Sep 17 2011

Sesempurna-sempurna Maaf

Published by at 8:34 am under Refleksi

Hari Raya Idul Fitri 1432 H baru saja kita lewati, namun demikian momen untuk saling meminta dan memberi maaf tidak hanya pada saat itu saja. Meminta dan memberi maaf sudah semestinya menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim sehari-hari. Bukankah Al-qur'an sudah menegaskan bahwa meminta dan memberi maaf merupakan cerminan dari perilaku orang-orang yang bertaqwa. Cerminan taqwa ini sudah seharusnya terefleksi terus sepanjang hidupnya, tidak hanya disaat bulan Ramadhan saja.

Ketika kita meminta maaf tentu kita merasa bersalah kepada orang lain. Entah kesalahan itu disadari atau tidak,  kita sudah membuat orang lain merasa terluka dan marah. Sebagaimana kita ketahui, marah adalah sifat manusiawi manusia. Karena sifatnya yang sangat manusiawi, hampir dapat dipastikan bahwa pada hakikatnya tidak ada seorangpun yang tidak pernah marah dalam hidupnya, sekecil apapun bentuk kemarahan tersebut. Oleh karena itu marah merupakan sifat laten yang senantiasa dapat menghinggapi manusia dan tampaknya sulit untuk dihilangkan sama sekali.

Karena sifat marah ini hampir mustahil dapat dihilangkan sama sekali maka hal yang perlu diupayakan untuk memendamkan sifat ini adalah dengan menguasai manajemen marah. Menguasai dan menerapkan manajemen marah bagi seorang muslim/muslimah merupakan salah satu bukti dari kualitas keimanan seseorang. Alqur'an dan hadis telah mengajarkan setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan oleh orang Islam ketika berada dalam situasi emosional berupa marah.

Pertama, menahan marah, minimal menahan diri. Bagaimana cara menahan marah? Dalam al-Hadist disebutkan jika seseorang yang sedang dilanda marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya duduk. Apabila duduk belum dapat meredakan kemarahan maka hendaknya berbaring. Apabila berbaring juga masih belum dapat meredakan kemarahan maka hendaknya bangun lalu berwudhu dan shalat 2 rakaat.

Hadist tersebut berhenti kepada shalat 2 rakaat. Ini artinya apabila shalat 2 rakaat sudah dilaksanakan dengan benar dan ikhlas Insya Allah marah yang menggelora di dada atas seizin Allah akan hilang dan diganti dengan ketenangan jiwa. Pertanyaannya adalah bagaiamana jika sudah melaksanakan shalat 2 rakaat tetapi rasa marah tidak reda juga? Yang pasti bukan hadist-nya yang salah, tetapi manusianya. Hadist tersebut merupakan suatu jaminan, dengan syarat shalat 2 rakaat dilaksanakan dengan benar dan penuh keikhlasan, maka tidak aka ada keraguan Allah akan mengkaruniakan ketenangan jiwa.

Dengan demikian, solusi mudah bagi yang cepat naik darah sehingga mudah marah dan tersinggung adalah dengan menyiapkan sajadah di lingkungan kerjanya. Ketika orang tersebut sudah sangat emosional maka tunjuklah sajadah itu agar ia shalat 2 rakaat dan memohon ketenangan jiwa.

Sikap kedua, apabila ada seseorang yang marah kepada kita, maka sikap seorang muslim memaafkan orang tersebut. Bahkan Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan untuk mendahulukan maaf daripada marah dalam kisah berikut ini.

Pada suatu hari ketika Rasulullah SAW tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su'nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: "Ya Muhammad, lunaskanlah utangmu padaku!", dengan nada yang kasar. Melihat hal itu Umar pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: "Hai musuh Allah, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasulullah SAW di hadapanku!" Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!" Sementara Rasulullah SAW memperhatikan reaksi Umar RA dengan tenang, beliau berkata: "Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasihat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan utangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut utangnya dengan cara yang baik pula. Wahai Umar bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahlah dengan dua puluh sha' kurma".

