Oct 17 2011

Dimensi Teologis dan Sosial Haji

Published by at 8:38 am under Refleksi

Setiap tahun, jutaan  umat Islam berkumpul di Makkah menunaikan puncak rukun Islam, haji. Di Indonesia sendiri, jumlah umat yang berniat naik haji terus mengalami peningkatan. Saat ini saja, waiting list bakal Calon Jamaah Haji sudah mencapai 8-9 tahun. Sebuah antusiasme besar yang seimbang dengan pahala yang akan didapatkan, surga. Tentunya pahala besar itu akan diperoleh jika jamaah mampu memaknai perjalanan hajinya dengan benar hingga mencapai status haji mabrur. Ibadah haji sesungguhnya bukan hanya berkaitan dengan aspek Teologis-spiritualitas, namun juga memiliki dimensi sosial yang seringkali dilupakan banyak jamaah. Dalam analisis antropologis Victor Turner melihat haji sebagai contoh sempurna yang mempraktikkan egalitarianisme, pembebasan dari struktur keduniaan, dan homogenisasi status sosial serta kesederhanaan dalam berpakaian dan tingkah laku. Maka, haji sesungguhnya adalah perjalanan kembali kepada Tuhan secara sukarela sekaligus pembebasan manusia dari segala status sosial yang melekat pada dirinya. Egalitarianisme haji tersimbolkan secara nyata dalam parade pakaian ihram yang menampilkan homogenitas pakaian dan warna. Tata cara formal ibadah haji seringkali dipahami oleh komunitas muslim hanya terbatas pada dimensi fiqhiyyah semata, formalistik, atau bahkan terkesan simbolik. Bila sebatas itu pemahaman kita mengenai ibadah haji, ini berarti (disadari atau tidak), sebenarnya kita telah mereduksi bagian-bagian yang sangat fundamental dari fungsi ibadah haji sebagai simbol kepasrahan terhadap perintah Allah SWT. Lalu, bagaimana agar ibadah haji itu benar-benar berkualitas (mabrur), tidak sia-sia, sekaligus reformatif terhadap perilaku dan sikap keberagamaan kita sehari-hari? Di sinilah dibutuhkan pemahaman yang cukup komprehensif dan integral terhadap dimensi-dimensi yang melekat pada ibadah haji itu sendiri, yaitu dimensi teologis dan sosial.
Makna Berhaji

Secara normatif-teologis, bahwa seseorang mau melaksanakan ibadah haji karena hal itu merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT kepada para hamba-Nya yang memiliki kemampuan (istitha'ah) baik secara fisik maupun finansial. Allah SWT berfirman : "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (Mekkah)." (QS. 3:97). Ini berarti, kesadaran untuk melaksanakan ibadah haji bukannya datang dari dalam diri manusia, tetapi dari luar manusia. Kalau pemahaman kita demikian, maka ibadah haji tidak akan banyak memberikan implikasi kepada pribadi seseorang.

Bila kita cermati lebih lanjut, ternyata di dalam ibadah haji terdapat nilai-nilai yang positif sekaligus reformatif bagi peningkatan kualitas perilaku seseorang, baik secara vertikal (kesalehan individual) maupun horisontal (kesalehan sosial).

Pertama, pada saat memakai pakaian ihram, dengan warna pakaian yang sama (putih), tanpa perhiasan, dan tanpa wangi-wangian, seseorang seakan diingatkan kembali kepada fitrah dan makna hidupnya yang meliputi aspek eksoteris dan esoteris. Secara simbolik, ini bermakna bahwa ketika berhaji manusia harus menanggalkan pakaian kebesarannya yang menciptakan “keakuan” berdasarkan ras, suku, warna kulit, eselon kepangkatan, dan semacamnya dan diganti dengan pakaian “ihram” yang sederhana, tidak membedakan kaya-miskin, ningrat-jelata dan status sosial lainnya. Egoisme “keakuan” melebur dalam “kebersamaan”, kesamaan sebagai manusia yang hadir, berada dan menuju hanya kepada Sang Pencipta.

