riwayat dhaif tentang komplain Aisyah terhadap mushaf Al-Qur’an, semakin terbantah dengan adanya ijma’ (consensus) umat Islam terhadap mushaf Al-Qur’an pada waktu itu. Setelah mushaf Al-Qur’an pada masa Utsman selesai dibukukan, naskah tersebut diverifikasi dan dicek dengan mushaf dari Hafshah, lalu dibacakan kepada para shahabat di depan Utsman. Ternyata tak satupun shahabat penghafal Al-Qur'an yang mem­protes (komplain).

Jelaslah bahwa tak satu ayat pun hilang dari Al-Qur'an. Sebaliknya, jika diteliti secara objektif, justru Bibel kehilangan banyak kisah tentang masa remaja Yesus.

Bibel hanya mencatat masa kecil Yesus dari lahir hingga masa remaja berumur 12 tahun dalam Injil Lukas 1:1 sampai dengan 2:42. Selanjutnya Bibel tidak menceritakan masa remaja Yesus, tiba-tiba Injil Lukas 3:23 menceritakan masa dewasa Yesus pada usia 30 tahun. Lalu di manakah cerita perjalanan hidup Yesus dari usia 12 hingga 30 tahun? Raib!

Dengan tidak adanya kisah perjalanan hidup Yesus selama 18 tahun, berarti umat kristiani kehilangan banyak ayat, karena mereka mengimani Yesus sebagai Firman Tuhan yang hidup. Bersambung [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara-Islam]

Sumber: http://www.voa-islam.com/counter/christology/2012/02/26/17914/jawaban-untuk-misionaris-kristen-1-ayat-alquran-dikorup-127/

---

Jawaban untuk Misionaris Kristen (2): Bibel Kehilangan 18.666 Ayat

Tuduhan tentang hilangnya 127 ayat Al-Qur'an itu terlalu naif, di samping jumlahnya terlalu kecil, argumennya pun sangat lemah berdasarkan khabar palsu.

Kalau mau berkaca, para misionaris itu seharusnya malu mengumbar tuduhan itu. Faktanya, justru Bibel dalam satu edisinya kehilangan ribuan ayat.

Dalam Alkitab terbitan Jerman “Die Gute Nachricht Altes und Neues Testa­ment” terbitan Deutsche Bibelstifung Stuttgart Jerman tahun 1978, sebanyak 18.666 ayat dari ratusan pasal yang diamputasi. Fakta hilang­nya belasan ribu ayat Alkitab ini cukup mence­ngang­kan, karena berarti hampir tiga kali lipat jumlah ayat kitab suci Al-Qur‘an.

Kejanggalan Alkitab Jerman ini sudah sangat me­nyengat sejak lembaran pertama, karena susunan bilangan pasalnya loncat-loncat tak karuan. Kitab Kejadian (Das Erste Buch Mose), terdapat 8 pasal yang tidak ter­cantum, antara lain: pasal 5, 10, 20, 23, pasal 26, 31, 34, dan 36.

Dari seluruh kitab Perjanjian Lama, yang paling banyak kehilangan ayat adalah kitab Mazmur (Das Buch Psalmen). Umumnya, kitab ini terdiri dari 150 pasal. Tetapi dalam Alkitab Jerman ini hanya terdapat 41 pasal saja. Sedangkan 109 pasal lain­nya tidak dimuat sama sekali. Di samping itu, beberapa bagian di antaranya kehila­ngan separo pasal. Jika dihitung, seluruh ayat yang hilang dari kitab Mazmur berjumlah 1.830 ayat. Beberapa ayat Mazmur yang hilang antara lain: pasal 52-70 (hlm 394) hilang 287 ayat; pasal 75-83 (hlm 400) hilang 194 ayat; pasal 119-120 (hlm 416) hilang 183 ayat, dsb.

Lima kitab dalam Bibel yang dianggap sebagai Kitab Taurat Musa, yaitu: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, dalam Alkitab Jerman ini, tidak memiliki kewiba­waan sama sekali. Ribuan ayat dipangkas, padahal dalam kitab-kitab ini, terutama kitab Imamat terdapat banyak ayat mengenai keima­nan, hukum halal-haram, dan syariat ibadah.