Melihat Umar RA menambah dua puluh sha' kurma, Zaid si Yahudi itu bertanya: "Ya Umar, tambahan apakah ini? Umar menjawab: "Rasulullah SAW memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!" Si Yahudi itu berkata: "Ya Umar, apakah engkau mengenalku?" "Tidak, lalu siapakah Anda?" Umar balas bertanya. "Aku adalah Zaid bin Su'nah" jawabnya. "Apakah Zaid sipendeta itu?" tanya Umar lagi. "Benar!" sahutnya. Umar berkata: "Apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasulullah SAW? Zaid menjawab: "Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya. Tinggal dua tanda yang belum aku buktikan, yaitu: apakah kesabarannya dapat memupus tindakan jahil, dan apakah tindakan jahil yang ditujukan kepadanya justru semakin menambah kemurahan hatinya?" Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu wahai Umar, bahwa aku rela Allah Ya sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Dan Aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hartaku untuk umat Muhammad. Umar berkata: "Ataukah untuk sebagian umat Muhammad saja? sebab hartamu tidak akan cukup untuk dibagikan kepada seluruh umat Muhammad." Zaid berkata: "Ya, untuk sebagian umat Muhammad. Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah SAW dan menyatakan kalimat syahadat "Asyhadu al Laa Ilaaha Illallaahu, wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluhu". Ia beriman dan membenarkan Rasulullah SAW." (HR. Al-Hakim dalam kitab Mustadrak dan menshahihkannya).

Ketika kita memaafkan orang lain ternyata tidak cukup sekedar memaafkan. Kata memaafkan (afwu) dalam bahasa Arab artinya menghapus apa yang telah terjadi. Sebagai contoh apabila kita menulis kata yang salah dengan pena atau pensil maka kita berusaha menghapusnya dengan menggunakan type-ex atau penghapus. Namun demikian sebaik-baiknya hapusan tetap ada bekasnya. Hakikat coretan kata salah tersebut tetap ada. Oleh karena dalam Islam setelah memaafkan harus dilanjutkan dengan musyafa' (membuka lembaran baru). Parameter kita telah membuka lembaran baru adalah kita kembali kepada keadaan semula sebagaimana sebelum ada kesalahan. Dengan demikian, apabila kita sudah dapat bersikap seperti sedia kala sebagaimana belum terjadi kesalahan maka maaf yang kita lakukan adalah maaf yang sempurna. Misalkan, ada dua dosen/pegawai yang sangat akrab. Mereka selalu berdua dalam melakukan kegiatan apapun. Namun karena ada sesuatu, persahabatan mereka terpecah dan tidak lagi berdua seperti sedia kala. Akhirnya, keduanya saling bermaaf-maafan. Akan tetapi setelah bermaaf-maafan, keduanya tidak bisa lagi akrab seperti sebelum terjadi perpecahan. Kalau ditanya, apakah mereka ikhlas saling memaafkan? Jawabnya: ikhlas. Lalu, ditanya lagi: kalau ikhlas kok tidak lagi jalan berdua? Ketika dijawab: Naah…kalau itu nanti dulu…. Jawaban “Naah…kalau itu nanti dulu…” menunjukkan bahwa maaf kita belum sempurna. Maaf yang sempurna indikatornya sangat jelas, yakni keadaan dan perilaku kita sesudah terjadi perpecahan lalu bermaafan akan kembali ke keadaan sedia kala sebelum terjadi perpecahan. Apabila kita sudah bisa mengkondisikan keadaan sama persis seperti keadaan kita saling akrab, saling peduli, saling bertegur sapa, inilah kualitas maaf yang sempurna. Artinya maaf yang kita lakukan adalah sesempurna-sempurna maaf. Jika tidak, maka maaf kita baru manis di bibir saja.

Oleh karena itu, marilah kita renungkan hakikat perbuatan kita yang sudah menyakiti orang lain dengan cerita seorang Bapak yang mengajarkan hikmah kepada anaknya sebagai berikut. Suatu saat, seorang Bapak yang bijak memanggil anaknya yang mempunyai sifat pemarah. Sang Bapak berkata,” Anakku, setiap kali engkau marah maka ambil paku dan palulah ke pagar kayu di depan rumah kita. Lakukan terus hingga pada suatu hari engkau tidak marah lagi dan tidak ada satupun paku yang harus ditancapkan ke pagar itu”.

Sang anak menuruti apa yang dikatakan Bapaknya. Hari pertama dia memaku dengan jumlah yang banyak karena dia tidak mampu menahan amarahnya. Hari kedua, frekuensi marahnya berkurang sedikit, hari ketiga berkurang sedikit, dan demikian seterusnya sampai hari ke sepuluh dia berhasil tidak marah sekalipun. Lalu dia menyampaikan hal ini kepada sang Bapak.

