Archive for March 17th, 2011

Mar 17 2011

SELALU SIAP

Published by under Tajuk

Hidup memang harus selalu siap dalam menghadapi berbagai kemungkinan, agar senantiasa dalam posisi seimbang. Kalau tidak siap, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan dan biasanya selalu berujung keterpurukan. Menjadi kaya diperlukan kesiapan, kalau tidak siap kekayaannya akan menyeretnya pada kehancuran. Menjadi pintar dan berilmu juga diperlukan kesiapan, kalau tidak ia akan menggunakan kepintarannya dan ilmunya untuk “minteri” orang, sistem dan peraturan sehingga pada akhirnya ia akan menghalalkan segala cara dengan ilmu dan kepintarannya. The endnya ia akan tersungkur akibat penyalahgunaan terhadap ilmu dan kepintarannya. Continue Reading »

No responses yet

Mar 17 2011

Karakteristik Etos Kerja Muslim

Published by under Refleksi

Dan katakanlah : "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS At-Taubah, 9 : 105)

“Seburuk-buruk tempat adalah pasar, sebaik-baik tempat adalah masjid” (Nabi Muhammad SAW.)

Secara sekilas membaca hadits tersebut, kita seolah-olah masuk pada suatu dikotomi atau pertentangan yang ekstrem antara kedua tempat tersebut yakni pasar versus masjid. Namun tulisan ini tidak berupaya untuk menajamkan perbedaan pada kedua kutub tersebut Alih-alih untuk memisahkan keduanya, kita mencoba memadukannya dengan meminjam pandangan dunia Muslim tradisional, sebuah tawaran pandangan yang acapkali digagas oleh Seyyed Hossein Nasr dalam karya-karyanya. Mengomentari hadits tersebut, Kuntowijoyo, dalam karyanya Dinamika Perjuangan Umat Islam Indonesia, menyebutkan bahwa kedua tempat itu sebetulnya merupakan suatu simbol aktivitas dalam dunia kehidupan Muslim. "Penafsiran" Kunto yang didasarkan pada pendekatan sosiologis memaknai "pasar" sebagai simbol aktivitas kerja secara khusus, sedangkan "masjid" dimaknai sebagai wilayah beribadah atau belajar (ta'lim) secara khusus pula. Memang, bila "kerja" dibatasi maknanya pada matra ekonomi dan sosial belaka, seakan-akan mengesankan adanya dikotomi antara yang profan-duniawi (pasar, kerja) dengan yang sakral-ukhrawi (masjid, belajar). Celakanya, kesan seperti itu tampak begitu kuat di kalangan Muslim sendiri. Continue Reading »

No responses yet

Mar 17 2011

Mendapat Kemudahan Proses Guru Besarnya Cepat

Published by under Kiprah

Bagi Prof. Ir Mochammad Teguh, MSCE, Ph.D, disadari betul bahwa pencapaian gelar tertinggi akademik berupa Guru Besar atau Profesor itu adalah rahmat dari Allah SWT. Demikian pula proses pengajuan yang termasuk cepat, tidak lepas dari pertolongan Yang Maha Kuasa. Kebetulan saja saya sudah mempersiapkan sejak awal, dan ditunjang proses yang tepat. Misalnya, ketika pengajuan ke Dirjen Dikti, pas waktu itu ada rapat penilaian angka kredit untuk semua usulan guru besar. Soalnya sidang tersebut tidak setiap bulan, biasanya tiga bulan sekali. “Kebetulan dokumen pengajuan yang saya kirimkan, bertepatan dengan akan dilakukannya rapat tersebut, sehingga kesannya proses pengajuan Guru Besarnya cepat,” papar Prof. Teguh.