Kitab Bilangan (Das Vierte Buch Mose). Dari 36 pasal yang ada, kini hanya tersisa 10 pasal, setelah dipang­kas 26 pasal, antara lain: pasal 1-2 (88 ayat), pasal 4-5 (80 ayat), pasal 7-9 (138 ayat), pasal 11-12 (51 ayat), pasal 15-19 (158 ayat), dan pasal 25-36 (418 ayat). Pada bagian yang lain, kitab Bilangan dipangkas separo pasal, antara lain: pasal 3:1-4, pasal 6:9-21, pasal 10:1-32, pasal 13:9-16, pasal 20:14-21, pasal 21:1-3, pasal 21:10-20, pasal 23:1-40, dan pasal 24:20-24. Jumlah ayat dihilangkan dari kitab Bilangan adalah 1.057 ayat.

Kitab Imamat (Das Dritte Buch Mose) yang seyogianya terdiri dari 27 pasal (859 ayat), dalam Alkitab Jerman ini hanya tersisa 3 pasal saja, yaitu pasal 9, 16 dan 19, setelah diam­putasi 89 persen. Ayat-ayat yang dihilangkan dari kitab Imamat antara lain: pasal 1-8 (208 ayat), pasal 10-15 (224 ayat), pasal 17-18 (46 ayat), dan pasal 20-27 (286 ayat). Jika dijumlahkan, seluruh ayat yang dihilangkan dari kitab Imamat adalah 764 ayat yang tersebar dalam 24 pasal.

Kitab Ulangan (Das Fünfte Buch Mose, Deu­te­ronomium) pun tak ketinggalan. Ia menjadi korban mutilasi 698 ayat. Beberapa pasal yang dipenggal adalah: pasal 1-5 (194 ayat), pasal 8-11 (103 ayat), pasal 16 (22 ayat), pasal 19 (21 ayat), pasal 22 (30 ayat), pasal 28-29 (97 ayat), dan pasal 32-33 (81 ayat). Sedangkan pasal-pasal yang dipangkas separo antara lain: pasal 7:12-26, pasal 12:17-32, pasal 13:1-6, pasal 15:19-23, pasal 17:1-13, pasal 18:1-8, pasal 21:1-14, pasal 23:18-25, pasal 24:5-9, pasal 25:1-4, pasal 25:11-19, pasal 26:16-19, pasal 27:1-11, pasal 30:1-10, dan pasal 31:9-30.

Kitab Keluaran (Das Zweite Buch Mose) dipangkas 539 ayat. Beberapa pasal yang hilang dari kitab ini adalah pasal 18 (27 ayat), pasal 26- 31 (203 ayat), dan pasal 35-39 (176 ayat). Sedangkan pasal-pasal yang dipangkas separoh antara lain: pasal 1:1-5, pasal 6:2-29, pasal 7:1-13, pasal 13:1-16, pasal 16:4-5, pasal 16:32-36, pasal 18:17-27, pasal 21:1-17, pasal 22:1-19, dan pasal 33:1-17.

Hebatnya, ada 14 kitab dibuang semuanya, yaitu: Kitab Tawarikh I (891 ayat); Tawarikh II (822 ayat); Kitab Yudit (339 ayat), Kitab Ratapan (154 ayat), Kitab Obaja (21 ayat), Kitab Nahum (47 ayat), Kitab Habakuk (56 ayat), Kitab Zefanya (53 ayat), Kitab Kebijakan Salomo (435 ayat), Kitab Sirakh (1.401 ayat), Kitab Barukh (213 ayat), Kitab Ester (167 ayat), Tambahan Kitab Ester (91 ayat), dan Tambahan Kitab Daniel (196 ayat).

