May 17 2011

MENELADANI FOUNDING FATHERS

Published by at 8:00 am under Tajuk

Sirine telah dibunyikan menandai dimulainya rangkaian acara diesnatalis atau milad Universitas Islam Indonesia (UII) ke-68 pada Senin, 8 Mei 2011. UII sebagai perguruan tinggi nasional pertama yang didirikan tokoh-tokoh nasional pejuang kemerdekaan mengemban visi dan cita-cita besar para pendirinya yaitu melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa. Karena itu, sudah semestinya peringatan milad UII kali ini selain dirayakan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, juga dijadikan sebagai ajang refleksi diri, sudah sejauh mana cita-cita founding fathers UII dapat diwujudkan. Milad UII menjadi momentum untuk menguatkan komitmen untuk mewujudkan mimpi besar pendiri dan komitmen untuk terus memajukan UII sehingga benar-benar menjadi perguruan tinggi kelas dunia (world class university). Konsekuensinya, perlu ada penegasan tentang upaya-upaya yang harus dilakukan yang termuat dalam RIP, renstra dan renop yang telah disepakati sebagai bagian dari resolusi milad dengan tetap menjunjung tinggi warisan para pendahulu yang merupakan founding fathers UII, terutama semangat kesederhanaan, komitmen menjaga akhlak dan keikhlasan menghidupi UII.

Semangat kesederhanaan founding fathers ditunjukkan oleh berbagai riwayat yang “mutawatir” bahwa pimpinan UII dahulu berangkat ngantor ke UII dengan naik sepeda, naik andong dan lain-lain, walaupun pada masa itu telah ada mobil. Hingga kini, hal itu menjadi cerita indah yang menimbulkan sikap hormat dan apresiasi terhadap kesederhanaannya. Memang sikap sederhana adalah sikap yang sangat mulia dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kesehariannya. Bersikap sederhana akan menjaga untuk selalu terikat pada nilai-nilai mulia hakiki. Sederhana akan menjaga diri dari jalan dan perilaku menyimpang, terutama bagi yang diuji dengan kekuasaan dan kesuksesan materi.

Penghormatan orang terhadap pemimpin itu bukan karena kemewahan fasilitas yang dikenakannya. Justru seringkali kemewahan itu seringkali menimbulkan cibiran bahkan celaan dari masyarakat. Hal ini dapat kita cermati dari berbagai berita koran terkait pro kontra kemewahan pemimpin negeri kita ini. Akan tetapi perilaku dan sikap sederhanalah yang menimbulkan penghormatan dari masyarakat terhadap pemimpinnya. Hal yang demikian itu mungkin merupakan “sunnatullah”.

“Sunnatullah” itu dari dulu hingga sekarang tidak berubah. Berbagai contoh perilaku Rasulullah sebagai pemimpin yang sederhana, perilaku sederhana Umar bin Khattab sebagai khalifah justru menimbulkan kecintaan komunitas masyarakat yang dipimpinnya dan ketakjuban pihak lawannya. Dalam konteks era kini, kita dapat melihat kesederhanaan pemimpin yang hal itu justru melahirkan semakin cintanya masyarakat yang dipimpinnya terhadap pemimpin tersebut. Misalnya kesederhanaan Walikota Solo (Jokowi) yang mobil dinasnya usianya telah lebih dari sepuluh tahun. Bahkan tidak segan untuk naik sepeda berkeliling masyarakat untuk mendengar aspirasi masyarakatnya. Dari sisi keuangan, beliau merasa cukup dengan harta yang dimilikinya sehingga gajinya sebagai walikota tidak pernah diambil semenjak dilantik hingga kini. Semua gajinya disedekahkan untuk amal sosial masyarakat. Ketika pemilihan periode kedua (yang sebenarnya beliau sudah tidak ingin maju lagi), beliau menang sangat mutlak karena mengantongi suara lebih dari 90% pemilih. Ini merupakan bukti kecintaan masyarakat terhadap pemimpinnya yang belum ada tandingannya pasca reformasi. Sikap dan perilaku sederhananya mengantarkannya menjadi pemimpin yang dicintai dan dirindukan rakyatnya.

