Sep 17 2010

Menebar Maaf, Menuai Kemuliaan

Published by at 9:11 am under Refleksi

Bulan syawal acapkali dimaknai sebagai bulan kemenangan, bulan yang oleh kaum Muslim bernilai spirit tinggi mencapai puncak derajat martabat manusia sebagai hasil dari tempaan edukasi sepanjang bulan sebelumnya (Ramadhan yang dimuliakan). Syawal sendiri memiliki arti kata lain “meningkat, bersifat positif”, yang secara spiritual memberikan makna bahwa kekuatan yang dapat diejawantahkan dari realitas objektif dalam setiap diri manusia, yang dengan kesadaran kritisnya mampu menggerakkan perilakunya dalam ranah yang serba meningkat secara positif dalam setiap diri manusia.

Dengan edukasi sepanjang bulan Ramadhan hasil akhir yang tentunya diharapkan adalah peningkatan pemenuhan hak-hak “fitrah” yang semakin menguat-meningkat, sehingga manusia atau kita boleh mengklaim diri mencapai situasi “kembali ke fitrah” (idul fitri), membuahkan kualitas leadership kita, mampu menghadirkan 'keteladanan' dalam keseharian kita, yang tidak pernah aus meskipun tidak ada pujian terdendangkan di sekitar kita. Cerca-cela ataupun kritik yang memekakkan telinga sekalipun menjadi nikmat & indah dalam rasa pikir kita, sebab kita mendapatkan nasehat ‘gratis’ yang bermakna untuk peningkatan kualitas leadership kita. Jujur hati kita memerlukan nasehat-nasehat ‘gratis’ seperti itu, sebab kita memiliki kesadaran bahwa tak ada yang patut disombongkan dalam diri kita kendatipun di dalam diri kita menempel jubah-jubah kebesaran; gelar, pangkat, jabatan, kedudukan, dan lain-lain. Justru kita harus dengan rendah hati menerima nasehat ‘gratis’ tersebut dan berupaya memaafkannya.

Saling Memaafkan, Saling Memuliakan

Memaafkan itu mulia, demikian yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sabda beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Birr, Shilah, dan Adab, “... Dan Allah tidak tambahkan bagi seorang pemaaf kecuali kemuliaan…” Dalam bahasa Arab, ’izzun berarti mulia, yang dilawankan dengan dzullun yang artinya hina. Mulia dan hina itu bisa bersumber dari persepsi kita. Mengalir dalam perilaku, dan melembaga dalam kebiasaan. Orang mulia biasanya berpandangan positif atas diri dan lingkungannya. Ketika melakukan tindakan mulia, maka orang pun memuliakannya. Sebaliknya orang hina, pandangannya cenderung negatif, dan tatkala ia melakukan tindakan hina, maka orang pun menghinakannya. Jadi hanya orang mulia saja yang melakukan kemuliaan, dan hanya orang hina saja yang melakukan kehinaan. Mengapa memaafkan bisa mendatangkan kemuliaan? Secara logika, memaafkan itu awalnya datang dari rasa kesal atau benci kita kepada orang lain. Rasa kesal atau benci itu sebenarnya adalah beban. Semakin besar rasa itu kita miliki, semakin besar pula beban yang kita pikul. Ibarat luka, rasa itu terus memerihkan fisik kita. Tidak akan berhenti rasa perih itu sebelum ada sesuatu yang mengobatinya. Orang biasanya mencari obat benci dengan cara mencederai orang yang dibenci, sehingga kepuasan tercipta, dan kebencian itu pun sirna. Hendaknya begitu, tapi nyatanya tidak. Tindakan begini malah memicu permusuhan yang semakin tajam. Artinya, bukan pengobatan yang didapat, malah luka yang semakin tersayat. Dan tentunya semakin menyakitkan. Jalan mudah untuk mendapatkan obatnya adalah dengan cara memaafkan.