Sang Bapak lalu berkata kepada anaknya,” Anakku, lihatlah ke pagar kayu itu. Jumlah paku-paku yang engkau tancapkan di pagar kayu itu ibarat perbuatan kita yang tertancap di hati orang lain ketika kita membuat orang lain marah atau sakit hati. Dapatkah engkau bayangkan tiap kali kita menyakiti orang lain, tiap kali pula kita menancapkan paku ke hati orang lain? Sakit bukan? Hitung dalam sehari berapa banyak paku yang sudah kita tancapkan ke hati orang lain. Semakin banyak, semakin rusak pula hati itu akibat perbuatan kita”.

Lalu sang Bapak melanjutkan bahwa sang anak masih mempunyai tugas tambahan yakni apabila sang anak tiap kali berhasil menahan marahnya maka sang anak diperintahkan untuk mencabut satu paku, demikian seterusnya hingga paku tersebut habis. Sang anak kembali menjalankan perintah Bapaknya. Tiap kali dia berhasil menahan marah dia akan mencabut satu paku, hingga pada hari kesepuluh semua paku habis. Sang anak kembali menghadap sang Bapak.

Kembali sang Bapak mengajak anaknya ke pagar kayu. “Sekarang lihatlah, paku-paku itu sudah habis. Tahukah engkau wahai anakku? Tiap paku yang engkau cabut itu adalah permintaan maafmu. Tiap kali engkau minta maaf engkau sudah melepaskan satu paku, demikian seterusnya hingga semua paku habis dicabut. Tahukah engkau wahai anakku, ketika paku dicabut maka akan meninggalkan lubang, bukan? Lubang-lubang itu adalah rasa sakit yang masih tersimpan, masih membekas di hati, yang tidak akan pernah hilang bekasnya meskipun engkau sudah meminta maaf. Engkau mungkin berusaha menutup lubang-lubang bekas paku yang dicabut dengan alat penambal lubang pada kayu. Katakanlah engkau memberinya dempul; lalu dicat dengan cat terbaik. Sekilas lubang itu hilang dari pandangan mata, tetapi tahukah engkau wahai anakku bahwa hakikatnya lubang itu masih tetap ada. Lubang itu hanya ditutupi bukan hilang. Itu artinya, rasa sakit di hati masih terpatri dalam hati meskipun engkau sudah minta maaf kepada orang lain”.

Cerita di atas adalah gambaran betapa meminta maaf dan memaafkan harus dilakukan dengan sesempurna-sempurna mungkin. Untuk menghilangkan lubang-lubang bekas paku, maka hal terbaik adalah mengganti papan kayu dengan yang baru, artinya semua rasa sakit hati yang ada harus dihilangkan dan hati kita bersih seperti baru, tidak ada lagi jawaban Naaah…kalau yang itu nanti dulu. Kalau masih terdengar jawaban Naaah…kalau yang itu nanti dulu artinya bekas sakit hati yang ada di hati belum sepenuhnya pulih. Agar benar-benar pulih harus diganti dengan lembaran baru, musyafa'.

Sikap ketiga adalah membalas keburukan orang lain dengan kebaikan. Inilah kualitas Ihsan yang diajarkan Islam. Islam mengajarkan Sesempurna-sempurna Iman adalah membalas kesalahan orang lain dengan kebaikan. Hal ini tentu saja tidaklah mudah, karena masyarakat Indonesia pada umumnya telah menurunkan tradisi yang keliru. Dulu para nenek moyang kita mengajarkan apabila ada orang yang menyakiti kita maka balaslah dengan lebih menyakitkan. Tentu saja ini merupakan tradisi budaya yang keliru sehingga perlu diperbaiki. Islam telah mengajarkan itu sebagai bentuk dari kesempurnaan Iman menuju kualitas Ihsan. Balaslah tiap-tiap kejahatan orang lain dengan kebaikan, dan inilah kualitas iman yang tertinggi.

Akhirnya, marilah di bulan mulia ini kita saling meminta dan memberi maaf sesempurna-sempurna mungkin, agar semua lubang yang sudah merusak hati kita akibat tertancap paku kesalahan dan perbuatan kita yang telah menyakiti hati orang lain dapat kita ganti dengan hati yang baru, yakni hati yang fitri, bersih dan suci. Semoga!

UIINews by Penulis adalah Dosen dan Ka Prodi Bahasa Inggris, FPSB, UII: Nizamuddin Sadiq, S.Pd., M.Hum.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*