Feb 22 2012

Petuah dari Sang Guru

Published by at 8:48 am under Refleksi

Kakang Kawah Adi Ari-ari

Tak terasa jalan dibelakang kita telah panjang
rerumputan di sekitar tersebak karena pijakan
batu batu kerikilpun telah terserak kepinggir
kakipun mengeras kepayahan
tangan serta tubuh berkeringat menahan lekat kekoloran waktu
belum tibakah saat kita berhenti menghitung hasil?

Kakang Kawah Adi Ari-ari
Kita pernah melalui masa bayi masa bocah
disayang disanjung dan banyak diharap
tangan kita saat ini sangat indah, montok dan harum
telapak kaki masih sangat lentur belum terbiasa dengan kerasnya laku dosa
mulut kita cantik dan mungil secantik kata yang keluar
hati kita putih bagaikan salju memancar dalam senyum semerkah mawar
tiada prasangka buruk tiada niat jahat
apa karena itu orang sayang kepada kita kang?

Kakang Kawah Adi Ari-ari
masa remaja kita isi dengan hura-hura muda
kita jawab dengan semangat segala yang menantang
kita masuki segala yang dilarang, kita coba semua yang tabu
pantang mundur sebelum terbentur
tak gentar digertak, tak mundur dibentak
tiada yang tidak bisa dikalahkan
kepuasan dikejar dan diburu
sampai nafas tersengal patah
yang buru makin jauh, yang dirindu makin manja
apa hidup ini kita isi hanya dengan kekosongan
belumkah waktunya kita menghitung...?

Kakang Kawah Adi Ari-ari
ternyata kini kita tidak lagi sendirian
ada yang disamping sedang dibelakang berderet panjang
fisik kita tidak seindah dulu tidak sekuat kemarin
hati nurani tidak lagi sebening kebenaran
ada benih iri, ada bau dengki, ada warna culas dan curang
sedang jalan didepan mungkin tinggal selangkah lagi
apa kisah kita akan berakhir dengan kekosongan?
relakah kita berlalu dituding dan disoraki...?
malu...

Karangkajen, 12 Januari 2012

by Sang Guru: Zaini Dahlan

U/ lebih dekat dengannya sebagaimana di book_biografinya via FBfanpage beliau Prof. H. Zaini Dahlan, MA

---

Berikut Nukilan yang khas & berkesan yang dikutip dari Buku tersebut

---

Delapan tahun di IAIN (1976 – 1984) dan delapan tahun di UII (1994 – 2002) bagi Zaini, “Nyaris seperti duduk di atas ketel panas. Sungguh sebuah hari-hari penuh pergolakan mental yang sangat melelahkan tapi juga penuh hikmah”
Kata Zaini pula, sebagai bekas santri yang tidak terbiasa berpikir kompleks dan strategis, tiba-tiba harus menghadapi kompleksitas persoalan insan kampus yang setiap tahapan penyelesaiannya menuntut kemampuan berpikir taktis, analitis dan komprehensif, “Pokoknya, semuanya serba harus ber-ijtihad,” tak urung semua itu akhirnya mempertemukannya dengan fakta-fakta empirik yang kelak akan sangat memperjelas pengertiannya kepada salah satu ayat dalam Al Qur’an yang notabene, “Ayat ini, sungguh-sungguh telah menjadi ‘sahabat’ hidup saya, menjadi penghibur dikala menghadapi masalah pelik yang nampaknya takkan terselesaikan”

---

Dari birokrasi, IAIN dan UII itulah Zaini menemukan jawabnya.
Mulai dari kesulitan menghadapi tipe-tipe manusia yang munafik, hipokrit, egoistik yang menyembunyikan penyakit Negaholic3 -nya secara canggih dan cerdas. Pagi bilang: ya, sorenya: mboten. Diundang rapat oleh Rektoriat, mangkir. Di depan hidung senyum, tapi di belakang menggunting dalam lipatan. Penyakit cepat merasa puas, memburu gengsi, enggan dan malu memperbaiki kesalahan, mau menang sendiri, main intrik, fitnah, menggunakan presure massa untuk mengadu domba, suka berbantahan, dsbnya. Ini penyakit bangsa kita umumnya, tidak hanya di UII atau IAIN, tapi terjadi pada siapa saja orang yang shalat tetapi lengah memahami esensi dari sujud-sujud shalatnya di lantai.
“Dari situ saya melihat, betapa semua kefasikan manusia terdidik di atas tadi, sumbernya adalah dari dalam keluarga-keluarga. Jadi bagi saya, sangat absurd sebenarnya, membicarakan pentingnya pembenahan Korporasi bangsa ini, tapi tanpa pernah menyentuh pembenahan di hulunya. Ya, keluarga-keluarga ini.”
Itulah sebabnya, kata Zaini: “Saya tidak terlalu keberatan pengalaman saya Anda jadikan Biografi, tetapi tolong jauhkan dari kultus dan fokuskanlah pada –apa yang saya rasakan dan pikirkan dari perjalanan saya dalam korporasi— dalam kaitannya dengan pengembangan pemodelan keluarga Mawadah warohmah dan bukan pada sejarah karir saya sendiri yang takkan banyak gunanya bagi orang lain”

End Note. 3. Negaholic, dari akar kata latin (Negare) yang berarti “menolak” , cepat menolak orang lain dan pendapatnya secara apriori yang bersumber dari perasaan rendah dirinya yang tersembunyi.

---

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*