Aug 17 2011

Mahasiswa UII Mau Dibawa ke Mana?

Published by at 8:32 am under Refleksi

SEBAGAI seorang mahasiswa dalam dirinya mengalami permasalahan yang kompleks. Kalau diperhatikan, mereka masih dalam masa pertumbuhan. Disatu sisi dia sedang menuntut ilmu, dan di sisi yang lain kepribadiannya sedang unstabil. Sedang mencari jati diri. Ketika sedang mencari jati diri kalau tidak ada arahan dari lingkungan tempat dia berada bisa membuat tujuan awalnya yaitu, kuliah bisa gagal. Kalau lingkungan tidak bisa mensupport dia percaya diri, malah seperti laying-layang putus tali.

Pengalaman pribadi, ketika sebagai siswa SMA dirinya diawasi keluarga, maka setelah lulus SMA tidak ada lagi yang mengawasi, kecuali diri sendiri. Saat itulah terjadi perjuangan, bisakah konsisten dengan perjuangan yang dicita-citakan. Hal itu yang dialami seorang mahasiswa.

Universitas Islam Indonesia (UII) membuat suatu program yang diamanahkan oleh para pendiri UII untuk mengarahkan generasi yang sedang dibentuk itu mulai menyadari jati dirinya bahwa dia pada saatnya nanti akan memimpin bangsa. Sebagai pemimpin bangsa,dia harus memiliki jati diri yang kuat. Pembentukan dan pembinaannya UII mempunyai konsep dalam penanganan mahasiswa sesuai dengan ajaran-ajaran keislaman.

Itulah awal, sarting point-nya. Kemudian itu di-ilmiahkan. Pengelolanya dibuatkan dalam bentuk SK (Surat Keputusan) yang tertata. Dalam konsep-konsep  yang disepakati dibawa dalam rapat Senat. Konsep tersebut dinamakan POLBANGMAWA yaitu Pola Pengembangan Mahasiswa. Di dalamnya ada pembentukan kepribadian yang mengarah pada pembentukan murni keislaman dan kepemimpinan Islam

Sehingga kita mengenal ada siraman kental keislaman yang disebut dengan ONDI (Orientasi Dasar Islam).

Kemudian yang berkaitan dengan pembinaan keislaman sebagai calon pemimpin bangsa ditempa melalui Latihan Kepemimpinan Islam Dasar (LKID) dan berjenjang, dari tingkat dasar, menengah hingga atas. Semuanya terprogram dan tersusun dengan baik. Penyampaian pola ini disesuaikan di sela-sela perkuliahan, karena akademik harus jalan. Konsep ini adalah tambahan,  tetapi wajib diikuti setiap mahasiswa UII. Itulah peraturan-peraturan atau program yang dibuat di UII

Tentunya konsep tersebut bukan harga mati. Setiap saat materinya bisa dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi terkini dengan mendengarkan masukan-masukan dari mahasiswa, para pemateri (pembimbing), orang tua/wali, maupun lingkungan. Hanya saja yang baku, konsep pembinaan merujuk pada ajaran agama dan tuntutnan Islam.

Konsep pembinaan dilaksanakan stressing awalnya hanya untuk mahasiswa baru. Kemudian dalam perkembangannya, sekarang mulai dievaluasi dan dirancang untuk para mahasiswa yang ingin Kuliah Kerja Nyata (KKN) diberi pembinaan keagamaan. Sebelum terjun ke masyarakat diingatkan kembali nilai-nilai keislamannya.

Penyampaian materi ada yang dialkukan dengan metodologi dialog di kelas selama 10 hari dilaksanakan dengan konsep Pesantrenisasi. Kenapa 10 hari? Kalau memungkinkan sebetulnya akan dilaksanakan selama satu tahun mahasiswa baru dipondokkan, tapi belum ada sarananya. Sehingga untuk sementara ini para mahasiswa dibuat kelompok-kelompok dan di gilir setiap kelompok menjalani Pesantrenisasi selama 10 hari.

Pihak Rektorat saat ini tengah merancang untuk mengajukan rancangan ke Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII maupun pihak-pihak lainnya untuk membangun sebauh sarana dan prasarana asrama yang mampu menampung sekitar 4.000 – 4.500 mahasiswa. Sehingga pada tahun pertama mahasiswa di pondokkan untuk pembinaan dan pendidikan karakter bangsa sesuai ajaran Islam. Kalau belum mampu, bisa dibangun bertahap. Konsep pembinaannya pun akan menyesuaikan. Apakah per semester, atau tri wulanan, sesuai sarana dan prasarana nanti yang tersedia.

