Feb 23 2012

Gelar Akademik

Published by trisihono at 11:16 am under Perlu Diketahui

Gelar sarjana di Indonesia

Di Indonesia, gelar sarjana diatur oleh senat perguruan tinggi dan ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S diikuti inisial bidang studi adalah:

Sarjana Akuntansi (S.Ak.)
Sarjana Arsitektur (S.Ars.)
Sarjana Agama (S.Ag.)
Sarjana Desain (S.Ds.)
Sarjana Ekonomi (S.E.)
Sarjana Ekonomi Islam (S.E.I.)
Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Sarjana Filsafat (S.Fil.)
Sarjana Filsafat Islam (S.Fil.I.)
Sarjana Hukum (S.H.)
Sarjana Hukum Islam (S.H.I.)
Sarjana Humaniora (S.Hum.)
Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz.)
Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel.)
Sarjana Ilmu Komunikasi (S.IKom.)
Sarjana Ilmu Politik (S.I.P)
Sarjana Ilmu Perpustakaan (S.I.P.)
Sarjana Ilmu Perpustakaan Dan Informasi (S.IPI)
Sarjana Intelijen (S.In.)
Sarjana Kedokteran (S.Ked.)
Sarjana Komputer (S.Kom.)
Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I.)
Sarjana Kehutanan (S.Hut.)
Sarjana Kedokteran Gigi (S.K.G.)
Sarjana Kedokteran Hewan (S.K.H)
Sarjana Keperawatan (S.Kep.)
Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.)
Sarjana Manajemen (S.Mn.)
Sarjana Pariwisata (S.Par.)
Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Sarjana Pendidikan Sains (S.Pd.Si)
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)
Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar (S.Pd.SD.)
Sarjana Perikanan (S.Pi.)
Sarjana Pertanian (S.P.)
Sarjana Peternakan (S.Pt.)
Sarjana Psikologi (S.Psi.)
Sarjana Sains - Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi (S.Si.)
Sarjana Sains Terapan (S.S.T)
Sarjana Studi Islam (S.S.I.)
Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)
Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I.)
Sarjana Sastra (S.S.)
Sarjana Seni (S.Sn.)
Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.)
Sarjana Teknik (S.T.)
Sarjana Teologi (S.Th.)
Sarjana Teologi Islam (S.Th.I)
Sarjana Komunikasi Islam (S.Ki.)

Gelar sarjana di negara lain

Di beberapa negara lain, lulusan beberapa program pendidikan magister (S-2) dan doktor (S-3) juga masih dianugerahi dengan gelar sarjana. Contohnya di Universitas Oxford yang memberikan gelar Sarjana Hukum Sipil, Sarjana Filsafat, Sarjana Seni Musik.

Sarjana Sains Terapan (S.ST) merupakan gelar vokasi yang diberikan kepada lulusan program pendidikan diploma 4.
Sarjana Sains Terapan di Indonesia

Gelar program pendidikan diploma IV dan sarjana (S1) adalah sama, yaitu sarjana. Untuk pendidikan akademik program sarjana, gelar ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S diikuti inisial bidang studi, dan untuk pendidikan vokasi program diploma 4, gelar ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S.ST(Sarjana Sains Terapan). Beban studi program pendidikan diploma IV dan sarjana (S1) adalah sama.
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) merupakan gelar vokasi yang diberikan oleh STAIN kepada lulusan jurusan tarbiyah. Jurusan tarbiyah mencakup program studi Pendidikan/Tadris Bahasa Inggris (PBI/TBI), program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), program studi Pendidikan Agama Islam (PAI), program studi Bimbingan dan Konseling, dan program studi Pendidikan/Tadris Matematika (PM/TM).

Sarjana Sains Terapan di negara lain

Di luar negeri, misalnya di Australia, Sarjana Sains Terapan disebut dengan Bachelor of Applied Science.

Doktoranda (di Belanda dan masa Hindia-Belanda doctoranda) atau disingkat Dra. merupakan gelar yang diberikan oleh universitas. Kata “Doktoranda” merupakan kata pungutan dari bahasa Belanda yang memungutnya dari bahasa Latin yang berati “Ia yang akan dijadikan ilmuwan (doktor)”. Karena itu di Belanda gelar ini diberikan kepada orang yang sudah menyelesaikan program Master (S-2), dan hampir mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi dalam bidang akademis. Si pemilik gelar hanya tinggal menulis disertasi untuk mencapai gelar doktornya.

