Mar 17 2012

Building Solid Groundwork Towards a World-Class University

Published by at 8:54 am under Refleksi

Kita dapat memahami bahwa makin tinggi sebuah gedung bertingkat (multi-stories building) harus makin kuat fondasinya, dan perlu diingat pula bahwa fondasi yang kuat dibangun sebelum membangun gedungnya. Bangunan Visi Universitas Islam Indonesia (UII) yang menyebutkan “….setara dengan Negara Negara maju” yang berarti masuk dalam world class university, akan sulit terealisasi jika UII belum dapat membangun sistem pengelolaan yang sesuai sebagai fondasinya. Sistem yang dibangun seyogyanya mengacu pada Key Characteristic of World Class University yang termuat dalam buku The Challenge of Establishing World-Class Universities (Jamil Salmi, 2009) dan secara konsisten selalu dimonitor.

Mari kita renungkan sejenak, Apa tujuan Perguruan Tinggi (PT) sebenarnya?  Minimal ada 2 (dua) tujuan PT, yaitu :

Menciptakan lulusan yang “berkualitas”

Kata “berkualitas” harus diartikan lulusan yang memiliki competitive advantages, upaya tersebut harus menjadi fokus utama bagi petinggi di tingkat Jurusan maupun Fakultas. Peta persaingan kualitas dari lulusan masing-masing Program Studi sejenis harus dimiliki oleh pemegang amanah tersebut, dengan demikian mekanisme continuous improvement secara sistemik akan dapat dilaksanakan. Sebenarnya UII harus bersyukur karena telah memiliki Quality Management System (QMS) yang implementatif dan dikawal oleh Badan Penjaminan Mutu. Implementasi QMS diwujudkan dalam sebuah cycle yang disebut Deming's Wheel, yang isinya adalah Plan-Do-Check-Action atau dikembangkan menjadi Approach-Deployment-Results-Improvement. Cycle tersebut akan provide dan nampak terjadi peningkatan kualitas manakala didukung oleh komitmen yang kuat, namun jika sebaliknya maka cycle akan interrupted dan quality akan gagal.

Konsekuensi dari visi UII yang disebutkan diatas, mengharuskan terciptanya proses belajar mengajar dengan content (kurikulum, silabi, SAP) yang up-to-date, yang sejalan dengan tantangan globalisasi, revolusi komunikasi dan teknologi. Bahkan hasil penelitian yang cukup banyak dihasilkan oleh para dosen UII, sudah selayaknya untuk diimplementasikan melalui Satuan Acara Perkuliahan (SAP).

Indikator yang populer untuk mengamati kualitas lulusan adalah waiting time for getting job. Studi pengamatan terhadap lulusan (tracer study) harus dilaksanakan oleh Program Studi dengan sangat obyektif, sehingga “potret” lulusan akan tampak dan upaya perbaikan kualitas akan dapat dilakukan secara sistemik.

Jika kita perhatikan I-P-O system, Input-Process-Output, kadang kita berpikir dari mana proses peningkatan kualitas dimulai? Kita tidak akan pernah mendapatkan input berkualitas selama output kita belum terserap dengan baik oleh masyarakat. Dengan demikian harus diambil keputusan bahwa peningkatan kualitas lulusan harus dimulai dari proses, meskipun saat awal pelaksanaan memerlukan enerji yang relatif tinggi.

Memperkuat eksistensi PT

Perguruan Tinggi harus memiliki program/kegiatan yang secara nyata sangat dibutuhkan masyarakat, sehingga eksistensi PT akan sangat terasa. UII sebagai PT Islam sudah seharusnya mempersiapkan hal tersebut, dan tampil menyampaikan gagasan terutama pada saat muncul perdebatan di masyarakat yang berkaitan dengan Islam. Secara personal, dosen UII banyak tampil di masyarakat namun secara institusional masih perlu ditingkatkan. Sumber daya manusia yang dimiliki UII sudah sangat cukup untuk mendukung kegiatan tersebut dalam semua bidang.

Dalam buku Organizational Performance Indicators of Higher Education (Miller, 2007) disebutkan beberapa indikator penting suksesnya PT, yaitu: quality, effectiveness, efficiency, customer satisfaction, productivity, financial durability dan innovation. Seharusnya semua PT mampu menciptakan innovation, yang memiliki pengertian inovasi di bidang akademik baik untuk kepentingan pembelajaran maupun untuk kepentingan masyarakat. Hasil penelitian yang implementatif merupakan upaya memperkuat eksistensi tersebut.

Namun demikian pada umumnya, PT memiliki kendala internal yang sangat mengganggu dalam hal peningkatan ke-dua komponen tersebut diatas, yaitu :

Kesenjangan antara tujuan institusi dan tujuan individu

Dalam hal ini Visi PT tidak dapat secara efektif diimplementasikan pada setiap individu yang berada di PT tersebut. Akibat adanya 2 vektor yang tidak searah maka resultante upaya yang dilakukan PT tidak akan pernah efektif dan maksimal.

Resistant to change

Dalam menyikapi semua perubahan, pada umumnya tidak sepenuhnya berfokus kepada kepentingan atau manfaat institusi, namun terbelenggu dengan individual interest.

Merasa sudah berada pada comfort zone

Sangat berbahaya jika para pemegang amanah di PT merasa sudah berada pada comfort zone, karena dengan kondisi ini peningkatan kualitas PT tidak akan terwujud.

Sulit untuk mempertahankan komitmen

Kadang kadang komitmen dibangun bersama dalam sebuah forum untuk tujuan yang sama, namun sering terjadi pergeseran komitmen pada saat di luar forum.

Mudah menyusun rencana, sulit mengevaluasinya

Sulitnya melakukan evaluasi sangat berkaitan dengan komitmen untuk melakukan perbaikan.

Dengan uraian diatas, UII harus membangun integrated systems yang akan menjadi dasar yang kuat (solid groundwork) dalam menyusun road map pengembangan universitas menuju world-class university termasuk mengatasi semua kendalanya. Sangat yakin untuk UII akan dapat melaksanakannya, apalagi jika UII dapat mengimplementasikan nilai-nilai Islam secara kaffah. Mudah2an Allah memberikan BarokahNya pada UII.

Dr. Ir. H. Luthfi Hasan, MS. Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII dan dosen FTSP UII

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*