Jan 24 2012

Cahaya Hati

Published by at 1:25 pm under Sketsa

Cahaya Hati: Do’a Untuk UII

Puji hanya untukMu Allah Yang Maha Pengasih,
Syukur hanya untukMu, Engkau Yang Maha Pemurah. Sholawat dan salam semoga tercurah ke RasulMu Muhammad, para sahabat serta pengikutnya yang setia.
Ya Allah. Rahmat karuniaMu di hari ini terasa lebih indah. Usapan berkahMu di hari ini terasa sangat menyentuh. Perpustakaan, jantung dan cermin kehidupan kampus. Kini telah ada pada kami, tegak dan cantik...atas karuniaMu.
Jadikanlah yang menerangi dan mencerahkan, menyulut semangat menghamba dipadati hamba muda yang cinta kepadaMu dan RasulMu, yang layak memimpin kehidupan di bumi. Perpustakaan karuniaMu layak mengembangkan fikir, memperluas wawasan, mempertajam penelitian. Tempat hambaMu menemukan keindahan hidup...yang meramu ilmu dan iman. Perpustakaan karuniaMu, pantas tempat kami berharap lahirnya anak didik yang rindu kebenaran... bergairah menegakkan kalimatMu pada diri dan keluarga, tiada bergeming karena rayuan benda.
Ya Rahman, Ya Rahim. Bantu kami selalu ingat dan mensyukuri nikmatMu, meningkatkan nilai pengabdian hanya untukMu. Bantu kami memperkokoh iman, yakin dan ikhlas ketentuanMu, sehat dan beramal yang Kau kehendaki. Bimbing kami untuk dapat mencintaiMu.
Ya Allah, jangan Engkau murka karena kami lalai dan keliru. Jangan Engkau bebankan tugas berat, yang tiada terangkat pendahulu kami. Jangan Engkau pikulkan dipundak kami, tugas yang tak terjangkau kemampuan kami. Engkau saja yang mendengar Do’a kami. Engkau saja yang mengabulkan permohonan kami.

(Do’a oleh Prof. H. Zaini Dahlan, MA dalam acara serah terima Gedung Moh.Hatta Perpustakaan dan Museum di komplek Kampus Terpadu UII. Jl. Kaliurang Km. 14,5, Senin, 21 November 2011. (ditulis ulang Melan/Tri)

---

DPPAI Adakan Kuliah Umum Pra-Nikah
KALIURANG (UII News) - Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII mengadakan Kuliah Umum Pra-Nikah, menghadirkan Fauzil Adhim, pria yang melejit namanya lewat “Kupinang Engkau dengan Hamdallah”, dan dr. Agus Taufiqurrohman, M.Kes, Sp.S dosen tetap Fakultas Kedokteran UII., Kamis, 22 Desember 2011. Fauzil Adhim mengupas pernikahan dari sisi Psikologi, sementara dr. Agus membahas pernikahan dari sisi kesehatan.
Fauzil mengatakan dalam pemaparannya, pernikahan tidak ada masalah dengan usia. Bahkan jika si calon pengantin memiliki idealisme dan cita-cita besar, maka menikah di usia muda pilihan tepat. Pernikahan di usia dini menurutnya jauh lebih memungkinkan bagi mereka yang ingin menempuh kesulitan-kesulitan tanpa mengeluh. “Karena itu masa-masa Anda sangat idealis. Mahasiswa kalau demo betah sekali berjalan kaki ditengah terik matahari,” katanya.
Lalu bagaimana cara mengatur waktu jika masih menempuh setudi? Menurut Fauzil mereka akan mempunyai banyak waktu setiap hari tinggal mau meluangkan waktu atau tidak. “Suami istri di rumah bisa aja punya waktu yang sangat panjang tapi kalau mereka tidak saling meluangkan waktu maka saat berhubungan intim pun tidak ada ada keintiman, saat duduk berdampingan tidak ada keddekatan karena yang satu asik meng-update timeline di twitter yang satu asyik dengan facebook,” tambahnya.
Sementara dr. Agus memaparkan pernikahan dari segi kesehatan lebih banyak mengupas tentang virus HIV yang sekarang banyak menyerang bangsa indonesia sebagai akibat dari perilaku zina di negeri ini yang semakin luar biasa. Ada data yang luar biasa didapatkan, dalam lima tahun terakhir ini penderita HIV AIDS yang tertangkap meningkat minimal rata-rata dua kali lipat. Di DIY dahulu waktu ada petugas yang dikirim ke Australia untuk belajar penanggulangan HIV AIDS seolah ditertawakan orang Australia. Namun sekarang DIY masuk 10 besar propinsi dengan penderita HIV AIDS terbesar di Indonesia, padahal pada tahun 2000 belum ada HIV di DIY.
Sebagai solusi menurut dr. Agus menikah pada usia-usia ‘apik’ dapat menghindarkan pasangan dari resiko terjangkit HIV. Menikah pada usia apik baik buat pasangan yang ingin mendapatkan generasi yang berprestasi. “Maka sebaiknya kalo ingin mendapatkan generasi-generasi yang berprestasi menikahlah di usia sehat atau di usia apik itu. Kalo menikah di umur 27 atau 30 tahun itu sudah menurun kekuatan fisiknya,” tambah Agus yang Direktur DPPAI UII.