Daftar Belasan Ribu Ayat yang Dibuang dari Bible Jerman

Kitab Kejadian (Das Erste Buch Mose): 391 ayat.
Kitab Keluaran (Das Zweite Buch Mose): 539 ayat.
Kitab Imamat (Das Dritte Buch Mose): 764 ayat.
Kitab Bilangan (Das Vierte Buch Mose): 1.057 ayat.
Kitab Ulangan (Das Fünfte Buch Mose/ Deuteronomium): 698 ayat.
Kitab Yosua (Das Buch Josua): 528 ayat.
Kitab Hakim-hakim (Das Buch Von Den Richtern): 386 ayat.
Kitab I Samuel (Das Erste Buch Samuel): 304 ayat.
Kitab II Samuel (Das Zweite Buch Samuel): 363 ayat.
I Raja-raja (Das Ersste Buch von den Königen): 375 ayat.
II Raja-raja (Das Zweite Buch von den Königen): 343 ayat.
Kitab Tawarikh I: 891 ayat.
Kitab Tawarikh II: 822 ayat.
Kitab Ezra (Das Buch Esra): 125 ayat.
Kitab Nehemia (Das Buch Nehemia): 289 ayat.
Kitab Ester: 167 ayat.
Kitab Ayub (Das Buch Ijob): 672 ayat.
Kitab Mazmur (Das Buch Psalmen): 1.830 ayat.
Kitab Amsal (Das Buch Sprichwörter): 704 ayat.
Kitab Pengkhotbah (Das Buch Kohelet): 100 ayat.
Kitab Kidung Agung (Das Hohelied): 31 ayat.
Kitab Yesaya (Das Buch Jesaya): 687 ayat.
Kitab (Der Prophet Jeremia): 869 ayat.
Kitab Ratapan: 154 ayat.
Kitab Yehezkiel (Der Prophet Ezechiel): 871 ayat.
Kitab Daniel (Das Buch Daniel): 219 ayat.
Kitab Hosea (Der Prophet Hosea): 128 ayat.
Kitab Yoel (Der Prophet Joel): 16 ayat.
Kitab Amos (Der Prophet Amos): 14 ayat.
Kitab Obaja: 21 ayat.
Kitab Mikha (Der Prophet Micha): 46 ayat.
Kitab Nahum: 47 ayat.
Habakuk: 56 ayat.
Kitab Zefanya: 53 ayat.
Kitab Hagai (Der Prophet Haggai): 14 ayat.
Kitab Zakharia (Der Prophet Sacharja): 115 ayat.
Kitab Maleakhi (Der Prophet Maliachi): 36 ayat.
Kitab Tobit  (Das Buch Tobit): 85 ayat.
Kitab Yudit: 339 ayat.
Tambahan Ester: 91 ayat.
Kebijakan Salomo: 435 ayat.
Kitab Sirakh: 1.401 ayat.
Barukh : 213 ayat.
Tambahan Kitab Daniel: 196 ayat.
I Makabe (Das Erste Buch von Den Makkabäer): 757 ayat.
II Makabe (Das Zweite Buch von Den Makkabäer): 424 ayat.

Dengan fakta hilangnya 18.666 ayat ini, seharusnya Ibn Warraq dan para misionaris tak usah mencari-cari dan merekayasa kesalahan Al-Qur'an. Lebih baik pikirkan mengapa belasan ribu ayat Bibel bisa raib? [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara-Islam]

Sumber: http://www.voa-islam.com/counter/christology/2012/02/27/17920/jawaban-untuk-misionaris-kristen-2-bibel-kehilangan-18666-ayat/

---

Hmm..!! Film Yesus Dirayu Suster Katolik di Atas Salib Beredar Khusus Dewasa

Film hot menampilkan adegan Yesus dirayu biarawati Katolik Spanyol, diizinkan di Inggris. Di Indonesia, diterbitkan komik anak tentang perselingkuhan Raja Daud. Hmmm...!!!

Setelah lebih dari dua dekade dilarang beredar, film “Visions of Ecstasy” akhirnya diperbolehkan lembaga sensor film Inggris BBFC untuk ditonton bebas, khusus usia 18 tahun ke atas.

Hal ini tentu mengejutkan umat Kristen, karena konten dalam film pendek yang telah dilarang selama 23 tahun tersebut dinilai sangat melecehkan umat Kristen. Beberapa bagian film yang sangat menyinggung umat Kristen adalah adegan yang memperlihatkan bagaimana seorang suster Spanyol, St Teresa dari Avila merayu Yesus Kristus di atas kayu salib.

“Dewan mengakui, bahwa isi dari film ini mungkin akan sangat menyinggung beberapa pemirsa,” ujar BBFC dalam sebuah pernyataan beberapa waktu lalu. “Namun, dewan memberikan pedoman dan pandangan yang jelas, bahwa masyarakat, orang dewasa memiliki hak untuk memilih apa yang akan mereka lihat, asalkan materi yang dimaksud adalah tidak ilegal atau berbahaya,” seperti dilaporkan The Guardian.