Hal ini berbeda sekali dengan pemimpin yang kemegahan dan kemewahan menjadi tuntutannya dalam menjalankan amanah kepemimpinannya. Pemimpin yang demikian itu seringkalinya berakhir kalau tidak dengan masuk penjara karena penyimpangan dan korupsi yang dilakukannya, paling minim dibenci oleh masyarakatnya dan selanjutnya tidak diterima oleh masyarakatnya. Seperti itulah ilustrasi su’ul khatimah dalam kepemimpinan.

Memang betul, bahwa situasi dan kondisi dulu dan kini sangat berbeda. Rhenald Kasali menyebut masyarakat Indonesia kini berada dalam demografi baru yang menimbulkan cracking zone. Banjirnya telepon seluler di awal abad 21, 50% diantaranya adalah ponsel pintar, membuat masyarakat menjadi akrab dengan internet. Sebagian besar diantara mereka lalu menjadi sering sibuk sendiri dan melakukan multi tasking in real time. Berbagai layaanan virtual yang ada di internet membuat pengguna ponsel menjadi lebih akrab dengan dunia maya. Segala perubahan radikal itu melahirkan generasi bernama Gen-C. Akibatnya timbul perlawanan yang radikal pula. Inilah yang dalam pandangannya disebut cracking zone. Oleh karena itu, perubahan-perubahan cepat itu juga melahirkan cracker leadership.

Dalam perkembangan dunia yang sedemikian pesat itu, setiap orang memang harus meningkatkan kualitas hidup. Setiap orang dituntut untuk meningkatkan kualitas diri dalam berbagai aspeknya, termasuk dalam hal materi. Berdasarkan rukun Islam yang lima, seorang muslim memang dituntut untuk “kaya”, karena kalau tidak maka tidak dapat melaksanakan rukun Islam yang ke-3 dan ke-5 yaitu zakat dan haji. Tetapi tidak berarti Islam mendorong hidup bermegah-megah. Sebaliknya malah melarangnya, sebagaimana tercemin dalam surat al-takasur. Oleh karena itu, setiap orang harus menjaga kesederhanaannya sendiri di level masing-masing. Itu yang membuat seorang pemimpin tetap dicintai oleh masyarakatnya baik ketika masih hidup maupun setelah mati.

Warisan lain yang diturunkan oleh founding fathers adalah komitmen menjaga akhlak. Hal ini terbukti dari berbagai riwayat bahwa dulu ada pemimpin UII yang ketika mengajar sering membawa koran. Ketika mendapati mahasiswinya memakai pakaian yang agak mini, beliau memberi koran pada mahasiswi tersebut untuk menutupinya. Nah, dalam konteks sekarang, dimana banyak mahasiswi kita yang berpakaian sangat ketat mestinya kita juga memiliki komitmen untuk menjaga akhlak dengan melakukan aktivitas yang semangatnya serupa dengan yang dilakukan founding fathers. Makanya, kami sangat apresiatif terhadap kebijakan di salah satu fakultas di UII yang mewajibkan mahasiswinya untuk memakai busana muslimah yang sesungguhnya dalam aktivitas mereka selama di kampus.

Warisan lain yang layak kita jaga adalah keikhlasan founding fathers dalam menghidupi UII. Dalam berbagai riwayat yang cukup mutawatir, founding farther UII rela membayar beberapa pos pengeluaran UII dari kantongnya sendiri. Beliau tidak meminta ganti rugi ke UII setelahnya. Benar-benar dilakukan semata-mata karena ingin menghidupi UII, supaya UII tumbuh dan berkembang.

Tiga warisan itulah yang sementara ini mungkin kami eksplore dalam tajuk ini, semoga kita meneladani akhlak-akhlak mulia tersebut. Semoga Allah senantiasa menjayakan UII dan selalu melimpahkan barakah pada UII dan semua civitas akademikanya. Amin

Oleh Pemred UII News Nur Kholis

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*