Nov 17 2010

Mensikapi Perbedaan Hari raya Idul Adha 1431 H di Indonesia

Published by at 12:13 pm under Opini

Sebelum menyampaikan sikap terhadap pelaksanaan idul Adha 1431 H yang sudah dipastikan akan terjadi dua kali, yaitu: 10 Zul hijah 1431 yang bertepatan dengan hari Selasa, 16 November 2010 dan satunya lagi hari Rabu, 17 November 2010, perlu disampaikan bahwa pada hari Selasa, 2 November 2010 Kemenag RI telah mengadakan suatu pertemuan anggota Badan Hisab Rukyat  dan berikutnya pada hari senin 8 November 2010 melakukan Sidang Isbat yang mengundang berbagai tokoh dari ormas Islam dan beberapa anggota BHR.

Pertemuan Anggota BHR di Jakarta
Pada sidang pertama, semua anggota BHR diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat berkaitan dengan Idul Adha 1431 yang diprediksi akan terjadi perbedaan.

Pada umumnya semua anggota BHR menyampaikan bahwa posisi hilal di Indonesia sangat sulit untuk dirukyat, bahkan ada yang menyatakan mustahil untuk dirukyat, meskipun ada tiga sistem Hisab Taqribi yang menghasilkan di atas 3 derajat. Utusan Muhammadiyah akan tetap pada hasil Hisab yang sudah diumumkan yaitu Idul Adha 1431 pada hari Selasa, 16 November 2010, demikian pula utusan DDII (Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia) menyatakan bahwa jika Ramadan dan Idul Fitri akan mengikuti keputusan Pemerintah RI, tapi untuk idul Adha akan mengikuti keputusan Pemerintah Saudi Arabia, dengan argumentasi: الحج عرفة(Al Hajju ‚Arofah) artinya: Ibadah haji itu ditentukan dengan pelaksanaan wukuf di hari Arofah. Adapun argumentasi yang disampaikan dari utusan UII, yaitu: 1) tidak ada perintah secara tegas dari nas yang memerintahkan rukyat menjelang bulan Zul Hijah, 2) dateline Zulhijjah 1431 sudah mencakup seluruh propinsi di Indonesia pada 6 November 2010, 3) ketinggian hilal di Australia Selatan sudah di atas 2 derajat, padahal berada di timur pulau Jawa, dan di Afrika Selatan posisi hilal sudah berada di natas ufuk melebihi 5 derajat yang menjadi acuan kriteria imkan rukyat secara internasional. 4) Idul adha dilaksanakan pada tanggal 10 Zul Hijjah, maka ketinggian hilal tidak harus ditentukan pada malam pertama Zul Hijjah, tapi dapat diamati pada hari kedua, ketiga dan serterusnya. Oleh karena itu, perhatikan ketinggian hilal di malam kedua yang sudah mencapai 14 derajat, apakah masih dapat dikategorikan sebagai tanggal satu atau justru sudah memasuki tanggal 02 Zul hijjah 1431.

Sidang Isbat untuk memutuskan Awal Zul Hijjah dan idul Adha 1431

Sebelum sidang isbat Awal Zul Hijah 1431 dibuka oleh Dirjen bimas Islam, para peserta diberi penjelasan tentang posisi hilal di indonesia dan Mekah Saudi Arabia, yang menjelaskan bahwa pada hari Sabtu 6 November 2010 sesaat setelah magrib tidak mungkin hilal dapat dirukyat, apalagi di Mekah yang posisi ketinggiannya lebih rendah dari pada posisi hillal di Indonesia.

Kemudian dilanjutkan dengan laporan Petugas dari Kementerian Agama yang melaporkan dari 34 Lokasi Rukyat, yaitu: dari Papua, Papua barat, Maluku, Maluku utara, NTB, Gorontalo, Sul teng, Sultra, Sulsel, Sulbar, Bali, Kaltim, Kalsel, Barito Selatan, Jatim, Blitar, Sukoharjo, Semarang, DIY, Jabar, Boscha Bandung, Sukabumi, DKI, Batam, Banten, Lampung, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Kepri, Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh semuanya tidak berhasil melihat hilal. Sebelum siding Isbat Zulhijah 1431 dibuka pak Cecep Nur Werdaya menyampaikan presentasi tentang posisi hilal di Indonesia dan Mekah Saudi Arabia yang disimpulkan bahwa hilal tidak mungkin dapat dirukyat berdasarkan criteria Danjon atau keputusan Mabims. Tanpa sedikitpun menyinggung bahwa ada perukyat dari Cakung yang berhasil melihat hilal.

