Nov 17 2010

Kenangan Merapi-Mbah Marijan bagi Agus Wiyarto

Published by at 11:46 am under Kiprah

Erupsi Gunung Merapi, yang terjadi Selasa, 26 Oktober 2010 sangat memukul sanubari diri Drs. H. Agus Wiyarto, salah sseorang alumni Fakultas Ekonomi UII yang ketika mahasiswa aktif sebagai pecinta alam anggota Mapala UII, kehilangan Bapak Angkatnya mBah Marijan. Upaya membujuk Mbah Marijan untuk turun gunung tidak berhasil, rekannya seperjalanan Turut Priyanto relawan PMI Bantul dan seorang wartawan Viva.com Yuniawan Wahyu Nugroho bahkan turut menjadi korban keganasan ‘wedhus gembel’ Merapi bersama mbah Marijan dan warga Kinehrejo lainya. Mbah Marijan di mata Agus Wiyarto sudah seperti orangtuanya sendiri, demikian pula perlakuan Mbah Marijan terhadap dirinya pun demikian Agus sudah menjadi anak angkatnya.Menjelang Magrib, Agus dan dua rekannya seperjalanan sampai di kediaman Mbah Marijan, dengan misi utama membawa Mbah Marijan turun gunung. Pukul 17.02Pusat Vulkanologi mencatat: Merapi mengeluarkan awan panas 9 menit di Kinahrejo, Mbah Maridjan masih bercengkerama dengan keluarganya di rumah dan tetap bersikukuh tidak bersedia meninggalkan rumahnya. Saat-saat genting itu dialami langsung Agus. Pukul 17.18 Merapi kembali menyemburkan awan panas 4 menit. Empat mobil, satu di antaranya bertulisan "Perusahaan Listrik Negara", tiba di rumah Mbah Maridjan. Drs.Agus Wiyarto alumni FE UII, mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bantul, datang. Ia tiba bersama Tutur Priyanto, relawan Palang Merah Indonesia, dan wartawan Yuniawan Wahyu Nugroho. Disambut dengan ramahnya oleh seorang pria 83 tahun yang ditunjuk Keraton Yogyakarta menjadi juru kunci Merapi pada 1982 yang bergelar Mas Penewu Surakso Hargo dialah mbah Maridjan.

Pukul 17.30 Merapi memuntahkan awan panas 2 menit. Mas Asih, putra Mbah Maridjan, menyerukan azan magrib lewat pengeras suara masjid di samping rumah. Pukul 17.37 Merapi mengeluarkan awan panas 2 menit. Mas Asih memimpin salat. Baru mengancik rakaat pertama, sirene meraung-raung. Tamu Mbah Maridjan dan keluarganya dievakuasi dengan dua mobil ke Umbulharjo, sekitar dua kilometer dari Kinahrejo. Mas Asih  adalah salah satu pegawai FTI UII. Pukul 17.42 Merapi mengeluarkan awan panas besar 33 menit. Agus dan beberapa warga yang bersedia turun sampai di Balai Desa Umbulharjo. Namun Tutur Priyanto dan Yuniawan balik lagi mencoba membujuk dan menjemput Mbah Maridjan.

Saat jarum jam menujuk 18.00 Merapi menggemuruh hingga 45 menit. Kali ini tak ada kabar dari Kinahrejo. Dari pos Umbulharjo, Agus Wiyarto menelepon Tutur tapi tak dijawab Selanjutnya pukul 18.54  Erupsi Merapi mereda. Mbah Maridjan belum diketahui nasibnya. Cemas menyergap. Anggota tim penyelamat yang kebanyakan mengenal Mbah Maridjan yang khawatir akan keselamatannya.Setelah aksi Merapi mereda, 20 anggota tim berangkat menuju Kinahrejo. Sekitar 800 meter dari tujuan, rombongan tak bisa masuk. Banyak pohon tumbang melintang. Mereka meminta bantuan posko SAR di Gondang, satu kilometer dari situ, untuk membawakan gergaji mesin. "Setelah jalan terbuka, kami bergerak," kata Ferry Ardyanto, anggota tim SAR.

