Oct 17 2010

Merajut Prulalitas, Merekatkan Ukhuwah

Published by at 11:36 am under Refleksi

Pelajaran hidup tak selamanya dapat dipetik dari hamburan kata dan gemercik kalimat. Hakikat hidup pun tak selalu dapat dipahami lewat lantunan petuah dan kumandang fatwa. Bahkan, sering kali kearifan hidup justru menyembul dari perenungan diri dan kemauan mendengar kata hati.
Adalah sudah menjadi sunatullah, bahwa manusia diciptakan dalam keragaman. Bukan hanya beragam dalam bahasa dan warna kulit saja, dalam aspek suku pun, manusia memiliki begitu banyak ragamnya. Kondisi ini tentu bukan untuk dijadikan perpecahan, apalagi sampai mengarah kepada benturan secara fisik. Justeru kondisi ini diciptakan agar manusia bisa mengenal satu dengan yang lainnya, serta bisa saling menghormati dan menghargai. Bahkan kondisi ini harus menjadi spirit untuk berlomba-lomba berkarya dalam kebajikan. Namun ironinya, keragaman tersebut bukannya menjadi motivator bagi terselenggaranya perlombaan dalam kebajikan dan merekatkan ukhuwah. Malahan  keragaman justeru menjadi justifikasi untuk saling membunuh dan memerangi.
Sebab dari itu semua adalah tidak adanya dialog dan saling pengertian serta saling menghormati di antara mereka. Mereka cenderung fanatik dengan kebenaran masing-masing dan ekslusif terhadap orang lain. Sehingga masing-masing cenderung menganggap merekalah yang paling benar (truth claim). Di sinilah pentingnya merajut pluralitas disertai sikap saling menghormati dan saling menghargai. Jika semangat tersebut sudah merasuki hati manusia, niscaya tragedi kemanusiaan yang selama ini menghiasi wajah keberagamaan umat manusia dapat segera dibersihkan dan diganti dengan rona ukhuwah dalam keragaman.


Merajut Pluralitas
Fenomena semakin mengecilnya dunia sudah menggejala sejak mulai bergulirnya modernisasi. Hal ini ditandai dengan semakin cepatnya hubungan dan semakin mudahnya komunikasi antara penduduk di satu belahan bumi dengan penduduk di belahan bumi lainnya. Sebuah kejadian di Amerika, misalnya, sudah bisa kita saksikan secara langsung di Indonesia. Seolah-olah dunia ibarat sebuah kampung besar yang tidak tersekat apapun.
Fenomena ini ternyata sangat berpengaruh pada kehidupan beragama umat manusia. Dahulu, kehidupan umat beragama relatif lebih tenteram karena umat beragama bagaikan kamp-kamp yang terisolasi dari tantangan dunia luar. Sekarang, seiring dengan kemajuan komunikasi dan informasi, kehidupan bersama di antara beragam umat beragama tidak dapat terelakkan. Tak jarang interaksi di antara berbagai pemeluk agama tersebut dihiasi konflik dan perselisihan. Atas dasar itulah, dibutuhkan adanya pemahaman akan pluralisme agama dan dialog konstruktif antar pemeluk agama untuk membangun kehidupan beragama yang lebih bersahabat.
Daniel Breslaw mengartikan pluralitas sebagai sebuah situasi dimana beragam perbedaan berinteraksi dalam suasana saling menghargai dan dilandasi kesatuan meski mereka berbeda. Berbeda dengan Breslaw, Jacob Agus mengartikannya sebagai pemahaman akan kesatuan dan perbedaan, yaitu kesadaran akan suatu ikatan kesatuan dalam arti tertentu disertai kesadaran akan keterpisahan dan perpecahan kategori.
Sementara itu, Nurcholish Madjid memberi definisi pluralitas sebagai pertemuan sejati dari keserbaragaman dalam ikatan-ikatan kesopanan (bond of civility). Pluralitas, menurutnya, bukan sekedar toleransi semata. Kemudian, kalau dilihat dari aspek bahasa, pluralitas berasal dari kata plures yang berarti beberapa (several) yang implikasinya mengandung makna keberagaman dengan perbedaannya. Hal ini berbeda maknanya dengan beberapa (many) yang implikasinya mengandung makna homogen. Lebih lanjut, Cak Nur mengatakan, bahwa pluralitas merupakan ide dasar dalam Islam. Cak Nur menyebutkan Q. S. al-Maidah [5]: 48 tentang dijadikannya umat manusia berbeda-beda dan perintah untuk berlomba dalam kebajikan, dan Q. S. al-Baqarah [2]: 128 tentang manusia sebagai umat yang satu, kemudian diutuslah para Nabi dan Rasul, keduanya sebagai dasar dan prinsip dari ide-ide pluralitas dalam al-Qur’an. Berdasarkan ayat di atas, Cak Nur menegaskan, pluralitas menurut Nurcholish Madjid adalah keterlibatan aktif untuk menjaga perbedaan, sebagai bagian yang harus bernilai manfaat dan positif, serta menghasilkan kesejahteraan dan kebajikan.
Menurut penulis ada tiga prinsip pluralitas. Pertama, pluralitas harus menghapus segala bentuk absolutisitas, truth claim, dan pembenaran terhadap diri sendiri dengan menafikan orang lain. Kedua, pluralitas menghendaki adanya relativitas dalam pemahaman, penafsiran, artikulasi, dan segala bentuk derivasi sebuah nalar kelompok. Ketiga, pluralitas menghendaki adanya toleransi dalam bersikap terhadap kelompok lain. Intinya, untuk membangun pluralitas di kalangan masyarakat diperlukan adanya sikap terbuka dan menghindarkan jauh-jauh absolutisitas yang berujung pada truth claim.
Pluralitas, Etika dan Ukhuwah