Namun di Indonesia gelar doktoranda ini mengalami degradasi dan sampai tahun 1990 gelar ini diberikan bagi lulusan program S-1 dalam Ilmu Sosial. Untuk pria dibuat pembedaan dengan pemberian gelar Drs., sementara di Belanda pembedaan ini tidak dibuat lagi.

Doktorandus (di Belanda dan masa Hindia-Belanda doctorandus) atau disingkat Drs. merupakan gelar yang diberikan oleh universitas. Kata “Doktorandus” merupakan kata pungutan dari bahasa Belanda yang memungutnya dari bahasa Latin yang berati “Ia yang akan dijadikan ilmuwan (doktor)”. Karena itu di Belanda gelar ini diberikan kepada orang yang sudah menyelesaikan program Master (S-2), dan hampir mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi dalam bidang akademis. Si pemilik gelar hanya tinggal menulis disertasi untuk mencapai gelar doktornya.

Namun di Indonesia gelar doktorandus ini mengalami degradasi dan sampai tahun 1990 gelar ini diberikan bagi lulusan program S-1 dalam Ilmu Sosial. Untuk wanita dibuat pembedaan dengan pemberian gelar Dra., sementara di Belanda pembedaan ini tidak dibuat lagi.

Meester in de Rechten (disingkat Mr.) adalah sebuah gelar yang diperoleh seseorang setelah menyelesaikan studinya dalam ilmu hukum pada sebuah universitas yang mengikuti sistem yang berlaku di Belanda dan Belgia. Dalam bahasa Belanda, gelar ini berarti “Magister dalam ilmu hukum”. Pada praktiknya, gelar ini biasa ditulis sebagai Meester, saja, seperti misalnya “Meester Moh. Yamin” atau “Meester Cornelis”. Gelar ini biasa disingkat menjadi Mr. dan ditulis di depan nama seseorang.
Di Belanda maupun di Indonesia, ketika sistem pendidikan Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh sistem Belanda, gelar “Mr.” ini setara dengan gelar S-2 (magister), seperti contohnya gelar MA dalam ilmu Hukum (LLM) di negara-negara yang berbahasa Inggris.

Di Indonesia setelah zaman kemerdekaan, gelar ini diganti dengan gelar Sarjana Hukum yang kurang lebih bisa dikatakan merupakan terjemahan bebas gelar dalam bahasa Belanda ini. Perbedaannya ialah bahwa di Indonesia, gelar ini ditulis setelah nama seseorang, dan derajatnya menurun hingga menjadi gelar S-1.

Gelar magister di Indonesia

Di Indonesia, gelar magister diatur oleh senat perguruan tinggi dan ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M diikuti inisial bidang studi. Gelar magister yang ada di Indonesia antara lain:

Magister Administrasi Rumah Sakit (M.A.R.S.)
Magister Akuntansi (M.Ak.)
Magister Arsitektur (M.Ars.)
Magister Biomedik (M.Biomed.)
Magister Ekonomi (M.E.)
Magister Epidemiologi (M.Epid.)
Magister Farmasi (M.Farm)
Magister Farmasi Klinik (M.Farm.Klin)
Magister Hukum (M.H.)
Magister Humaniora (M.Hum.)
Magister Ilmu Gizi (M.Gizi)
Magister Ilmu Komputer (M.Kom.)
Magister Kedokteran Kerja (M.K.K.)
Magister Kenotariatan (M.Kn.)
Magister Keperawatan (M.Kep.)
Magister Kesehatan (M.Kes.)
Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M.)
Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja (M.K.K.K.)
Magister Manajemen (M.M.)
Magister Pendidikan (M.Pd.)
Magister Manajemen Pendidikan (MM.Pd.)
Magister Sains (M.Si.)
Magister Sains Akuntansi (M.S.Ak.)
Magister Sains Ekonomi (M.S.E.)
Magister Sains Manajemen (M.S.M.)
Magister Teknik (M.T.)
Magister Teknologi Informasi (M.T.I.)
Magister Manajemen Teknik (M.M.T.)
Magister Theologia (M.Th.)
Magister Filsafat (M.Fil.)
Magister Manajemen Agrisbisnis (M.M.A.)
Magister Teknologi Agroindustri (M.T.A.)
Magister Psikologi (M.Psi.)
Magister Pertanian (M.P.)
Magister Teknologi Pertanian (M.T.P.)
Magister Kehutanan (M.Hut.)
Magister Seni (M.Sn.)
Magister Administrasi Publik (M.A.P.)
Magister Administrasi Bisnis (M.A.B.)
Magister Agama (M.Ag./M.A.)
Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I.)
Magister Studi Islam (M.S.I.)
Magister Hukum Islam (M.H.I.)
Magister Ekonomi Islam (M.E.I.)
Magister Filsafat Islam (M.Fil.I.)
Magister Pemikiran Islam (M.P.I.)
Magister Agama bidang Humaniora (MA.Hum.)

