Feb 17 2012

Strategi Pengembangan Bidang Ilmu MIPA Sebagai Ilmu Dasar

Published by at 8:52 am under Refleksi

Kemajuan pembangunan IPTEKS erat kaitannya dengan bidang MIPA sebagai ilmu dasar. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pengembangan teknologi tinggi berbasis pada ilmu-ilmu dasar. Bidang ilmu MIPA meliputi Matematika, Biologi, Kimia dan Fisika, sedangkan bidang ilmu teknik, kedokteran, farmasi, pertanian dan sebagainya merupakan terapan dari bidang ilmu MIPA.

Tidak ada negara yang maju jika ilmu dasarnya tidak berkembang dengan baik. Jepang dan Cina menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam pengembangan teknologinya saat ini karena ilmu dasarnya berkembang dengan baik. Pada negara-negara maju jika dilakukan pendataan menunjukkan bahwa lulusan yang mendalami bidang ilmu-ilmu dasar melebihi angka 20 % dari total lulusannya. Dengan demikian bisa dibayangkan bahwa pada negara-negara maju program studi yang menawarkan ilmu-ilmu dasar sangat diminati oleh calon mahasiswa. Pada negara tetangga kita Malaysia, tercatat 14,8 % lulusan dari bidang ilmu-ilmu dasar. Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini tercatat proporsi lulusan dari MIPA hanya 3,2 %.  Kalau disadari bahwa lebih dari 90 % teknologi pada negara kita masih lisensi dan ini dayakini salah satu penyebabnya adalah karena ilmu dasarnya masih rendah.

Untuk memotret lebih jauh bagaimana perkembangan ilmu MIPA di Indonesia, mari kita lihat posisi minat lulusan SMA/MA untuk melanjutkan studi pada bidang MIPA menurut data dari EPSBED yang diolah oleh MIPAnet. Jumlah program studi MIPA yang tidak terpenuhi kursi calon mahasiswa antara 16,67 – 57,14%.  Apabila dibandingkan antara peminat MIPA di PTN dan PTS, sebanyak 5,20% dari 173 program studi MIPA di PTN tidak terpenuhi targetnya, sedangkan peminat MIPA di PTS yang tidak terpenuhi targetnya jauh lebih tinggi yaitu 60,48% dari 124 program studi.  Dapat disimpulkan bahwa secara umum PTS yang menyelenggarakan prodi-prodi keilmuan MIPA sangatlah tidak menguntungkan. Tentunya sangat dibutuhkan upaya-upaya yang lebih dari pihak penyelenggara supaya prodi-prodi ini tetap eksis.

Kurangnya daya tarik (attractiveness) jurusan-jurusan dalam lingkungan Fakultas MIPA menyebabkan rendahnya tingkat kompetisi calon mahasiswa untuk masuk Fakultas MIPA. Hal ini mengakibatkan kualitas in-take FMIPA relatif rendah secara nasional. Berikut adalah faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat siswa SMA/MA pada bidang MIPA berdasarkan data yang dihimpun pada lokakarya yang diselenggarakan oleh MIPAnet, diantaranya adalah :

Lapangan pekerjaan lulusan MIPA yang kurang menarik. Salah satu alasan siswa SMA/MA memilih program studi untuk melanjutkan studinya ialah lapangan pekerjaan yang dapat menerima mereka ketika lulus.  Bidang MIPA tidak terlalu diminati oleh siswa SMA/MA salah satunya disebabkan karena para siswa memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai lapangan pekerjaan maupun jenis wirausaha yang akan dilakukan jika telah lulus.

Materi ilmu dasar/MIPA dianggap sulit. Materi bidang MIPA secara umum dirasakan sulit bagi siswa SMA/MA dibandingkan dengan bidang ilmu lainnya.  Pelajaran MIPA dirasakan sulit karena banyak rumus-rumus (matematika, kimia dan fisika) yang harus dipahami, banyak nama-nama latin yang harus dihafalkan (biologi dan kimia), disamping  pemahaman yang sifatnya abstrak (matematika, kimia).

