Mar 17 2012

Reinventing Budaya Organisasi UII

Published by at 9:04 am under Tajuk

Budaya organisasi (corporate culture) belakangan ini menjadi ngetrend dan menjadi isu penting dalam akselerasi achievement suatu organisasi, karena selain adanya unsur strong leadership yang visioner dan managerial skill yang up to date, ia dianggap mampu membawa organisasi pada kemajuan yang continous dan imun terhadap berbagai tekanan dari eksternal. Apa sih budaya organisasi itu? Menurut Jennifer A. Howard-Grenville, dalam bukunya Corporate Culture and Environmental Practice, yang diterbitkan Edward Elgar Cheltenham, UK, 2007, hal. 7, budaya organisasi adalah a pattern of meanings that are represented and recreated through the actions and communications of members of a group. Definisi yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Edgar H. Schein, dalam bukunya The Corporate Culture Survival Guide, yang diterbitkan Jossey-Bass A Wiley Imprint, San Francisco, 2009 halaman 27, budaya organisasi adalah a pattern of shared tacit assumptions that was learned by a group as it solved its problems of external adaptation and internal integration, that has worked well enough to be considered valid and, therefore, to be taught to new members as the correct way to perceive, think, and feel in relation to those problems. Untuk memperkaya pemahaman tentang corporate culture cukup banyak buku yang bisa dielaborasi, misalnya The Toyota Way, The Honda Way, Innovate The Pixar Way karya Capodagli and Jackson, diterbitkan McGrawHill, tahun 2010, Japanese Corporate Transition in Time and Space, karya Tomoko Kurihara, diterbitkan Palgrave Macmilan tahun 2009, Sustaining Lean Case Studies In Transforming Culture, yang disusun Association for Manufacturing Excellence, diterbitkan Taylor & Francis Group New York, 2009 dan lain-lain.

Dalam konteks UII, kampus kita tercinta sedang merumuskan dan menyusun budaya organisasi UII, bahkan beberapa waktu yang lalu telah dilakukan workshop MVVM dengan tim pendamping dari ESQ terhadap draft budaya organisasi UII yang telah disusun oleh tim UII. Walaupun banyak komentar miring yang saya dengar terkait pendampingan dari tim ESQ dalam workshop tersebut, karena menurut beliau-beliau yang berkomentar, selain harganya “cukup mahal”, juga terlihat dengan cukup transparan oleh beliau-beliau bahwa ESQ punya “agenda” tersendiri dalam rangka pendampingan terhadap UII, hal ini terlihat dari kalimat mereka yang terucap maupun upaya mereka untuk menggiring forum agar sesuai dengan agenda mereka, bahkan sempat beberapa kali ngeyel untuk terus menggiring forum agar mengganti visi misi UII, walau sudah diingatkan oleh peserta bahwa itu bukan kewenangan workshop itu, visi misi adalah domainnya Badan Wakaf UII. Terlebih lagi, pasca workshop ternyata juga tidak segera diberikan dokumentasi yang dijanjikan. Terlepas dari itu semua, kini telah mulai tampak jelas wujud dari budaya organisasi UII yang nantinya betul-betul diinternalisasikan dalam seluruh elemen organisasi UII.

Budaya organisasi UII disusun berdasarkan kata kunci yang ada dalam visi UII, yaitu rahmatan lil'alamin, komitmen pada kesempurnaan (keunggulan), dan risalah Islamiyah. Makna dari tiga kata kunci tersebut dicari di statuta, RIP dan renstra yang ada di UII. Selain itu, kata kunci tersebut juga dimatchkan dengan tagline yang telah familiar di UII, yaitu values, innovation, and perfection, yang disingkat VIP. Singkatan VIP ini dalam workshop MVVM diyakini memberikan sense tersendiri bagi sivitas akademika UII dan stakeholder serta pihak eksternal UII. Dengan demikian, upaya menyusun budaya organisasi UII ini betul-betul reinventing the heritage of UII. Ini benar-benar pas dengan yang disampaikan Edgar H. Schein, dalam bukunya The Corporate Culture Survival Guide, halaman 18, culture is a property of a group. Whenever a group has enough common experience, a culture begins to form. Jadi sudah semestinya orang-orang yang terlibat langsung dalam organisasi itulah yang harusnya menggali dan merumuskannya, selanjutnya pemimpin menyebarkan dan membumikannya dalam seluruh elemen organisasi.

Berdasarkan deskripsi tersebut di atas, Budaya organisasi UII adalah VIP yaitu Values, Innovation, Perfection. Values dimaknai bahwa nilai-nilai yang dikembangkan dan diamalkan UII adalah rahmatan lil'alamin yaitu memberikan nilai kemaslahatan bagi seluruh alam semesta, baik untuk manusia, makhluk yang lain maupun keserasian lingkungan. Sikap yang muncul dari value tersebut adalah iman dan taqwa, berakhlak mulia, dan maslahat oriented. Innovation dimaknai bahwa sivitas akademika UII selalu berpandangan jauh ke depan, terus belajar, berinovasi, mengimplementasikan dan mengajarkan hal-hal bernilai, serta melakukan perbaikan secara kontinyu yang pada akhirnya akan melahirkan keunggulan. Dengan kata lain, ketika sivitas akademika UII terus melakukan inovasi maka akan lahir keunggulan. Perfection dimaknai bahwa risalah Islamiyah itu sempurna, ketika diamalkan secara sempurna maka akan melahirkan kesempurnaan. Dengan kata lain, perfection adalah totalitas dalam berpikir, bersikap dan bertindak yang didasari oleh ajaran Islam secara kaffah. Masing-masing budaya organisasi tersebut dijabarkan dalam bentuk sikap yang diderivasi menjadi perilaku baik do maupun don't. Akhirnya, semoga formula budaya organisasi UII segera final, dan dapat membumi dalam sikap dan perilaku seluruh sivitas akademika UII. Amin.

Pemred UIINews Ustadz Nur Kholis

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*