Teguh menjelaskan, sebenarnya ada dua tahapan yang perlu dijalani yaitu proses penyiapan materi dan proses administrasi.  Secara materi Teguh tidak mengalami kendala yang berarti.  Karena dituntut menulis dengan kualitas tulisan yang terukur (diperiksa 3 Profesor sebelum dikirimkan), lama-lama tulisannya terkumpul dan mendapatkan apresiasi yang baik dari pihak lain, tuturnya. Hampir semua karya ilmiah yang diajukan untuk usulan guru besar ditulis dalam bahasa Inggris, menurut Teguh hal ini dikarenakan dirinya sudah terlanjur belajar bahasa Inggis jadi naskah-naskah yang dipublikasi di Indonesia (setelah lulus PhD) ditulis semuanya dalam bahasa Inggris, baik yg diterbitkan di jurnal terakreditasi juga di prosiding konferensi.

Dari semua karya ilmiah yang saya ajukan untuk usulan guru besar berbahasa Inggis kecuali satu tulisan yang berbahasa Indonesia yang saya tulis sebelum kuliah S3. Faktor inilah yang menurut tim penilai, apresiasinya sangat baik terhadap karya ilmiah yang diajukan, ungkapnya membagi pengalaman. Sekarang setiap permintaan naskah dari jurnal terakreditasi selalu minta ditulis dalam bhs Inggris, tambahnya.

Mochammad Teguh, lahir di Kudus, 5 Agustus 1958, tercatat Dosen Negeri DPK pada Jurusan Teknik Sipil FTSP UII dengan  jabatan akademik  Pegawai Utama Golongan  IV-E. Sebelum menjadi dosen, Muchammad Teguh memilih kuliah di jurusan Teknik Sipil UII, dan berhasil lulus tahun 1985. Kemudian meneruskan pendidikan lanjut (S-2) di Structures Department of Civil Engineering the University of the Philippines, Manila, dan meraih MSCE tahun 1990, dan gelar Ph.D dari Department of Civil and Environmental Engineering, The University of Melbourne, Australia, menyelesaikan S-3nya tahun 2007.

Dia menjadi Asesor Sertifikasi Dosen Bidang Teknik, Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, 2009-sekarang, Kepala Laboratorium Mekanika Rekayasa dan Struktur, JTS, FTSP, UII, 2009-sekarang. Pernah menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UII 1998-2002, Kajur Teknik Sipil FTSP UII 1990-1992.

Penghargaan yang pernah diperoleh dari World Bank (2007), University of Melbourne Australia (2007), Karya Siswa Program Ph.D dari Rektor UII (2002-2006), Dosen Teladan dari Mendikbud (1994). Tercatat sebagai anggota Concrete Institute Australia, Anggota Earthquake Engineering Group CEE Department University of Melbourne, sejak 2002, Anggota Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), 1990-1992, dan Anggota Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII) sejak 19986 – sekarang.

Tentu saja dukungan keluarga terutama istri Ir. Fadillawaty Saleh, MT’ yang saat ini sedang menyelesaikan PhD Program di Victorian University, Melbourne, Australia, dan ketiga orang putranya, Fadhil Rusyda Muhammad, Faiz Ihsan Muhammad, dan Fauzan Nuha Muhammad sangat besar untuk memotivasi meraih jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar.  Perjuangan berat untuk meraih prestasi ini tentu sangat mendalam dirasakan oleh keluarga, sehingga mereka pun selalu teringat atas perjuangan itu untuk dijadikan inspirasi bagi mereka dalam meraih keberhasilan di masa-masa yang akan dating/ “Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan bimbinganNya kepada kami khususnya untuk meraih sesuatu yang lebih baik dari hari ini. Amin,” doa Teguh.

Meskipun menjabat struktural dan memiliki kesibukan sebagai reviewer Dikti, reviewer jurnal terakreditasi dan Jurnal Teknik Sipil (ITS), ketua dewan redaksi Jurnal Rekayasa Sipil, reviewer international electronic journal of structural engineering, serta reviewer pada konferensi international (ACMSM) di Australia Teguh masih ingin berupaya untuk selalu berkarya baik akademik maupun non akademik di masa2 yang akan datang, semoga Allah SWT meridhoi upaya dan usaha saya ini untuk menapaki hidup dan kehidupan ini agar lebih bermakna, amin. (Renny Wijaya/Syamsul)

Prof. Ir. Mochammad Teguh, MSCE.Ph.D

No responses yet