105

---

Bulan Dzulhijjah, Bulan Istimewa Nan Mulia
KALIURANG (UII News) - Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang istimewa dan mulia dan termasuk dalam al-asyhur al-hurum. Di dalamnya terdapat beberapa amalan ibadah utama yang tidak didapati pada bulan-bulan selainnya. Diantara amalan-amalan itu, Ibadah Haji, puasa Arafah, sholat Idul Adha, memotong hewan qurban, dan lainnya. Karena mulia dan besarnya pahala amalan-amalan tersebut, maka kehadirannya sangat dinantikan oleh umat Islam seluruh dunia.
Hal itu disampaikan Drs. H. Muhadi Zainudin, Lc., M.Ag dalam pengajian karyawan dan dosen FK UII, di Mushola Unit XII UII, Jum’at, 28 Oktober 2011. Dia mengingatkan, betapa banyaknya amaliah mulia pada bulan Dzulhijjah, sementara belum tentu setiap umat Islam mengetahui, memahami, dan peduli terhadap amalan-amalan mulia tersebut.
Pertama, di bulan Dzulhijjah ada puasa Arafah, puasa yang dilaksanakan 9 Dzulhijjah, adapun hukum menjalankannya sunnah. Sebagaimana hadits dari Abu Qatadah RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa hari Arafah akan menghapus dosa dua tahun, satu tahun yang sudah lampau dan satu tahun yang akan datang, dan puasa di hari Asyura’ akan menghapus dosa satu tahun yang telah lewat” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari dan Tirmidziy)
Kedua, Idul Adha, dalam agama Islam dikenal ada dua hari raya yaitu hari raya Fitri dan hari raya Adha. Hari raya Adha (hari raya Qurban) 10 Dzulhijjah. Hari raya ini juga dinamakan hari raya Haji, sebab di Mekah berkumpul jutaan umat Islam dari segala penjuru dunia untuk menunaikan ibadah haji sebagai tamu Allah. Dalam ibadah haji dianjurkan memperbanyak membaca takbir, tahlil dan tahmid. Ada perbedaan Idul Adha dan Idul Fitri dalam hal takbir. Pada Idul Fitri takbiran dimulai malam menjelang hari raya hingga shalat Idul Fitri dilaksanakan, sedangkan takbiran pada Idul Adha dimulai malam menjelang Idul Adha hingga akhir hari tasyrik 13 Dzulhijah.
Ketiga, Ibadah Qurban, qurban artinya dekat, menurut istilah syara’ mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyembelih hewan tertentu dengan niat karena Allah pada waktu tertentu pula. Perintah suci ini untuk mengikuti sunah nabi Ibrahim RA yang melakukan kurban terhadap anaknya Ismail RA yang dicintainya. Sebagian ulama berpendapat, melakukan ibadah qurban itu wajib bagi tiap-tiap muslim yang telah mampu. Sebagian yang lain berpendapat, hukum ibadah qurban sunnah muakkad, sunnah yang mendekati wajib (wajib bagi mereka yang telah mampu) sebagaimana di jelaskan dalam surat Al-Kautsar ayat 2, “Barang siapa yang mempunyai kelapangan (mampu) untuk berqurban tetapi tidak melaksanakannya maka janganlah dia mendekat pada tempat shalat (mushalla) kami”
Diakhir pengajian, Ust.Muhadi Zainudin menyimpulkan, pada dasarnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, menambah kesetiaan kepada Allah. Karena yang sampai kepada Allah bukan daging serta darah hewan yang dikurbankan, melainkan ketaqwaan yang sampai kepada Allah. Sebagiamana difirmankan Allah, Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (Q.S.: 22 :37)
Dengan qurban akan terlatihlah jiwa keiklasan lahir batin, membentuk watak siap berqurban pada segala hal untuk mencapai cita-cita hidup, mendapat kemulyaan hidup di dunia dan akhirat harus disertai pengorbanan, baik dengan materi maupun non materi. Berqurban merupakan ungkapan rasa syukur pada Allah atas segala yang diberikan Allah kepada hambanya, karena dengan syukur kepada-Nya maka Allah akan semakin memperhatikan hambanya. (Wibowo)

103

---

102

---

101

---

100

---

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*