Jan 17 2011

Menuju Kampus Lestari

Published by at 12:20 pm under Refleksi

Kampus Lestari - Green Campus: Pendahuluan

Istilah “kampus lestari” yang menjadi judul tulisan ini adalah padanan bagi konsep green campus yang marak dalam dunia yang sedang menuju pada pemanasan global ini. Biasanya konsep itu digunakan bergantian secara leluasa dengan istilah “kampus hijau”, “kampus ekologis” ataupun “kampus ramah lingkungan” yang merupakan turunan dari pendekatan green design yang lebih umum atau sustainable design yang dapat dipadankan dengan “rancangan lestari.”

Merujuk pada pengertian para ahli rancangan lestari, green building atau juga green campus didasari oleh beberapa indikasi yaitu (a) bangun-bangunan yang terintegrasi degan baik pada iklim lokalnya dan sumber dayanya, (b) adanya ruang yang sehat dan menyehatkan dengan memanfaatkan sumber daya alami, (c) pengimplementasian konsep recycling (daur ulang) dan reuse (penggunaan kembali) serta (d) penggunaan energi yang efisien dan sedapat mungkin dari sumber yang juga lestari (terbarukan). Artinya, dalam konteks pemahaman kampus lestari ini dalam setiap pembangunan maka prinsip konservasi lingkungan dan pengurangan tekanan pada sistem ekologi (ecological stress reduction) menjadi dasar semua pemikiran dan pengambilan keputusan yang mempunyai implikasi terhadap alam.

Secara spasial, Kampus Lestari juga tidak boleh dimaknai sebagai Kampus Terpadu saja tetapi juga sistem kampus-kampus yang dimiliki oleh UII. Bahkan lebih jauh, lingkungan sekitar kampus juga perlu diintegrasikan sebagai konteks yang harus diperhatikan dalam rangka menciptakan kampus yang secara konseptual terintegrasi dengan lingkungannya. Pengembangan konsep ini juga tidak semata merupakan sebuah usaha untuk menciptakan suasana ‘hijau’ tetapi harus terinternalisasi ke setiap usaha yang diimplementasikan oleh UII dan menjadi bagian dari proses pembelajaran kepada mahasiswa dan masyarakat secara umum pula sebagai usaha untuk penciptakan kelestarian lingkungan dalam konteks yang lebih luas.

Sertifikasi Rencangan Lestari
Untuk menyusun konsep pengembangan kampus lestari secara komprehensif diperlukan adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerna (performance) kampus yang dimiliki oleh UII. Untuk itu perlu adanya audit lingkungan yang sebaiknya instrumennya mulai dikembangkan oleh UII. Ada beberapa sistem sertifikasi yang saat ini dipakai di dunia internasional. Salah satunya adalah LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) yang mana merupakan sistem pemeringkatan bangunan yang telah menjadi standar industri oleh United States Green Building Council. Walaupun LEED cukup dominan, saat ini ada standar lain yang berkembang pula di antaranya adalah dari BREEAM (BRE Environmental Assessment Method) yang dipakai oleh Inggris, ataupun DGNB (Deutsche Gesellschaft fuer Nachhaltiges Bauen e.V.) yang dipakai di Jerman. Di Indonesia tampaknya sedang dikembangkan oleh Konsil Bangunan Hijau Indonesia.

Mengacu pada LEED, terdapat 6 indikator utama yang harus diukur yaitu (a) adanya tapak yang juga lestari (b) efisiensi penggunaan air, (c) energi dan atmosfer termasuk di dalamnya penggunaan energi terbarukan (d) material dan sumber Daya yang terkelola dengan baik diantaranya adalah reduksi dan pengelolaan limbah yang dibuang oleh warga kampus (e) kualitas udara dalam ruangan yang harus memenuhi standar minimum kualitas (misalnya CO2, polusi serta pengendalian sistem pencahayaan dan suhu) serta (f)  adanya penghargaan terhadap inovasi / proses perancangan / pembangunan.

Langkah Awal untuk UII: Penutup
Sebagai upaya membangun Kampus Lestari UII maka diperlukan kebijakan yang komprehensif sekaligus langkah-langkah taktis. Dalam laporan berjudul “Peta Pengembangan Cetak Biru Kebijakan Kampus Lestari” (Program Hibah yang diperoleh oleh Pusat Studi Lingkungan - Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UII) yang penulis tulis telah diindikasikan adanya beberapa rekomendasi diantaranya adalah: (a) UII perlu segera mengadakan evaluasi Rencana Induk Pengembangan Fisik Kampus yang menerapkan prinsip rancangan lestari yang komprehensif. (b) Penerapan prinsip green infrastructure atau infrastruktur lestari. yaitu mengadopsi proses-proses alami seperti penyediaan air yang dijernihkan dan distribusinya, pemurnian dan pembersihan udara, pengurangan/penghisapan karbon secara alami misalnya dengan tanaman-tanaman yang berfungsi efektif sebagai carbon sequester, pendinginan iklim mikro (termasuk ruangan) yang alami, dan lain-lain (c) Perlunya mengedepankan multi-campus concept yang mengintegrasikan seluruh kampus yang dimiliki UII. Rencana Induk tersebut tidak boleh hanya berlingkup Kampus Terpadu melainkan juga secara integratif dan komprehensif membahas dan memproyeksikan pengembangan Kampus Terpadu Jalan Kaliurang, Kampus Condong Catur, Kampus Taman Siswa, Kampus Sorowajan, Kampus Cik di Tiro, Kampus Demangan, Kampus JIH, Kampus Gedung Student Center, serta gedung dan tanah lain yang skalanya lebih kecil. Identifikasi sumber daya lahan yang dimiliki menjadi penting untuk mengintegrasikan hal tersebut agar menjadi pertimbangan dalam menyusun program yang seimbang antara kapasitas ekologis dan lingkungan setempat dengan tujuan-tujuan yang berorientasi akademik. (d) Pengembangan research based campus sebagai upaya menuju research university yang mengintegrasikan kampus lestari sebagai bagian dari upaya pembelajaran dan riset serta (e) Pengembangan green techno-park campus yang diperlukan sebagai kebijakan jangka panjang untuk melibatkan technopreneurship dan kedekatan dengan industri dalam kehidupan akademik-riset kampus.

Harapan kita adalah dengan langkah tersebut UII bukan saja dapat menjadi pionir dalam pengembangan kampus lestari namun juga benar-benar berorientasi pada keselamatan ekologis dan sosial yang merukan amanat utama dari rahmatan lil-alamin yang menjadi misi kita.

by_Dr. Ing. Ilya F. Maharika, IAI

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*