Ketika kita memaafkan, maka beban itu pun berkurang, luka pun membaik. Dan bilamana semua rasa kesal dan benci itu hilang, maka hidup kita pun menjadi ringan. Hidup tanpa beban sudah cukup membuat orang jadi mulia.

Bulan Syawal dikenal juga dengan bulan halal-bihalal. Suatu istilah yang sangat khas Indonesia. Walau kata-katanya berasal dari Arab, namun orang Arab sendiri pun mungkin tidak kenal dengan istilah halal-bihalal ini. Orang Islam Indonesia memaknainya sebagai bulan shilaturrahim dan bermaaf-maafan. Bulan merajut hubungan, mengikhlaskan kesalahan orang. Pasca pematangan di bulan Ramadhan, maka hendaknya di bulan Syawal hasil penggodokan itu terlihat. Wujud nyatanya adalah sikap mudah memaafkan. Tepatlah kiranya umat Islam Indonesia menempatkan Syawal sebagai bulan halal bihalal. Saling mengunjungi, memohon maaf, mengikhlaskan lahir batin segala kekhilafan di masa lalu. Namun bulan Syawal hanyalah moment, karena memaafkan itu tidak mengenal ruang dan waktu. Ia adalah sikap batin. Jika tidak terlahir dari batin yang ikhlas, maka ucapan maaf atau respons memaafkan hanya jadi hiasan bibir. Pastinya tidak akan mendatangkan kemuliaan.

Kemuliaan yang ditambahkan oleh Allah kepada seorang pemaaf adalah berupa rasa hormat dan kasih orang kepadanya. Orang mulia adalah orang yang sangat berharga di mata Allah dan manusia. Orang-orang suka berdekatan dengannya, dan merasa sangat kehilangan dengan ketidakhadirannya. Keberadaannya di tengah orang-orang adalah wajib, karena orang lain sangat membutuhkannya.

Mentradisikan Bermaaf-maafan

Tradisi bermaaf-maafan di bulan Syawal ini baik kiranya untuk dilestarikan. Walau tidak substansial, nyatanya orang butuh tempat dan waktu untuk bisa memaafkan. Sebagaimana kapal yang berlayar di lautan, kadang butuh merapat ke air tawar untuk melepaskan beban dari binatang laut yang bisa membuat kebocoran. Memaafkan itu sehat. Memaafkan itu indah. Dan memaafkan itu mulia. Sebagaimana dijelaskan, rasa kesal atau benci kepada seseorang itu adalah beban, jika ia terus dibawa, akan melelahkan jiwa. Seperti binatang laut yang terus menempel di kapal, lambat laun akan membuat kebocoran. Karena itu perlu dilepaskan. Orang yang hidup tanpa beban kebencian adalah orang yang sehat. Sementara orang yang memelihara kebencian di dalam dirinya, sama halnya dengan orang yang memelihara penyakit. Hidup sehat adalah hidup yang membawa keindahan. Sedap dipandang mata, didengar telinga dan dirasa jiwa. Sebagaimana di surga, tidak ada pemandangan kerusuhan, tidak ada kata-kata yang tidak berguna, dan tidak ada suasana yang menyesakkan dada. Kondisi begini tidak akan tercipta kecuali dengan hadirnya orang-orang mulia. Karena itu jadi pemaaflah Anda. Sudah menjadi tradisi seusai salat Ied, mayoritas kaum muslim biasa berkumpul bersama keluarga dalam acara halal-bihalal (maaf-memaafkan).

