Jun 17 2011

Alumni FH UII Diberi Amanah Menjadi Bupati Sragen

Published by at 8:24 am under Kiprah

ALUMNI Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) kembali menorehkan tinta emasnya setelah sukses menjadi Wakil Bupati Sragen, terhitung sejak 4 Mei 2011, Agus Fatchurrahman memegang amanah Bupati Sragen menggantikan pendahulunya Untung Wiyono. Agus Fatchurrahman dilantik Gubernur Jateng Bibit Waluyo bersama wakil Bupati Sragen H. Daryanto, SH

Setelah menyelesaikan studi di FH UII, Agus Fatchurrahman yang kelahiran Sragen, 17 Juni 1962, melanjutkan kuliahnya di FH Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Ia memilki hobi membaca dan menyukai makanan tradisional. Sungguhpun menjadi Wakil Walikota Sragen sejak 2001 tetapi kesenangannya berkecimpung dalam bidang kepemudaan tidak pernah dia tinggalkan. Karena motto hidupnya ”Hidup adalah Perjalanan untuk Mencari Makna agar Bermanfaat untuk Sesama.”

Untuk membangun Sragen ke depan dengan baik, Agus Fatchurrahman berupaya menciptakan kerukunan pasca Pemilukada Sragen lalu. Dia tidak akan pilah-pilih, semua elemen baik yang dulu mendukung atau yang tidak mendukung akan dirangkul untuk membangun Sragen.

Atasnama Pemkab Sragen Sragen, Agus Fatchurrahamn menerima penghargaan Adipura Kencana sebagai kota terbersih dan terindah tingkat nasional kali ke-8, Selasa, 7 Juni 2011 langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagi Sragen mendapatkan penghargaan Adipura 8 kali secara berturut-turut sejak 2003.

Agus Fatchurraman, ingin menata dan membangun Kabupaten Sragen di segala bidang dengan iklim demokrasi yang berbeda dengan sebelumnya. Kita bangun tatanan sosial yang menjunjung tinggi nilai religius, nilai luhur dan bermartabat. ”Kita bangun kehidupan  politik yang aman, damai, adil, beretika dan demokratis. Kita kembangkan kehidupan budaya dan jati diri rakyat Sragen yang kuat dan kreatif,” katanya. Selain itu ingin mengedepankan semangat melayani dan menjauhkan semangat minta dilayani. Birokrat pada hakekatnya pelayan masyarakat melalui semangat melayani dengan sepenuh hati.

Agus Fatchurrahman ingin mewujudkan Sragen ASRI bebas korupsi sebagai perwujudan  reformasi birokrasi yang sungguh-sungguh atas kebekuan birokrasi menuju aparatur yang bersih berorientasi kepada pelayanan publik serta penggunaan anggaran yang pro rakyat. Mewujudkan Kualitas SDM yang Profesional, Berbudaya dan Berakhlak Mulia. Juga mewujudkan Pengembangan  Ekonomi Kerakyatan yang berbasis pada pembangunan pertanian berkelanjutan.

Agus Fatchurrachman, bertempat tinggal di Jl. KS. Tubun no 43, Kuwungsari, Sragen Kulon bersama istri Ny. Wahyuning Harjanti. “Saat saya jadi wakil bupati, saya tidak pernah merasa jadi pejabat. Kalau sore berkaus oblong dan blue jeans saya naik pit onthel atau Vespa ke wedangan,” ujarnya sambil menunjuk skuter warna putih kesayangannya yang bernomor polisi AD 6383 BE. Agus mengenang suka citanya nongkrong di wedangan. Bagi Agus, nongkrong di wedangan kian membangkitkan gairahnya untuk melayani masyarakat. Di sana semangat egalitarian, kebersamaan dan kesederajatan tercipta begitu saja. Strata sosial lenyap. Orang berkeluh kesah apapun sebebasnya. Setiap orang merasa punya daya dan berhak bersuara tentang apa saja, gratis. Dan, detik-detik dramatik bagi Agus, ketika ada seseorang mengritik kinerja pemerintahan Sragen di hadapannya tanpa orang itu tahu dia orang nomor dua di Pemkab Sragen, waktu itu. Dari sanalah sempat terbesit ide di benaknya memproklamasikan ideologi baru bernama “warungisme”. Ia menilai konsep itu menjadi sebuah ideologi khas dari masyarakat Jawa dan masih dinikmati banyak orang.

Kenangan yang tak terlupakan bagi Agus, SK pengangkatannya menjadi PNS ia “sekolahkan” di bank untuk membeli skuter yang hingga kini masih dirawatnya. ”Dulu warnanya merah marun, sempat ganti cat warna hijau dan belum setahun ganti cat putih,” kisahnya. Terbiasa hidup berpetualang, Agus merasa pekerjaannya sebagai PNS kurang menantang. Di luar pekerjaannya, ia lalu menjadi aktivis Partai Golkar. Pada 1997, ia menjadi anggota DPRD Sragen. Namun, baru setahun menjabat, reformasi bergulir dan terbitlah aturan yang melarang PNS menjadi anggota legislatif. Agus memilih melepas PNS-nya meski tanpa uang pensiun maupun pesangon. Saat itu, pangkatnya sudah IIIC dengan jabatan sebagai Kepala Urusan Umum Depag Sragen. “Sejak itulah saya jadi politisi tenan. Sampai detik ini pun saya tidak punya naluri untuk berbisnis,” ungkapnya. (Syamsul/Rifqi)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*