Aug 17 2011

BERSYUKUR DAN BERSYUKUR, TAHADDUS BIN-NI’MAH

Published by at 8:31 am under Tajuk

Wain ta’udduu ni’matallahi laa tuhsuuha. (QS Ibrahim: 34 dan QS An-Nahl: 18). "Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu". Kalimat dengan redaksi yang sama terdapat dalam dua surat dalam Al-Qur’an yaitu pada Surat Ibrahim dan Surat An-Nahl. Ini menunjukkan betapa tidak mungkinnya manusia mampu menghitung nikmat yang diberikan Allah karena saking luar biasa banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepadanya, bahkan mengkategorikan saja tidak akan mampu. Al-Qur'an memerintahkan untuk mengingat nikmat Allah berulang-kali karena manusia cenderung melupakannya. Karenanya seorang mukmin tidak seharusnya menghitung nikmat, melainkan berdzikir dan mewujudkan rasa syukurnya.

Adalah keliru anggapan bahwa bersyukur kepada Allah hanya perlu dilakukan pada saat mendapatkan anugrah besar atau terbebas dari masalah besar. Padahal sejatinya, jika kita mau merenung sebentar saja, kita akan menyadari bahwa kita dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya. Setiap waktu setiap saat, tercurah kenikmatan tak terhenti seperti hidup, kesehatan, keimanan, kecerdasan, panca indra, udara yang dihirup, dan lain-lain. Pendek kata segala sesuatu yang memungkinkan orang untuk hidup diberikan oleh Allah. Sebagai balasan semua itu, manusia diharapkan untuk mengabdi kepada Allah sebagai rasa syukurnya. Orang-orang yang tidak memperhatikan semua kenikmatan yang mereka terima, dengan demikian telah mengingkari nikmat (kufur). Mereka baru mau bersyukur apabila semua kenikmatan telah dicabut. Sebagai contoh, kesehatan yang tidak pernah mereka akui sebagai nikmat baru mereka syukuri setelah mereka sakit. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, bersyukur itu harus dilakukan setiap saat dan setiap waktu. Syukur itu menjadi pra syarat agar Allah terus menambah anugerah nikmat-Nya kepada kita pada masa-masa mendatang dan menyelamatkan kita dari siksa-Nya di akhirat kelak. (QS Ibrahim: 7). Jutaan nikmat telah diberikan Allah kepada kita sebagai keluarga UII, di antara yang terdekat antara lain: peningkatan animo pendaftar ke UII, telah siapnya bangunan perpustakaan baru yang megah,  semakin banyak doktor di UII, semakin banyaknya beasiswa yang diterima mahasiswa UII dari BPKLN dan lain-lain. Pada tajuk ini, saya ingin bertahaddus pada nikmat yang berupa peningkatan signifikan jumlah mahasiswa baru tahun 2011.

Pada tahun 2010 lalu, Wakil Rektor I saat kuliah perdana melaporkan, jumlah mahasiswa baru UII tahun 2010 mencapai lebih dari 4500 mahasiswa, yang diseleksi dari 11.000 lebih calon mahasiswa.  Saat itu disampaikan bahwa jumlah tersebut merupakan jumlah tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.  Namun ternyata pencapaian pada tahun 2011 ini lebih tinggi dari tahun lalu, yakni 4567 orang (belum termasuk yang mahasiswa unggulan seleksi BPKLN DIKTI), yakni dengan prosentase 61,94% mahasiswa dan 38,06% mahasiswi dari jumlah total pendaftar sebelumnya sebanyak 13.355 orang, sehingga dalam laporan Wakil Rektor I saat kuliah perdana 5 Agustus 2011 lalu, jumlah tersebut merupakan jumlah tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir, melebihi tahun lalu. Peningkatan jumlah yang signifikan ini terjadi merata di semua program studi, hal ini menunjukkan bahwa UII memiliki reputasi yang baik di semua bidang ilmu. Erupsi gunung merapi yang terjadi pada tahun 2010 ternyata tidak menyurutkan semangat putra-putri Indonesia untuk menempa diri dan mengasah kecerdasan di kampus UII, dan memang kenyataannya kampus UII tidak terkena dampak yang serius akibat erupsi merapi.