Acara maaf-memaafkan biasanya dilakukan dalam lingkup keluarga terdekat terlebih dahulu. Disambung silaturahim ke tetangga di sekitar rumah. Selanjutnya ke sanak saudara berjauhan. Uniknya, kebanyakan masyarakat Jawa masih mengamalkan tradisi silaturahim dengan tetap menjunjung tata karma. Keluarga yang lebih muda berkunjung ke saudara yang lebih tua. Tradisi silaturahim dari saudara muda ke yang lebih tua tersebut merupakan cermin dari unggah-ungguh (sopan-santun). Adapun jamuan khas acara silaturahim biasanya ketupat dengan lauk sayur opor ayam. Ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dikemas dalam anyaman daun kelapa muda (janur) berbentuk prisma maupun segi empat. Jika ditarik mundur, tradisi makan ketupat bersama sanak saudara serta tetangga tersebut dipercaya masyarakat Jawa dikembangkan oleh Sunan Kalijaga, yaitu salah satu Walisanga. Sunan Kalijaga memperkenalkan budaya ketupat yang berbarengan dengan momen lebaran, merupakan salah satu misi syiar Islam pada masa lampau. Kendati tidak ada sumber yang akurat tentang siapa yang kali pertama memperkenalkan tradisi makan ketupat pada hari raya Idul Fitri. Hanya saja, Walisanga zaman dulu mengembangkan tradisi-tradisi yang sudah ada di masyarakat sebagai media menyebarkan ajaran Islam.

Memaknai Ketupat

Salah satu ciri Walisanga dalam menyebarkan Islam melalui tradisi yang sudah berkembang di suatu daerah ialah memberikan simbol-simbol. Seperti ketupat berasal dari salah satu kata bahasa Arab, kuff at yang berarti sudah cukup harapan. Tak heran jika ketupat digunakan untuk merayakan kemenangan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dengan berlebaran pada satu syawal. Makna ketupat dalam bahasa Jawa berarti “ngaku lepat” alias mengakui kesalahan. Tidak hanya itu, makna tersembunyi dari ketupat, bentuk segi empat ternyata wujud dari prinsip “kiblat papat lima pancer” yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat. Prinsip tersebut kalau diotak-atik maknanya berarti empat arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara yang bertumpu di satu pusat. Bila salah satu arah mata angin itu hilang, maka keseimbangan alam goyah. Terjemahan bebas filosofi tersebut bisa dikaitkan dengan arah jalan hidup manusia. Ke mana pun arah yang ingin ditempuh manusia hendaknya tidak akan lepas dari pusatnya, yaitu Allah SWT. Oleh sebab itu, agar tidak goyah maka manusia harus tetap ingat kepada Sang Khalik sebagai pusat dari segalanya. Ada pula yang mengartikan prinsip “kiblat papat lima pancer” bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah. Ketupat menggunakan janur sebagai kemasan pun memiliki makna tersembunyi. Janur dalam bahasa Arab yang berasal dari kata “jaa a al-nur” bermakna telah datang cahaya. Sedangkan masyarakat Jawa mengartikan janur dengan “sejatine nur” (cahaya). Dalam arti lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadan.

Janur melambangkan manusia yang telah mendapatkan sinar ilahiah atau cahaya spiritual (cahaya jiwa). Yang diwujudkan dalam anyaman-anyaman yang diharapkan dapat memberikan penguatan satu sama lain. Antara jasmani dan rohani, lahir batinnya kuat dan kokoh.  Ketupat itu ngaku lepat (salah). Dalam setahun, orang saling berebut  ”benar”. Anehnya, dalam suasana Idul Fitri, semua orang saling berebut untuk menyatakan lepat. Sebuah kondisi yang fitrah. Yang muda menyampaikan lepat. Namun, yang tua tidak langsung mengiyakan, tetapi dengan diikuti kalimat, “wong tuwa uga akeh lupute.” Hal ini tidak hanya terjadi dalam tatanan keluarga saja, tetapi berlaku juga dalam tatanan struktur pemerintahan maupun civitas akademika. Pejabat golongan strata atau pangkat yang lebih tinggi juga menyampaikan hal ini kepada pejabat yang pangkatnya lebih rendah atau stafnya. Mereka semua mengaku salah, kemudian saling memaafkan. Sungguh mulia bila ungkapan maaf-memaafkan terus kita senandungkan dalam aktivitas keseharian kita. Wallahu a’lam bishawab.

Bagya Agung Prabowo, SH., M.Hum. adalah Dosen Fakultas Hukum UII dan Pemimpin Umum UII News

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

*