Gelar magister di negara lain

Gelar magister di negara lain antara lain adalah Master of Business Administration. Di Britania Raya gelar magister kadangkala diberikan kepada lulusan program undergraduate yang dalam tahun terakhirnya terdapat pelajaran tingkat-tinggi dan sebuah proyek riset utama. Dalam sistem standar diploma pendidikan tinggi Eropa baru-baru ini, program ini merupakan sebuah program graduate dua tahun yang dimasuki setelah belajar undergraduate selama tiga tahun dan merupakan persiapan untuk pekerjaan kualifikasi-tinggi atau untuk belajar doktor.

Master Eropa adalah gelar akademik di tingkat master, yang biasanya diberikan oleh suatu konsorsium yang melibatkan beberapa perguruan tinggi dan pusat penelitian di Uni Eropa. Program pendidikan seperti ini biasanya menawarkan gelar ganda (double degree) ataupun gelar bersama (joint degree).

Program Erasmus Mundus adalah salah satu program yang disponsori oleh Uni Eropa yang menawarkan puluhan master Eropa untuk berbagai bidang. Selain tingkat master, tren ini sekarang juga merambah untuk tingkat doktoral.[1]

Gelar doktor di Indonesia

Di Indonesia, gelar doktor ditulis di depan nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan Dr. (huruf D ditulis dengan huruf besar, bedakan dengan “dr” untuk dokter yang huruf d-nya ditulis dalam huruf kecil)

Riset. Doktor riset hampir selalu diberikan berdasarkan pengakuan terhadap riset akademik yang mencapai standar yang layak diterbitkan (meskipun kenyataannya mungkin tidak diterbitkan) dan mewakili paling tidak satu sumbangan kecil terhadap pengetahuan manusia. Riset ini Biasanya dipertimbangkan lewat penyerahan dan pembelaan tesis atau disertasi doktorat, meskipun dalam beberapa kasus suatu kumpulan tulisan yang telah diterbitkan serta bersifat koheren pun dapat juga diterima.

Gelar doktor di negara lain

Amerika Serikat. Gelar doktor profesional di Amerika Serikat diberikan dalam kaitan dengan profesi tertentu di Amerika, misalnya ilmu hukum (gelar J.D. atau Jurist Doctor) atau kedokteran (gelar Medical Doctor atau doktor medis).
Jerman. Gelar doktor di Jerman diberikan berbasis riset. Gelar doktor dari negara ini (dan juga Swiss dan Austria) dibedakan menurut bidang ilmu yang ditekuni kandidat. Beberapa di antaranya:
Doktor ilmu pertanian (doctor agricultur, Dr. agr.)
Doktor ilmu-ilmu teknik (doctor ingenieur, Dr.-Ing.)
Doktor ilmu sains (doctor rerum naturalium, Dr. rer.nat.)
Doktor ilmu ekonomi (doctor rerum oeconomicum, Dr. rer.oec.)
Doktor di bidang profesional diberikan pada bidang tertentu (kedokteran).

Doktor Kehormatan (Doktor honoris causa)

Doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.(H.C.)) diberikan untuk penyumbangan besar bagi suatu bidang tertentu tetapi tidak harus bersifat akademik. Di Britania Raya, Australia, dan beberapa negara Persemakmuran, dibuat pembedaan antara doktor riset menjadi doktor junior (biasanya diberikan setelah menyelesaikan pelajaran dan riset pasca-sarajana antara 3-5 tahun dan penulisan tesis), dan doktor tinggi yang diberikan atas dasar riset luar biasa selama kurang lebih 10 tahun, yang dinilai melalui penelitian terhadap hasil publikasinya. Gelar doktor tinggi ini juga digunakan sebagai doktor kehormatan, namun apabila diberikan atas dasar penelitian akademik maka sifatnya bukan kehormatan.