Dewan pengkategorian film Inggris sendiri memberi sertifikat 18 untuk “Visions of Ecstasy” yang artinya hanya orang di atas 18 tahun yang boleh menyaksikan tayangan tersebut.

Visualisasi agama dalam wujud pornografi bukan hal yang aneh di dunia Kristen. Di Indonesia, kisah Daud dalam Bibel bahkan diterbitkan secara resmi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam bentuk komik berjudul “Daud Raja Israel yang Termasyhur.”

Dalam komik tersebut, dilukiskan dengan jelas, dari atap istana Daud mengintip Batsyeba, istri anak buahnya yang sedang mandi –maaf– tanpa sehelai benang pun di kolam terbuka. Juga digambarkan dengan adegan Daud ingin meniduri (baca: menzinahi) Batsyeba, hingga hamil. Lalu dilukiskan secara detil konspirasi Daud untuk membunuh istri Batsyeba supaya bisa menikahinya. Hingga akhirnya dari benih perzinahan Daud dan wanita bersuami ini, lahirlah Yesus Kristus (hlm. 32).

Tak kalah vulgarnya, Yayasan Bina Kasih OMF Jakarta meramu kisah skandal Daud tersebut dalam bentuk komik Alkitab untuk anak-anak yang berjudul Raja Daud Jilid III. Pada sampul belakang komik itu disebutkan: “Adik-adik yang manis, inilah seri komik yang dari dulu kalian cari. Ceritanya jelas dan menarik sekali. Kalian pasti asyik membacanya. Dan apalagi? Oh bacalah dulu! Selesai membacanya kalian pasti puas!”

Apa jadinya jika secara dini, anak-anak di bawah usia diperkenalkan dengan kisah mesum, perzinahan, perselingkuhan dan pembunuhan? [silum/jwb, dbs]

Sumber: http://www.voa-islam.com/counter/christology/2012/02/22/17862/hmm-film-yesus-dirayu-suster-katolik-di-atas-salib-beredar-khusus-dewasa/

---

Inilah kutipan lengkap fatwa palsu yang mengatasnamakan MUI Pusat itu:

Fatwa Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia): Syi’ah Sah Sebagai Mazhab Islam

Sunni-Syi’ah bersaudara, sama-sama umat Islam. Itulah  prinsip yang  dipegang oleh MUI. Jika  ada yang  memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut & pemecah-belah umat. Mereka  berhadapan dengan Allah SWT yang  menghendaki umat ini bersatu.

Di  tengah gencarnya isu yang  menyudutkan Syi’ah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan dari islam, ketua majelis ulama indonesia menyatakan Syi’ah sebagai mazhab yang sah san benar dalam islam.

Selengkapnya baca di http://www.tin####.com/3kzb2

Mohon informasi ini disebarluaskan agar umat islam tidak termakan oleh isu-isu yang dirancang Zionis, Amerika Serikat dan para propaganda yang menghendaki perpecahan umat islam. Semoga  informasi ini bermanfaat.
Prof KH Umar Shihab MA
Ketua  MUI

Secara defacto maupun dejure, fatwa pendukung Syi’ah yang dinisbatkan kepada MUI itu bertentangan dengan Fatwa MUI yang resmi dikeluarkan pada tahun 1984.

Inilah fatwa asli dan resmi MUI Pusat yang menyatakan kesesatan Syi’ah:

FATWA MUI TENTANG SYI’AH

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :

1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.

2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.

5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan: Jakarta, 7 Maret 1984 M (4 Jumadil Akhir 1404 H)

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Ketua

H. Musytari Yusuf, LA
Sekretaris

Sejak dirilis tahun 1984 hingga saat ini, Fatwa MUI tentang kesesatan Syi’ah itu belum pernah diamandemen apalagi dicabut.

Sumber: http://voa-islam.com/news/indonesiana/2011/05/22/14863/inilah-fatwa-mui-palsu-yang-menyatakan-faham-syiah-tak-sesat/

One response so far

One Response to “Allah Akbar”

  1. Paulus Anthonyon 09 Apr 2012 at 3:48 pm

    "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*