Jun 17 2011

MEWUJUDKAN KAMPUS BEBAS ROKOK (TEMBAKAU)

Published by at 8:21 am under Refleksi

(Sebuah Refleksi Peringatan Hari Bebas Tembakau Sedunia 31 Mei)

“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Kalimat tersebut sudah terlalu akrab di mata dan telinga kita. Terlalu akrab malah, sehingga sebagian kita mungkin memandangnya sebagai satu kalimat yang memang seharusnya “menghiasi” setiap bungkus atau baliho iklan rokok yang terpasang menyolok di tepi ruas jalan besar atau di akhir sebuah iklan rokok di televisi. Kalimat tersebut memiliki makna yang dalam, tapi anehnya, dalam keseharian kita dengan gampang menemukan dari orangtua, laki-laki atau perempuan bahkan anak-anak merokok di tempat umum, termasuk mahasiswa, dosen dan pegawai di sudut tertentu, taman dan kantin kampus tercinta ini.

Kenyataan bahwa merokok memiliki dampak buruk bagi kesehatan sudah diketahui oleh hampir seluruh penduduk dunia. Berbagai penelitian ilmiah yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan pemberitaan sudah membuktikan hal tersebut. Namun ternyata perokok-perokok baru justru terus bertambah. Terbukti usia perokok aktif di dunia semakin muda, di sekitar sering kita jumpai perokok aktif yang tergolong usia wajib belajar, atau mahasiswa semester awal merokok di kantin kampus. Anehnya lagi, perilaku merokok tidak hanya dilakukan oleh orang dengan tingkat pendidikan rendah, tetapi juga tingkat pendidikan tinggi bahkan kaum akademisi. Teori bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan berbanding lurus dengan perilaku, ternyata sering tidak sesuai dalam kasus rokok ini.

Kematian akibat merokok di Indonesis menduduki peringkat ketiga tertinggi setelah Cina dan India. Survey dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat tahun 2007 menunjukkan bahwa 1.127 orang meninggal setiap hari karena penyakit yang terkait dengan merokok. Perokok memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding bukan perokok untuk mengalami penyakit jantung vaskuler, stroke, hipertensi, kanker paru, kanker lidah, impotensi, dan lain-lain.

Pada pertengahan Oktober 2009 ini, terbitlah Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 42 tahun 2009 yang mengatur tentang kawasan dilarang merokok. Kawasan dilarang merokok adalah ruang atau area yang dinyatakan dilarang untuk merokok, meliputi tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat spesifik sebagai tempat belajar mengajar, area kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum. Penetapan dimaksudkan untuk melindungi masyarakat atau kelompok rentan (bayi, balita, ibu hamil dan lansia) dari risiko gangguan kesehatan akibat asap rokok dan menurunkan angka kesakitan dan angka kematian karena asap rokok.

Meskipun terbitnya peraturan ini di DIY relatif lebih lambat jika dibandingkan dengan Jakarta atau Jawa Timur, terbitnya peraturan ini merupakan suatu gebrakan yang sangat menggembirakan, terutama bagi masyarakat yang peduli dengan kesehatan. Peraturan ini juga menuntut berbagai pihak untuk melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan Yogyakarta bebas rokok. Peraturan ini juga mengikat beberapa instansi terutama yang terkait dengan fasilitas umum, pendidikan, kesehatan untuk pada tahap awal mensosialisasikan dan menerapkan peraturan ini di instansinya masing-masing. Perlu disadari bahwa awalnya memang diperlukan dana lebih untuk membuat media informasi/promosi serta membangun ruang khusus merokok [smoking area] tetapi kalau benar-benar diperhitungkan secara cermat angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan dampak kesehatan akibat merokok.

