Jan 17 2012

Menumbuhkembangkan Perbankan Syariah

Published by at 8:49 am under Refleksi

Perbankan syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang implementasinya menggunakan hukum Islam (syariah). Dua faktor yang mendorong lahirnya sistem tersebut. Agama Islam melarang untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba). Islam juga tidak menghendaki adanya investasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan konvensional memang memungkinkan terjadinya kedua hal tersebut di atas. Sebuah bank konvensional dapat saja mendanai suatu proyek yang berhubungan produksi makanan dan minuman haram dengan skema pinjaman bersuku bunga tinggi.

Di Indonesia, lahirnya perbankan syariah tidak lepas dari peran Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI mencoba untuk mengakomodir aspirasi dan pendapat umat Islam yang berpandangan bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba, dan dalam pinjam meminjam perlunya mengambil prinsip kehati-hatian. Dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama islam, secara ekonomis lahirnya perbankan Islam tentulah merupakan potensi pasar domestik yang sangat besar dan perlu dieksplorasi. Hingga saat ini, perbankan syariah mengalami perkembangan yang sangat dahsyat dari tahun ke tahun. Sebagai misal, sepanjang tahun 2010 perbankan syariah tumbuh dengan volume usaha yang tinggi yaitu sebesar 43,99% meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 26,55% dengan pertumbuhan dana yang dihimpun maupun pembiayaan yang juga relatif tinggi dibandingkan periode yang sama  tahun  2009). Kondusifnya situasi perekonomian nasional mendorong perbankan syariah untuk melakukan ekspansi usahanya baik dalam bentuk penghimpunan dana masyarakat maupun penyaluran pembiayaan (Outlook Perbankan Syariah Indonesia 2011).

Data pertumbuhan di atas mengindikasikan semakin banyaknya masyarakat yang sudah memanfaatkan produk-produk atau layanan perbankan syariah. Akan tetapi, masih banyak juga masyarakat yang masih memandang sebelah mata sistem perbankan syariah. Pertama, kelompok masyarakat ini menganggap bahwa bunga bukan riba tetapi manfaat dan merasa tidak terzalimi dengan tambahan tersebut. Bunga yang dibayarkan merupakan kompensasi atas pendanaan yang diberikan oleh pihak bank. Besarnya bunga pun atas dasar kesepakatan antara konsumen dan bank karenanya bukan kelaziman. Kedua, praktek perbankan syariah dianggap sebagai imitasi atau reinkarnasi perbankan konvensional. Produk-produk yang ditawarkan adalah hampir sama, terkadang hanya berbeda label saja. Ketiga, adanya persepsi bahwa manfaat yang diperoleh berhubungan dengan perbankan syariah tidak lebih baik dari perbankan konvensional. Sebagai contoh, jumlah kompensasi kalau menabung di bank-bank syariah cenderung lebih kecil dari bank-bank konvensional. Begitu juga dengan biaya pendanaan bila menggunakan bank syariah terkadang lebih besar dari bank konvensional.

Oleh karena itu dimasa datang masih diperlukan beberapa terobosan untuk tetap mempertahankan tingkat pertumbuhan perbankan syariah. Pertama, sumber daya manusia atau human capital menjadi elemen terpenting dan penentu dalam mencapai dan keunggulan bersaing suatu bank.  Human capital berkaitan dengan ilmu, pengetahuan dan skill yang dimiliki sumberdaya insani. Hadirnya suatu sistem pendidikan berbasis syariah di perguruan tinggi merupakan langkah yang tepat untuk menyiapkan sumberdaya yang punya kompetensi dan kapabalitas dalam memenuhi kebutuhan perbankan syariah. Penyiapan sumberdaya insani perbankan syariah nasional juga menjadi lebih penting bila dikaitkan dengan terlaksananya kesepakatan ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015, dan akan berpengaruh pada eksistensi dan berbagai aspek daya saing industri perbankan syariah nasional (Outlook Perbankan Syariah Indonesia 2011). Kedua, program edukasi  masyarakat yang terus menerus oleh Bank Indonesia dan bank-bank syariah akan mendorong masyarakat menjadi lebih familiar dengan produk-produk yang ditawarkan perbankan syariah. Dalam perspektif manajemen modern, masyarakat akan bersedia membeli suatu produk atau jasa kalau mereka telah mengenalnya (awareness) terlebih dahulu. Ketiga, Majelis Ulama Indonesia perlu juga secara terus menerus mengawasi jalannya perbankan syariah. Sertifikasi kehalalan produk-produk perbankan syariah harus tetap digalakkan dan disosialilasikan ke masyarakat. Keraguan masyarakat akan berkurang atau hilang bila MUI berani secara tegas memberikan rekomendasi kepada BI untuk menindak bank-bank syariah yang nakal. Terakhir, open minded masyarakat akan membantu diterimanya produk-produk dan layanan perbankan syariah. Kepercayaan yang meragukan keberadaan perbankan baru bisa dihilangkan bila masyarakat mau dan bersedia mempelajari semua aspek perbankan syariah. Integritas dan sinergisitas program yang dilakukan oleh Bank Indonesia, MUI, perguruan tinggi, perbankan syariah dan masyarakat di atas akan mendorong berkembangnya sistem perbankan syariah, dan akhirnya bisa membantu terciptanya kemakmuran masyarakat yang adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT.

Prof. Dr. Hadri Kusuma, MBA Dekan Fakultas Ekonomi UII

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*