Feb 28 2012

Nasihat Oentoekku

Published by at 11:39 am under Sketsa

Dekat dengan Anak Perempuan

Semua orangtua tentu sayang dengan anak-anaknya, baik yang laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, terkadang dengan anak perempuan, ayah biasanya agak kaku sehingga tidak dekat.

Untuk itu, Timesofindia berbagi tips agar hubungan ayah dan anak perempuannya berjalan baik:

  1. Perlakukan putri Anda seperti teman, berbagi pikiran dan minta pendapat dari putri Anda.
  2. Perlakukan putri Anda seperti orang dewasa karena anak sekarang telah menjadi lebih bijaksana dan tahu apa yang mereka lakukan.
  3. Jika putri Anda sedang menghadapi masalah dengan istri Anda, jadilah mediator yang bijaksana antara dua wanita ini.
  4. Jika Anda tidak bisa berkomunikasi dengan baik, lakukan dengan mulai membantu mengerjakan pekerjaan sekolahnya atau sekali-sekali memberinya hadiah.
  5. Ketika putri Anda beranjak remaja, biasanya ayah cenderung over protektif. Sebaiknya jangan terlalu curiga dengan kondisi anak Anda, berikan kepercayaan padanya.
  6. Putri Anda tidak bayi lagi. Biarkan dia belajar dari kesalahannya dan mandiri. Hindari untuk berkotbah terhadap anak Anda.
  7. Dia adalah putri Anda, jadi cintailah dia tanpa syarat bahkan jika sekali-sekali dia membuat kesalahan. Cinta Anda akan membuat dia sadar untuk tepat membuat pilihan hidup.
  8. Menerima lingkungan sosial anak Anda kadang-kadang agak sulit. Karena jenis dan model teman putri Anda mungkin membuat Anda terkejut, tapi cobalah menerima mereka.
  9. Anda harus banyak bersabar. Tahan diri Anda untuk tidak marah dan mengeluarkan suara keras. Kondisi berbeda ini akan membuat putri Anda juga lebih tenang.
  10. Luangkan waktu, karena waktu adalah unsur ikatan terbesar. Cobalah melakukan apa yang putri Anda sukai dan lihat perbedaannya, karena mereka akan suka cara Anda itu.

Ok, para ayah cobalah tips ini semoga bermanfaat!

Sumber: http://id.she.yahoo.com/agar-hubungan-ayah-dan-anak-perempuan-harmonis-cek-073000344.html

---

 

Cara Bijaksana Hadapi Anak di Usia Puber

Pubertas merupakan masa transisi dan tahapan kritis yang dialami oleh anak-anak yang mengalami akil baligh. Masa ini ditandai dengan adanya perubahan fisik, yang melahirkan konsekuensi perubahan hormonal dan mempengaruhi kondisi psikologis dan emosi anak.

Pemahaman mengenai pubertas ini merupakan kurikulum yang wajib diketahui orang tua. Karena di masa seperti ini, anak belum bisa mengendalikan perilaku dan etika seksual mereka.

Berikut beberapa langkah bijak menghadapi masa puber anak Anda:

1. Jangan panik

Masa pubertas adalah proses alami, jadi jangan panik ketika anak Anda melalui tahap ini. Misalnya, ketika anak perempuan Anda yang duduk di kelas 5 atau 6 SD mendapat haid pertama atau anak laki-laki mendapat mimpi basah.

2. Jangan dilarang

Jangan melarang keinginannya, saat ia mulai menyenangi lawan jenisnya. Sebagai orangtua Anda wajib mendekati preferensi seksual si anak, sehingga jika ada penyimpangan disfungsi psikoseksual bisa diatasi sejak dini.

3. Menghargai pendapat mereka

Hargai pendapat anak antara lain dengan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Pada masa ini, logika mereka semakin matang.

4. Jangan terlalu protektif

Jika terlalu protektif, bisa jadi Anda tidak tahu dengan siapa anak Anda berteman. Semakin dilarang, anak akan semakin membangkang.

5.Menjadi teman dekatnya

Karena dengan demikian anak akan lebih mudah mengungkapkan isi hati dan problematikanya. Prinsipnya, lebih baik anak curhat ke orang tuanya, dari pada kepada teman, koran, internet dan yang lainnya.
Semoga bermanfaat!