Kedua, pada saat tawaf dan wukuf di Arafah, seseorang harus melakukannya secara bersama-sama dengan jutaan orang dari berbagai pelosok dunia, suatu peristiwa yang tidak akan dialami pada kesempatan-kesempatan lain. Dalam kerumunan manusia yang menyemut itu, seseorang akan merasa betapa kecil arti dirinya, sebab dari jutaan orang itu, tidak satu pun yang menarik perhatian pribadi secara khusus. Mereka adalah sama. Secara simbolik, dengan tawaf jemaah belajar bahwa hidup harus senantiasa berjalan dalam koridor ketentuan Allah SWT, agar sampai di muara kebahagiaan abadi.

Ketiga, pada saat sa'i, seseorang diingatkan kembali pada peristiwa pengorbanan istri Nabi Ibrahim, yaitu Siti Hajar dan anaknya, Ismail. Usaha dan kerja keras Siti Hajar mencari setetes air di tengah padang pasir yang terik dan tandus untuk bayinya, Ismail, tidak hanya membangkitkan sikap percaya diri dan etos kerja, tetapi juga menimbulkan rasa kagum yang pada gilirannya akan memotivasi diri mereka untuk menakar tingkat keimanannya di saat berhadapan dengan berbagai cobaan. Sa'i, mengajarkan bahwa hidup harus senantiasa berjuang dan berusaha semaksimal mungkin, untuk mencapai kesuksesan dunia akhirat. Sesuai dengan nama shofa yang berarti suci dan marwah yang berarti bermurah hati, maka usaha yang dilakukan manusia hendaknya dengan kesucian hati (ikhlas) dan berujung kedermawanan.

Keempat, pada saat wukuf di Padang Arafah mengajarkan jamaah, bahwa manusia adalah makhluk kecil, yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali dari-Nya. Hal itu tercemin, ketika para jamaah melakukan wukuf secara serentak, semuanya memuji dan mengagungkan Allah SWT, tak ada yang pantas untuk dibanggakan dalam hidup ini, kita hanya bagian partikel kecil yang tidak kelihat di jagad raya ini (bima sakti).

Kelima, pada saat melakukan tahallul, mengisyaratkan pembersihan dan penghapusan terhadap cara berfikir “kotor”, yang masih bersarang dalam benak manusia. Dengan tahallul jamaah haji diharapkan akan memiliki cara pandang kemanusiaan yang produktif, kemudian lahirlah tindakan yang bermanfaat bagi sesama umat manusia.

Gelar Haji

Syekh Abdul Badi Ghazi, pemikir Muslim berkebangsaan Mesir mengatakan bahwa penggunaan gelar haji seringkali merusak kesucian ibadah, akibatnya ibadah haji menjadi kulit tanpa isi. Dari sini, kemudian seorang guru besar Universitas Al-Azhar Kairo, Dr Sayyid Razak Thawil, mengusulkan dan menolak pemakaian gelar haji bagi yang telah melaksanakan ibadah itu. Alasannya, karena pada zaman Rasulullah SAW, sahabat, bahkan tabi'in, gelar haji itu tidak pernah ditemukan. Bagi sebagian kalangan kita, mungkin pendapat tersebut terkesan berlebihan, karena gelar haji dianggap sebagai simbol dari legitimasi formal tingkat spiritualitas seseorang. Persoalannya, sudahkah saudara-saudara kita yang kini mengenakan atribut “Bapak Haji” dan “Ibu Hajjah” yang jumlahnya jutaan itu mampu berbuat sesuatu secara signifikan bagi perubahahan sosial masyarakat lebih baik? Kalau belum, maka dari pendapat Sayyid Razak di atas, kita seolah diingatkan bahwa sejatinya makna kemabruran substantif ibadah haji itu tidak terletak pada huruf “H” atau “Hj” di muka nama seseorang. Tetapi, pada aktualisasi nilai-nilai simbolik peribadatannya yang membekaskan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Rusli Muhammad, S.H, M.Hum (Penulis adalah Dekan Fakultas Hukum UII Yogyakarta)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*