Oct 17 2010

Afnan Bangga Menjadi Alumni UII

Published by at 11:43 am under Kiprah

Ahmad Afnan Anshori, S.Ag. MA. adalah putra dari pasangan H. Abdulloh Yazid Sulaiman dan Hj. Robi'ah Nur Hasanah yang lahir pada 9 Agustus 1977 di Jombang. Suami dari Hj. Zaimatus Sa'diyah, Lc., MA. ini menempuh pendidikan dasar (MI) dan MTsN di desa kelahirannya kemudian melanjutkan ke MAPK (Madrasah Aliyah) Nurul Jadid sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur. Ia menceritakan perkenalannya dengan UII dimulai ketika duduk di kelas 3 akhir.

Ia mengaku selama belajar di Madrasah Aliyah tidak pernah tahu ada perguruan tinggi yang bernama UII, karena itu ia tidak pernah punya bayangan akan kuliah di UII. Yang ada di benaknya saat itu, alumni MAPK  biasanya kuliah di IAIN. Sampai pada suatu hari menjelang pengumuman kelulusan, kepala sekolahnya datang dengan membawa pengumuman penerimaan mahasiswa UII melalui “Program Mahasiswa Unggulan & Pesantrenisasi”. Ia mengakui awalnya tidak ada rencana untuk langsung kuliah setelah lulus SMA karena ingin mengabdi dulu di pesantren selama beberapa tahun. Karena ada tawaran beasiswa S1 plus tinggal di pesantren UII itulah ia tertarik untuk menimba ilmu di kota Gudeg.

Setelah resmi diterima menjadi mahasiswa UII, ia baru tahu ternyata UII adalah perguruan tinggi Islam swasta terbesar yang menjadi kebanggaan umat Islam Indonesia. Ia mengaku sangat bangga menjadi alumni UII tidak saja karena bisa kuliah di perguruan tinggi ternama ini, tapi juga karena berkesempatan menjadi santri angkatan pertama Pondok Pesantren UII. Di UII ia masuk di Fakultas Tarbiyah yang kemudian berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI).

Selepas dari UII, ia berkesempatan melanjutkan S2 program studi Ilmu Pebandingan Agama di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dengan beasiswa BPPS dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Ketika ditanya kenapa S2-nya mengambil bidang yang berbeda dari S1-nya, ia menjawab bahwa semuanya adalah Ilmu Allah yang tentunya saling berhubungan satu dengan yang lain. Di UGM inilah ia berkesempatan diajar oleh pakar-pakar ternama bidang religious studies seperti Mohmoud Ayyoub, Paul Knitter, Christine Gudorf, Ebrahim Moosa dan masih banyak yang lainnya. Ia berfikir, kalo tidak karena kuliah di CRCS, barangkali ia hanya mengenal tokoh-tokoh tersebut dari buku-buku mereka. Setelah lulus S2 UGM ia sempat bekerja di almamaternya ini selama hampir 2 tahun terutama untuk membantu pelaksanaan program-program MYIA (Masyarakat Yogyakarta untuk Ilmu & Agama) di kampus yang sama.

Berbekal ijazah S2 UGM, ayah dari Kautsar Luqyana Azri dan Kavin Dildar Ahmada ini mencoba keberuntungan dengan mendaftar CPNS di IAIN Walisongo Semarang pada 2005 dan diterima. Baru setahun mengabdi di IAIN Walisongo, ia mendapatkan kesempatan untuk mengambil Master ke-duanya di negeri Kangguru dengan beasiswa Pemerintah Australia melalui program APS (Australian Partnership Scholarship). Program ini diawali dengan pelatihan bahasa Inggris selama beberapa bulan di IALF (Indonesia-Australia Language Foundation). Ia mengakui kesempatan belajar di Australia ini tidak terlepas dari peran Prof. Dr. Moh. Mahfud MD yang telah memberikan rekomendasi.