Dalam tradisi kesufi-an terdapat doktrin tentang etika spiritual atau yang disebut dengan futuwwah , yakni kualitas positif dari kepribadian manusia seperti kejujuran, keterusterangan, dan kejernihan fikiran. Etika ini akan membuat hati jauh dari kedengkian, tidak pernah merusak diri dengan perbuatan salah, serta berharap dunia damai. Nah, aksi kekerasan dan terorisme menunjukkan betapa spirit dan solidaritas kemanusiaan sudah tipis dan makin menghilang dalam kehidupan umat beragama di Indonesia.

Manusia lebih memosisikan agama sebagai basis ideologi, teks-teks suci, dan panduan ibadah yang puritan, dan sama sekali tidak membumi, sehingga dianggap tak memiliki relasi dengan kepentingan kemanusiaan. Pemahaman demikian, telah mengubur secara mendalam spirit dan solidaritas kemanusiaan yang ada dalam ajaran Islam. Memahami Islam secara tekstualistik akan mendatangkan sikap ekstrem. Padahal, al-Quran tidak melegitimasi sedikit pun segenap perilaku dan sikap yang melampaui batas. Dalam konteks ini, ada tiga sikap yang dikategorikan melampaui batas . Pertama, “ghuluw” , yaitu bentuk ekspresi manusia yang berlebihan dalam merespons persoalan hingga mewujud dalam sikap-sikap di luar batas kewajaran kemanusiaan. Kedua, “tatharruf”.

Yaitu, sikap berlebihan karena dorongan emosional yang berimplikasi kepada empati berlebihan dan sinisme keterlaluan dari masyarakat. Ketiga, “irhab” . Ini yang terlalu mengundang kekhawatiran. Karena bisa jadi membenarkan kekerasan atas nama agama. Irhab adalah sikap dan tindakan berlebihan karena dorongan agama atau ideologi. Tentang sikap berlebihan ini, Allah sudah berfirman seperti berikut: Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. (Q.S. al-Nisa : 171).

Titik puncak keberagamaan seseorang terletak pada sikap arif (al-hikmah). Di sinilah perlunya mengedepankan aspek esoteris dari Islam. Sisi ini merupakan pemahaman keislaman yang moderat serta bentuk dakwah yang mengedepankan qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), qaulan maisura (perkataan yang pantas), qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut), qaulan baligha (perkataan yang berbekas pada jiwa), dan qaulan tsaqila (perkataan yang berat).

Kecerdasan Spritual

Seringkah kita melakukan perenungan tentang kehidupan diri kita. Dalam perenungan itu, merasakankah kita akan gejala kehidupan sosial kita yang kian hari kian terpuruk, bahkan kita telah terjerembab ke dalam kondisi yang sangat kritis secara mental, moral dan spiritual? Mungkin kita tak sempat merenungkan itu semua, karena kita senantiasa sibuk dengan rutinitas yang kian mendera dan memacu kita untuk berlomba dengan bayang-bayang semu yang tak akan pernah terkejar. Mungkin kita salah dalam cara pandang kita tentang diri kita yang menyebabkan kita juga salah menempatkan diri dan akhirnya salah bertindak. Akhirnya pengenalan diri yang salah ini tidak membawa manusia ke puncak kecerdasan spritualnya.

Menurut Jalaluddin Rakhmat kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna dalam kehidupan. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apa pun tanpa tergantung kepada situasinya. "Meminjam istilahnya Tony Buzan (ahli sitologi dari Amerika), kemampuan seseorang untuk berbahagia dalam segala situasi, berhubungan dengan kecerdasan spiritualnya" paparnya. Hanya saja menurut Jalaluddin di Indonesia kecerdasan spiritual lebih sering diartikan rajin salat, rajin beribadah, rajin ke masjid, pokoknya yang menyangkut agama. Jadi kecerdasan spiritual dipahami secara keliru.

