Feb 09 2012

Sekelebat Candi Kimpulan UII

Published by at 11:41 am under Perlu Diketahui

Candi Kimpulan ditemukan di Dusun Kimpulan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman pada hari Jum’at, 11 Desember 2009, Pukul 10.00 WIB di kedalaman 270cm bersebelahan dengan sungai Klanduan. Ini sesuai konsep dimana candi didirikan berdekatan dengan sumber mata air atau sungai sebagai unsur yang mensucikan. Kegiatan ekskavasi penyelamatan selama 35 hari dari 19/12/’09 – 30/1/’09 seluas 24x24m oleh Tim BP3 Yogyakarta/Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta yang beralamat Jl. Solo Km 15, Bogem, Kalasan, Sleman, D.I. Yogyakarta. Tel.&Fax 0274-496019; 496419; e-mail: bp3diy@yahoo.com.  Dengan tujuan menampak-ungkapkan setting bangunan, desain bangunan, latar belakang keagamaan, penyebab kerusakan, dan untuk memperoleh data-data teknis lainnya. Sedangkan kegiatan pemugaran direncana 4 bulan September – Desember 2010, karena erupsi gunung merapi November 2010 dengan radius zona bahaya 20 km dari puncak Merapi dan Candi terletak 15 km, sehingga molor s/d pertengahan Januari 2011. Pemugaran candi dan Gedung Muh. Hatta diresmikan Senin 17 Oktober 2011 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, SE. Hadir diantaranya dalam kesempatan tersebut Putri Mohammad Hatta, Prof. Dr. Meutia Hatta, Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementrian Budaya dan Pariwisata RI Prof. Dr. I Gede Pitane, Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo, Pimpinan Universitas di Yogyakarta, pejabat sipil dan militer, jajaran Dewan Pembina Yayasan Badan Wakaf, segenap pimpinan baik universitas dan fakultas di lingkungan UII. Sedang Gedung Muh. Hatta diserahterimakan Senin, 21 November 2011dari Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf UII, Dr. Ir. Luthfi Hasan, MS kepada Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec selaku Rektor UII.

Penelitian Arkeologis. Candi berlatar belakang agama Hindu peninggalan zaman Mataram Kuno dan merupakan salah satu dari 10 candi atau situs yang terpendam seperti situs Palgading, candi Morangan, situs Kadisoka, candi Kedulan, candi Sambisari, situs Klodangan, situs Mantup, situs Payak dan candi Gampingan. Candi tak bertangga, dimungkinkan dulu tangga terbuat dari kayu atau bahan organik lainnya, sehingga sisa-sisanya tidak ditemukan kecuali adanya batu persegi yang aus membentuk cekungan sebagai landasan tangga. Komplek candi terdiri atas candi induk dan sebuah candi perwara yang dikelilingi pagar batu (tinggi 60-75cm dan lebar 110-120 cm) radius 10,5 dari lingga patok sebagai titik pusat. Di dalam candi induk dan perwara terdapat batu-batu bulat yang merupakan umpak/landasan tiang. Diperkuat  feature bekas tiang di candi induk yaitu perbedaan jenis tanah di atas umpak datar di sekitarnya berupa padas. Ini bukti semula menggunakan konstruksi atap dari bahan organik. Lingga-yoni biasanya terdapat dewa-dewa pengiring, yakni durga dalam relung utara, ganesha di barat dan agastya di relung utara. Khusus Candi ini hanya ada Arca Ganesha (sebagai vighneswara atau dewa penghalang rintangan) yang berdekatan dengan lingga yoni. Pada lempengan emas dan perak pada kotak peripih di dalam yoni memuat 3 baris tulisan berhuruf Jawa Kuna dan berbahasa Sansekerta yang merupakan mantera dalam agama Hindu, dalam kajian paleografi tulisan ini lazim digunakan pada abad IX (9) M.

Candi berlatar belakang agama Hindu peninggalan zaman Mataram Kuno dan merupakan salah satu dari 10 candi atau situs yang terpendam.

by http://4.bp.blogspot.com/_tDODLOf8Zbc/TGOeobfNvQI/AAAAAAAAAAM/Oczn3Y9kZNQ/s1600/kondisi+penggalian.JPG

Perpaduan Pemugaran Peninggalan Mataram  Kuno & Pembangunan Perpustakaan UII

by http://3.bp.blogspot.com/-G3MnEU2_zho/TwfLNNKl5xI/AAAAAAAACmM/IE6tQJqZjMU/s1600/Candi+Kimpulan+2.jpg

Gedung Moh. Hatta yang terdiri dari Candi Kimpulan, Museum UII dan Perpustakaan Pusat UII

Vice Gedung Moh. Hatta.