Di Australia ia belajar di School of Humanities, Curtin University of Technology jurusan Human Rights Education (Pendidikan HAM). Selama masa studi di negeri Kangguru ini ia terlibat aktif mengikuti berbagai kajian dan aktivitas di Center for Human Rights Education. Ia tertarik mengambil jurusan ini karena ia melihat masih tingginya tingkat pelanggaran HAM di Indonesia. Ia berfikir hal ini disebabkan masih minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang nilai-nilai HAM. Selama belajar di Australia ia ditemani keluarganya. Bahkan putra keduanya yang ia beri nama Kavin Dildar Ahmada lahir di sana. Ia mengakui menamai anaknya Kavin karena bertepatan dengan terpilihnya Kevin Rudd sebagai perdana menteri Australia kala itu.

Saat ini selain menjadi dosen tetap di Fakutas Ushuluddin IAIN Walisongo, ia juga dipercaya memimpin LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) yang kegiatan-kegiatannya tidak hanya terfokus pada pengembangan pemikiran keagaamaan tapi juga langkah-langkah riil agar agama bisa berfungsi secara nyata dalam pemberdayaan masyarakat.

Tugas lain yang digelutinya saat ini adalah sebagai staf ahli di Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) IAIN Walisongo. Sebagai sfaf ahli PBB, dia bertugas mendesain program-program pembelajaran bahasa yang sesuai dengan kecenderuangan saat ini, seperti pembelajaran bahasa mandiri menggunakan fasilitas SAC (Self-Access Center). Selama menjadi staf ahli PBB, dia telah berhasil menerbitkan sedikitnya 4 buah buku untuk pembelajaran bahasa Inggris mulai dari tingkat dasar, menengah, sampai tingkat lanjutan.

Selain itu, seiring dengan berubahnya IAIN Walisongo dari satuan kerja (Satker) menjadi badan layanan umum (BLU), institusi ini mendirikan Walisongo Language Center (WLC) yang bertujuan untuk menjadi pusat pelatihan atau kursus bahasa di Semarang dan sekitarnya. Di lembaga baru ini ia dipercaya sebagai wakil direktur yang bertugas untuk mengembangkan dan menjalankan program-program pelatihan bahasa (Arab dan Inggris) tidak hanya untuk sivitas akademik IAIN Walisongo tapi juga masyarakat umum. Saat ini hampir 500 orang tercatat sebagai peserta kursus WLC mulai dari yang mengambil kelas pre-course (tingkat SD) sampai kelas University Student (tingkat perguruan tinggi) dan juga TOEFL & TOAFL preparation. Terobosan lain yang ia tempuh untuk pengembangan WLC adalah menjalin kerjasama dengan pihak luar dalam hal pengembangan SDM melalui peningkatan kemampuan bahasa.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut masih banyak lagi kesibukan-kesibukannya yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM IAIN agar mampu bersaing dengan perguruan tinggi umum. Ia melihat selama ini kualitas SDM PTAI masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan perguruan tinggi umum, terbukti dengan sedikitnya alumni atau dosen PTAI yang melanjutkan ke universitas-universitas di luar negeri. Setelah diteliti ternyata faktor utamanya adalah rendahnya kemampuan bahasa asing mereka. Menurutnya, ini adalah salah satu pekerjaan rumah pimpinan atau pengelola PTAI ke depan.

Selain itu ia mengatakan, bahwa dalam beberapa aspek yang lain seperti pengembangan teknologi pembelajaran, peningkatan kendali mutu dan pemberdayaan alumni, perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam di Indonesia perlu menimba ilmu dari pengalaman UII. Di akhir wawancara ini ia mengatakan bahwa melalui forum ini ia ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada almamater tercinta UII karena apa yang telah dia lalui saat ini dimulai dari kesempatan dan beasiswa yang diberikan UII. Dia selalu berdoa dan berharap semoga UII semakin maju.       (Nur Kholis)

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*