Sumber: Oleh Fidelia | ghiboo.com – Rab, 22 Feb 2012 14:23 WIB

---

Anak Anda Beranjak Remaja? Ini Cara Berkomunikasi yang Pas

Punya anak yang beranjak remaja ternyata butuh strategi sendiri. Maklum, mereka sedang dalam masa transisi pencarian jati diri. Jika orang tua terlalu keras, anak bisa-bisa mencari oase di luar rumah. Namun, bila terbilang longgar, dampaknya pun tidak lebih baik. Si remaja ini amat mungkin juga terjerumus dalam pergaulan bebas.

Bagaimana menghadapi ini? Psikolog anak, Elly Risman Musa, menyarankan, untuk gaul dengan anak-anak remaja yang orang tua butuhkan bukan hanya pengetahuan tentang apa-apa yang sedang in pada kehidupan anak remaja. Yang paling penting adalah sikap kita sebagai orang tua. Sebagai orang tua remaja, kita harus mengontrol emosi dan menempatkan diri sebagai sahabat untuk mereka.

Dengan sikap menerima, remaja merasa dipahami dan secara otomatis mereka akan terbuka pada orang tua. Hindari kata-kata menduga terlalu jauh seperti ''Kamu pasti sudah menonton VCD porno. Teman-temanmu kelihatannya anak-anak nakal!!''

''Bangunlah kepercayaan remaja pada orang tua sehingga mereka aman dan nyaman berbicara pada kita,'' ujar Elly. Sesungguhnya, lanjutnya, mereka memiliki banyak masalah dan membutuhkan teman bicara yang dapat menjadi pendengar yang baik. Jika orang tua menjadi teman curhat remaja berarti Anda menjadi orang tua yang gaul.

Anak akan berbicara dengan bahasa atau kata-kata yang biasa mereka gunakan dengan teman. Jika orang tua kurang paham, orang tua dapat bertanya tentang makna bahasa mereka. Secara langsung Anda mengetahui istilah-istilah mereka.

Makin banyak Anda kenal dan sesekali menggunakan kata-kata itu, anak makin merasa dekat dengan orang tua. Selanjutnya kita benar-benar menjadi sahabat remaja.

Sumber: Republika – Kam, 26 Jan 2012 13:10 WIB

---

Ini Pendidikan Seks yang Harus Diajarkan Ortu pada Anaknya

Survei Perilaku Seks 2011 yang dilakukan DKT Indonesia menunjukkan, rata-rata remaja mulai berhubungan seks pertama kalinya pada usia 19 tahun dengan mayoritas merupakan mahasiswa. Psikolog Seksual Zoya Amirin menyatakan, melihat fakta dan data ini, kita sudah tidak bisa lagi menganggap seks adalah hal yang tabu untuk dibahas di lingkungan keluarga sekalipun. "Alangkah baiknya bila pendidikan seks yang tepat dilakukan sedini mungkin untuk mencegah remaja dan kaum muda ini mendapatkan informasi yang salah," katanya.

Orang tua merupakan sumber utama anak seharusnya mendapatkan pendidikan seksual, katanya. "Bukannya malah menghindari topik yang sensitif tersebut, karena ternyata hasil survei juga menunjukkan bahwa remaja membahas kegiatan seksualnya dengan teman sebesar 93 persen, disusul dengan membahas dengan pacar (21 persen) baru dengan ibu (10 persen) dan ayah (2 persen)," tambahnya

Zoya menyebut pendidikan seks yang harus diterima anak usia 15-19 tahun adalah pemahaman bahwa kematangan seksual yang telah dialami pada usia tersebut akan bisa membuat mereka untuk hamil atau menghamili perempuan. "Bagi anak lelaki, mereka harus memahami bahwa dorongan seksual itu normal tapi juga harus diajari agar bagaimana cara iseng mereka melepaskan ketegangan seksual seperti menarik tali bra teman sekolahnya itu tidak menjadi pelecehan seksual," ujarnya.