Selanjutnya diminta para peserta yang hadir dimintai pendapatnya tentang rencana keputusan isbat, hampir semuanya menyetujui keputusan awal Zul Hijjah 1431 jatuh pada hari Senin kecuali dari DDII, dan Muhammadiyah, kemudian dari UII meminta untuk untuk melihat visualisasi posisi hilal hari Ahad malam Senin, 7 Nopember 2010 apakah ketinggiannya dapat dikategorikan sebagai tanggal 1 atau 2 Zulhijah 1431, dan perlu diketahui bahwa informasi dari International Cresent Organisation Project (ICOP) bahwa 17 Negara akan melaksanakan idul Adha 16 Nopember 2010 sebanyak 17 Negara termasuk Saudi Arabia, Mesir, Lybia dll. Sedangkan yang melakukan idul adha pada tanggal 17 Nopember 2010 hanya 7 negara, termasuk Indonesia dan Malaysia. MUI diwakili Prof.H. Umar Syihab memberikan sambutan bahwa MUI akan mengikuti keputusan Isbat hari ini.

Analisis terhadap Pelaksanaan Isbat di Kementerian Agama RI

Sidang Isbat sejak semula sudah diarahkan agar keputusan awal Zul Hijjah 1431 jatuh pada hari Senin, 8 November 2010, dengan beberapa indikasi sebagai berikut:

Sebelum sidang isbat diberi penjelasan bahwa hilal tidak mungkin dapat dirukyat pada tanggal 6 November 2010 baik di Indonesia atau di Mekah, karena ketinggiannya belum mencapai 2 derajat.
Hasil Rukyat yang dikoordinir Kemenag dan perorangan di seluruh Indonesia sebanyak 34 tempat tidak ada yang berhasil melihat hilal, tanpa menyinggung sedikit pun keberhasilan 3 orang perukyat di Cakung dan 2 orang yang berhasil melihat hilal di Kebayoran lama Jakarta.
Tidak ada tanggapan terhadap permohonan utusan dari UII agar diperlihatkan visualisasi posisi dan ketinggian hilal pada malam Senin, 7 November yang ketinggiannya sudah mencapai 14 derajat, apakah msih dikategorikan sebagai tanggal 1 atau 2 Zul Hijjah 1431.
Tidak ada respon atas pendapat utusan DDII yang mengingatkan bahwa idul Adha sangat erat kaitannya dengan peristiwa wukuf di Arofah. Oleh karena itu, keputusan Isbat seharusnya memperhatikan pula keputusan pemerintah Saudi.
Date line bulan Hijriyah yang termaktub dalam Kalender Kementerian Agama RI tidak pula diperhatikan meskipun posisi hilalnya sudah positip di seluruh Indonesia.
Fatwa MUI tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zul Hijjah point 4: Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI (di Australia Selatan tinggi hilal sudah di atas 2 derajat) inipun tidak disinggung sama sekali.

Atas dasar itu, keputusan isbat hari Senin, 8 November 2010 sengaja atau tanpa sengaja diarahkan untuk istikmal, sesuai kalender yang sudah dibuat oleh Kemenag RI. Selanjutnya untuk menyikapi perbedaan hari raya Idul Adha 1431 H ini sebaiknya disikapi dengan arif, karena bagaimana pun kita perlu mengutamakan persatuan dan kesatuan umat Islam, sedangkan untuk melakukan ibadah idul Adha sebaiknya mengacu pada keyakinan kita masing-masing. Semoga pada saat yang tidak terlalu lama, umat Islam sedunia dapat mendapatkan hidayah dari Allah SWT agar dalam setiap melakukan ibadah dapat dilakukan bersama-sama, sehingga syi’ar Islam semakin baik, dalam kesatuan dan kedamaian yang abadi. Amin ya Robbal Alamin. (Sumber: Drs. Sofwan Jannah, M Ag. )

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*