Mar 17 2012

Prof. Dr. Ir. H. Hari Purnomo, MT: Saya tidak Salah Pilih Menjadi Dosen

Published by at 9:05 am under Kiprah

TERCATAT sebagai Guru Besar UII ke-13 merupakan rahmat yang tak terhingga bagi Prof. Dr. Ir. H. Hari Purnomo, MT. Sebab seandainya tidak mengindahkan, permintaan Ir. Hudaya, MM menjadi pengajar (dosen) dapat dipastikan dia akan jadi pekerja di salah satu perusahaan di luar Jawa. Sebab pria kelahiran Lumajang, Jatim, 3 Januari 1964 yang menamatkan SD-SMA di Lumajang, memiliki cita-cita bekerja di perusahaan.

“Pada waktu itu saya sudah hampir berangkat ke luar Jawa, namun Ir. Hudaya, MM mengajak saya untuk bisa membantu mengajar di Teknik Industri UII,” kenang Hari yang menyelesaikan S1 di Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik UII tahun 1990. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk bergabung menjadi dosen bersama sejawatnya Ir. Ali Parkhan, MT serta dukungan teman lainnya,Drs. Abdul Djalal, MM, Drs. Rustam Hadi, MM dan Ir. Sunaryo, MP, berkecimpung sebagai pengajar di Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik UII, yang kini Jurusan (Program Studi) Teknik Industri di Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII. Mereka adalah guru sekaligus teman saya yang mendorong saya menjadi dosen.

“Akhirnya di kemudian hari saya menyadari ternyata saya tidak salah memilih profesi dosen,” aku Prof. Hari Purnomo ketika menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar bidang Ilmu Ergonomi Industri, Prodi Teknik Industri, FTI berjudul “Perancangan Sistem Kerja Berkelanjutan: Pendekatan Holistik untuk Meningkatkan Produktivitas Pekerja”, di Auditorium Prof. A Kahar Muzakkir, kampus terpadu UII, Rabu, 11 April 2012.

Hanya saja, keinginan ayahandanya Toewadi Prawoto yang ingin melihat anaknya mencapai tataran tertinggi di akademik sebagai Guru Besar tak tercapai. “Aku pengin kamu menjadi Guru Besar, nak…,” pinta Toewadi. Namun keinginan ayahnya itu tak tercapai, karena setahun menjelang keluarnya SK Guru Besar Hari Purnomo, Toewadi dipanggil yang Maha Kuasa.

“Maafkan saya, Pak… Saya sudah berusaha untuk memenuhi keinginan Bapak, namun karena banyak ujian yang harus saya hadapi, akhirnya keinginan Bapak tidak bisa saya penuhi,” kata Prof. Hari terbata-bata mengenang obsesi bapaknya. Hanya saja ia menyampaikan terima kasih yang mendalam atas kesediaan saudara-saudaranya Lilik, Yun dan Nining yang selalu menyemangati Hari dan merawat orang tuanya di kampung.

Bapak dua putri Ayudyah Eka Apsari dan Anindya Agripina Hadyanawati buah perkawinannya dengan Nyoo Kiem Hwa (Sri Wahyuningsih) berhasil menyelesaikan studi lanjut Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) bidang keahlian ergonomic (1998) untuk meraih Master Teknik, dan 2007 merampungkan program pasca sarjana Strata-3 meraih gelar Doktor di Prodi Ilmu Kedokteran, Konsentrasi Ergonomi, Universitas Udayana, Bali.

Selain kini menjabat Kepala Badan Perencana UII, pernah tiga kali menjadi Ketua Juruan Teknik Industri, Pemimpin Jurnal Teknologi dan Industri TEKNOIN, Kepala Pusat Studi Bisnis dan Industri (PusBin), Sekretaris Umum kemudian menjabat Ketua Umum Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri (ISTMI) Wilayah DIY-Jateng, Sekretaris Umum Perhimpunan Ergonomi Industri (PEI), serta menjadi konsultan di berbagai perusahaan Pemerintah dan Swasta.

Sementara itu dalam pidato pengukuhan Guru Besar yang berjudul “Perancangan Sistem Kerja Berkelanjutan: Pendekatan Holistik untuk Meningkatkan Produktivitas Pekerja”, Prof. Hari mengemukakan, sebuah sistem harus dapat menjamin kepada pekerja agar dalam melakukan aktifitasnya sesuai dengan kebutuhan pekerja. Keselarasan antara sistem lingkungan, teknologi dan manusia menjadi tuntutan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja sistem.          Penyelesaian masalah pada lingkungan yang komplek seperti saat ini diperlukan pendekatan holistik. Menurutnya pendekatan holistik yang dikenal dengan ergonomi makro, merupakan pendekatan yang menangani dimensi fisik, mental dan sosial secara bersama-sama untuk keberhasilan sebuah sistem. Permasalahan umum ketidak nyamanan dalam bekerja, disebabkan adanya ketidaksesuaian antara sistem kerja dengan kemampuan pekerja. Atau dengan kata lain lingkungan kerja kurang ergonomis, ungkapnya

Berbagai upaya merancang sistem kerja yang ergonomis telah dilakukan. Namun diakuinya, rancangan sistem kerja saat ini lebih cenderung dirancang dan dianalisis dalam konsep ergonomi mikro. Menurutnya, rancangan sistem kerja yang dirancang dengan konsep ergonomi mikro seringkali gagal karena sifat arogansi perancang yang tidak mau melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dalam proses perancangan. Oleh karena itu, rancangan sistem kerja perlu dilakukan dengan pendekatan ergonomi makro, papar Prof. Hari Purnomo yang merupakan Guru Besar UII ke-13.

Disamping itu yang menjadi perhatian bagi para ergonom  ke depan adalah isu kajian ergonomi yang semakin kompleks seiring perkembangan peradaban manusia dan teknologi. Berkembangnya isu sosio-ekonomi dan teknologi tersebut telah merubah kajian ergonomi secara fundamental. Kajian ergonomi menjadi mengarah pada neuroergonomic dan nanoergonomics, tambahnya. (Eko Sukanto/Syamsul Hidayat)

Prof. Dr. Ir. H. Hari Purnomo, MT. (Photo: Tri Sihono)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*