Kebijakan pemerintah dalam mendukung peminat ke bidang MIPA masih kurang. Selama ini kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan siswa masih terlalu umum. Misalnya, beasiswa untuk masuk Perguruan Tinggi diberikan pada siswa yang berprestasi namun tidak secara khusus menekankan pada bidang MIPA. Akibatnya siswa cenderung memilih bidang non MIPA yang dipandang lebih menjamin masa depannya. Untuk itu, insentif khusus bidang MIPA merupakan langkah strategis dalam upaya meningkatkan minat siswa SMA/MA.

Karena itu, upaya-upaya revitalisasi bidang ilmu MIPA perlu dilakukan dengan serius. Upaya-upaya ini harus dilakukan secara terpadu mencakup pembuatan kebijakan, peningkatan pencitraan publik, peningkatan kualitas belajar mengajar dan penyediaan lapangan kerja yang relevan.

Barangkali kalau kita hanya berharap pada peran pemerintah untuk mendukung peminat ke bidang MIPA masih jauh panggang daripada api, dalam artian belum tentu terwujud dalam jangka waktu yang relatif pendek. Sementara waktu terus berjalan. Alangkah bijaknya kalau kita fokuskan berfikir meningkatkan minat pada Fakultas MIPA UII. Perlu disadari bersama bahwa keberadaan Fakultas MIPA pada suatu Universitas amatlah penting selain menyediakan dosen ilmu dasar bagi fakultas lain juga berperan dalam pengembangan riset-riset dasar yang sangat dibutuhkan bagi pengembangan bidang ilmu lainnya. Riset ilmu kedokteran, farmasi dan bidang kesehatan lainnya tidak akan berkembang jika pemahaman terhadap ilmu dasar di bidang biologi dan kimia kurang memadai. Begitu juga bidang ilmu teknik tidak akan berkembang jika tidak didukung dengan pemahaman teori-teori fisika dan matematika. Bahkan ilmu-ilmu non eksakta seperti ekonomi, hukum, psikologi dan ilmu sosial lainnya juga tidak akan berkembang jika pengetahuan ilmu dasarnya kurang. Karena ilmu dasar ini terkait dengan pemahaman dasar berfikir logis dan kuantitatif analitik.

Merupakan suatu keharusan bagi Fakultas dan Prodi pada MIPA untuk terus mengupayakan untuk mendapatkan mahasiswa baru sesuai target dan tentunya diharapkan diperoleh bibit-bibit yang unggul. Tentunya peran Universitas dan Yayasan juga sangat dibutuhkan melalui kebijakan-kebijakannya untuk pengembangan Fakultas MIPA diantaranya :

1.    Penyediaan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran yang standar yang tidak terlalu berbeda dibandingkan dengan fakultas lainnya.

2.    Menyediakan beasiswa untuk siswa berprestasi untuk melanjutkan studi pada Fakultas MIPA (selain bidang farmasi). Beasiswa bidang MIPA diberikan pada siswa berprestasi, tidak mampu secara ekonomi. Dengan pemberian beasiswa bidang MIPA bagi siswa selama masa studinya di perguruan tinggi, maka diharapkan akan dapat meningkatkan perkembangan ilmu-ilmu dasar di Indonesia.

3.    Untuk mengembangkan riset di bidang MIPA perlu didukung pembukaan S2 dan S3 di Fakultas MIPA tentunya dengan adanya kebijakan keuangan tersendiri untuk sarana dan prasarana yang mendukung pengembangan riset ini.

Dengan demikian, karena kemajuan pembangunan IPTEKS erat kaitannya dengan bidang MIPA sebagai ilmu dasar, pengembangan bidang ilmu MIPA amatlah penting. Bangsa kita butuh SDM yang berkualitas untuk mengembangkan riset-riset dasar untuk mengejar ketertinggalan teknologi bangsa kita yang masih banyak lisensi. Semuanya ini tentunya berfokus pada bagaimana upaya-upaya kita serta strategi untuk mengembangkan bidang ilmu MIPA sebagai ilmu dasar di negara kita.

Yandi Syukri, S.Si, M.Si, Apt. (Dekan Fakultas MIPA/Sekretaris Eksekutif MIPAnet - Jaringan Komunikasi FMIPA, FST, FPMIPA dan FBio Indonesia)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*