Archive for October, 2010

Oct 17 2010

Afnan Bangga Menjadi Alumni UII

Published by under Kiprah

Ahmad Afnan Anshori, S.Ag. MA. adalah putra dari pasangan H. Abdulloh Yazid Sulaiman dan Hj. Robi'ah Nur Hasanah yang lahir pada 9 Agustus 1977 di Jombang. Suami dari Hj. Zaimatus Sa'diyah, Lc., MA. ini menempuh pendidikan dasar (MI) dan MTsN di desa kelahirannya kemudian melanjutkan ke MAPK (Madrasah Aliyah) Nurul Jadid sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur. Ia menceritakan perkenalannya dengan UII dimulai ketika duduk di kelas 3 akhir. Continue Reading »

No responses yet

Oct 17 2010

MENGGAIRAHKAN TRADISI ILMIAH

Published by under Tajuk

Hari Ahad tanggal 17 Oktober 2010 kemarin, terdapat pernyataan Pak Mahfud MD, dosen FH UII dan Ketua Mahkamah Konstitusi RI, bahwa Perguruan Tinggi gagal melahirkan kecendekiawanan. Pernyataan ini sangat menarik untuk serius ditindaklanjuti oleh siapapun yang ada di perguruan tinggi, bukan untuk membela diri tetapi untuk intropeksi diri agar dapat berbenah untuk dapat melahirkan cendekiawan yang sesungguhnya. Semakin hari semakin terlihat betapa pragmatisme  (dalam arti yang sangat negative) telah menjangkiti sebagian civitas akademika perguruan tinggi. Contoh yang paling mencolok adalah semakin seringnya ditemui kasus plagiasi yang dilakukan oleh orang yang bergelar doktor atau menuju jenjang professor. Contoh pada kalangan mahasiswa, banyak di antara mereka ketika mengerjakan tugas, mengcopi paste dari artikel di internet sehingga dalam papernya referensinya semua berasal dari website yang kebanyakan blog atau Wikipedia, tidak satu pun buku. Yang lebih memprihatinkan, kadang tidak kritis terhadap content yang dicopi paste itu. Misalnya, saya pernah mendapatkan cerita dari teman bahwa terjadi di sebuah perguruan tinggi X, dosen menugaskan mahasiswanya untuk membuat paper terkait dengan konsep jihad dan aplikasinya pada era kini, mahasiswa tersebut menguraikan bahwa jihad adalah “memerangi  agama lain yang berujung pada genocide dan imperialisme di Negara yang diperangi…”. Uraian paper itu menjelaskan konsep jihad yang salah dan anehnya mahasiswa tersebut ketika menyampaikan tidak merasa ada yang salah. Untuk itu, kita sebagai civitas akademika di UII harus selalu kritis dan selalu menjunjung etika ilmiah dalam setiap berperilaku, agar hal negatif tersebut tidak berkembang di kampus UII kita tercinta. Continue Reading »

No responses yet

Oct 17 2010

Merajut Prulalitas, Merekatkan Ukhuwah

Published by under Refleksi

Pelajaran hidup tak selamanya dapat dipetik dari hamburan kata dan gemercik kalimat. Hakikat hidup pun tak selalu dapat dipahami lewat lantunan petuah dan kumandang fatwa. Bahkan, sering kali kearifan hidup justru menyembul dari perenungan diri dan kemauan mendengar kata hati.
Adalah sudah menjadi sunatullah, bahwa manusia diciptakan dalam keragaman. Bukan hanya beragam dalam bahasa dan warna kulit saja, dalam aspek suku pun, manusia memiliki begitu banyak ragamnya. Kondisi ini tentu bukan untuk dijadikan perpecahan, apalagi sampai mengarah kepada benturan secara fisik. Justeru kondisi ini diciptakan agar manusia bisa mengenal satu dengan yang lainnya, serta bisa saling menghormati dan menghargai. Bahkan kondisi ini harus menjadi spirit untuk berlomba-lomba berkarya dalam kebajikan. Namun ironinya, keragaman tersebut bukannya menjadi motivator bagi terselenggaranya perlombaan dalam kebajikan dan merekatkan ukhuwah. Malahan  keragaman justeru menjadi justifikasi untuk saling membunuh dan memerangi.
Sebab dari itu semua adalah tidak adanya dialog dan saling pengertian serta saling menghormati di antara mereka. Mereka cenderung fanatik dengan kebenaran masing-masing dan ekslusif terhadap orang lain. Sehingga masing-masing cenderung menganggap merekalah yang paling benar (truth claim). Di sinilah pentingnya merajut pluralitas disertai sikap saling menghormati dan saling menghargai. Jika semangat tersebut sudah merasuki hati manusia, niscaya tragedi kemanusiaan yang selama ini menghiasi wajah keberagamaan umat manusia dapat segera dibersihkan dan diganti dengan rona ukhuwah dalam keragaman.

Continue Reading »

No responses yet