Feb 17 2011

Sikap Pemimpin

Published by at 12:27 pm under Refleksi

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Ahad, 3 Rabiul Awal 1432 H,  saya menghadiri syukuran pernikahan sekaligus syukuran wisuda sarjana seorang santri sekaligus pemain band di Yogyakarta. Karena datang terlambat, maka saya bisa berkomunikasi lebih intens dengan kedua mempelai.  Ketika saya mau pamit pulang, tiba-tiba mempelai pria bercerita kepada saya yang kemudian menginspirasi saya menyusun refleksi ini.  Seolah dia tahu dinamika tugas yang sedang saya tunaikan di UII, dia bercerita kira-kira begini:

Iblis itu menggoda manusia melalui emosi yang berada di dalam qalbu. Godaan atau gangguan pertama iblis ada pada emosi manusia berupa rasa cinta pada lain jenis, pada anak, atau pada makluk Allah lainnya. Cinta dapat menjadikan seseorang bersemangat menjalankan tugas. Namun demikian, manakala cinta itu berlebihan, maka dapat  mengganggu cintanya pada Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang.

Serangan iblis yang kedua adalah terhadap emosi manusia akan harta. Harta mampu membuat seseorang bersemangat menunaikan tugas, tetapi jika yang dikejar dalam hidup ini hanya semata harta, maka dapat mengganggu ketaatan manusia terhadap Allah Yang Maha Kaya.

Yang ketiga Iblis akan menggoda manusia dari sisi tahta/kekuasaan. Orang bersemangat saat berusaha mengejar tahta, dan umumnya merasa senang ketika meraihnya. Namun jika orientasi hidupnya hanya untuk meraih kekuasaan semata, maka tahta itu dapat menjadi sekutu baginya terhadap ketaatannya kepada Allah Yang Maha Berkuasa.

Intinya, ketiga emosi tersebut bisa menjadi pemicu semangat seseorang dalam menjalani kehidupan di dunia ini, namun jika berlebihan dapat menyebabkan terganggu ketaatannya pada Allah Subhanahu waTa’ala

Solusinya bagaimana?

Menurut sang mempelai yang masih muda tadi, dari hasil belajarnya kepada para ulama dan juga dari pengalamannya dalam menjalani kehidupan, dia mengatakan bahwa pada cobaan iblis yang dilancarkan melalui celah cinta manusia terhadap makhlukNya, dapat diatasi dengan ketegasan. Contohnya adalah saat kita sangat mencintai anak kita. Ketika waktu sholat tiba dan anak kita sedang menyaksikan acara televisi yang baik/bagus, maka kita perlu menggunakan ketegasan untuk mematikan tv tersebut dan mengajaknya untuk segera menjalankan shalat. Banyak pemimpin yang sangat mencintai anaknya dan jatuh karena ulah anak-anaknya. Demikian juga saat pemimpin terlalu mencintai suami-istrinya, yang mengakibatkannya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan, seperti korupsi. Korupsi ini biasanya terjadi akibat tuntutan yang berlebihan dari pasangan hidup yang ‘sangat dicintai’. Pemimpin adalah hamba sekaligus wakil Allah, sehingga sudah sewajarnya membangun komitmen cintanya kepada Allah melebihi cinta kepada makhlukNya. Nabi Muhammad SAW dan Khalifah Umar bin Khatab RA telah memberi contoh tentang ketegasan tersebut dengan pernyataan beliau yang akan menjadi pemberi hukuman pertama pada anaknya bila melakukan sebuah kesalahan di masyarakat.

Cobaan iblis melalui emosi terhadap harta  bisa diatasi dengan keikhlasan. Maksud keikhlasan di sini adalah ikhlas dalam mencari, menerima, dan mengeluarkan harta, yaitu  hanya mengharapkan Ridha Allah SWT semata. Berapa pun imbalan harta yang diterima dari pekerjaan itu, diterima dengan ikhlas. Keikhlasan selanjutnya adalah saat mengeluarkannya. Misal untuk memberi nafkah keluarga, menyantuni fakir miskin, anak yatim, dsb.

Terhadap godaan iblis yang melalui pintu ‘kekuasaan/tahta‘, bisa diatasi dengan kerendahan hati. Artinya seorang pemimpin perlu rendah hati, tawadhuk, dan tidak merasa menjadi penguasa seperti Fir’aun, karena Yang Maha Besar, Maha Tinggi, dan Maha Berkuasa hanyalah Allah. Pemimpin yang baik adalah gabungan dari sikap rendah hati dan pantang menyerah. Pemimpin yang mau mendengarkan nasihat dari siapapun (termasuk dari stafnya), bersedia menerima masukan dan kritik dari orang lain, sehingga keputusan yang dibuatnya dapat diakui, diterima, dicintai, dihargai, dan dihormati.

Sukses dan tidaknya seorang pemimpin mengendalikan emosinya dari godaan iblis dapat dilihat dari ketiga hal di atas, yakni kemampuan bersikap tegas terhadap rasa cintanya kepada makhluk Allah, kemampuan bersikap ikhlas terhadap harta yang dicari, diterima, dan dikeluarkannya, serta kemampuan bersikap rendah hati terhadap kekuasaan yang diamanahkan Allah SWT dan umat terhadap dirinya. Semoga para pemimpin di dunia ini, khususnya di Universitas Islam Indonesia Diberkahi dan Dikarunai Pertolongan Allah untuk mampu mengendalikan emosi dan dirinya. Amien

Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi wabarakaatuh

Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog_Dekan FPSB UII

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*