Gelar Honoris Causa (H.C) / Gelar Kehormatan adalah sebuah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syarat kepada seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut. Gelar Honoris Causa dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia.

Sejarah dan Penjelasan

Gelar Doktor Kehormatan tercatat pertama kali diberikan kepada Lionel Woodville sekitar tahun 1470 oleh Universitas Oxford[1], Oxford, Oxfordshire, Inggris. Ia kemudian dikenal sebagai Uskup Wilayah Salisbury/Bishop of Salisbury.
Pada awalnya, pemberian gelar Doktor Kehormatan ini dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak biasa. Pemberian gelar Doktor Kehormatan ini mulai dianggap biasa sekitar abad ke-16, khususnya pada masa-masa ketika banyak universitas-universitas yang belum tenar pada saat itu, menerima kunjungan kehormatan dari universitas-universitas ternama seperti Universitas Oxford atau Universitas Cambridge[2].
Pada waktu kunjungan James I ke Universitas Oxford pada tahun 1605 misalnya, 43 dari rombongan beliau (15 diantaranya merupakan golongan bangsawan tinggi dan ksatria) mendapatkan Gelar Kehormatan Master of Arts dari Universitas Oxford dan mereka tercatat sebagai yang memiliki kesarjanaan penuh.

Seseorang yang telah menerima gelar Doktor Kehormatan, mendapatkan hak yang sama seperti para penerima gelar yang lainnya misalnya, dapat mencantumkan tanda kedoktorannya pada awal nama (Dr. xxx) namun khusus untuk yang menerima gelar Doktor Kehormatan, dapat mencantumkan tanda khusus Doktor Kehormatannya dengan singkatan H.C (Dr. H.C xxx)

Persyaratan. Tidak semua perguruan tinggi/universitas dapat memberi gelar Doktor Kehormatan, hanya perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syaratlah yang diberikan hak secara eksplisit untuk memberi gelar Doktor Kehormatan. Berikut persyaratan-persyaratannya :

  • Pernah menghasilkan sarjana dengan gelar ilmiah Doktor,
  • Memiliki Fakultas atau jurusan yang membina dan mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan bidang ilmu pengetahuan yang menjadi ruang lingkup jasa dan atau karya bagi pemberian Gelar, dan
  • Memiliki Guru Besar Tetap sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dalam bidang sebagaimana dimaksud pada poin kedua.

Adapun kriteria bagi jasa dan atau karya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia sehingga penggagas/pelakunya dapat menerima gelar Doktor Kehormatan ialah karya atau jasa yang :

  • Yang luar biasa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan, dan pengajaran,
  • Yang sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial budaya,
  • Yang sangat bermanfaat bagi kemajuan atau kemakmuran dan kesejahteraan Bangsa dan Negara pada khususnya serta umat manusia pada umumnya,
  • Yang secara luar biasa mengembangkan hubungan baik dan bermanfaat antara Bangsa dan Negara dengan Bangsa dan Negara lain di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya, dan
  • Yang secara luar biasa menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi perkembangan Perguruan Tinggi.

Pelaksanaan. Tidak semua penerima gelar doktor kehormatan dapat secara leluasa mencantumkan gelar doktor (Dr. xxx) diawal namanya. Di beberapa negara termasuk Inggris, Australia, dan Selandia Baru, merupakan hal yang tidak biasa bagi seseorang penerima gelar doktor kehormatan untuk mencantumkan gelar doktor diawal namanya. Namun ada beberapa pengecualian yang diberikan kepada beberapa orang dibawah ini :

  • Benjamin Franklin, yang menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas St. Andrews pada 1759 dan Universitas Oxford pada 1762. Dia menamakan dirinya sendiri sebagai Doctor Benjamin
  • Terry Wogan yang menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Limerick

Namun ada pula orang yang mencantumkan gelar doktor kehormatan walaupun sebenarnya tidak pernah mendapatkannya dari universitas manapun. Dia adalah Maya Angelou

Doctor of Divinity (D.D., Divinitatis Doctor dalam bahasa Latin) adalah sebuah gelar akademik lanjutan dalam ilmu teologi. Secara historis, gelar ini menunjukkan bahwa si pemegangnya telah memperoleh lisensi dari sebuah universitas untuk mengajar teologi Kristen atau bidang-bidang keagamaan yang terkait.

