Dec 17 2011

Meraih Virtues of Life

Published by at 8:46 am under Tajuk

Hidup selalu berubah. Tidak ada yang tidak berubah dalam hidup ini. Perubahan itulah yang tidak berubah. Waktu terus berputar mengubah dunia. Hari senin minggu ini dengan senin minggu depan sudah pasti berbeda, walau sama-sama seninnya. Kita tidak mungkin dapat ketemu lagi senin minggu lalu, bahkan waktu yang sama dengan  2 detik yang lalu sekalipun, tidak akan dapat kita temui lagi. Ini menunjukkan betapa penting dan berharganya waktu. Sebesar apapun jumlah uang dan harta tidak akan dapat membeli waktu walau sedetik. Oleh karena itu, siapa yang memahami “arti waktu” berarti memahami “arti kehidupan”. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Dengan begitu, orang-orang yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya adalah orang yang tidak memahami arti hidup, dan berarti adalah orang yang paling merugi dalam kehidupannya.
Kita dituntut untuk selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan dalam konteks perubahan itu. Semuanya memang telah diatur oleh Allah sedemikian rupa, tetapi kita harus mencari takdir yang terbaik dengan selalu berubah menuju lebih baik. Itulah kunci perubahan yang diajarkan Islam, yang akan mengantarkan pelakunya kepada kemuliaan hidup, di dunia dan akhirat. Filosofi itulah yang mengantarkan suatu perusahaan menjadi berkelas dunia, misalnya TOYOTA yang saat ini menjadi perusahaan otomotif terbesar di dunia mengimplementasikan Kai Zen sejak awal berdirinya, yaitu filosofi small but continous improvement – perubahan kecil yang terus menerus.

Ketika seseorang telah memahami arti penting dan berharganya waktu dan memahami hakikat filosofi perubahan, maka sebenarnya ia telah meraih virtues of change yang mengantarkannya pada virtues of life. Virtues adalah kemuliaan, kehormatan, martabat, dan keutamaan. Inilah yang memberikan spirit pada pimpinan UII untuk bekerjasama dengan BAZNAS dan Metro TV mewujudkan “Rumah Sehat” yang biasanya balai pemulihan kesehatan dinamai dengan rumah sakit. Perubahan nama dari rumah sakit ke rumah sehat mengandung filosofi mendalam, terlebih lagi fasilitas itu diperuntukkan untuk kaum dhuafa yang pelayanannya digratiskan semua.

Penanaman filosofi ini kepada setiap insan menjadi sangat penting, karena dari berbagai berita yang santer beredar di sekitar kita, saat ini begitu banyak public figure yang gagal menjalani hidup dengan virtues, karena mereka tidak mengindahkan sunnatullah dengan mengambil jalan pintas, demi meraih tujuan duniawi, segala cara ditempuh (the end justifies the means). Akibatnya hidup mereka berujung pada kehinaan dan kenistaan. Padahal itu masih di dunia, bagaimana nanti di akhirat? Momentum pergantian tahun, baik Hijriyah (yang telah lalu) maupun Masehi (yang sebentar lagi datang) merupakan momen yang tepat untuk meneguhkan kembali pemaknaan terhadap hidup dan waktu serta menentukan resolusi hidup untuk menjadi lebih baik sehingga hidup penuh virtues dapat kita jalani.

Pemahaman terhadap hakikat hidup dan perubahan berikut konsekuensinya itulah yang mungkin mengilhami para founding fathers UII dan pemimpin-pemimpin selanjutnya dengan strategi dan gayanya masing-masing berupaya mengantarkan UII untuk selalu dapat beradaptasi dengan tuntutan perubahan zaman. Salah satu tuntutan ini adalah internasionalisasi UII. Langkah-langkah menuju ke sana sudah lama dicanangkan. Contoh konkrit hasil yang mungkin dapat diceritakan adalah MoU antara UII dengan Saxion University of Applied Sciences (Belanda) yang telah menyepakati program joint degree 3 + 1 (3 tahun di UII dan setahun di Saxion) untuk beberapa prodi di UII. Lainnya, pada 18 November 2011 ini UII berhasil memperoleh piagam penghargaan two stars dari QS Stars (suatu lembaga pemeringkatan internasional) yang mengangkat reputasi UII di tingkat internasional dan nasional. Dan mungkin masih banyak yang lain. Hasilnya memang tidak selalu dapat “terlihat oleh semua orang” dalam kadar yang sama. Ada yang melihat sekian persen, ada yang melihat sekian persen lagi, bahkan ada yang melihat dari “perspektif berbeda”. Itu hal biasa, dan semua diperlukan untuk saling melengkapi dan wa tawaashou bil haq wa tawaashou bi al-sabr. Semuanya insyaAllah akan menjadi kebaikan jika dilandasi iman dan niat amal saleh. Namun memang perlu disusun road-map internasionalisasi yang lebih smart, jelas, dan terukur serta mudah dipahami oleh seluruh stakeholder UII, selain mempercepat proses pencapaian tujuan internasionalisasi UII juga dapat mengeliminir timbulnya dhan yang bermacam-macam. Kita perlu ingat kata mutiara,   a journey of thousand miles begins with the first step, perjalanan ribuan mil, diawali oleh langkah pertama.

Last but not least, marilah kesempatan pergantian tahun kali ini kita manfaatkan untuk mengevaluasi diri, bermuhasabah, untuk menjadi insan yang hari ini selalu lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Marilah spirit hijrah kita aplikasikan ke seluruh sendi kehidupan kita agar kita dapat menjalani hidup dengan penuh virtues. Semoga Allah mempermudahkan kita memperbaiki kualitas diri, keluarga, institusi, dan bangsa. Amin.

Nur Kholis | Pemimpin Redaksi UII News

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*