Apr 17 2011

Sebaik-baik Manusia

Published by at 3:31 pm under Refleksi

Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [QS. Al-Baqarah : 195]

Ada hadits yang pendek namun syarat makna yang dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Tak ada yang bisa membantah bahwa manusia itu makhluk sosial. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan. Hanya omong kosong dibungkus kesombongan yang nyata ketika seseorang berujar “aku bisa hidup sendiri tanpa orang lain”. Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah SWT kepekaan untuk mengamalkan aneka pernik peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah SWT kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah SWT aneka potensi kelebihan oleh-Nya dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkan untuk sebanyak-banyak umat manusia. Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana diri punya nilai manfaat bagi orang lain.  Seakan hadits di atas mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauhmana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauhmana nilai manfaat diri ini? Kalau menurut Emha Ainun Nadjib harus tanyakan pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makhruh atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau ada sangat dirindukan sangat bermanfaat bahkan perilaku membuat hati orang disekitar tercuri.

Tanda-tanda yang nampak dari seorang ‘manusia wajib’ di antara dia seorang pemalu yang jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku keseharian lebih banyak kebaikannya. Ucapan senantiasa terpelihara ia hemat betul kata-kata sehingga lebih banyak berbuat daripada hanya berbicara. Sedikit kesalahan tak suka mencampuri yg bukan urusan dan sangat nikmat kalau ia berbuat kebaikan. Hari-hari tak lepas dari menjaga silaturahmi sikap penuh wibawa, penyabar selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.

Sama sekali bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah-tamah, mencintai karena Allah SWT, membenci karena Allah SWT dan marah pun karena Allah SWT, subhanallah, demikian indah hidupnya.

Karena siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-kata akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahan pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yangg sedang membara. Jikalau saja orang berakhlak mulia ini tak ada maka siapapun akan merasa kehilangan akan terasa ada sesuatu yg kosong di rongga kalbu ini. Orang yang wajib ada pasti penuh manfaat dan kalau tak ada siapapun akan merasa kehilangan. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik dan ternyata ia hanya akan lahir dari semburat kepribadian yang baik pula.

Kalau orang yang sunah keberadaan bermanfaat tapi kalaupun tak ada tak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amal belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti hal kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus perilaku benar-benar akan meresap masuk ke rongga kalbu siapapun.

Sedangkan orang yang mubah ada dan tak ada tak berpengaruh. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang pegawai yang ketika ada di kantor keadaan menjadi berantakan dan kalau tak adapun tetap berantakan. Inilah pegawai yang mubah. Ada dan tiada tak membawa manfaat dan tak juga membawa mudharat.

Adapun orang yang makruh keberadaan justru membawa mudharat dan kalau dia tak ada tak berpengaruh. Arti kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tak senang. Misal ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang tetapi seketika klakson dibunyikan tanda bahwa ayah sudah datang anak-anak malah lari ke tetangga ibu cemas dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yg keberadaan menimbulkan masalah. Seorang anak yang makruh kalau pulang sekolah justru masalah pada bermunculan dan kalau tak pulang suasana malah menjadi aman tentram. Ibu yang makruh diharapkan anak-anak untuk segera pergi arisan daripada ada di rumah. Sedangkan pegawai yang makruh kehadiran di tempat kerja hanya melakukan hal yang sia-sia daripada bersungguh-sungguh menunaikan tugas kerja.

Lain lagi dengan orang bertipe haram keberadaan malah dianggap menjadi musibah sedangkan ketiadaan justru disyukuri. Andaikan saja dia pergi ngantor justru perlengkapan kantor pada hilang maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yang ada malah mensyukurinya. MasyaAllah, tak ada salah kita merenung sejenak tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau malah hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat manfaat tidak dengan kehadiran kita? Ada kita di masyarakat sebagai manusia apa wajib, sunah, mubah, makhruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi apakah karena perilaku sombong kita? Kepada ayah cobalah mengukur diri, saya ini seorang ayah atau seorang gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada para mubaligh harus bermuhasabah benarkah kita menyampaikan kebenaran atau hanya mencari penghargaan dan popularitas saja? Nampak saat bercermin seyogya tak hanya memperhatikan wajah saja tapi pandanglah akhlak dan perbuatan yang telah kita lakukan. Sayangnya jarang orang berani jujur dengan tak membohongi diri, sering malah merasa pintar padahal bodoh, merasa kaya padahal miskin, merasa terhormat padahal hina. Padahal untuk berakhlak baik kepada manusia awal dengan berlaku jujur kepada diri sendiri.

Betapa indah pribadi yang penuh pancaran manfaat ia bagai cahaya matahari yang menyinari kegelapan menjadikan tumbuh benih-benih bermekaran, tunas-tunas merekah bunga-bunga di taman, hingga menggerakkan berputar roda kehidupan. Demikianlah cahaya pribadi kita hendak mampu menyemangati siapapun bukan hanya diri kita tetapi juga orang lain dalam berbuat kebaikan dengan limpahan energi karunia Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha Melimpah energi-Nya subhanallah. Ingatlah hidup hanya sekali dan sebentar saja, sudah sepantas kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini yakni menjadi seperti yang disabdakan Rasulullah SAW sebagai khairunnas, sebaik-baik manusia.

Belajar dari Manisnya  Gula

Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah SWT yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirup. Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.

Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan kopi gula pasir. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti. Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirup. Dari segi eksistensi, sirup tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirup." Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirup mangga, es sirup lemon, kokopandan," dan seterusnya. Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirup, "Andai aku seperti kamu."

Sosok gula pasir dan sirup merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis seperti yang disuarakan gula pasir. Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirup dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja gula pasir mengerti bahwa sirup terbaik justru yang berasal dari gula pasir asli. Kalau saja para penggiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirup!" Marilah kita bersosialisasi, bermuamalah sesuai yang telah disyariatkan Allah SWT. Orang yang benar-benar menuju taqwa bukanlah sekedar rajin ibadah tetapi juga rajin “membuktikan” hasil ibadahnya dengan perilaku sosial yang shaleh, bermanfaat bagi ingkungannya. Wallahu’alam bishawab.

By PU UIINews: Bagya Agung Prabowo

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*