Untuk menegakkan kedisiplinan, tentu dibuat perarturan yang harus dipatuhi setiap mahasiswa berupa anjuran dan hukuman. Seperti mahasiswa p[utri diwajibkan pakai jilbab. Mahasiswa tidak boleh pakai narkoba, ini disampaikan lagi meski dipengajian-pengajian sudah disampaikan. Tapi kalau tidak ada peraturan yang mempunyai sanksi kadang-kadang ada yang menyepelakan. Ini termasuk pola pembinaan keagamaan. Termasuk tidak boleh bawa senjata tajam maupun yang membahayakan keselamatan orang lain.

Walaupun ini sesungguhnya belum bisa 100 % . sebagai contoh berkali-kali disampaikan mahasiswa putri tidak boleh berpakaian ketat. Berjilbab sudah dilakukan tetapi masih berpakaian ketat. Padahal ini diaturan yang diberikan kepada setiap mahasiswa sudah ada. Sebenarnya bisa dikenakkan sanksi. Tapi kalau 90 % mahasiswa putri berpakaian seperti itu berarti ada ribuan mahasiswa putri yang kena sanksi. Sehingga ini mejadi dilematis. Keinginan kita, peraturan yang dibuat, dapat didukung masyarakat atau keluarga.

Sebetulnya sudah dijalin kerjasama dengan induk semang kos-kosan yang secara reguler diundang dalam pertemuan dengan Pimpinan UII. Dalam pertemuan itu kita memohon untuk ikut mengawasi mahasiswa di luar kampus, dan menegur kala ada yang melanggar etika agama atau kemasyarakatan. Sebetulnya sudah ada ada yang menyampaiakan. Dan kita sangat terima kasih sekali. Terhadap mahasiswa yang demikian ada sanksi yang diterapkan bertingkat, dari teguran sampai kemanggilan bersama orang tuanya. Sanksi yang ringan cukup dilakukan di fakultas, adapun sanksi yang berat ditangani universitas.

Kenapa UII peduli dengan pembinaan mahasiswa? Karena ketika orangtua menyerahkan anaknya ke UII, banyak harapan orang tua. Harapannya tidak hanya untuk mendapatkan nilai-nilai akademik yang baik, melainkan juga mempercayakan pembinaan keagamaan, kedewasaan dan kemandirian anak-anaknya. Nah karena ini amanah kita menjalankan amanah itu. Jadi kita tidak boleh main-main dengan kepercayaan orangtua terhadap anak-anaknya yang kuliah di UII.

Ukuran keberhasilan pembinaan itu bagaimana? Karena stressingnya pembinaan keagamaan. Kita amati nilai-nilai mata kuliah yang berkaitan dengan materi yang diberikan. Kita lihat nilai yang berhasil di atas B. Agak sulit memang, karena nilai akademik itu kuantitatif, sedangkan penilaian sikap itu kualitatif. Apalagi mahasiswa yang tinggal di masyarakat juga mengalami “pembinaa” oleh lingkungan masyarakat yang mungkin bertentangan dengan pembinaan keagamaan di kampus. Banyak godaan dengan pola hidup hura-hura, konsumtif, dan lainnya. Sehingga kepribadian mahasiswa jika tidak tangguh, bisa jadi goyah juga.

Sebagai mahasiswa baru UII sekarang ini telah melangkah di lautan ilmu pengetahuan, maka manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya untuk belajar agar mampu bersaing, bahkan mampu menyaingi dosennya. Mahasiswa harus lebih pintar dari dosennya. Juga dalam proses belajar, agar senantiasa mengisi jati diri dengan ilmu dan soft skill. Ilmu dapat diperoleh di ruang kuliah, sementara soft skill diperoleh melalui lembaga atau organisasi yang ada di kampus.

Sebagai mahasiswa baru, maka dirinya menjadi Keluarga Besar Universitas Islam Indonesia. Setiap yang tergabung dalam keluarga UII tentunya harus kompak dan mematuhi semua aturan yang diberlakukan di UII. “Kita satu keluarga Universitas Islam Indonesia, harus bersatu semuanya dalam kehidupan yang Islami.”

UIINews by Ir. Bachnas, M.Sc. Wakil Rektor III UII, Dosen Tetap FTSP UII

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*