Di Britania Raya, gelar D.D. menurut tradisi adalah gelar doktorat tertinggi yang diberikan oleh universitas, biasanya dianugerahkan kepada seorang pakar keagamaan yang luar biasa dan sangat menonjol. Menurut tingkat senioritasnya (dari urutan tertinggi ke tingkat terendah), gelar D.D. diikuti oleh LL.D. (atau D.C.L.) dalam bidang hukum, dokter medis (biasa disingkat M.D. atau D.M.) di bidang kedokteran, Litt.D. (atau D.Litt.) dalam bidang sastra, dan D.Sc. (atau Sc.D.) untuk sains.

Kualifikasi D.D. dianggap sebagai gelar tertinggi dibandingkan dengan gelar-gelar lain di universitas-universitas di Britania karena afiliasi tradisional mereka dengan gereja Kristen. Pada abad ke-20, universitas-universitas di sana menjadi semakin sekular, sehingga gelar D.D. dalam praktiknya telah kehilangan banyak dari gengsinya, meskipun secara resmi masih dianggap sebagai kualifikasi yang paling senior di universitas-universitas di Inggris, yaitu Oxford, Cambridge, dan Durham, maupun di universitas-universitas di Skotlandia yaitu St. Andrews, Glasgow, Aberdeen, dan Edinburgh.

Di Amerika Serikat, gelar D.D. hanya dianugerahi sebagai gelar kehormatan. Di AS tidak ada sistem “gelar yang lebih tinggi”, sehingga gelar tertinggi dalam bidang teologi yang dicapai melalui jenjang pendidikan adalah Ph.D., Th.D. atau S.T.D., dan gelar tertinggi dalam Teologi terapan adalah D.Min..

Kini, gelar D.D. biasanya diberikan sebagai gelar kehormatan bagi seorang individu yang menonjol yang karyanya berkaitan dengan agama. Di kebanyakan universitas berbahasa Inggris, seorang mahasiswa pasca-sarjana yang telah menyelesaikan prasyarat studi dan penelitian doktoralnya dalam bidang agama biasanya akan menerima gelar Ph.D. atau Th.D, dan bukan D.D. Namun, sejumlah universitas masih menganugerahkan gelar D.D., atas permintaan, sebagai pengakuan atas sumbangan ilmiah bagi teologi yang dibuat melalui karya yang telah diterbitkan oleh yang bersangkutan.

Doktor Teologi (dalam bahasa Latin Theologiae Doctor, disingkat Th.D.) adalah sebuah gelar akademik tertinggi dalam teologi. Ini adalah gelar riset, yang melibatkan penerbitan suatu sumbangan orisinal bagi ilmu yang bersangkutan dalam bentuk sebuah disertasi, yang sederajat dengan Doctor of Philosophy dalam Teologi atau suatu disiplin yang sejenis. Program-program Th.D. biasanya dirancang untuk bidang studi teologi di lingkungan suatu tradisi keagamaan (biasanya Kristen), sementara program-program Ph.D. biasanya dirancang untuk mempelajari isu-isu teologis dalam konteks yang lebih luas dalam bidang liberal arts dan humaniora.

Tergantung sekolahnya, ada sedikit perbedaan antara Th.D. dan Ph.D., yang mencakup masalah-masalah seperti prasyarat, kolokium tertentu untuk masing-masing gelar, persyaratan bahasa atau profesor penyelia gelar tersebut (mis. dosen Sekolah Teologi untuk Th.D., dosen Departemen Teologi di sekolah pasca-sarjana untuk Ph.D.). Namun demikian dalam beberapa dasawarsa terakhir ini muncul kecenderungan di sejumlah lembaga pendidikan (mis. Seminari Teologi Princeton dan Seminari Teologi Dallas) untuk menggantikan program-program Th.D dengan Ph.D dalam bidang yang sama.