Di sinilah agama dapat membimbing kita untuk melakukan latihan spiritual melalui doa dan sikap pasrah, untuk mencapai kecerdasan spirtual dengan mengikatkan diri pada Tuhan. Islam lebih bersifat privacy lagi. Salah satu jalannya adalah tasawuf, yang dewasa ini tampak fenomenal di kalangan umat Islam. Di samping ditempuh dengan ibadah (doa, salat, dan lain-lain), tasawuf juga menerapkan dzikr, sebagai the spiritual healing, the sufi healing, dan the faith healing.

Pencapaian jalan spiritual Islam melalui tradisi tasawuf ini merupakan jalan menuju puncak kearifan spiritual. Sebab ketinggian manusia bukan hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tetapi lebih pada bagaimana ilmu itu memberi manfaat kepada kehidupan. Ada orang pintar tetapi keblinger sehingga kepintarannya justeru digunakan untuk “minteri” orang lain. Semakin pinter orang seperti itu maka semakin banyak orang lain yang menjadi korban dari kepintarannya.

Sebaliknya ada orang yang dari segi pendidikan formal ia biasa-biasa saja, tetapi dari segi pergaulan sosial orang itu banyak sekali memberi kemanfaatan kepada orang lain, karena setiap kali sedikit yang ia berikan justeru mengandung makna besar bagi yang menerima. Ia bukan saja tahu, tetapi juga arif. Ia bukan hanya pintar tetapi juga cerdas.

Nah kearifan dan kecerdasan ádalah ekpressi psikologis dari orang yang bijak. Bijak mengandung arti ketepatan. Jika adil mengandung arti menempatkan sesuatu pada tempatnya, bijak lebih dari itu yaitu menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Dari pemahaman itu maka kecerdasan bukan hanya menyangkut intelektualitas, tetapi juga emosi dan bahkan spiritual. Itulah makna kearifan dan kecerdasan. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan perbuatan-perbuatan baik sehingga Aku jatuh cinta padanya. (Hadist Qudsi Diriwayatkan Muslim).

Caranya adalah adalah melalui aneka latihan spiritual itu melaui tradisi agama. Secara teologis, puncak latihan spiritual adalah pengalaman spiritual itu sendiri, di mana manusia akan mencapai pengalaman spiritual yang lebih tinggi. Selanjutnya manusia akan merasakan puncak kenikmatan spiritual, oleh karena sudah mencapai apa yang dinamakan The Higher Consciousness, sehingga senantiasa terjalin hubungan diri ke "Sumber Diri". Inilah jenis manusia, yang dalam istilah filosofis keislaman dinamakan man as a such: manusia sebagaimana asalnya suci. Yakni prototipe manusia yang sempurna secara spiritual, disebabkan kodrat asalnya yang suci (in itself, fitrah). Manusia suci bisa saja miskin secara materi. Tetapi, ia sempurna secara rohani, nikmat secara spiritual, sehingga selalu tercipta kondisi "harmoni diri" menuju ke hadirat Ilahi Rabbi.

Inilah orang-orang yang telah mencapai kearifan. Dalam istilah sufi orang seperti ini adalah orang yang telah mengenali dirinya dan Tuhannya dengan pengenalan yang baik. Diriwayatkan Nabi Musa as pernah bermunajat dengan menyebut firman Allah, ”Sesungguhnya Aku melindungi wali-wali-Ku dari kenikmatan dunia dan kesenangannya, sebagaimana penggembala yang menyayangi dan melindungi untanya dari tempat gembalaan yang membahayakannya. Sesungguhnya Aku akan menjauhkan mereka dari kesenangan dunia dan kegemerlapannya, sebagaimana juga penggembala yang menyayangi untanya dan menjauhkan dari tempat gembalaan yang membuatnya lalai. Dan tidaklah hal itu karena kelalaian mereka terhadap-Ku melainkan supaya mereka menyempurnakan bagian mereka dari kemuliaan-Ku dengan sempurna, sehingga dunia tidak melalaikan mereka dan hawa nafsu tidak memadamkan semangat ibadah mereka.” (HR. Ahmad)

Agar lebih praktis, apa yang dipaparkan Tony Buzan tentang kecerdasan spiritual ini membantu kita memahaminya. Ciri-ciri orang yang cerdas spiritual itu, menurut Tony Buzan, di antaranya adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain. Ia telah menemukan tujuan hidupnya, jadi merasa memikul sebuah misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan melihat kedalaman dengan hatinya. Hati adalah jendela jiwa, maka kata hati dan bahasa kalbu tidak pernah bisa dibohongi. Semakin berontak kita terhadap kata hati, akan semakin gelisah jiwa kita. Selamilah bahasa hati, niscaya akan kita temukan kedamaian. Karena bahasa hati adalah bahasa kebenaran. Bahasa hati adalah bahasa kearifan. Marilah kita meraih kearifan intelektual dan spiritual dengan mendengar apa kata hati, dan marilah kita tuangkan sejenak waktu untuk merenung memahami hakikat diri, merajut prulalitas merekatkan ukhuwah di antara kita.

Oleh: Bagya Agung Prabowo, SH, MHum
Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum UII.

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*