Oct 21 2011

Bukan Kebetulan, UII Bervisi Rahmatan Lil’alamin

Published by at 11:10 am under News

Senin, 17 Oktober 2011 telah menjadi hari penting dan bersejarah dalam perjalan kampus UII dan bangsa Indonesia, karena hari itu diresmikan sebuah integrasi harmonis yang luar biasa antara 3 unsur yang terlihat sekilas berbeda-beda senyawanya, yaitu perpustakaan, museum dan candi peninggalan agama Hindu. Peresmian dilakukan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, SE. yang menyatakan bahwa ini kali terakhir meresmikan pemugaran sebuah candi dalam jabatannya sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, karena 2 atau 3 hari lagi Kementrian itu akan berganti nama.

.

Uniknya lagi, bangunan itu berdampingan dengan Masjid Ulil Albab UII. Bapak Luthfi Hasan, selaku Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, menyatakan berdampingannya perpustakaan dan masjid dilandasi filosofi bahwa UII memang menyatukan intelektualitas dan religiusitas dalam perjalanannya. Masjid adalah lambang relegiusitas. Sementara perpustakaan adalah lambang dari intelektualitas.

Terintegrasinya perpustakaan, candi dan museum dalam satu bangunan dengan tata arsitektur yang cantik dan menarik, berdampingan dengan bangunan masjid yang megah, barangkali merupakan satu-satunya di dunia, atau paling tidak di Indonesia. Ini merupakan wujud nyata visi UII yang rahmatan lil’alamin. Makna dari visi ini adalah bahwa UII memberikan nilai kemaslahatan bagi seluruh alam semesta, baik untuk manusia, makhluk yang lain maupun keserasian lingkungan. Terlebih lagi, sebagaimana diungkapkan oleh Menteri, Ketua PYBW UII dan Rektor UII, bahwa terwujudnya bangunan yang diresmikan hari ini melalui proses dialogis secara harmoni sebagai bagian upaya pembangunan dan pelestarian candi di Kompleks UII yang mengedepankan pendekatan keberlanjutan dan keseimbangan dalam penataan lingkungan.

Bahkan, Joshua Griffin, seorang archeologist dari University of Queensland menyatakan bahwa bangunan perpustakaan UII yang mengintegrasikan perpustakaan, candi dan museum dalam satu bangunan sebagai “a contemporary example of the fusion of historic Hinduism and contemporary Islam”. Ini merupakan wujud nyata aplikasi Bhinneka Tunggal Ika.

Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dinyatakan bahwa terwujudnya gedung perpustakaan UII yang diberinama Gedung Moh. Hatta, di dalamnya menyatu Candi yang diberinama Candi Kimpulan, dan Museum UII sebagai wujud nyata warisan budaya bangsa yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Inilah bukti nyata UII yang bervisi rahmatan lil’alamin. Jadi semua ini bukan kebetulan. Pak Jero Wacik, berkali-kali menandaskan bahwa apa yang terjadi di alam ini, di hadapan Tuhan, tidak ada yang kebetulan, tetapi semua sesuai skenario Tuhan. Mungkin yang kebetulan, kata Prof. Meutia Hatta, salah satu gambar di candi itu mirip dengan foto Bung Hatta usia 25 tahunan, kebetulan gedung perpustakaannya dinamai gedung Moh. Hatta.

Ketika langkah kaki diayunkan memasuki gedung perpustakaan UII, mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan candi yang unik dan indah. Ketika ayunan kaki terus melangkah ke depan, bertemu dengan bagian perpustakaan yang menyajikan koleksi keislaman yang begitu kaya. Ketika langkah kaki terus maju ke depan, pengunjung akan menapaki jalan melingkar dengan pemandangan candi dan bangunan UII di kanan kiri serta scene angkasa yang menarik hati. Sebelum sampai di pelataran candi, di dinding terpampang informasi yang dikemas menarik tentang candi dan pemugarannya. Selanjutnya, pengunjung dapat memilih untuk menikmati wisata Candi Kimpulan atau Museum UII, mana yang mau didahulukan.

Kalau ke Museum UII, pengunjung akan dapat mencermati sejarah perkembangan UII, dari mula berdiri hingga kini, berikut benda-benda peninggalan yang “bercerita” banyak kepada pengunjung tentang perjuangan founding fathers dan para pendahulu UII. UII sebagai perguruan tinggi nasional pertama yang didirikan tokoh-tokoh nasional pejuang kemerdekaan mengemban visi dan cita-cita besar para pendirinya yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa. Dan sejak awal, UII dicita-citakan menjadi perguruan tinggi Islam unggulan, artinya substansi WCU telah digagas sejak awal berdirinya. Mencermati foto-foto dan narasinya serta benda-benda peninggalan yang dipajang di Museum UII, kita dapat belajar meneladani semangat kesederhanaan, komitmen menjaga akhlak dan keikhlasan menghidupi UII.

Selanjutnya, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan mencermati keunikan-keunikan Candi Kimpulan. Biasanya kalau kita jalan-jalan ke candi, akan diterpa sinar terik matahari yang membuat kita kepanasan, tetapi kalau ke Candi Kimpulan, insyaAllah kita dapat menikmati keunikan candi tanpa kepanasan. Penasaran? Silahkan buktikan sendiri dengan datang langsung ke lokasi. Bahkan Pak Menteri Jero Wacik, di akhir sambutannya membuat promosi unik; berwisata ke Yogyakarta, belum mendatangi Candi Kimpulan dan Museum UII, sama dengan belum ke Yogyakarta. Semoga Allah senantiasa menjayakan UII dan selalu melimpahkan barakah pada UII dan semua civitas akademikanya. Amin
by Nur Kholis.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*