Sedangkan untuk anak perempuan, Zoya meminta agar orang tua untuk mengajarkan mereka kemampuan untuk mengatakan "tidak" dalam kondisi dipaksa oleh pacarnya untuk berhubungan seks. "Dalam pendidikan seks, perlu diajari bagaimana berkata 'tidak' meskipun sudah diajak masuk ke dalam kamar, karena itu akan jadi pemerkosaan," ujarnya.

Sumber: Republika – Sen, 5 Des 2011 20:16 WIB

---

Cara Bijaksana Hadapi Anak di Usia Puber

Pubertas merupakan masa transisi dan tahapan kritis yang dialami oleh anak-anak yang mengalami akil baligh. Masa ini ditandai dengan adanya perubahan fisik, yang melahirkan konsekuensi perubahan hormonal dan mempengaruhi kondisi psikologis dan emosi anak.

Pemahaman mengenai pubertas ini merupakan kurikulum yang wajib diketahui orang tua. Karena di masa seperti ini, anak belum bisa mengendalikan perilaku dan etika seksual mereka.

Berikut beberapa langkah bijak menghadapi masa puber anak Anda:

1. Jangan panik

Masa pubertas adalah proses alami, jadi jangan panik ketika anak Anda melalui tahap ini. Misalnya, ketika anak perempuan Anda yang duduk di kelas 5 atau 6 SD mendapat haid pertama atau anak laki-laki mendapat mimpi basah.

2. Jangan dilarang

Jangan melarang keinginannya, saat ia mulai menyenangi lawan jenisnya. Sebagai orangtua Anda wajib mendekati preferensi seksual si anak, sehingga jika ada penyimpangan disfungsi psikoseksual bisa diatasi sejak dini.

3. Menghargai pendapat mereka

Hargai pendapat anak antara lain dengan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Pada masa ini, logika mereka semakin matang.

4. Jangan terlalu protektif

Jika terlalu protektif, bisa jadi Anda tidak tahu dengan siapa anak Anda berteman. Semakin dilarang, anak akan semakin membangkang.

5.Menjadi teman dekatnya

Karena dengan demikian anak akan lebih mudah mengungkapkan isi hati dan problematikanya. Prinsipnya, lebih baik anak curhat ke orang tuanya, dari pada kepada teman, koran, internet dan yang lainnya.

Semoga bermanfaat!

Sumber: Oleh Fidelia | ghiboo.com – Rab, 22 Feb 2012 14:23 WIB

---

Siap Ajarkan Disiplin pada Anak?

Mengajarkan disiplin pada anak harus dimulai sejak dini. Tidak hanya anak yang harus konsisten menjalani, tapi sebagai orangtua juga harus konsisten melakukanya sebagai contoh untuk anak.

Orangtua harus konsisten dalam menerapkan jadwal karena hal ini akan terus dibawa si Anak hingga dewasa.

Untuk menjadikan anak seperti dijelaskan di atas, sebagai orangtua Anda harus memenuhi syarat utamanya yaitu:

  1. Konsisten memberikan contoh dalam keseharian.
  2. Konsisten memberi kesempatan pada anak untuk berbuat kesalahan agar anak belajar dari kesalahan dan memperbaikinya.
  3. Memahami dengan baik apa alasan utama dari pentingnya kedisiplinan.
  4. Pembiasaan untuk melakukan kesepakatan bersama dengan anak mengenai bentuk kedisiplinan. Termasuk dalam menentukan jenis hukuman yang harus mencerminkan proses pembelajaran dalam diri anak.
  5. Mengakui kesalahan dan minta maaf kepada anak jika orangtua menyesali ekspresi kemarahan ketika memberi hukuman pada anak.
  6. Bertanggungjawab dengan memperbaiki kesalahan yang dilakukan orangtua terhadap anak ketika memberi hukuman, sekaligus menjelaskan bahwa Anda sebagai orangtua kecewa dengan ketidakdisiplinan anak.

Sudahkah Anda siap mengajarkan disiplin kepada anak Anda? atau Anda sendiri masih perlu mendisplinkan diri? Semoga masukan tersebut bisa bermanfaat bagi Orangtua yang ingin mengajarkan disiplin pada anak Anda.

(Berbagai sumber)

---

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*