Candi Induk dilihat dari candi perwara tanpa tangga masuk +115cm dengan pintu sempit untuk induk 60cm dan perwara 52cm.

Arca Ganesha (dewa penghalau rintangan tanpa arca agastya maupun arca durga sebagai pantheon hindu) di Candi Induk.

Lingga-yoni tepat dibelakang Arca Ganesha di Candi Induk.

Pintu masuk sisi kiri Candi Induk selebar 60c.

Pintu masuk sisi kanan Candi Induk.

Sisi utara tengah Candi Induk.

Lingga-yoni di Candi Perwara

Arca nandi dan diapit lapik di Candi Perwara

Penelitian Geologis. Ada 19 lapisan material. Endapan lahar berupa kerikil hingga bongkah dengan sortasi jelek, kemas terbuka, bentuk butir subangular hingga subrounded, matrik berupa pasir sedang hingga sangat kasar. Endapan sungai berupa lempung pasiran hingga lempung. Selain itu terdapat struktur sedimen berupa struktur silang siur, gradasi, scouring (penggerusan) dan chanelling pada beberapa bagian. Candi diperkirakan terkubur material dari Gunung Merapi yang hanyut melalui sungai-sungai yang berada di sekitar situs Candi yang belum sepenuhnya membeku, terkena air hujan, longsor dan mengakibatkan banjir lahar dingin.

Penelitian Teknik Sipil. Dilakukan kegiatan sondir untuk menentukan kekuatan pondasi. Bahwa pada kedalaman 6m di bawah permukaan tanah, daya dukung tanahnya adalah 200 kg/cm2, dikedalaman inilah layer tanah tempat Candi berdiri. Zona inti berdenah bujur sangkar 22,4x22,4m = 501,76m2. Zona penyangga di luar pagar halaman I 3,5m sehingga 29,4x29,4m = 864,36m2. Sedang diluar halaman I merupakan zona pengembangan (berumput gajah). Setting situs menjadi titik pusat pandangan pengunjung. Titik nol pengukuran gedung perpustakaan berasal dari titik 0 candi (lingga patok pusat di depan candi induk), sehingga secara keseluruhan desain candi dan Perpus berasal dari titik yang sama. Perpus semula berdesain kotak diubah desainnya menjadi lingkaran dengan jari-jari 21 m seluas 1.385 m2. Diluar zona pengembangan dijadikan zona pelestarian. Proses penemuan dan pelestarian yang dapat dilakukan secara harmonis dengan pembangunan gedung perpustakaan UII yang modern dan megah merupakan contoh terbaik (best practice) harmonisasi pelestarian heritage dengan pembangunan.

Penelitian Laboratorium. Benda-benda emas yang ditemukan berkadar 18 karat, ini berhubungan dengan spesifikasi yang dibutuhkan untuk membuat ornament dan tulisan, yaitu mudah dibentuk dan diukir.
Keunikan Candi Kimpulan. Struktur temuan masih sangat intaks meski kena lahar dan terpendam lama. Berlatar belakang hindu (adanya arca Ganesha/dewa penghalau rintangan tanpa arca agastya maupun arca durga sebagai pantheon hindu) dan kedua bangunan tanpa dinding bilik, sehingga arca diletakkan pada lantai, juga tanpa tangga masuk +115cm dengan pintu sempit untuk induk 60cm dan perwara 52cm. Hanya punya sebuah perwara dengan temuan lingga-yoni, arca nandi, 2 buah lapik dan sebuah kotak batu, biasanya temuan tersebut berada di 3 buah candi perwara. Pagar I terbuat dari susunan batu andesit gundul dengan perekat spesi lempung tanpa pintu pagar. Kemungkinan candi beratap bahan organik seperti kayu, bambu, ijuk, ilalang atau daun karena ditemukan umpak pada lantai dan feature tiang di candi induk. Peripih di lubang yoni di bawah lingga, baik induk maupun perwara, isi peripih berupa: serpih emas (bertulis mantera)dan perak, uang perak, manik-manik, dan biji-bijian. Peripih di bawah lantai atau di bawah keletakan yoni dan mangkuk-mangkuk perunggu di bawah umpak, berisi alat semacam spatula berbahan besi. Candi ini sekarang berstatus monumen mati (dead monument).

Sumber: Buku Harmoni Pembangunan & Pelestarian Candi Kimpulan Penerbit BP3 Yogyakarta Cetakan I, 2011.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*