Program ini tidak akan berhasil tanpa komitmen nyata dari semua pihak. Pemerintah yang mengatur besarnya bea cukai, pembatasan produksi, perdagangan dan area bebas rokok. Pengaturan ini bukan hanya terbatas pada pembuatan peraturan tetapi juga sampai punishment bagi siapa yang melanggar aturan (produsen, penjual, pembeli dan pemakai) karena sampai sejauh ini belum ada pelaksanaan hukuman nyata bagi pelanggar, misalnya denda bagi orang yang merokok di tempat umum, bagaimana mekanisme pelaporannya, peradilannya dsb.  Di samping itu, diperlukan juga peran pengelola fasilitas umum, pendidikan dan kesehatan untuk menegakkan peraturan di instansinya. Kepala pemerintahan, pimpinan instansi, kepala sekolah, rektor, guru, dosen dan orangtua merupakan tokoh penting untuk membentuk generasi yang lebih bertanggung jawab dan komit untuk meningkatkan derajat kesehatan kita. Merekalah yang menjadi contoh atau teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Sejak Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 42 tahun 2009 terbit, belum semua kampus melaksanakan sepenuhnya, termasuk Universitas Islam Indonesia. Baru beberapa fakultas yang dengan eksplisit menerapkan kebijakan ini, misalnya Fakultas Kedokteran. Sementara itu, di beberapa fakultas lain kebijakan ini belum dilaksanakan dengan berbagai alasan, karena dipandang belum perlu, pimpinan fakultas/ prodi, dosen atau pegawainya adalah perokok, “takut” diprotes mahasiswa karena dianggap membatasi “hak” mahasiswa atau karena alasan lain. Apapun alasannya, ada baiknya kita sebagai Lembaga Pendidikan berlabel Islam mencoba merenungkan kembali. Misi kita untuk menjadi rahmatan lil’alamiin tentu menuntut kita untuk ikut serta menjaga lingkungan, dalam hal ini lingkungan kampus, agar suasana menjadi kondusif, nyaman, tidak tercemar polusi, untuk kegiatan belajar mengajar termasuk dalam pergaulan di lingkungan (student area, kantor, kantin, taman dsb). Kita ketahui, asap rokok mengandung ribuan zat polutan berbahaya, lalu kalau kita mengetahuinya, mengapa kita tidak menghindarinya? Apakah sama orang yang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan?

Islam juga mengajarkan kita untuk melakukan sesuatu yang banyak manfaat, bukan yang mendatangkan mudharat. Bagaimana dengan rokok? Sebagian orang berpendapat rokok berguna untuk pergaulan. Tapi bagaimana dengan risiko lain yang ditimbulkan? Berbagai risiko penyakit  bahkan kematian muncul karena merokok. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk membuat keputusan bijak. Pendidikan meliputi kognitif, afektif dan psikomotor, namun sering kita terjebak hanya mementingkan kognitif (pengajaran). Kebijakan Kampus Bebas Rokok (Tembakau) juga dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas afektif dan psikomotor. Kebijakan ini melatih/mengkondisikan peserta didik dan juga pegawai menghargai hak orang lain untuk mendapatkan udara yang sehat, bebas dari polusi asap rokok dan risiko penyakit.

Lalu bagaimana jika dosen atau pegawainya yang merokok? Kebijakan Area (Kampus) Bebas  Rokok juga menuntut penyediaan area khusus untuk merokok (smoking area). Inilah saatnya kita menekan egoisme kita, belajar mengatur diri dan juga berusaha menjadi teladan bagi yang lain. Dosen bukan hanya bertugas mengajar (transfer pengetahuan) tetapi juga menjadi contoh dalam bersikap dan berperilaku. Jadi siapapun yang ingin merokok, tidak boleh merokok di sembarang tempat. Merokoklah di smoking area. Alangkah naif dan kurang pada tempatnya jika seorang dosen/pegawai UII merokok sambil melenggang kangkung di koridor kampus. Merokok menurut pendapat ulama termasuk kegiatan mubah atau bahkan haram. Prinsip yang harus dipegang adalah tidak merugikan orang lain, jadi Anda boleh merokok, tapi jangan paksa orang lain merokok (pasif).

Terkait dengan rokok, sudah saatnya kita bersama mewujudkan Kampus Bebas Rokok (Tembakau) untuk mewujudkan kampus yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar bagi semuanya, sebuah kampus yang sehat. Untuk itu diperlukan komitmen para pembuat kebijakan dan semua civitas akademika. Wallahu’alam bishawab.

UIINews By Titik Kuntari, MPH Wakil Dekan FK UII

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*