Bila dibandingkan dengan Tahun Akademik 2010/2011, lima prodi dengan peningkatan jumlah mahasiswa yang paling signifikan adalah: Statistika (178%), Teknik Elektro (175%), Teknik Lingkungan (161%), Ekonomi Islam (158%) dan Ilmu Kimia (143%).

Pada satu sisi, peningkatan jumlah mahasiswa tersebut  merupakan nikmat yang luar biasa, karena pada saat bersamaan sebagian perguruan tinggi swasta tutup karena minim pendaftar. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap UII masih baik dan bahkan menunjukkan peningkatan.  Akan tetapi pada sisi yang lain, ini merupakan tantangan berat sekaligus ujian bagi UII, dapatkah mewujudkan harapan masyarakat yang menggantungkan masa depannya di kawah candradimukanya UII?. Kalau UII berhasil menunjukkan dan membuktikan bahwa UII benar-benar mampu memberikan pendidikan berkualitas terbaik sehingga menjadi alumni yang berintegritas, berakhlakul karimah dan berdaya saing tinggi, maka alumni tersebut kelak menjadi marketer yang luar biasa bagi UII. Efeknya insyaAllah (pasti) akan semakin meningkatkan animo pendaftar ke UII, efek berikuktnya selection ratio akan semakin meningkat, kualitas pendidikan UII terus akan semakin meningkat. Akan tetapi jika sebaliknya, yaitu jika mereka tidak mendapatkan pendidikan dan service yang berkualitas dari UII sebagaimana yang mereka harapkan, maka mereka kelak bisa menjadi agen black campaign yang luar biasa untuk mematikan UII. Tentu, kita semua sebagai civitas akademika UII berharap dan berdoa bahwa kita senantiasa dapat memenuhi harapan semua stakeholder dan grafik prestasi UII ke depan masih terus menaik.

Saya mengemukakan dua sisi makna lonjakan mahasiswa baru 2011 di atas untuk mengingatkan kita semua, baik pengemban amanah di UII maupun civitas akademika yang ada di dalamnya untuk bersyukur atas anugerah tersebut secara benar dengan melibatkan tiga komponen yaitu hati, mulut dan tindakan/perilaku sebagaimana dikemukan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin. Hati yang bersyukur berarti menyadari bahwa nikmat yang ada itu berasal dari Allah, Dzat Pemberi Nikmat. Ini menghindarkan kita dari sifat sombong dan sok paling berperan. Mulut yang bersyukur mengucap Alhamdulillah dengan penuh kesadaran di hati. Tindakan bersyukur berarti menggunakan nikmat yang ada untuk taat kepada Allah dan menghindarkan diri dari bermaksiyat kepada-Nya. Syukur yang melibatkan 3 komponen tersebut insyaAllah dapat menjadikan bertambahnya nikmat yang diberikan Allah kepada UII pada masa mendatang. Kalau dalam bahasa manajemen, syukur yang melibatkan 3 komponen tersebut akan dapat mendrive turn around terhadap grafik pencapaian prestasi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Rhenald Kesali dalam bukunya Change.

Dalam konteks syukur dalam bentuk tindakan inilah yang mungkin perlu lebih kita tekankan dalam memaknai peningkatan jumlah mahasiswa baru 2011 ini. Di antaranya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dengan fokus menjadi excellent teaching, service yang prima terhadap hak dan kewajiban mahasiswa, mengedepankan servant leader, menghadirkan suasana akademis yang kondusif untuk merangsang mahasiswa betah dan nyaman di kampus, serius untuk peningkatan soft skill mahasiswa, lebih serius menggarap jiwa entrepreneurship mahasiswa, lebih serius mendidik keislaman mahasiswa, empowering DPA di tengah kecanggihan IT, dan lain-lain. Pada intinya, bagaimana membuat mahasiswa puas ketika berada di kampus dan rasa puas itu selalu hadir ketika telah lulus dari kampus. Itu menjadi tanggung jawab kita semua, baik dosen maupun karyawan, terutama pimpinan, karena pimpinan harus menjadi trigger, uswah, dan motor penggerak untuk mewujudkan kepuasan seluruh stakeholder UII.

Semoga Allah senantiasa menolong kita (dengan rahmat dan inayah-Nya) untuk dapat menjadi pribadi yang pandai bersyukur dan dapat lulus summa cumlaude dari pendidikan Ramadhan dengan gelar muttaqin serta terlihat nyata meningkatnya di bulan Syawal nanti. Amin. (Nur Kholis)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*