Gelar Th.D. harus dibedakan dengan gelar Doctor of Ministry (D.Min), sebuah gelar profesional dan bukan melulu akademik, yang terfokus pada masalah-masalah praktis dalam pelayanan gereja dan teologi terapan, dan gelar Doctor of Divinity, yang di Amerika Utara dianugerahkan hanya sebagai gelar kehormatan, dan yang di Britania Raya merupakan “gelar yang lebih tinggi” yang dianugerahkan sebagai pengakuan atas karier kesarjanaan di luar gelar-gelar tertinggi biasa lainnya dalam bidang Teologi.

Di Amerika Utara, mereka yang memegang gelar Doktor Teologi dianggap secara akademik memenuhi syarat untuk mengajar sebagai dosen teologi atau bidang-bidang terkaitnya (mis. studi biblika, sejarah gereja) dalam pendidikan yang bersifat akademis ataupun profesional. Namun, banyak pula yang bekerja di bidang gerejawi, administrasi dan bidang-bidang non-akademis lainnya.
Di berbagai negara di Eropa, digunakan singkatan Dr. Theol., dan gelar ini telah lama dianggap setara dengan gelar Ph.D. dalam segi akademis. Baru-baru ini sejumlah universitas berusaha mengganti gelar Dr. Theol. dengan Ph.D. dalam bidang teologi atau studi-studi terkait.

Meskipun banyak universitas dan sekolah teologi Katolik memberikan gelar Th.D. dan Ph.D., gelar akademik yang lebih lazim di kalangan rohaniwan Katolik - dan semakin banyak pula teolog awam Katolik - adalah gelar S.T.D., Doctor of Sacred Theology (Doktor Teologi Suci), yang dianugerahi oleh universitas-universitas dan fakultas-fakultas teologi yang diberi wewenang oleh Vatikan. Gelar S.T.D. atau gelar lain yang setara adalah prasyarat, atau prasyarat yang lebih disukai untuk sejumlah jabatan akademik dan administratif di lingkungan Gereja Katolik Roma.

Di kalangan Gereja Katolik, ada pula gelar yang kadang-kadang digunakan untuk tokoh-tokoh historis, yaitu Doktor Gereja. Gelar ini diberikan kepada para teolog terkemuka (mis. Thomas Aquinas) yang ajaran-ajarannya dianggap sangat bermanfaat bagi seluruh Gereja Kristen, seorang teolog penting. Ini bukanlah glear akademik, melainkan mencerminkan pengertian yang paling tepat dalam dari kata ini bahasa Latin, yaitu “guru.”

Berbagai singkatan yang digunakan di berbagai negara:

Th.D. di Kanada dan Amerika Serikat
ThDr. di Ceko dan Slosakia
dr.theol. di Denmark dan Norwegia
D.Th. di India di bawah Senat Serampore College (Universitas) dan di Asia Tenggara, dianugerahkan oleh Association of Theological Education in Southeast Asia (ATESEA)
Dr. theol. di Jerman
Teologie doktor, disingkat teol. dr atau TD di Swedia
Teologian tohtori di Finlandia
Th.D. dan D.Theol di Australia

Profesor (Latin: “Seseorang yang dikenal oleh publik berprofesi sebagai pakar”; bahasa Inggris: Professor) (atau prof secara singkat) adalah seorang guru senior, dosen dan/atau peneliti yang biasanya dipekerjakan oleh lembaga-lembaga/institusi pendidikan perguruan tinggi ataupun universitas.

Sebagai pakar, profesor umumnya memiliki empat kewajiban tambahan:

  1. Memberi kuliah dan memimpin seminar dalam bidang ilmu yang mereka kuasai baik dalam bidang ilmu murni, sastra, ataupun bidang-bidang yang diterapkan langsung seperti seni rancang (desain), musik, pengobatan, hukum, ataupun bisnis;
  2. Melakukan penelitian dalam bidang ilmunya;
  3. Pengabdian pada masyarakat, termasuk konsultatif (baik dalam bidang pemerintahan ataupun bidang-bidang lainnya secara non-profit);
  4. Melatih para akademisi muda/mahasiswa agar mampu membantu menjadi asisten atau bahkan menggantikannya kelak.