Di depan pekarangan rumah Mbah Maridjan, anggota tim SAR lainnya, Martono Arbi Wibisono, mengucap salam dengan histeris. "Assalamualaikum," teriaknya berulang-ulang, namun tak ada jawaban.. Martono pun menangis. Ia terenyuh menyaksikan rumah si Mbah porak poranda. Pria 46 tahun ini mengenal sang juru kunci sejak remaja, ketika menjadi pencinta alam. "Hati saya bicara, Mbah Maridjan sudah wafat," katanya. Tapi ia segera bisa menguasai diri.

Tim menemukan lagi dua mayat di dalam rumah Mbah Maridjan. Satu di antaranya Tutur, relawan PMI. Tutur punya pengalaman menjadi relawan ketika tsunami Aceh, gempa Yogya, dan gempa Padang. Ketika tim sedang berusaha keras mencari Mbah Maridjan, Asih tiba. Ia tak kuasa menahan tangis melihat rumah yang ia tinggali bersama ayah, ibu, juga anak dan istrinya sudah tak berbentuk. Mbah Maridjan belum diketahui nasibnya.

Larut malam, tim menghentikan pencarian. Mereka bekerja lagi Rabu subuh. Rumah Mbah Maridjan ditelusuri kembali. Sebagian anggota tim melakukan penyisiran di sekitar rumah. Tiba-tiba Martono berteriak. Ia memanggil semua anggota tim mendekat. Ia berdiri dekat kamar 5 x 3 meter di belakang dapur. Menurut Asih, kamar ini dibangun beberapa tahun lalu, agar jika anak-cucu berkumpul tak kekurangan ruang tidur.

Keganasan awan panas Merapi malam itu merenggut 36 nyawa, termasuk Mbah Maridjan. Awan panas 600 derajat Celsius membakar tubuh mereka. Petaka pada Selasa malam itu juga membuat sejumlah dusun yang semula rimbun menjadi mirip padang pasir, tandus terbakar, pepohonan kering meranggas. Di kamar itu jasad Mbah Marijan ditemukan dalam posisi sujud, menghadap selatan-arah pusat Kota Yogyakarta, membelakangi puncak Merapi. Jenazahnya tertutup rangka rumah dan batang pinus yang menimpa tembok kamar. Pecahan asbes dan abu membuat badannya memutih. Pintu kamar masih berdiri. Martono mengenalinya sebagai Mbah Maridjan dari tengkuk dan kepalanya. Setelah semua penghalang disingkirkan, tim membersihkan abu yang menempel di jenazah. Syahadat, salawat, dan tahlil mengumandang. Setelah bersih, jenazahnya Mbah Marijan dibawa ke RSUP dr Sardjito, Yogyakarta. "Saya lihat telapak tangannya masih halus utuh karena menempel ke lantai," kata Martono.

Inilah kenangan yang tidak bisa dilupakan dalam benak Agus Wiyarto alumni FE UII tahun merupakan aktifis Mapala Unisi dengan nomor NPA. 80.0555/MPL-UII dimana pendidikan di kemapalaan Great Camping V & Seniority Camping II dia jalani, sebagai Sekretaris Mapala Unisi 82 – 83 waktu itu dirinya aktif sebagai sosok aktivis pergerakan mahasiswa. Suami dari Dra Endra Wahyu Dayati juga anggota Mapala Unisi adalah alumni FE UII juga punya putri yang bernama Kinanti Sekarsari alumni FK UII. Menyususl adik-adiknya Laras Amyati Kusumastuti, Fadillah Adkiras, dan Muhammad Fadhlan.

Agus Wiyarta yang memiliki filosofi hidup “Memberikan manfaat bagi masyarakat, Bangsa dan Negara” ini merupakan salah satu penggerak kiprahnya Mapala Unisi sebagai relawan dalam Peduli Bencana Merapi ini. Semasa Gus Dur, Agus dipercaya menjadi Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DIY. Ketua PA BBSI, Direktur Kaangjati Center, selain itu bergelut di sektor bisnis di Bantul. (M. Haryo Subodro)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*