Keseimbangan dari empat fungsi ini sangat bergantung pada institusi, tempat (negara), dan waktu. Sebagai contoh, profesor yang mendedikasikan dirinya secara penuh pada penelitian dan ilmu pengetahuan di universitas-universitas di Amerika Serikat (dan universitas-universitas di negara Eropa) dipromosikan untuk mendapat penghargaan utamanya pada bidang ilmu dari subyek penelitiannya.
“Profesor” dapat pula digunakan (utamanya oleh para pelajar di Amerika) sebagai istilah yang lebih sopan untuk seseorang yang memegang gelar kesarjanaan PhD (S3) dari perguruan tinggi, tanpa memperhatikan tingkatan/rating dari perguruan tinggi tersebut.

Master Bisnis Administrasi (bahasa Inggris: Master of Business Administration, MBA) adalah sebuah gelar tertiari dalam manajemen bisnis. Awalnya dirancang untuk menyediakan para teknisi dengan kemampuan manajemen, sekarang ini MBA mengambil pendaftar dari berbagai macam disiplin.

MBA dianggap sebuah gelar Master profesional dan juga gelar akademis tradisional. Namun, penyelesaian dari sebuah profesional MBA biasanya tidak dapat melanjutkan ke tingkat Ph.D. meskipun dapat menolong. Sekolah yang menawarkan MBA biasanya dikenal sebagai sekolah bisnis atau manajemen.

Sejarah

Perancangan MBA berasal dari Amerika Serikat, yang mulai sebagai negara industri dan perusahaan-perusahaan mulai mengadakan pendekatan ilmiah dalam manajemen. Sekolah bisnis Amerika pertama, Wharton School of the University of Pennsylvania, diresmikan pada 1891.

Di AS, biaya rata-rata untuk mendapatkan gelar MBA melalui program penuh-waktu “accredited” (tidak termasuk tempat tinggal) meningkat dari AS$124.000 pada 1993 menjadi $162.000 pada 2001 (lihat Davies and Cline, 2005).

Bachelor of Business Administration (BBA), gelar sarjana dalam bidang administrasi bisnis.
Doctor of Business Administration (DBA), gelar doktor dalam bidang administrasi bisnis.

Gelar vokasi di Indonesia

Di Indonesia, gelar vokasi diatur oleh senat perguruan tinggi dan ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatannya. Gelar vokasi yang ada di Indonesia antara lain:

Ahli Pratama (A.P.)
Ahli Muda (A.Ma.)
Ahli Madya (A.Md.)
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)
Sarjana Sains Terapan (S.S.T.)
Ahli Madya (A.Md.) merupakan gelar vokasi yang diberikan kepada lulusan program pendidikan diploma 3.
Pernyandang Gelar A.Md memiliki ketrampilan praktis daripada teoritis. Pada proses belajarnya hampir seluruh mata kuliah pada program D3 ini memiliki komposisi 30% teori dan 70% praktek. Pengajar pada program D-3 minimum bergelar S-2.
Ahli Muda (A.Ma.) merupakan gelar vokasi yang diberikan kepada lulusan program pendidikan diploma 2.
Akhir-akhir ini sebutan profesional untuk program diploma, sebagaimana yang tertera itu, cenderung diikuti oleh ilmu keahlian yang dimiliki. Sebagai misal, sebutan profesional untuk ahli madya keperawatan disingkat A.Ma.Per., ahli madya komputer disingkat A.Ma.Kom., ahli madya kesehatan disingkat A.Ma.Kes., ahli madya kebidanan disingkat A.Ma.Bid., dan ahli madya pariwisata disingkat A.Ma.Par.
Pernyandang Gelar A.Ma memiliki ketrampilan praktis lebih besar daripada teoritis. Pada proses belajarnya hampir seluruh mata kuliah pada program D-2 ini memiliki komposisi 10% teori dan 90% praktek. Pengajar pada program D-2 minimum bergelar S-1. Namun banyak juga dijumpai tenaga pengajar D-2 yang bergelar S-2 dan D-3.
Ahli Pratama (A.P.) merupakan gelar vokasi yang diberikan kepada lulusan program pendidikan diploma 1.


Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Sarjana

One Response to “Gelar Akademik”

  1. Kusumadalyon 20 May 2012 at 12:39 am

    Sangat informatif. Terima kasih :)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply